
Sepulang sekolah Gala dan Abel berkutat dengan tugasnya masing-masing. Sekilas Abel melirik ke arah Gala yang sedang kebingungan.
"Kenapa muka lo kaya gitu?" Tanya Abel yang memberanikan diri untuk bertanya.
"Bantuin gue kerjain dinamika rotasi, gak ngerti," jawabnya.
"Lo baru belajar itu? Bukannya kita 1 guru fisika ya?" Tanya Abel tak mengerti.
"Iya tapi gue gak ngerti karena pas belajar ini gue dipanggil ke kantor, ada kakek," jelasnya.
"Oh yaudah, sini gue jelasin." Abel mengerti jika Gala tidak mengerti karena belum dijelaskan, ya cukup aneh kalau dia tidak mengerti kalau sudah dijelaskan, setahunya Gala juga murid yang cukup pintar.
Abel mengubah posisi duduknya di samping Gala dan mengambil selembar kertas untuk bahan coretannya. Dia memilih soal untuk dia kerjakan. Sementara Gala fokus pada buku-bukunya yang sudah di ambil alih oleh Abel. Abel menggaris bawahi beberapa informasi yang dia dapat dari soal. Karena fisika itu mudah jika tau rumusnya.
"Lo tau? Rumus percepatan itu sigma f per M. Cara cepetnya beban 1 dikurang beban 2 atau W1 dikurang W2 per M1 ditambah M2 ditambah K dikali M. K nya ini konstanta katrol atau 1 per 2 yang ini, nah M nya ini Masa Katrol atau 2 kg, sampe sini ngerti?" Tanya Abel.
Gala mengangguk. "Terus?"
"Oke, lo tau kan rumus dari W itu M di kali G. Abis itu lo masukin deh bilangan-bilangan ini ke rumus, lo tambah-tambahin, sampe hasilnya segini, 1.25."
Gala mengangguk-ngangguk paham, untung Abel pintar jadi dia tidak akan tertinggal pelajaran karena Abel. Gala menatap Abel dengan kagum. "Pinter istri gue."
"Jangan diliatin kaya gitu," peringat Abel yang merasa risih ditatap oleh Gala.
"Oh sekarang udah kebiasa dipanggil istri ya?" Goda Gala.
"Gak gitu, Gala gue tuh-"
Cup ...
Gala mengecup bibir Abel lembut, entah kenapa bibir Abel menjadi candu untuknya semenjak malam itu. Abel tentu kaget dengan perbuatan Gala barusan. Kenapa Gala selalu melakukannya tiba-tiba?
"GALAAA!!" Abel memukul lengan Gala kesal.
"Hahahaha kenapa? Seneng ya dicium? Atau mau nambah?" Goda Gala lagi
"Lo kenapa sih kalau ngelakuin sesuatu suka tiba-tiba gitu? Lo gak mikirin apa gue kaget atau gimana?" Kesal Abel yang masih memukuli lengan pria itu.
__ADS_1
"Awww aduh aduh, sakit. Hahahaha seneng aja biar ada sensasinya. Kalau gue bilang dulu yang ada lo kabur duluan," jawab Gala enteng dan menahan kedua tangan Abel.
"Jangan macem-macem," peringat Abel saat Gala mendekatkan tubuhnya.
Namun Gala tidak menjawab dan malah membuat gadis itu semakin terpojok di bawah kungkungan Gala. Jantungnya berdebar kencang, dia malah membayangkan kembali kejadian malam itu. Tidakk, Abel tidak siap jika Gala melakukan hal itu lagi.
"Lo tau apa yang lebih seru?" Tanya Gala setengah berbisik.
Jujur saja itu membuat bulu kuduk Abel berdiri. Abel oun menggelengkan kepalanya. "Engga, gak mau tau."
"Biar gue kasih tau apa yang lebih seru," ucap Gala ambigu.
"Apaaa?? Jangan macem-macem ya, Gal atau mau gue banting? Gue tendang masa depan lo ya?" Ancam Abel.
"Jangan nanti kita gak bisa jadi mama sama papa," jawab Gala terkekeh.
"Galaaa!!!!!" Teriak Abel.
Namun Gala tidak mendengarkan ucapan Abel, dia semakin mendekatkan tubuhnya pada Abel dan ....
Menggelitik perut Abel.
"Gakk akan gue lepasin karena ini seru," balas Gala sembari kembali menggelitik perut Abel dengan kedua tangannya.
"Galaaaa ampunn, seriussss gue hahaha gue gak bisa digelitikin," pinta Abel memelas dan terus tertawa.
"Oh jadi nyerah?" Tanya Gala tanpa menghentikan aktivitasnya. Dengan cepat Abel mengangguk.
"Okee hahaha," Gala mengubah posisinya menjadi duduk dan membantu Abel untuk bangun
Abel masih tertawa, dia memang tidak bisa kalau digelitiki. Biasanya ayah dan ibunya selalu melakukan itu padanya dulu, di rumah. Sekarang malah Gala yang jahil, ah dia jadi merindukan kedua orang tuanya sekarang.
"Gue suka deh liat lo ketawa gini," ucap Gala sambil merapikan helaian rambut Abel.
"Kenapa suka?" Tanya gadis itu seraya mengatur napasnya.
"Karena ini pertama kalinya gue bikin lo ketawa," jawab Gala jujur.
"Segitu flatnya kah gue di mata lo?" Tanya Abel, tapi dia juga mengakui sih kalau dirinya memang jarang tertawa. Entah kapan terakhir kali dia tertawa lepas seperti ini.
__ADS_1
"Gak flat, cuma baru liat aja. Mungkin orang rumah lo sering ngeliat lo ketawa." Gala menipiskan bibirnya.
"Emang gak ada yang mau diketawain aja, ngetawain diri sendiri paling," jawab Abel asal.
"Apa yang perlu diketawain dari diri sendiri?"
"Banyak. Gue mau tanya sesuatu sama lo, boleh gak?" Tanya Abel sembari menatap ke arah Gala.
"Tanya aja, pasti gue jawab." Gala menghadap ke arah Abel, seolah memberikan fokusnya pada gadis itu.
"Jangan kepedean dulu. Lo itu kan bisa dibilang ganteng ya, cucu pemilik sekolah, kapten tim basket, pinter, tajir juga, pasti gak sedikit yang suka sama lo. Tapi kenapa lo malah suka sama gue? Padahal cewek mana pun bisa lo dapetin kalau lo mau, yang cantik, sempurna, bahkan yang utama itu suka sama lo. Gak kaya gue, iya kan?"
Gala tersenyum mendengar pertanyaan Abel. Kenapa dia harus bertanya soal ini? Tentu mudah untuk Gala menjawabnya.
"Kenapa gue sukanya sama lo padahal lo gak suka sama gue dan beda dari yang lain? Pointnya itu kan?" Tanya Gala memastikan.
Abel mengangguk, kurang lebih itulah inti pertanyaan Abel yang sering lewat dalam pikirannya. Aneh saja, padahal Abel tidak pernah berusaha membuatnya tertarik.
"Ya karena lo gak tertarik sama gue dan gak ngejar-ngejar gue. Jadi gue harus membuktikan sesuatu sama lo," jawabnya sambil menatap Abel dengan tulus.
"Membuktikan apa? Kalau lo bisa dapetin gue atau lo cuma mau nguji adrenalin? Atau lo emang sukanya sama orang yang gak suka sama lo?" Tanya Abel.
Gala menggelengkan kepalanya. "Karena lo beda dari yang lain, lo punya dunia sendiri yang gak bisa diselami banyak orang. Lo terlihat biasa aja di saat orang lain berlomba-lomba buat cari eksistensi, lo adalah orang yang gak bisa ditebak dan gue mau lebih masuk ke kehidupan lo yang udah lama lo kunci rapat-rapat pintunya. Gue mau membutikan kalau hal yang lo takutin itu gak se-menyeramkan itu."
Abel mengangguk, pertanyaannya tuntas. Jawaban yang tidak bisa dia tebak. Dia akan bisa menerima sebuah jawaban jika jawaban itu belum pernah terlintas di pikirannya.
"Sekarang gue tanya balik, kenapa lo gak biarin siapapun buat masuk ke kehidupan lo?" Tanya Gala.
Abel menghela napasnya, pertanyaan yang sering dia dapatkan namun dia enggan menjawabnya. "Harus dijawab? Kayanya pertanyaan lo gak membutuhkan jawaban."
"Butuh, karena gue ingin."
Abel terdiam, dan sejenak memejamkan matanya. "Karena manusia itu berubah-ubah. Omongannya gak akan pernah bisa dipegang untuk waktu yang lama. Gue mengurangi potensi untuk terluka."
"Kalau lo ubah prinsip untuk tidak berharap tapi menjalani alurnya sesuai semesta, lo gak akan terluka. Lo bakalan menganggapnya sebagai pembelajaran, karena lo tau apa?"
"Apa?"
"Manusia itu datang karena 2 alasan di hidup kita. Yang pertama manusia yang datang hanya untuk memberikan pelajaran lalu pergi dan yang kedua datang untuk menetap untuk saling berbagi pengalaman."
__ADS_1
"Dan gue pingin datang ke hidup lo sebagai orang yang kedua," lanjutnya.