Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Surat 10 Tahun Lalu


__ADS_3

Spoiler Alert!


Buat yang nanya, kapan novel ini tamat Author mau kasih tau nih. Kalau novel ini bakalan tamat akhir bulan ini. Karena Authornya masih gemes sama Alano dan Alana, pingin liat mereka jadi anak-anak dulu. Hahaha, makasih buat yang masih setia baca ceritaku.


Jangan lupa dukung ceritaku yang lain ya! Love you and happy reading. 🐰❤️



Sore ini cuacanya cukup bagus, Jonh akhirnya mengajak Abella dan Gala untuk berkeliling Villa, tentunya dengan membawa si kembar yang kini anteng di troller. Tentunya Jonh menyerahkan cicitnya pada Mba. Agar Galaxy dan Abella bisa menikmati suasana di sini.


Tapi memang Abel menikmatinya sih, di sini benar-benar masih hijau. Udaranya juga beda dengan di perkotaan sana yang lebih banyak menghirup oksigen bercampur asap kendaraan. Sudah tidak murni lagi dan ini memang yang lebih dibutuhkan oleh Alano dan Alana.


"Jadi perkebunan ini milik Kakek?" Tanya Abella tidak percaya.


"Ya apalagi yang bisa kakek lakukan di masa tua dan memang semakin tua rasanya lebih tertarik dengan hal-hal yang berbau perkebunan. Jadi Kakek memanfaatkan dana yang ada, untuk siapa lagi kalau bukan untuk keturunan di masa depan. Begitu juga yang sekarang dilakukan oleh Hendra Kakekmu," ucap Jonh sambil terkekeh.


"Iya sih, Kakek juga sekarang malah seringnya ke perkebunan karet, tapi mungkin memang begitu kali ya para orang tua menikmati masa tuanya, tenang dengan alam," balas Abel.


"Yaudah sayang nanti kita kalau udah tua, bikin rumah di tepi air terjun. Biar tenang," kata Gala mengide.


Abel mengerutkan dahinya. "Ngaco, ngapain di tepi air terjun, kaya bosen hidup aja. Ya emang alam juga, tapi masa di tepi air terjun."


Ketiganya terkekeh, suasana yang sejuk ditambah kebersamaan mereka. Membuat tempat ini menjadi sangat indah bila dinikmati. Jonh duduk di kursi yang menghadap ke perkebunan sambil bermain dengan kedua cicitnya. Abella dan Gala senang sih melihatnya, apalagi Alano dan Alana memang tidak sulit untuk bicara dengan siapa saja. Ya terkecuali sedang mode mengantuk seperti tadi pertama kali ke sini.


Mereka juga tidak akan rewel kalau sudah minum susu da mandi seperti ini. Ya sekiranya untuk beberapa jam ke depan, kalau sudah beberapa jam ya kembali rewel karena haus dan lapar.


Jonh menatap ke arah Galaxy dan Abella. " Anak kalian biar sama Kakek saja, nikmati waktu berduaan kalian. Pasti pusing toh, menjaga mereka berdua. Ada si Mba juga yang membantu Kakek."


Gala tersenyum mendengarnya, memang itu yang dia butuhkan sekarang bersama Abel. Dengan cepat Gala mengangguk dan mengajak Abel masuk ke perkebunan teh. Agak tidak tenang sebenarnya Abella meninggalkan Alano dan Alana. Bukan karena tida percaya dengan pengawasan Kakeknya, tapi ya karena memang sekarang dia tidak terbiasa jika tidak membawa Alano dan Alana bersamanya.

__ADS_1


Namun, setelah dipikir ya memang. Sudah jarang sekali Gala dan Abella bisa pergi menikmati waktu berdua. Mungkin sekarang waktu yang tepat, karena dalam rumah tangga juga memang harus ada harmoninya sendiri. Termasuk quality time berdua.


"Mas, kita mau kemana? Tanya Abel.


"Mau ke bukit, Mas dulu sering main ke sini. Tapi sendirian, " jawab Gala.


Abel menurut saja, lagi pula dia memang jarang ke tempat seperti ini. Mengikuti Galaxy sambil menikmati aroma teh, ternyata menyenangkan juga. Gala tersenyum melihat Abel yang nampak menikmati ini semua. Gala juga tau kalau Abel butuh healing pastinya.


"Mas, pelan-pelan."


Gala terkekeh saat melihat Abella yang cukup kesulitan naik ke atas bukit, karena ya memang selain curam, banyak ranting juga yang membuat jalan ini susah di lewati. Sampai akhirnya mereka benar-benar sampai di atas bukit.


Tidak ada apa-apa memang, hanya ada sebuah pohon besar dan satu buah kursi yang menghadap ke pemandangan indah di bawah sana. Abel tersenyum dan sesekali menghela napas, merasakan udara sejuk di sini yang membuatnya sedikit tenang


"Bagus kan tempatnya?" Tanya Gala.


Abel mengangguk. "Bagus banget. Aku kaya menemukan ketenangan aja di sini. Beda banget sama suasana di hiruk pikuk perkotaan."


Gala menggali tanah menggunakan sekop kecil yang memang selalu ada di sana. Lebih tepatnya memang dia yang menyimpannya di sana dan tidak pernah ada yang memindahkannya. Waktu kecil Gala selalu melarang siapapun datang ke sini sebenarnya.


Sebuah plastik muncul ke permukaan, dengan senang Gala mengambil sebuah kotak dari sana, membuat Abell menatap ke arah Gala keheranan. "Itu apa?"


"Permohonan Mas 10 tahun lalu." Gala menggenggam tangan Abel lalu mengajaknya duduk di kursi.


Abel tertarik sih, karena dulu di umur 10 tahun rasanya Abel masih sibuk bermain. Permintaannya juga sangat sederhana dan dilakukan setiap saat ingin memejamkan mata. Jadi menurutnya Galaxy ini anak-anak yang memang sudah dipaksa dewasa sejak kecil.


Perlahan Gala membuka kotak itu dan terkekeh melihat isinya. Ada sebuah mobil mainan kecil dan beberapa surat dengan tulisan tangan yang masih belum rapi. Di sana tersimpan harap setiap kali Gala menulisnya. Biasanya dia menulis permintaan ketika dia merasa benar-benar diabaikan oleh sekitar. Kakeknya yang mengajarkan itu semua pada Galaxy.


Permintaan pertama : Punya peri yang bisa mengabulkan keinginan Galaxy.

__ADS_1


Permintaan kedua : Ingin menjadi CEO seperti kakek


Permintaan ketiga : Berkumpul bersama mama, papa, kakek, kak Jihan dan kak Miya bersama peri.


Permintaan keempat : Punya adik kecil supaya bisa diajak main.


Abel terkekeh membaca surat-surat kecil yang berada di sana. Lucu saja, bukan karena keinginan diluar nalar anak usia 10 tahun. Tapi ya karena pada kenyataannya Gala benar-benar mencapai keinginannya.


"Kamu kayanya cenayang, semuanya jadi kenyataan kecuali dapet adik sama punya peri," ucap Abel sembari menatap Galaxy.


"Semuanya tercapai, Sayang."


"Kamu perinya, peri yang bisa mengabulkan keinginan Mas untuk mempunyai kehidupan yang lebih baik dan peri yang selalu ada jadi teman terbaik, teman hidup."


"Mas gak ditakdirkan punya adik ternyata buat diajak main, tapi Mas ditakdirkan menjadi seorang ayah dari anak-anak kita," lanjut Gala bercucap dengan senyuman mengembang di wajahnya.


Abel mengulum senyumnya, lalu mengalihkan pandangannya dari Gala. "Udah ah, jangan bikin salting. Kaya ABG!"


"Loh kita kan emang ABG," kata Gala terkekeh.


"Ya tapi kaya pacaran lagi, Mas. Padahal udah punya anak, apa nanti kata Alano sama Alana kalau ngeliat Mama Papanya kaya bocah kasmaran. Kaya kembali ke masa-masa pacaran, walaupun sebenarnya kita gak ngalamin masa pacaran sih."


"Mereka seneng, karena punya keluarga harmonis. Mama dan Papanya saling menyayangi. Gapapa, kan bisa pacaran sekarang. Pacarannya lebih sah karena udah sah, gak dosa juga." Gala menyimpan kotak itu lalu menggenggam tangan Abella dengan lembut.


Meskipun hanya diam, tapi ya menyenangkan. Menikmati matahari tenggelam. Tiba-tiba Abel melengkungkan senyumnya. "Mas, kita sama sama tua ya? Terus nanti kita ke tempat ini lagi buat nikmatin senja."


"Dengan senang hati, Sayang. Stay sama Mas apapun yang akan terjadi di masa depan ya?"


Abel mengangguk lalu mereka tersenyum dan saling menatap, entah sejak kapan bibir mereka sudah saling berpagutan. Menikmati suasana sejuk dan matahari yang sebentar lagi tenggelam. Menyalurkan rasa rindu satu sama lain dan saling memberi kenyamanan. Setidaknya biarkan ini terjadi tanpa perlu diganggu oleh suara tangisan Alana dan Alano atau putus ditengah jalan karena waktunya memberi asupan untuk Alano dan Alana.

__ADS_1


Kali ini hanya mereka berdua.


__ADS_2