Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Perjalanan Menuju Bogor


__ADS_3


Diperkirakan untuk sampai di Bogor adalah 5 jam perjalanan, Abel benar-benar teliti untuk mempersiapkan Alano dan Alana dengan baik. Meskipun katanya udara di sana panas, tapi jika di kawasan perkebunan teh belum tentu. Jadi Abel memakaikan jaket pada mereka, agar nanti di sana tidak mengalami culture shock dengan suhu.


"Jangan berantem, jangan rewel, kalau mau minum susu teriak aja ke Mama, oke? Jangan pake nangis," peringat Abella yang menaruh mereka di carseat. Alano dan Alana juga membalasnya dengan ocehan, Abel lega kalau begitu. Karena dia yakin kalau anak-anaknya memang selalu bisa diajak bekerja sama.


Tapi Abel juga tidak lupa dengan jadwal minum susu mereka, jadi dia sendiri juga memasang Alarm untuk kapan-kapan saja Alano dan Alana perlu diberi susu. Lebih sigap lagi mereka membawa penghangat susu yang sudah di simpan di belakang, lengkap dengan sambungan yang sudah terhubung ke depan. Se-teliti itu memang orang tua muda ini.


Dirasa semuanya beres, akhirnya Gala melajukan mobilnya untuk memulai perjalanan. Abel sesekali tersenyum melirik ke belakang, karena sepertinya Alana dan Alano memang senang jika diajak jalan-jalan seperti ini. Sepanjang perjalanan, ocehan mereka menjadi backsound dari perjalanan ini, gemas sekali memang.


"Mas, kita di sana berapa hari rencananya?" Tanya Abella yang memang belum sempat bertanya tentang hal ini.


"3 hari, Sayang. Mas juga kan gak bisa lama-lama tinggalin pekerjaan, apalagi lagi ada proyek besar yang Mas pantau," ucap Gala.


"Ya gak masalah sebenarnya, Mas. Aku cuma mau mempersiapkan apa-apa aja yang bakalan kita lakuin di sana dengan waktu yang ada. Kaya gitu."


"Dikirain kamu pingin liburan lama, kalau liburan lama nanti kita bikin rencana perjalanan ya, mau ke luar kota atau ke luar negeri pasti Mas turutin." Gala tersenyum lalu mengusap kepala istrinya dengan lembut.


Abel mengangguk, ya dia memang perlu liburan sih. Mengurus anak ternyata tidak semudah itu. Terkadang dia merasa belum menjadi orang tua yang sempurna untuk kedua anaknya saking perfeksionisnya Abella. Tapi ya tidak seingin itu juga, dia juga masih enjoy kok menikmati perannya sebagai Ibu.


Karena pada dasarnya Alano dan Alana masih bayi, ternyata tidak semudah itu untuk membuat mereka mengerti kondisi. Gala sampai harus menghentikan mobilnya beberapa kali karena Alano dan Alana mulai bosan di perjalanan. Mereka nampak uring-uringan karena tidak bisa tidur tapi bosan duduk di carseat. Seperti sekarang mereka berhenti di sebuah tempat sembari menikmati makan batagor dan menggendong anak mereka di pankuannya.


"Bosen kayanya mereka, mereka mikir gini. Kok ini kita gak sampe-sampe, bosen," ucap Abel sambil terkekeh dan membuat Alana kini mengadakan kepalanya melihat Abel.


"Bosen ya kamu, biasanya guling-guling sekarang harus duduk terus?" Abel tersenyum lalu mencium pipi Alana gemas.


"Baru kali ini kita pergi jauh bareng anak-anak, ternyata gak bisa sat-set. Mas kira mereka bakalan anteng," ucap Gala yang mendudukkan Alano di setiranya.

__ADS_1


"Susah, Papa. Anaknya udah gak mau diem. Maunya kesana kemari, maunya main terus dan susah disuruh tidur," kata Abel.


"Iya makin gede aja emang, padahal baru kemarin lahir dari perut kamu, Sayang. Sekarang udah bisa protes sama mama papanya."


"Namanya juga hidup, Mas. Terkadang kalau kita terlalu menikmati sampai lupa kalau waktu berjalan begitu cepat. Tapi kalau kita ada masalah ya rasanya kaya lambat banget berjalannya."


.


.


.


Seperti perkiraan, mereka akhirnya sampai di Bogor setelah 5 jam perjalanan. Alana dan Alano nampak memperhatikan sekitarnya. Mungkin aneh saja, di rumah mereka cenderung lebih banyak rumah lagi, kalau di sini dipenuhi oleh pepohonan dan di sekitarnya dikelilingi kebun teh.


Jonh memang tinggal di sebuah Villa sederhana di puncak, memang apalagi yang dia butuhkan di masa tua selain ketenangan. Semua urusan perusahaannya pun sudah dia serahkan pada Galaxy dan juga Ghani anaknya. Jadi Jonh kini tinggal menikmati hasil kerjanya di masa muda.


"Assalamualaikum," ucap Abella dan Galaxy bersamaan.


Abella dan Galaxy juga senang lalu menyalami Jonh. Meskipun sudah tua tapi nampaknya Jonh terlihat bugar, bagus sih jadi Gala tidak merasa cemas sekali dengan keadaan kakeknya setelah mengetahui beliau baik-baik saja.


"Cicit Opa akhirnya ke sini, Opa kangen sekali sama kalian." Jonh menciumi kedua cicitnya dan Abel juga mengarahkan Alano dan Alana untuk belajar bersalaman pada orang yang lebih tua.


Mereka sedikit bisa di arahkan sih, tapi saat akan digendong mereka berdua nangis. Mungkin karena kelelahan di perjalanan atau mereka ngantuk dan juga lapar. Membuat Jonh harus menahan rasa rindu pada cicitnya sementara waktu.


"Ngantuk kayanya, Kek. Soalnya di perjalanan gak bisa tidur," ucap Abell yang berusaha menenagkan Alana dalam dekapannya.


"Ya sudah, tidurnya mereka dahulu. Biar nanti sore mereka bisa main dengan Opanya," balas Jonh sambil tersenyum.

__ADS_1


Abella mengangguk, dibantu dengan para pelayan akhirnya Abel bisa istirahat sejenak di kamar sembari menidurkan kedua anak kembarnya, sementara Gala menemani sang kakek di taman belakang untuk berbincang beberapa hal.


Tidak sulit memang untuk menidurkan Alano, berbeda dengan Alana yang rewel, jadi Abel harus mengayun-ayun Alana agar bisa tidur. Apalagi di sini memang cukup dingin, jadi mungkin Alana sedikit rewel karena itu dan lagi kalau Alano seperti papanya yang bisa tidur dalam suhu apapun, kalau Alana sama seperti Abella yang selalu harus tidur dalam suhu yang hangat.


Setengah jam Abel berusaha akhirnya Alana tertidur, langsung saja dia baringkan di sebelah Alano dan menyangga mereka dengan Guling agar tidak kemana-mana saat tidur. Karena Alano dan Alana selalu tidur cukup lama, itu membuat Abel sedikit lega sih. Dia bisa menikmati suasana di sini dan berbincang sejenak dengan Jonh sang kakek.


Abel menutup pintu kamar itu dan berjalan ke taman belakang, terlihat Gala dan Kakeknya memang sangat dekat. Wajar sih, apalagi Gala kan pernah bilang kalau dulu selalu bersama Jonh kemana-mana. Langsung saja dia ikut bergabung dan duduk di kursi panjang sebelah Galaxy.


"Jadi rutinitas kamu sekarang gimana, Bel?" Tanya Jonh pada Abella.


"Ya mengurus Alano sama Alana, Kek. Mereka berdua kadang rewel tapi mereka juga bisa diajak kerja sama. Jadi aku masih enjoy buat jalaninnya. Aku juga lagi menikmati itu semua, kalau udah gede kayanya bakalan lebih susah buat peluk atau ciumin anaknya."


"Bagus kalau begitu. Kamu sebagai suami harus suport terus istri kamu loh, Gal. Tidak mudah mengurus anak, apalagi anak kembar yang aktif seperti Alano dan Alana," ucap Jonh.


Gala menatap Abella dan membawanya ke dalam pelukan. "Kalau itu Gala selalu usahakan, kalau Abel berusaha jadi yang terbaik, tentu Gala juga melakukan hal yang sama."


"Kakek tidak menyangka loh, Galaxy yang dulunya keras kepala bisa bijak begini. Kakek pikir kalian akan susah menjalani perjodohan masa kecil yang kakek buat dulu, ternyata kalian sampai dititik ini juga."


"Awalnya susah, tapi kami sepertinya harus berterima kasih pada Kakek dan juga kakek Hendra. Karena berkat kalian Gala dan Abell bisa menjadi pasangan dan Gala bersyukur sekali memiliki istri cantik, baik, pengertian, sabar, seperti Abel," ucap Gala yang di hadiahi ledekan dari Abella. Bucin sekali memang pria yang satu ini.


Jonh tergelak melihat tingkah pasangan muda ini, ya setidaknya niat baik memang akan berbuah kebaikan juga. Siapa yang menyangka juga, ucapan yang tadinya hanya sekedar kata, bisa menyatukan keduanya seperti ini?


Abel tersenyum saja sih, karena memang selama ini juga Gala turut serta membantu pekerjaannya. Mereka kompak untuk menjalankan rumah tangga mereka dan terlebih lagi Gala memang begitu mencintainya. Selalu memperlakukan dia dengan baik dan untuk itu Abel benar-benar bersyukur.


Hai-hai, satu part dulu ya. Nanti beberapa jam lagi update. 🐰❤️


Aku mau promosi dulu, ini ada karyaku yang udah tamat dan masih on going. Kali aja kalian tertarik, yuk kepoin juga!

__ADS_1




__ADS_2