
Hai guys, maaf ya aku update 1 bab terus. Sebenernya aku lagi ambil jatah libur dari NT. Tapi selalu gatel pingin update huhu, tapi mulai besok aku update normal lagi kok. Emm kalau sempet juga aku bakalan update 1 episode lagi nanti malem. Makasih ya udah setia baca ceritaku.
Happy reading~
Setelah melalui proses panjang, akhirnya Abel diizinkan keluar rumah sakit. Tapi dia harus rajin untuk checkup dan meminum suplemen agar pemulihannya juga cepat. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka, lebih tepatnya mereka sama-sama berkutat dengan pikiran masing-masing.
"Kamu laper gak? Mau cari makan dulu?" Tanya Gala memecahkan keheningan.
Abel menggeleng. "Aku gak mau, tapi kalau kamu lapar ya aku ikut aja."
"Tapi kamu belum makan apa-apa sejak tadi, kita beli sate kesukaan kamu mau? Atau mau martabak? Apapun yang kamu mau aku beliin," ucap Gala.
Abel menggeleng, dia memang tidak tau mau apa. Dia benar-benar kehilangan minat dalam apapun. Kalau bisa jujur dia hanya ingin diam saja. Gala akhirnya tidak memaksa dan kembali fokus menyetir. Tiba-tiba terlintas sesuatu dalam benaknya.
"Gimana kalau kita sewa pembantu dulu sementara? Biar kamu gak kecapean dan bisa istirahat beberapa bulan?" Tanya Gala.
"Gak perlu, Gal. Aku masih bisa urus semuanya," jawab Abel tanpa memalingkan pandangan dari jalanan.
"Pemulihan kamu perlu 6 bulan, aku gak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Gala.
"Itu pemulihan kandungan, aku masih bisa kerjain semuanya. Aku juga masih bisa urus kamu."
"Bel-"
"Gal, biarin aku kerjain semuanya sendiri. Aku gak kenapa-kenapa dan kamu gak perlu khawatir tentang itu. Yang sakit bukan fisik aku, tapi hati aku. Aku perlu alihin semua itu dengan apa yang bisa aku kerjain."
"Kamu yakin? Ini buat kebaikan kamu, kamu bisa melakukan perkejaan kamu kalau emang mau, tapi kamu juga dibantu buat mengerjakan pekerjaan berat, gimana?" Tanya Gala.
Abel menghela napasnya, mungkin Gala memang ingin yang terbaik. Jadi biarkan saja dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. "Atur aja."
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah. Gala memapah Abel masuk ke dalam, kondisinya memang belum pulih total, tapi dia memaksa ingin pulang.
Langkah Abella terhenti saat melihat kamar bayi yang berada tepat di depan kamar mereka. Seharusnya kamar itu sudah bisa digunakan beberapa bulan lagi. Tapi ternyata kamar itu hanya akan menjadi pajangan yang tidak berpenghuni. Lagi-lagi air matanya turun, dia juga tidak tau kenapa menjadi sensitif seperti ini.
Gala yang sadar akan itu langsung menutup kamar bayi mereka dan menghapus air mata istrinya. "Ssstt udah udah, kita istirahat sekarang."
Gala menggendong Abel ala brydal, karena dia tidak mau beranjak dari sana, setelah itu dia membaringkannya di kasur dan menarik selimut Abel.
"Gal, seharusnya kemarin aku gak pergi ya? Kamu kecewa sama aku?" Tanya Abel tiba-tiba.
"Kenapa nanya kaya gitu?"
"Gara-gara aku kamu jadi kehilangan anak kita. Bunda, Mama, Ayah sama Papa jadi kehilangan cucu mereka dan kakek kehilangan cicitnya. Kalau aku gak coba kabur dan maksain dia kuat buat lari dia gak akan kenapa-kenapa."
Gala duduk dan mendekatkan diri pada Abel, perlahan dia kembali menghapus air mata Abel dan mengecup bibirnya lembut. "Bukan salah kamu, jangan nyalahin diri kamu sendiri. Aku sedih kehilangan anak aku, tapi aku lebih sedih kalau kamu gak selamat kemarin. Jangan bilang gitu."
"Tapi itu bener, Baby juga pasti marah sama aku karena gak bisa jagain dia. Dia pasti sedih punya mama kaya aku ya, Gal? Makanya dia memilih buat gak dilahirkan aja? Gal aku mau ke Baby, aku mau minta maaf sama dia, bawa aku ke sana."
"Gala ..."
"Nanti aku bawa kamu ke sana, dokter bilang kamu harus istirahat dulu minimal 3 hari. Aku juga udah di sini, gak akan kemana-mana sampai kamu sembuh dan besok aku pastiin udah ada yang kerja di sini."
Gala berpindah tempat menjadi di samping Abel, pelan-pelan dia menarik Abel dalam pelukannya lalu mengelus punggungnya dengan lembut. "Tidur ya, biar kamu bisa lupa sama rasa sedihnya. Aku temenin."
"Gal, jangan tinggalin aku ya?" Ucap Abel.
"Kenapa kamu berpikir aku bakalan tinggalin kamu? Aku gak akan tinggalin kamu dalam keadaan atau kondisi apapun. Sekarang kamu tidur, Jangan mikirin apapun. Kamu fokus sama kesehatan kamu, pemulihan kamu, itu udah cukup buat aku."
"Tapi kamu ma-"
"Udah merem, kalau gak merem aku beneran kasih hukuman lebih berat dari tadi." Gala mengeratkan pelukannya pada Abel.
__ADS_1
"Jangan dilepasin, aku mau terus dipeluk kamu," pinta Abel.
Gala mengangguk dan mencium kening Abel. Menatapnya yang perlahan memejamkan mata membuat Gala merasa lebih tenang. Setidaknya Abel tidak akan banyak berpikir kalau dia terlelap.
.
.
.
Gala meraba ke samping kasur, namun dia tidak mendapati Abel ada di sana. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul jam 4 pagi. Tapi kemana Abel, apa dia sudah mulai melakukan aktivitasnya? Dia belum boleh melakukan aktivitas berat, memang gadis itu benar-benar melakukan apa yang dia inginkan.
Dia akhirnya mengumpulkan nyawa sebelum beranjak dari tempatnya untuk mencari Abel. "Bel." panggil Gala dan mencari kearah dapur.
Tapi dia tidak ada di sana, sudah berkeliling rumah akhirnya dia masuk ke kamar bayi yang ada di depan kamar mereka. Perasaannya sedikit terhenyuk saat melihat Abel yang tertidur di bawah sambil menaruh kepalanya di pinggir kasur box bayi.
Semalam Abel memang tiba-tiba saja merasa tidak enak perasaan. Jadi dia ke kamar itu, setidaknya dapat mengobati kerinduan pada anaknya. Namun ternyata malah membuatnya merasa semakin sedih, jadilah dia menangis di sana.
Berada di sini membuat Gala juga terluka, bagaimana tidak? Sejak awal kehamilan Abel dialah yang semangat untuk membeli berbagai macam perlengkapan bayi dan dia juga yang menata kamar ini sedemikian rupa untuk menyambut anak mereka.
Dia jadi membayangkan apa yang Abel rasakan sekarang, pasti lebih hancur dari apa yang dia rasakan. Ibunya saja saat jauh dari anaknya merasa sedih, apalagi Abel yang kehilangan anaknya? Dia jadi berpikir keras bagaimana cara membuat Abel kembali pulih, karena pada kenyataannya dia pun masih sulit untuk menerima kenyataan kalau anak mereka sudah benar-benar tidak bersama mereka lagi.
Perlahan Gala mengambil guling bayi yang ada di pelukan Abel dan menyimpannya di tempat semula. Masih terlihat matanya yang sembab akibat menangis, Gala tau kalau mungkin Abel menangis sejak tadi sampai dia ketiduran.
"Kamu terluka banget ya, sampai di sini semalaman?" Gala menghela napasnya lalu menggendong istrinya keluar kamar, dia jadi semakin khawatir dengan keadaan Abel kalau seperti ini.
Pelan-pela Gala membaringkan Abel di kasur dan menarik selimutnya, kasian dia pasti kurang tidur. Gala memperhatikan wajah Abel yang sedikit pucat, berarti mulai hari ini dia harus menggantikan pekerjaan Abel untuk sementara.
"Kamu harus sembuh, kamu pasti kuat," ucap Gala sembari menciumi punggung tangan Abel penuh perhatian. Dia sangat mencintai gadis itu.
Gala mulai mengatur jadwalnya hari ini. Dari mulai beres-beres rumah, mencari makanan dan menyiapkan vitamin serta suplemen untuk Abel. Karena dia tidak tega juga kalau harus membiarkan Abel melakukan pekerjaannya dengan kondisi seperti ini. Ya sekiranya sampai asisten rumah tangga mereka sudah ada.
__ADS_1