Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Quality Time


__ADS_3


Abel menatap Gala yang kini tengah memeluk dan menyandarkan kepala di dadanya. Sambil mengelus pelan rambut Gala, Abel juga kini tengah mendengarkan keluh kesah yang Gala alami di kantor seharian ini.


Dia senang saja mendengar Gala menceritakan kesehariannya, setidaknya ada orang yang bisa Abel ajak bicara. Karena itu bisa menghilangkan rasa kesepian yang dia rasakan untuk sekarang.


"Aku mau tanya," ucap Gala.


"Ya tanya aja."


"Kamu gak lagi nahan perasaan sedih cuma buat bikin aku seneng, kan?"


"Engga, kenapa mikir kesana?" Tanya Abel sambil menatap Gala yang kini tengah menatapnya dalam, mencoba mencari celah kebohongan dari sorot mata gadis itu.


"Aku takut kamu sembunyiin perasaan kamu, aku gak mau nantinya kamu sedih diem-diem, karena itu rasanya lebih menyakitkan."


Abel sedikit tersenyum mendengarnya. "Engga, aku cuma gak mau terlalu lama terpuruk aja. Banyak orang yang suport aku. Mau sedih juga Azriel gak akan pernah kembali lagi, kan?"


"Tapi berat kan lakuinnya?"


Abel mengelus pipi suaminya sembari memainkan jari-jarinya di sana. "Berat, aku baru pertama kali hamil dan kehilangan anak. Bahkan kayanya itu hari terburuk aku selama aku hidup. Tapi aku masih punya kamu. Selama kamu sama aku kayanya aku bakalan baik-baik aja walaupun susah."


"Kalau gitu aku akan selalu sama kamu, biar kamu bisa lewatin ini dengan baik."


"Gal ... "


"Apa, Sayang?"


"Kalau aku bilang, aku belum siap hamil lagi gimana? Kamu marah atau kecewa sama aku gak?" Tanya Abel Ragu.


Gala mengubah posisinya menjadi duduk, begitu juga dengan Abel. Gala menarik napasnya dan membuangnya perlahan. "Aku paham sama kondisi mental kamu sekarang, aku paham ketakutan dalam diri kamu. Jadi aku gak akan memaksakan apapun."

__ADS_1


Gala menggenggam tangan Abel dan mengelus punggung tangannya. "Lagian kondisi kamu juga belum sembuh, aku akan tunggu sampai kamu sembuh, baik fisik dan juga mental kamu. Aku gak marah atau kecewa."


"Tapi kamu pingin banget punya anak, kan?" Tanya Abel lagi.


"Pingin itu bukan berarti harus, sekarang aku mau fokus dulu sama kamu. Fokus sama kesehatan kamu dan fokus buat bikin kamu bahagia lagi, selebihnya kita ikutin alur aja."


Abel tersenyum, dia sudah lega karena mendapatkan jawaban dari Gala. Dia bukan tidak ingin punya anak, tapi dia masih belum siap. Dia masih harus mengumpulkan keberanian dan menyembuhkan trauma yang dia alami kemarin.


Gala memeluk istrinya dengan lembut, lalu mencium bibirnya dengan lembut. "Aku sayang kamu, Abella."


Abel membalas pelukan Gala lalu kembali menatapnya. "Aku juga sayang kamu, Gal."


Mereka saling menatap, entah sejak kapan kini keduanya saling menautkan bibir satu sama lain. Menikmati waktu kebersamaan yang rasanya akhir-akhir jarang mereka lakukan.


Gala membaringkan tubuh istrinya perlahan, sementara Abel mengalungkan tangannya pada leher Gala. Mereka saling menyesap dan menyalurkan rindu satu sama lain di sana. Membiarkan sejenak kesedihan mereka terlupakan dan larut dalam permainan mereka sendiri.


Cukup lama Gala bermain di bibir Abel, kini dia mengecup bibirnya sebagai penutup. Bahaya juga jika dilanjutkan, karena dokter sudah memberi pantangan kalau Gala tidak boleh melakukan lebih dulu sampai 6 Minggu ke depan dan dia memahaminya. Mereka berdua tersenyum dan mengatur napas masing-masing.


Abel mengangguk. Setelahnya mereka kembali berpelukan dan Gala menarik selimut. Menatap istrinya dulu sebelum tidur membuatnya bisa tertidur pulas. Abel mengeratkan pelukannya pada Gala.


Iya, malam ini dia benar-benar memulai kembali kehidupan mereka yang kemarin sempat terhenti. Semoga saja ini adalah awalan yang baik.


.


.


.


Abel dan Hendra kakeknya sedang berada di taman belakang rumah Abella. Mereka masih sama-sama terdiam, sebenarnya Abel juga tidak tau harus bicara apa.


"Gimana keadaan kamu?" Tanya Hendra.

__ADS_1


"Aku baik-baik aja, Kek," jawab Abel sambil sesekali memainkan kukunya namun pandangannya tetap fokus ke depan.


"Masih terasa sakit? Atau butuh dokter pribadi untuk selalu cek kondisi kesehatan kamu?" Tawar Hendra.


Abel menggeleng. "Engga, aku punya Gala juga udah cukup bikin aku sembuh."


"Semua yang menyakiti kamu sudah kakek urus, mereka tidak akan ada di kehidupan kamu lagi. Jadi kalau masih ada orang yang mengganggu kehidupan kamu, bilang sama kakek dan pasti kakek urus," ucap Hendra.


"Atur aja kalau Kakek mau, apapun keputusan memang ada di tangan kakek, kan?"


"Kakek minta maaf sama kamu, kenapa kamu tidak pernah menceritakan semua ini pada kakek? Bahkan orang tuamu saja tidak pernah mengatakan apapun. Andai saja mereka bilang, kakek tidak akan memaksakan kemauan kakek atau melarang kamu ini dan itu," kata Hendra penuh penyesalan.


"Karena mereka tau kakek akan melakukan hal di luar batas kalau sampai kakek tau. Selain akan membuat anak di bawah umur masuk penjara, kakek pasti akan lebih ketat menjaga aku dan mengekang ini itu. Ayah sama Bunda gak mau aku makin ngerasa stress, jadi mereka memilih buat diam. Jangan salahin mereka."


Hendra terdiam, memang semakin dewasa Abel mulai semakin berontak. Hendra juga semakin sadar kalau kasih sayangnya memang terlalu berlebihan sampai membuat cucunya merasa dikekang. Dia juga sadar kalau Abel stress karena aturan yang dia buat. Padahal sebagai kakeknya seharusnya dia memberikan kenyamanan untuk Abel.


"Tapi gapapa, keputusan terakhir kakek dalam hidup aku kemarin buat aku ketemu sama Gala dan aku makasih untuk itu." Abel melanjutkan ucapannya.


"Kakek tau seberapa marah aku sama kakek kalau ingat semua aturan kakek dari aku kecil? Aku marah banget, aku ngerasa hidupku gak bener-bener bebas kaya orang lain. Bakan bener-bener berdampak ke diri aku yang sekarang. Tapi karena hadirnya Gala, karena kakek pertemuin aku sama dia, aku jadi paham rasa kasih sayang kakek sama aku."


"Gala kasih aku sudut pandang yang bisa aku pahami dari sisi kakek dan semua arang sampai aku perlahan mulai paham tentang kalian. Aku paham kakek pingin selalu yang terbaik buat aku, memberikan kehidupan yang layak dan ingin aku dihargai orang karena pandangan mereka sama aku. Gitu, kan?"


Hendra menatap cucunya, masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Abella barusan.


"Jadi aku udah gak permasalahin itu, aku gak pernah menyalahkan kakek lagi. Aku sekarang cuma ngikutin arus kehidupan aja. Jangan pernah nyalahin diri kakek sendiri lagi."


"Aku udah maafin kakek dan aku juga minta maaf sama kakek kalau selalu ngajak kakek berdebat atau berselisih paham. Aku juga salah untuk itu karena gak menghargai kakek yang lebih tua."


Hendra memeluk cucunya itu, dan Abel membalas pelukan kakeknya. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak dekat seperti ini. Ya meskipun mereka sering berselisih paham, tapi Abel dan Kakeknya sangat dekat.


"Kakek sayang sekali sama kamu, maafin kakek ya. Kakek janji mulai sekarang akan mendukung semua keputusan kamu, kakek benar-benar menyesal. Kamu harus selalu baik-baik saja ya, Sayang. Kakek tidak ingin kamu kenapa-kenapa lagi," ucap Hendra sembari mengecup puncak kepala cucunya.

__ADS_1


Abel hanya mengangguk dan perlahan tersenyum. Tidak ada gunanya dia bertahan dengan masa lalu. Lagi pula Hendra sudah menyadari kesalahannya. Jadi tidak perlu berdebat lagi mengenai hal ini. Semua masalah mereka berdua pun tuntas.


__ADS_2