Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Dilema


__ADS_3


Satu bulan berlalu, kini Abel sedang berada di rumah mama mertuanya karena ada Jihan dan Juga Miya. Jadi, Gala mengantarkan ke sana. Selain mamanya rindu, Gala juga berpikir agar Abel tidak kesepian karena dia akan lembur sampai tengah malam hari ini.


Abel menatap kakaknya yang kini sedang menyuapi Kanya, bayi itu sudah mulai besar dan sudah bisa berontak saat disuapi. Sangat menggemaskan, sesekali Abel tersenyum saat Kanya menatap ke arahnya.


"Anya tuh suka banget liatin tantenya, mamanya sampai dicuekin habis-habisan," ucap Miya.


Abel terkekeh mendengar ucapan Miya, "Ya mungkin karena kalau sama mamanya udah sering ketemu di rumah, kalau sama aku kan jarang, Kak."


"Di rumah juga anteng sama bapaknya, Bel."


Tiba-tiba ....


"CIAAA, itu belum selesai loh iketannya! Sini selesain dulu," teriak Jihan.


Miya dan Abel menatap Jihan yang sudah kewalahan menghadapi putri kecilnya yang sangat aktif, sekarang Cia malah berlari ke arah Abel lalu memeluknya. "Mau cama ante, Abel aja!"


Jihan menghampiri Abel dan anaknya, memiliki anak yang tidak bisa diam kadang membuatnya kewalahan jika di rumah.


Abel tertawa dan membalas pelukan keponakannya itu sambil mencium pipinya gemas. "Cia kenapa? Kasian Ibundnya lari-lari tuh."


"Cia nda mau diikat cama Ibund, maunya cama ante," ucap Cia."


"Kasian loh ante Abelnya baru dateng, kamu tuh bandel banget heran," kata Jihan.


"Gapapa, Kak. Sini biar aku aja yang iketin rambutnya Cia, kasian juga Kakak cape pasti habis lari-larian."


"Ck, maaf ya Bel." Jihan memberikan sisir dan juga tempat ikut rambut beserta jepitnya pada Abel. Dia pasrah saja, karena Cia jika sudah tukuh pada pendiriannya akan susah.


"Cia mau diikat kaya gimana?" Tanya Abel saat gadis kecil itu sudah duduk membelakanginya untuk minta diikat.


"Mau kaya Elca Flozen, Ante!"


"Oke little princess," jawab Abel sembari menyisir rambut Cia.


Dengan telaten Abel mengikat rambut keponakannya, membuat Jihan, Miya merasa terharu. Bukannya apa-apa, tapi mereka tau kalau sebenarnya Abel sudah sangat siap menjadi seorang ibu, dia juga sangat menyukai anak kecil, tapi ya memang semenjak kejadian itu dia masih belum siap untuk hamil lagi.


Dara datang dan duduk di sebelah Abel yang sudah beres melakukan tugasnya. "Udah cantik."


"Makacih ante Abel," ucap Cia sambil memeluk dan menciumi pipi Abel.


"Sama-sama, Sayang. Sekarang makan dulu gih, nanti main lagi sama Ante ya," kata Abel.

__ADS_1


"Ciap ante!"


Setelah Cia menyusul Jihan ke dapur, Dara kini duduk di sebelah menantunya sambil mengelus punggung menantunya itu dengan lembut.


"Gimana keadaan kamu sekarang, Sayang?" Tanya Dara.


"Aku baik-baik aja kok, Ma. Mama sendiri gimana kabarnya? Maaf ya aku sama Gala jarang ke sini," ucap Abel.


"Gapapa, kamu juga masih dalam masa pemulihan. Mama paham kok, mama baik-baik saja. Oh iya, setelah pemulihan selesai kalian ada rencana mau punya anak lagi?" Tanya Dara perlahan, pasalnya ini pasti sangat sensitive.


"Kayanya belum, Ma. Mama mau kami punya anak lagi ya?" Tanya Abel.


"Engga, Sayang. Mama hanya bertanya saja," jawab Dara sambil tersenyum.


"Gapapa, Bel. Kalau kamu belum siap punya anak lagi. Temenku juga gitu, dia bahkan sampai stress berbulan-bulan. Sekarang fokus dulu aja sama kondisi kamu. Lagian kalian masih muda, masih banyak waktu kok, iyakan Ma?" Miya yang paham situasi berusaha menetralkan situasi.


Dara mengangguk. "Iya, Sayang. Yang terpenting itu kamu dulu sekarang."


Abel sekarang hanya tersenyum dan menanggapi biasa saja, namun sebenarnya dia juga tau, pasti mertuanya juga menaruh harapan padanya dan juga Gala.


.


.


.


Karena dia juga sudah mulai mengantuk, akhirnya Abel juga ikut tertidur sambil memeluk kedua keponakannya itu. Tidurnya sangat pulas sampai tidak sadar kalau Gala dan mertuanya sedang memperhatikan mereka yang tertidur di kasur.


"Seharian loh dia yang jagain Cia sama Kanya," ucap Dara pada Gala.


"Ya, Abel emang suka anak kecil, Ma."


"Kamu dan Abel tidak ada rencana untuk mempunyai anak lagi?" Tanya Dara, memang sebaiknya lebih tepat menanyakan ini kepada putranya, mengingat kondisi Abel yang mentalnya belum sembuh total.


"Ada lah, Ma. Tapi gak sekarang."


"Lalu kapan?"


"Kalau Abel udah siap buat mengandung lagi. Dia takut kejadian yang sama terulang lagi dan mengecewakan semua orang."


"Itu kenapa kalau nanti kalian punya anak lagi biarkan Abel tinggal di sini atau di rumah orang tuanya. Kamu juga harus menjaga extra ketat agar kejadian yang sama tidak terulang lagi," ucap Dara.


"Mama pingin kami punya anak lagi?"

__ADS_1


"Tentu, kondisi kesehatan kakek juga sedang menurun. Mama hanya takut kalau kalian tidak bisa memenuhi keinginan kakek, ya meskipun kita gak tau umur kakek sampai kapan."


"Pelan-pelan ya, Ma. Abel udah bisa menjalani kehidupan normalnya aja Gala udah cukup."


Dara mengangguk dan berusaha memahami kondisi keduanya, ya dia sebagai orang tua hanya mengingatkan. Sisanya mereka bisa mengatur rumah tangga mereka sendiri. "Yasudah, mau pindahkan istri kamu ke kamar? Atau mau di sini saja? Kalau mau dibawa biar mama yang jaga Cia dan Kanya."


"Mama di sini aja." Gala tentu tidak akan bisa jika tidur tanpa Abel.


Perlahan dia merapikan buku cerita yang ada di atas perut Abel, setelah itu menggengongnya ala brydal dan membawa Abel ke kamarnya.


Di tengah jalan Abel merasa terusik dan sedikit membuka matanya. "Emmhh, Gala. Harusnya kamu bangunin aku aja," ucap Abel dengan suara khas bangun tidur.


Gala memasuki kamar dan membaringkan Abel di kasurnya. "Aku gak mau kamu kebangun, eh malah kebangun. Tidur lagi, pasti cape jaga Cia sama Kanya seharian."


Abel menggeleng dan malah menarik tangan Gala agar tidur di sampingnya. Gala tersenyum lalu naik ke atas kasur dan memeluk istrinya dengan erat. "Kenapa hm?"


"Gapapa, kangen aja."


"Bohong, ada yang lagi kamu pikirin ya?" Tanya Gala.


Abel menatap Gala sejenak, lalu setelahnya dia menggeleng. "Engga, gak ada."


"Kamu gak bisa bohong sama aku, Bel. Aku tau apa yang kamu rasain cuma dari tatapan mata kamu," kata Gala.


"Emang keliatan banget?"


Gala mengangguk, perlahan dia mengelus pipi Abel dan menatapnya lembut. "Jadi kenapa?"


"Ayok kita punya anak lagi," ajak Abel.


"Kamu denger pecakapan aku sama mama?"


"Engga, tadi mama juga bilang sama aku. Malah aku gak tau mama bilang ke kamu," jawab Abel.


"Jangan dipikirin, kamu kebiasaan ngorbanin diri sendiri demi perasaan orang lain. Kalau kamu belum siap ya udah jangan dipaksa. Aku suaminya, selama aku gak nuntut apa-apa ke kamu seharusnya jangan jadi beban pikiran."


"Tapi pasti bukan cuma mama yang naruh harapan, bunda, ayah, kakek juga," kata Abel.


"Iya, kita pasti wujudin itu tapi gak sekarang. Udah kamu terlalu banyak berpikir, keputusan ada di tangan aku sama kamu. Nanti kita bicarain kalau waktunya udah tepat."


"Tapi Gala ... "


Gala menarik selimut mereka. "Ssst jangan dipikirin."

__ADS_1


"Mau cium. Kamu belum cium aku hari ini."


Gala terkekeh melihat tingkah istrinya, ya tapi dia memang lupa belum memberikannya. Gala menatap Abel dengan lembut lalu menautkan bibir mereka beberapa saat. Setelah itu keduanya tertawa dan membahas hal lain sampai keduanya puas dan mengantuk.


__ADS_2