
Setelah membeli beberapa makanan, Abel segera kembali ke rumah sakit. Gala memberitahu kalau di sana sudah ada mertuanya. Abel membuka ruangan inap Gala, ternyata sudah banyak orang di sana. Perlahan dia menemui Ibu dan Ayah mertuanya dulu. Tidak lupa bersalaman dengan kakek-kakeknya dan orang tuanya juga.
"Eh menantu Mama, Mama kangen sekali sama kamu," ucap Dara sembari memeluk menantunya.
"Abel juga kangen sama Mama kok. Mama gimana kabarnya, sehat-sehat aja, kan?" Tanya Abel.
"Kami semua baik-baik saja kok. Gimana Gala ngerpotin kamu gak di rumah? Kalian gak suka berantem-berantem, kan?" Tanya Ghani.
"Engga kok, Pa. Aman," jawab Abel sambil tersenyum.
"Tunggu-tunggu, Ini wajah kamu kenapa?" Tanya Dara sembari menangkup pipi menantunya itu. Sedikit mendesis karena ngeri melihat luka lebam seperti itu apalagi Abel perempuan.
"Itu-"
"Pasti kamu masih ikut taekwondo, Abel Abel. Kakek sudah bilang untuk tidak ikut hal-hal seperti itu. Bukan cuma soal menjaga nama baik tapi fisik kamu jadi begini," ujar Hendra.
Sejujurnya Abel kesal jika kakeknya sudah membahas ini, dia sama sekali tidak mau diatur-atur apalagi mengenai hobinya. Tapi dia tidak mungkin juga marah-marah di rumah sakit. Gala paham kalau Abel tidak bisa membela dirinya sekarang, bahkan dia menahan kesalnya, sangat terlihat dari sorot matanya.
"Bukan, Kek. Di kejadian itu juga Abel bantu Gala buat kalahin anak-anak sana. Itu kenapa dia luka. Kalau Abel gak jago bela diri mungkin Gala sudah kewalahan menghadapi preman dan anak-anak sana. Untuk itu Gala minta maaf ya karena kurang teliti menjaga Abel," bela Gala.
"Sudah, toh Ndra. Ada sisi positifnya juga cucu kita ikut taekwondo, biar dia bisa membela dirinya sendiri dalam bahaya. Selagi tidak merugikan ya jangan dilarang," ucap John.
"Tapi aku gak suka loh, John," balas Hendra.
"Sudah, sudah. Lagi pula suaminya mengizinkan, kita yang tua-tua begini lebih baik ikuti alurnya saja. Aku pun gak suka Gala ikut genk motor, tapi selagi dia tidak melenceng ya tidak apa-apa. Untuk kejadian ini pun aku udah bicara sama Gala dan dia menerima konsekuensinya."
Hendra hanya menghela napasnya. Nia dan Doni lega karena tidak ada pertengkaran diantara mereka. Biasanya Abel akan menentang tapi kali ini dia jauh dapat menahan emosinya. Ya semua itu berkat Gala.
"Miya minta maaf belum bisa ke sini, soalnya dia ada di luar kota. Nanti kemungkinan lusa baru pulang," ucap Dara.
Gala hanya mengangguk. Abel menaruh makanan yang tadi dia bawa ke meja, Gala langsung menarik lengan istrinya agar didekatnya. Abel melirik Gala seolah bilang. "Malu banyak orang." namun Gala tidak peduli itu dan malah menyuruh Abel duduk di ranjangnya seperti biasa. Gala menciumi tangan Abel dan tidak ingin jauh darinya. Membuat mereka semua senang melihatnya. Padahal Abel malu setengah mati, dia tidak terbiasa begitu di depan banyak orang.
"Jadi kalian sekarang sudah dekat? Mama denger dari Jihan katanya kalian mesra sekali, benar?" Tanya Dara.
"Ya seperti kelihatannya, Ma," jawab Gala.
__ADS_1
"Seneng loh aku anak-anak kita sudah akur, aku pikir mereka akan seperti Tom and Jerry di rumah," ucap Dara pada Nia.
"Ya, tapi kalau ribut aku yang pusing. Tapi jauh lebih baik lah dari sebelum-sebelumnya. Aduh aku malah kepingin punya cucu sekarang," balas Nia.
"Betul, Ayah juga jadi ingin punya cucu, Bel," ucap Doni.
Uhukk ...
Abel tiba-tiba terbatuk mendengar ucapan Ayah dan Bundanya. Mati, kenapa harus bahas itu sekarang?
"Kenapa, Sayang? Kamu kenapa?" Tanya Dara.
"Gapapa kok, Ma. Cuma tiba-tiba batuk aja," jawab Abel sambil terkekeh.
"Ya memang ada baiknya kalau setelah lulus mereka punya anak, Papi sudah bicara kok sama Abel. Tinggal keputusan dari mereka saja," ucap Jonh.
Gala menatap Abel, wanita ini belum bicara apa-apa padanya. Atau karena mereka baru bertemu dan ada kejadian ini ya? Yasudah biar Gala bahas saja nanti setelah pulang dari rumah sakit.
"Jadi keputusan kalian sudah ada?" Tanya Nia.
"Kita belum bahas apa-apa, Bund. Keburu ada kejadian ini, nanti Gala pertimbangkan," ucap Gala tersenyum sembari mengelus punggung tangan Abel.
.
.
.
.
Semua orang sudah pulang. Tadinya mertuanya akan di sini dan menemani Gala pulang. Tapi Gala bilang kalau dia ingin bersama Abel saja, biar mereka menunggu di rumah.
Jadi Abel lah yang harus menyiapkan kepulangan Gala. Dia memasukan baju ke dalam koper, tidak lupa juga memasukan beberapa makanan yang belum di makan. Akhirnya setelah beberapa hari di sini dia bisa tidur nyenyak lagi di rumah.
"Bel, mana kunci mobilnya?" Tanya Gala.
"Gak ada, gue aja yang nyetir. Perut lo itu masih luka loh belum boleh banyak gerak," ucap Abel.
__ADS_1
"Yang luka perut, bukan kaki sama tangan. Gue masih bisa nyetir, masa iya gue disupirin istri sendiri," tolak Gala.
"Gak ada, gue aja. Kalau gak mau nurut yaudah lo pulang sendiri aja pake ojek online," kata Abel.
"Jahat banget."
"Ya makanya nurut, lagian juga gak akan turun harga diri kalau disupirin sama gue. Udah nurut aja kenapa sih, lagi sakit aja nyebelin," kesal Abel.
"Marah-marah terus. Kemarin aja nangis-nangis bilang cinta sama gue," goda Gala.
"Brisik."
"Gapapa yang penting gue tau kalau sekarang lo cinta sama gue." Gala menghampiri Abel.
Abel menatap pria yang ada di hadapannya itu. Begini nih kalau Gala dikasih kesehatan, dia akan selalu mengganggu atau menggodanya, sangat menyebalkan sekali.
"Kenapa lo gak ngomong soal kakek minta cicit?" Tanya Gala.
Abel tidak menjawab, dia tidak mau membahas ini. Bisa-bisa dia kembali stress dibayang-bayangi oleh rasa takutnya akan malam pertama dan kehamilan.
"Kalau lo gak jawab, gue hamilin lo sekarang juga!" Ancam Gala.
"Ngacemmmmm, gak mau, nanti lo malah merasa dapet lampu hijau lagi, terus gue dieksekusi. Gakk, gue takutt!!" Abel bergidik ngeri membayangkannya.
"Loh kan gapapa dilakuin, gak akan dosa malah dapet pahala," balas Gala.
"Aduh, Gal. Please ya gue udah stress banget ditagih anak sama keluarga kita, nanti aja bahasnya bisa gak? Lo sih gak akan kenapa-kenapa coba deh lo searching di google se-mengerikan apa melakukan itu," jelas Abel.
"I'll be gentle kok, gue gak akan nyakitin lo. Kita pelan-pelan," ucap Gala sambil tersenyum.
Aneh, kenapa di novel-novel kalau menikah muda si pria akan sabar melakukan malam pertama sampai mereka lulus, tapi kenapa Gala malah membahasnya terus menerus? Bahkan dia sesekali mencuri ciuman dari Abel. Ahhhh kenapa pernikahannya tidak seperti di novel-novel saja?
"Bukan masalah itu, Gal. Ah tau ahh lo mana paham sama cewek," kesal Abel.
Abel mendengus kesal, tapi bukan itu yang dia maksud. Akhirnya dia memilih untuk menyeret koper saja agar Gala mengikutinya keluar sekarang.
Gala bukan tidak paham, dia juga menunggu mereka lulus kok, hanya saja jika dipikirkan memang mereka harus membahas ini untuk masa depan. Bahkan Gala saja sudah punya pemikiran untuk membeli rumah sendiri dari hasil kerjanya. Tapi dia akan diam saja, menggoda istrinya itu sangat menyenangkan.
__ADS_1
"Oke nanti kita lanjutin pembicaraan di rumah." Gala menggenggam tangan istrinya, dia bisa merasakan kalau tangan gadis itu berkeringat, sepertinya dia benar-benar stress atau karena dia sangat takut?