
Jam 19.00, Abel sedang mengeringkan rambutnya karena baru selesai mandi. Latihan hari ini cukup menyita tenaga dan waktu karena dilakukan lebih lama dari biasanya, sehingga dia pulang sudah gelap.
Gala terlihat tidak mempermasalahkan hal itu, buktinya malam ini dia anteng tanpa berkomentar sedikit pun. Baguslah, jadi Abel bisa bernapas lega karena tidak perlu emosi malam ini. Meskipun dia tidak yakin kalau Gala tidak akan melaporkannya pada Kakek.
Setelah selesai melakukan rutinitasnya Abel duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya. Melihat beberapa pesan dan kemudian membalas yang menurutnya penting saja. Dia tidak suka membalas chat yang tidak penting, lebih baik dia pergunakan untuk hal lain. Tiba-tiba saja Galaxy berdiri di depan Abel.
Abel mengadahkan kepalanya menatap pria jangkung itu. "Kenapa?"
Gala menyerahkan buku nikah mereka kehadapan Abel. Perlahan Abel beranjak dari tempatnya dan berdiri di hadapan Gala. Apa Gala akan menceraikannya ya? Pikir Abel.
"Apa? To the point!" Kata Abel.
"Ayok jalani pernikahan ini dengan serius," ucap Gala.
Abel mengambil buku nikah itu dan menyerngitkan dahinya, ada angin apa Gala membicarakan hal ini?
"Pernikahan kita sah secara agama, seperti yang gue bilang waktu pertama kali kita ketemu. Gue gak akan main-main sama lo," tegasnya.
"Lo bilang gini karena keinget ucapan lo waktu itu?" Tanya Abel.
"Serius," tegas lagi.
"Ada tampang gue bercanda?" Tanya Abel.
"Gak bukan, gue cuma mau bilang. Gue belum cinta sama lo, tapi gue bakalan belajar. Nanti kalau udah jatuh cinta gue bilang," ucap Gala.
"Sakit? Kepentok apaan? Mending lo tidur deh daripada ngelindur. Jangan aneh-aneh, jangan ngelantur, jangan ngada-ngada," kata Abel yang memilih untuk keluar kamar, namun Gala menahan lengannya.
"Apasih, Gal?!" Kesal Abel.
"Gue serius, Abel. Lo mau jalanin pernikahan kaya gini terus sampai tua? Pikir," kata Gala menatap gadis itu.
"Atau lo mau jadi janda muda? Gue bisa ikutin, bukan gue yang rugi juga, kan?" Tanya Gala lagi.
Abel terdiam dengan pertanyaan Gala. Sebenarnya juga dia tidak tau akan menjalankan pernikahan ini seperti apa dan akan bagaiman kedepannya. Saat ini dia hanya mencoba mencerna semuanya dan diam di zona aman.
"Gue udah pikirin ini sampai redam gengsi. Karena gue sebagai cowok harus punya pemikiran kedepannya mau gimana. Gue serius kali ini," ucap Gala lagi.
"Jangan pernah bilang-bilang serius deh, Gal. Kaya gitu tuh udah basi banget di telinga gue. Maksud lo serius itu kita keliatan kaya bisa menjalani pernikahan ini, terus lo bisa main sama cewek mana pun di luar sana? Jangan bicara soal serius di depan gue kalau maksud lo kaya gitu." Abel menegaskan omongannya.
"Gue bakalan putusin Jela tapi kasih gue waktu."
__ADS_1
"Terserah lo deh, Gal. Gue gak ada minta lo putus sama dia or something like that. Lo kaya gini aneh tau gak? Mending skip pembahasan ini terus lo tidur."
"Oke anggap gue aneh, tapi apa lo punya penyelesaian buat hubungan ini sekarang?"
Abel lagi-lagi hanya bisa terdiam, dia tidak memiliki solusi apapun. Lagi pula kenapa Gala harus bertanya seperti itu?
"Gak ada, kan? Jadi coba lo baca isi buku itu biar paham." Gala menunjuk buku pernikahan mereka.
"Dan lo juga harus mulai belajar buat cinta sama gue," kata Gala yang keluar dari kamarnya.
Abel menatap buku nikah yang ada di tangannya. Gala tidak salah, tapi dia merasa ini salah. Bagaimana Gala bisa menyuruhnya membuka hati sementara dirinya tidak pernah menginginkan itu?
.
.
.
Abel menyiapkan sarapan pagi di piring Gala, namun seperti biasa tidak ada pembicaraan. Bahkan kali ini rasanya semakin canggung. Keduanya masih kepikiran dengan percakapan tadi malam. Sampai-sampai Gala pun tertidur di sofa ruang keluarga.
"Gala, Abel. Mama dan papa hari jum'at ini sudah harus berangkat ke Amerika. Kalian sudah bisa menyesuaikan diri, kan?" Tanya Dara.
Sebenarnya Dara dan Ghani melihat Gala tertidur di sofa, bukan karena marah atau bagaimana. Dia hanya tidak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka. Apalagi mereka akan meninggalkan pasangan itu di rumah untuk pergi keluar negeri.
"Memang sulit pada awalnya, tapi papa yakin perlahan kalian bisa membangun rumah tangga kalian menjadi lebih baik," ucap Ghani.
"Benar dan Mama berharap ketika kami mengunjungi kalian, kalian bisa lebih dekat dan akrab," kata Dara tersenyum.
Abel hanya tersenyum, sementara Gala hanya fokus dengan sarapannya.
Entah kenapa ucapan mertuanya itu semakin menambah pikiran Abel. Mungkin orang tuanya pun memiliki harapan yang sama. Tapi kenapa hatinya masih tidak yakin?
Setelah selesai sarapan, mereka pun pamit untuk pergi ke sekolah. Tentunya Abel dengan mobilnya dan Gala dengan motor kesayangannya.
Saat di depan rumah, tatapan mereka bertemu. Namun Abel berusaha menghindari Gala.
"Mending lo pikirin daripada ngehindar," kata Gala yang langsung melajukan motornya.
Abel pun juga memasuki mobilnya, mencoba menetralkan isi pikirannya. Dia harus bisa bersikap biasa saja. Tidak mungkin dia datang ke sekolah dengan wajah kusut seperti ini. Setelah siap, dia pun melajukan mobilnya.
"Kenapa dia harus bahas kaya gini? Bisa gak sih kita hidup masing-masing aja gitu? Kayanya kemarin jauh lebih baik deh daripada dia bilang kaya semalem," gerutu Abel.
Dia bahkan semalaman tidak bisa tidur memikirkan hal ini. Dengan mencoba mencintai Gala, artinya dia harus membuka hati, dan itu berarti dia benar-benar menyerahkan hidupnya pada seorang Galaxy?
__ADS_1
"Gak! Gak semudah itu lo masuk ke kehidupan gue Gala," ucapnya.
Setelah beberapa menit menembus jalanan, Abel sampai di sekolah. Terlihat Gala dan teman-temannya sedang berkumpul di depan koridor. Sebenarnya Abel malas harus lewat ke sana, tapi tidak ada jalan lain untuk menuju ke kelasnya.
Akhirnya Abel memberanikan diri lewat kesana.
"Eh, Abel. Selamat pagi," sapa Raka sedikit menghalangi jalannya.
Abel menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Raka. "Iya pagi, bisa gue lewat?"
"Bisa tapi jalan sama gue mau gak?" Tanya Raka.
"Gak ada waktu," singkat Abel.
"Kalau sama gue mau?" Tanya Degas.
Abel menghela napasnya, sudah puluhan kali sepertinya kedua pria ini menanyakan hal yang sama, tapi masih belum lelah.
"Gak ada waktu," tegasnya.
Gala menarik kedua temannya dari tadi dia hanya diam karena ingin melihat reaksi Abel jika digoda teman-temannya. "Jangan gangguin cewek, biarin lewat."
"Yaelah dikit, Gal. Yaudah selamat belajar bel," ucap Raka.
Abel pun langsung meninggalkan mereka bertiga. Tanpa dia sadari Gala terus menatapnya dari tadi. Sedikit tersenyum karena Abel menolak ajakan teman-temannya, dia pikir Abel bersikap dingin hanya kepadanya.
"Kenapa sih, Gal. Lo mah enak ada Jela, biarkan kita yang jomblo cari cewek juga," protes Degas.
"Dianya mau gak sama lo?" Tanya Gala.
"Ya namanya juga usaha, Gal. Kalau dapet kan bonus. Yang namanya cewek mau sekeras apapun pasti bisa luluh," jawab Raka.
"Betul, kali aja salah satu dari kita berdua bisa jadi pacarnya, iya gak?" Kata Degas bersekongkol.
"Gak akan," ucap Gala datar.
"Dih tau dari mana? Gak ada yang tau masa depan gimana. Bisa jadi dia jodoh sama gue tar kalian kaget," kata Degas percaya diri.
"Tau lah orang gue suaminya," batin Gala.
"Udah-udah cabut ke kelas. Cewek mulu pikiran lo semua," ajak Gala sembari melengos pergi mereka berdua.
Entah kenapa ada perasaan bangga bisa memiliki Abel.
__ADS_1