Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Tumbuh Gigi


__ADS_3


Namanya menjadi orang tua pasti selalu ingin anaknya baik-baik saja. Setelah beberapa bulan ini merawat si kembar mereka tidak pernah mengalami hal-hal serius. Bahkan saat pulang dari Bogor waktu itu pun mereka nampak kuat.


Tapi berbeda kali ini, Abel dan Gala kaget karena malam ini Alano dan Alana demam tinggi. Lebih tepatnya panik sih karena ini pertama kalinya untuk mereka. Pertama kalinya Alano dan Alana jatuh sakit.


"Coba kamu cek pake termometer aku ambil bye-bye fever dulu," ucap Abel.


Gala menurut lalu mengecek suhu badan anaknya yang memang tinggi sekali, apalagi mereka rewel. Benar-benar kewalahan. Meskipun sudah mulai terbiasa, tapi sebagai orang tua baru ini pengalaman pertama mereka.


"38 derajat, Sayang. Kita ke dokter aja!" Kata Gala panik.


Abel mengangguk, dia akhirnya menggendong Alana dan memakaikannya jaket agar tidak kedinginan. Namun saat mereka akan berangkat tiba-tiba Nia menelepon.


Abel yang tadi memang menghubungi Ibunya spontan aja mengangkat panggilan itu. "Halo, Bund. Alano sama Alana demam tinggi, ini kita mau ke dokter."


"Kenapa bisa? Ada kalian ajak keluar atau gimana sebelumnya?" Tanya Nia.


"Gak ada, Bund. Tiba-tiba aja," jawab Abel.


"Gak usah ke dokter, kalau kaya gitu artinya mereka mau banyak bisa. Sekarang kamu parut aja bawang merah terus pakai minyak angin bayi. Diusapin ke punggungnya, setelah itu kasih Asi."


"Tapi demamnya tinggi, Bund aku khawatir kenapa-kenapa," balas Abel lagi.


"Gak sayang, itu kalau gak mau pinter ngomong ya mau tumbuh gigi. Coba nanti kamu periksa, kalau semalaman demamnya gak turun baru di bawa ke rumah sakit."


Abel mengangguk, ya meskipun ibunya tidak melihat tapi dia mencoba mengikuti saran sang Ibu yang memang lebih berpengalaman. "Iya, Bund. Makasih ya, Bund. Kalau gitu aku matiin dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikusalam."


Abel langsung mematikan ponselnya dan meminta tolong agar Gala menjaga Alano dan Alana sebentar, dia ke dapur mencari bahan yang tadi disebutkan oleh Ibunya dan memarutnya ke wadah kecil. Setelah beres dia kembali ke kamar dan menuangkan minyak angin.


"Itu buat apa?" Tanya Gala.

__ADS_1


"Kata Bunda usapin ke badannya Alan sama Ana, soalnya itu mereka mau banyak bisa atau mau tumbuh gigi," jelas Abel.


Dengan penuh kasih sayang Abel mengusap punggung kedua anaknya satu persatu, suhu badannya memang tinggi sekali. Dia banyak takut sebenarnya saat ini, banyak skenario-skenario kecil berputar di kepalanya. "Panas banget, Mas badannya pasti gak enak rasanya. "


Gala melirik Abel yang entah sejak kapan menangis. Perlahan dia menghampus air mata Abella dengan Ibu jarinya. "Sayang kenapa nangis, mereka gak akan kenapa-kenapa."


"Ya aku ngerasa gak bener aja jadi orang tuanya Alano sama Alana. Mereka jadi harus sakit kaya gini," kata Abel lirih.


"Bukan salah kamu, kata Bunda mereka mau banyak bisa, kan? Berarti memang ada fasenya mereka kaya gini, Sayang. Bukan berarti kamu gak bener jagainnya. Udah, sekarang kita fokus sama Alano dan Alana. Kalau mereka besok demamnya gak turun, kita ke rumah sakit."


Abel mengangguk, memang benar apa yang dikatakan oleh Gala. Tapi ada perasaan seorang Ibu di mana ia akan lebih terluka ketika melihat anaknya sakit, jadi ya Abel merasa begitu sensitif kalau soal begini.


Tidak bisa dibayangkan kalau Gala lembur dan dia hanya sendiri di rumah seperti ini bagaimana. Dia pasti akan lebih kacau dan panik dari ini. Sekarang pun Abel dan Gala berbagi tugas, Abel menyusui Alana secara langsung dan Alano diurus oleh Gala dengan meminum susu menggunakan dot, sebenarnya bisa saja Abel melakukan bersamaan, tapi Gala tidak mau Abel kewalahan.


Memang sedikit susah juga Abella menyusui Alana, mungkin karena mulutnya tidak enak jadi Alana susah sekali meminum susunya. Namun Abell tetap mencoba karena itu yang anaknya butuhkan, sama seperti Gala, dia juga tetap berusaha agar Alano mau meminum susunya.


"Minum ya, Sayang. Setelah ini bobo, Ana emangnya mau ke dokter? Kalau sama Om dokter nanti dikasihnya obat, mending minum susu, kan?" Ucap Abel pelan sembari mengusap rambut Alana.


"Akhh sakitt, Sayang." Tiba-tiba Abel meringis saat bagian kecil pada dadanya itu terasa digigit.


Gala yang masih berusaha juga menidurkan Alano kini menatap Abella. "Kenapa sayang?"


"Ini Alana mau tumbuh gigi apa ya, soalnya ini aku digigit-gigitin," ucap Abel sembari menatap Gala.


"Masa sih?"


Abel menidurkan Alana di samping Alano, keduanya kini menangis karena agenda minum susunya diganggu. Perlahan Abel mengambil senter kecil di laci dan membuka bagian mulut Alana.


"Tuh kan, Mas. Gigi atasnya mau tumbuh, putih-putih gitu. Bengkak," ucap Abel.


Gala melirik ke objek yang dimaksud, setelah itu dia mengecek Alano juga. Benar saja, ternyata kedua bayi itu akan segera tumbuh gigi. Pantas saja rewel, pasti rasanya sakit sekali, apalagi mereka pertama kali mengalaminya.


"Aku mau nangis, tapi ini lucu banget tumbuh gigi." Abel menggendong Alana dan menciuminya gemas. Alana yang tadinya menangis kini malah keheranan melihat sikap Ibunya.

__ADS_1


"Gatel pasti giginya, besok biar papa beliin mainan buat gigit-gigit ya, sekarang Alan minum susu dulu," ucap Gala pada Alano.


Entah kenapa Gala dan Abel sedikit tenang saat mengetahui kalau anak mereka sakit karena akan tumbuh gigi. Ya karena tadinya mereka sudah berpikir macam-macam. Kalau begini ya berarti memang fase normalnya seorang bayi saja.


"Mulai besok kamu susuinnya pake dot aja, Sayang," ucap Gala.


"Kenapa?"


"Itu kamu kesakitan gitu, bayi kalau tumbuh gigi ya gatel giginya jadi gigit yang enak digigit," ucap Gala lagi.


"Emangnya gapapa ya?" Tanya Abel sembari melirik Alano dan Alana yang sudah hampir tertidur.


"Gapapa, tetap asi juga kan?"


"Yaudah nanti aku coba, emang sakit banget ternyata. Mungkin Alana juga gemas ternyata dia bisa gigit-gigit sekarang. Yahh udah gede anak kita, Mas," kata Abel sembari menghela napas.


"Belum, masih banyak fase yang akan mereka lewati. Mereka belum besar, cuma udah banyak bisanya. Kita nikmatin prosesnya aja. Ya walaupun Mas juga pasti akan selalu kaget kalau mereka sakit kaya gini."


"Heemm, malam ini tidurnya berempat aja ya, Mas. Aku gak mau ninggalin mereka di kamarnya," ucap Abel.


"Iya, Sayang. Mas juga gak mau ninggalin mereka saat sakit kaya gini. Kita urus sama-sama sampe sembuh." Gala tersenyum lalu mengecup kening Abella dengan lembut.


Abella membaringkan Alana di samping kakaknya. Setelah itu dia menarik selimut untuk menyelimuti keduanya. Akhirnya setelah beberapa jam mereka bisa tertidur. Semoga saja demamnya besok reda.


Gala membawa Abel dalam dekapannya sembari memperhatikan kedua anaknya tidur. Gala tau sih Abel pasti sekarang sangat khawatir, cemas, seorang Ibu pasti mengalami hal itu ketika anaknya sakit.


"Good job, kamu udah kasih yang terbaik buat anak kita. Makasih ya, Sayang. Makasih udah jadi Ibu yang hebat. Aku bangga sama kamu." Gala tersenyum dan memberikan afirmasi positif pada istrinya, ya mungkin ini bisa sedikit meredakan perasaan cemasnya.


"Makasih juga ya, Mas kamu selalu sama aku di saat-saat kaya gini. Aku sayang banget sama kamu," ucap Abella.


"Iya, Sayangku. Mending sekarang kita tidur, karena nanti malam pasti mereka kebangun lagi. Kamu juga jangan sampai sakit."


Abel mengangguk, mereka berdua kini mengganti posisi dan berbaring di kasur dengan Alano dan Alana di tengah-tengah mereka. Tak selang beberapa lama mereka pun ikut tertidur dengan memeluk si kembar.

__ADS_1


__ADS_2