
Abel menghapus air matanya, dia harus kuat demi anak-anaknya. Mereka pasti sedih kalau melihat Ibunya menangis seperti ini, perutnya juga terasa keram sebenarnya, tapi dia tahan dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Katanya bayi dala kandungan itu sensitif, dia tau apa yang terjadi pada Ibunya, katanya mereka juga dapat mendengar apa yang terjadi pada sekitarnya. Dia takut.
Setelah membawa apa yang dia butuhkan, Abel keluar dari kamar dan menyeret kopernya. Namun saat dia keluar Gala sudah ada di hadapannya dengan napas yang terengah-engah. Untung saja dia datang tepat waktu sebelum Abel pergi.
Abel tidak peduli, dia melewati Gala dan kembali menyeret kopernya. Dia tidak bisa bicara dengan Gala, dia tidak mau emosinya meledak-ledak seperti waktu itu. Dia ingin menenangkan dirinya dulu.
"Sayang, tunggu. Kamu mau kemana? Mas ga izinin kamu kemana-mana." Gala menahan lengan Abel dan memegang kedua lengannya.
Abel berusaha melepaskan diri dari Galaxy, melihat wajahnya saja membuat Abel kembali menangis. "Lepasin aku! Aku gak mau denger penjelasan apapun dari kamu, Mas."
"Kamu harus denger penjelasan aku, Sayang. Ini gak seperti apa yang kamu pikirin, aku punya alasan untuk itu, dengerin aku," pinta Gala memelas.
Abel menarik napasnya panjang. "Lepasin!"
Gala mengalah, dia melepaskan lengan Abella dari genggamannya. Abel yang menyeka air matanya kini menatap Gala dan berusaha mendengar penjelasan dari Gala.
"Apa yang mau kamu jelasin? Coba jelasin walau sebenernya aku udah pasti gak akan bisa nerima semua alasan kamu," ucap Abella dingin.
"Aku gak selingkuh, aku cuma bantuin orang tuanya Areyna yang mau bikin dia bahagia sebelum dia meninggal, mereka dateng ke aku dan mohon-mohon agar aku bisa nemuin Arey setiap pagi biar dia seneng."
"Cuma itu, selebihnya aku gak ngapa-ngapain. Aku sayang sama kamu, gak mungkin aku khianati kamu, Bel. Tolong ngerti dan jangan salah paham," jelas Gala.
"Kamu minta aku ngerti? Kamu aja gak ada bilang sama aku loh, Mas! Kamu dateng ke sana diem-diem tanpa sepengetahuan aku dan kamu mau aku ngerti? Konsepnya gimana?" Abel tidak bisa menahan emosinya sekarang, dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Gala bagaimana.
__ADS_1
"Aku gak mau kamu kepikiran, apa kalau aku bilang kamu bakalan izinin? Engga, kan? Kalau kamu kenapa-kenapa anak kita juga kenapa-kenapa, Sayang. Aku gak mau bikin kamu sakit, aku mau jaga kamu. Aku gak mau buat kamu kepikiran," ucap Gala sungguh.
"Emang dengan kamu selalu pergi tanpa alasan itu aku gak kepikiran? Aku nahan semuanya sendiri karena aku percaya sama kamu, tapi kamu bohongin aku!"
"Sekarang aku tanya, kenapa harus kamu?! Kamu bukan siapa-siapanya dia dan kenapa harus kamu? Kamu udah punya istri juga apa mereka gak tau?"
"Areyna sakit kangker otak, semua memorinya yang dia inget itu cuma aku, dia tau aku punya kamu sekarang, aku cuma temenin dia ngobrol aja, Sayang."
Jujur Abel sesak sekali mendengarnya. Alasan Gala tidak bisa diterima oleh akal dan hatinya. "Kamu mau bikin dia seneng tapi kamu ngelukain aku, Mas kalau gini! Kamu paham gak sih?! Emang ada ya istri yang rela harus berbagi suaminya sama mantannya sendiri meskipun dia lagi sakit keras dan mau meninggal?"
Gala menangkup pipi Abella dan menghapus air matanya. Dia tidak bisa melihat Abella menangis seperti ini."Bel kita gak bisa jadi orang apatis, anggap aja ini kemanusiaan. Orang tua dia mau bunuh diri kalau aku gak bantu mereka karena mereka bener-bener mau lakuin yang terbaik di sisa umur anaknya. Aku gak punya perasaan sama dia, aku berani sumpah sama kamu soal itu."
Abel menggeleng dan melepaskan tangan Gala darinya. "Kamu mau lakuin yang terbaik di sisa umur dia, tapi kamu juga gak tau umur aku sampai kapan. Bisa aja aku meninggal hari ini, besok atau sewaktu lahirin anak kita. Gak ada yang tau."
"Bel jangan ngomong gitu!"
"Aku realistis, kamu mau ngelakuin itu sampai kapan hah?! Dia gak butuh kamu, dia butuh banyak berdoa! Kalau kaya gini dia meninggal dengan keadaan berdosa karena mau ditemenin sama suami orang!"
"Diem Galaxy! Katakan aku apatis aku gak kaya kamu yang mau berbaik hati kasian sama dia dan nemenin dia di saat dia lagi sakit. Aku gak sebaik itu buat bicara baik-baik sama orang yang minta suami aku nemenin dia!"
Kalau berpikir Abel akan mewajari ini tentu salah besar. Posisi Areyna tau Gala sudah menikah. Walaupun tidak tau juga tidak ada yang bisa dibenarkan dari masalah ini. Abel percaya kalau Gala tidak mempunyai hubungan dengan Areyna tapi Gala salah di sini, itu tidak bisa dia terima.
"Sekarang kamu pilih aku atau dia?!" Tegas Abella disela isakannya. Dia melembut, berharap kalau Gala bisa menuntaskan ini sekarang juga, berharap kalau Gala akan tetap mengikuti kemauannya dan meninggalkan Areyna.
"Sayang aku udah janji sama orang tuanya," ucap Gala yang tidak mengerti lagi harus bagaimana membuat Abella mengerti.
"Kamu bicara soal janji, Gal? Janji kamu sama aku lebih berat. Kamu janji di depan orang tua aku, kamu janji di depan penghulu dan kamu janji di depan Tuhan buat selalu jaga dan bikin aku bahagia!"
__ADS_1
Gala terdiam, dia tau kalau janjinya pada Abel lebih besar. Tapi dia merasa bertanggung jawab karena kedua orang tua Areyna menumpukan semua pada dirinya. Dia benar-benar tertekan sekarang.
Dia memang cuek dan tidak peduli apapun yang terjadi terkecuali orang-orang terdekatnya. Tapi kalau soal urusan nyawa dia tidak bisa mengabaikan itu. Dia masih memiliki rasa kemanusiaan.
"Pilih aku atau Areyna!" Tanya Abel sekali lagi.
"Jelas aku pilih kamu, kamu kenapa nanya?"
"Leave her!"
"Bel-"
Abel tertawa miris, jadi Galaxy tidak bisa? Jadi jangan salahkan dia kalau sekarang dia yang memilih pergi dari sini. Abel menyeret kembali kopernya ke luar dan meninggalkan Gala.
Gala juga tidak tinggal diam, dia tidak bisa membiarkan Abella pergi dari sini. "Bel kamu mau kemana, jangan pergi. Bel tolong kasih aku waktu buat nuntasin semuanya."
"Stop!! Aku gak akan menerima apapun alasan kamu ya, Gal! Aku mau ke rumah Bunda, jangan halangin aku!" Tanpa sadar Abel meninggikan suaranya.
"Bel jangan kaya gini."
"Kamu bilang jangan kaya gini?! Kamu pikir cuma kamu yang perlu waktu mencerna ini semua? Aku juga perlu waktu!"
Gala menghela napasnya. "Oke-oke kalau kau butuh waktu, tapi biar aku anter ya. Aku anter ke rumah Bunda."
"Gak perlu!"
Sebuah taxi berhenti di depan mereka. Abel memang sudah memesannya tadi. Tanpa menunggu persetujuan Gala, dia memilih masuk ke sana dan meninggalkan Gala yang mematung di tempatnya. Abella benar-benar kecewa dengan sikap Galaxy.
__ADS_1
Gala khawatir, dia tida bisa membiarkan Abel naik taxi sendirian. Gala segera berlari ke mobil dan menyusul Abel. Semua ini salahnya, dia harus bertanggung jawab.
Gala tidak takut dimarahi oleh mertuanya, mereka tau. Sebelum Gala mengambil keputusan ini juga dia berkonsultasi dengan semua orang. Tapi dia mau kalau Ibu mertuanya berpura-pura tidak tau. Abel sekarang hanya bisa pulang ke sana, apa jadinya kalau dia tau orang tuanya turut andil dalam hal ini?