
Abel dan Gala malam ini sedang ada di mobil, mereka akan datang ke sebuah acara yang tadi siang belum sempat ditanyakan pada Gala karena mereka saling melepas rindu. Abel terlihat sangat cantik dengan mini dress berwarna navi tanpa lengan yang dipadukan dengan blazer yang tidak dikancingkan. Sangat cantik dan senada dengan tuxedo Galaxy.
"Kita mau kemana sih, Gal? Ada acara pernikahan?" Tanya Abel.
"Panggil apa barusan?" Tanya Gala memastikan.
"Ck, maksudnya kita ada acara apa, Mas?!" Ralat Abel yang membuat Gala menyeringai penuh kemenangan.
"Papa baru dapet tender besar, makanya adain pesta. Lebih ke pertemuan kolega sebenarnya," ucap Gala sambil menggenggam tangan istrinya dengan satu tangannya.
"Kenapa harus ajak aku? Itu kan bapak-bapak semua, nanti aku kaya orang aneh," kata Abel.
"Engga, mereka bawa istri dan juga anak. Biar orang juga tau nyonya Alaric muda itu kamu. Kamu yang harus dampingin aku, sayang." Gala tersenyum sembari menciumi punggung tangan Abel.
Abel melirik Gala sambil mengulum senyumnya. "Kamu cinta banget sama aku ya, Mas?"
"Kenapa kamu suka sekali nanya yang udah tau pasti jawabannya? Kamu juga udah sering tanya," ucap Gala.
"Manusia itu berubah ubah, kamu bisa bilang cinta sama aku hari ini, besoknya bisa aja engga. Jadi aku mau selalu memastikan kamu cinta sama aku atau engga. Kan jawab doang gak ngehabisin tenaga, Mas. Itung-itung kamu nyenengin istrinya gitu."
Gala menghela napasnya. "Yaudah sekarang aku tegasin sama kamu, aku cinta kamu. Aku juga sayang sama kamu Abella Gracia Alaric. Sangat sayang, jadi jangan ditanya lagi."
Abel terkekeh lalu menggelengkan kepalanya. "Gak mau, aku mau nanya terus. Karena aku suka denger jawaban kamu. Bahkan aku mau terus nanya di setiap harinya sama kamu."
Mereka berdua pun tertawa, memecahkan keheningan yang tadi pagi sudah mereka lalui. Rasanya Abel senang sekali karena pertengkaran mereka tidak lama.
Mereka terlalu asik bicara sampai tidak terasa kalau mereka sudah sampai di sebuah gedung mewah yang disewa oleh papa mertuanya. Abella turun dan tidak lepas dari gandengan Gala. Banyak sekali orang yang memuji mereka berdua karena nampak serasi.
Saat sampai di Ballroom, Dara menyambut mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan kerinduan. Dara mencium pipi kanan dan kiri menantunya itu dengan senang. "Kamu cantik sekali, Sayang."
"Jelas, istri Gala," ucap Gala bangga.
Dara menepuk pipi Gala pelan. "Iya-iya, istri kamu. Yasudah nikmati pestanya ya, kalian jangan lupa temuin kakek sama papa."
__ADS_1
"Iya, Ma," ucap mereka berbarengan setelah itu mereka kembali mengitari acara ini.
Acaranya begitu mewah, banyak istri dari kolega bisnis Alaric Group yang datang dengan gayanya yang glamour. Abel merasa bangga sendiri bisa menjadi salah satunya.
"Are you happy?" Tanya Gala.
"I'm soo happy," jawab Abel sambil tersenyum.
Mereka berdua terkekeh, setelah itu kembali mencari keberadaan ayah mereka. Gala mengedarkan pandangannya, tentu dia mengenal beberapa dari mereka. Ayahnya selalu membanggakan dan memperkenalkan Gala sejak dia masih kecil kepada mereka. Gala juga sudah diajarkan bisnis sejak remaja tak ayal jika Gala juga dikenal di kalangan pembisnis.
Selain karena prestasinya diusia muda, banyak juga yang meminta Gala untuk dijodohkan dengan putri mereka. Gala selalu menolak, namun entah kenapa ketika bertemu Abel dia tidak menolaknya sama sekali. Itulah fakta yang baru dia ceritakan akhir-akhir ini pada Abel.
"Papa," ucap keduanya.
Ghani yang semula sedang bicara dengan rekannya kini menoleh ke arah mereka berdua. Di sana juga ada Hendra, kakek dari Abel. Setelah menyalami papa mertuanya Abel kini menyalami kakeknya dan memeluknya.
"Ini cucumu yang dulu sering kamu bawa ke kantor?" Tanya Mr.Allen.
"Iya, dia cucuku Abella. Kini dia sudah menikah dengan cucunya Jonh, Galaxy," ucap Hendra.
Gala tersenyum, jadi begitu rupanya? Banyak yang menawarkan diri menjadi calon Abella namun Hendra menolaknya demi menjodohkan Gala dengan Abell? Dia semakin mencintai Abel tentunya kalau begitu. Dia tidak ragu memancarkan kharismanya sekarang, toh dia pemenangnya.
"Cucumu sangat cantik, Ndra. Jadi apa kalian sekarang menempuh pendidikan?" Tanya Mrs. Allen istri dari Mr. Allen.
"Abella mungkin akan melanjutkan kuliah tahun depan, Miss. Dia mau fokus rumah tangga dulu. Sekarang saya yang mengurus perusahaan sekaligus kuliah."
"Bagus, kamu itu tampan loh, Nak. Istrimu juga cantik, dijaga baik-baik ya. Semoga kalian segera dikaruniai anak," ucap Mrs. Allen.
"Aamiin," ucap mereka berdua. Meskipun sensitif tapi mengaminkan doa seseorang ya tidak ada salahnya juga.
Selesai bicara dengan mereka, Gala kembali menggenggam tangan Abell dan membawanya keliling untuk mencari makanan. Ya apalagi yang mereka lakukan di sini.
Abel mengambil segelas wine dari tangan Gala, setelah itu mereka sama-sama meminumnya. Abel mengedarkan pandangannya lagi. "Banyak juga ya kolega bisnis papa."
"Banyak, ini pun belum semuanya," jawab Gala.
__ADS_1
"Kenapa, kamu pusing ya? Atau mau pulang?"
"Engga, Mas. Aku cuma bilang aja." Abel tersenyum lalu mengelus lengan Galaxy dengan lembut.
Aduh mama mau pipis dulu, tapi papa kamu kemana ya?
Aduh cup cup jangan nangis.
Bentar mama coba hubungin papa kamu dulu ya.
Abel melirik ke arah seorang wanita yang membawa stroller bayi itu, karena kasihan melihatnya kerepotan Abell pun menghampirinya. Gala yang melihat itu pun hanya memperhatikan Abel. "Maaf kalau saya lancang, ada yang bisa dibantu? Saya liat anda sepertinya sedang bingung?"
"Saya mau ke toilet, tapi suami saya belum datang. Anda nyonya muda Alaric, kan?" Tanya wanita itu.
"Iya saya Abella. Kalau begitu biar saya bantu jagain, boleh?" Tanya Abella.
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak kok, saya di sini. Gak akan kemana-mana," ucap Abel lembut.
Wanita itu awalnya ragu, bukan tidak percaya pada Abella. Tapi tidak enak juga merepotkan pemilik acara. Tapi karena kepepet akhirnya dia terpaksa mengiyakan. "Ahh- baik. Kalau begitu saya titip anak saya dulu ya. Saya pasti akan segera kembali."
Abel mengangguk dan tersenyum tipis saat wanita itu beranjak pergi ke toilet. Bayi itu kembali menangis, sebenarnya Abel ragu, namun dia tidak tega membiarkan bayi itu menangis. Akhirnya Abell memberanikan diri menggendongnya.
Abel tersenyum dan menggendongnya dengan lembut, sentuhan-sentuhan dari tangan Abel rupanya bisa membuat sang bayi terlihat lebih tenang. Gala pun gemas dan memilih untuk menghampiri Abel.
"Lucu ya," ucap Abel sembari memperlihatkan bayi yang ada digendongannya pada Gala.
Gala mengangguk dan menaikan pipi bayi itu dengan jari telunjuknya. "Iya lucu, kamu kok bisa nenangin dia?"
Abel terkekeh. "Gak tau, mungkin dia emang mau digendong."
Mata bayi itu menatap ke arah Gala, Gala yang melihat itu pun tersenyum. Sesekali dia mengajak main bayi yang tidak diketahui namanya itu sampai terlihat tertawa. Membuat Abel sedikit terhenyuk.
Abel tau, jauh di lubuk hati Gala yang tak bisa diungkapkan, dia menginginkan seorang bayi hadir di tengah-tengah mereka. Abel tau pasti Gala sangat menginginkan itu, tapi dia selalu menjaga perasaannya yang masih belum siap mengandung. Rasanya kalau begini Abel merasa egois, egois karena dia baru memahami kalau Gala benar-benar menginginkan seorang anak lahir dari rahimnya.
__ADS_1