
Malam pun tiba, karena memang Alana sedang sakit jadi tidak ada canda tawa di kamar ini. Alana nampak lebih sering diam dan Alano juga mungkin jadi tidak bersemangat. sejak tadi siang Alana merengek ingin pulang, tapi ya memang belum diperbolehkan.
"Mama, Ana bobonya mau sama Mama," pinta Alana.
Abel berpikir sejenak, pasalnya Anaknya ada dua. Dia takut akan menimbulkan kecemburuan pada Alano jika Abella berfokus pada Alana saja, meskipun memang keadaannya sedang sakit, tapi salah-salah nantinya Alano bisa rewel.
Galaxy menatap ke arah Abella yang nampak melirik ke arahnya. Perlahan Gala mengangguk dan mengisyaratkan kalau soal Alano biar dia saja. "Malam ini Mama tidur sama Ana, kalau Alan sama Papa ya? Kita puk-puk kaya yang biasa Mama lakuin. Gimana?"
"Mauu Papaa!!!" Ucap Alano.
"Pinter, yaudah kalau gitu Mama tidur sama Ana boleh, Boy?" Tanya Galaxy.
"Boleh Papa!" Jawab Alano antusias karena dia merasa senang akan tidur bersama papanya.
"Oke kita tidur sekarang! Let's go!" Ajak Galaxy seraya mengajak anaknya ke sebuah tempat tidur yang ada di sana. Galaxy memang menyewa kamar inap yang lengkap fasilitasnya, agar mereka juga nyaman. Abel sesaat mencium Alano dulu sebelum tidur, setelah itu dia naik ke ranjang Alana dan memeluk Alana dengan sayang.
"Mama ... " Panggil Alana.
"Hmm? Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" Tanya Abella seraya mengusap puncak kepala anaknya.
"Mama Ana tadi pake baju berat terus dimasukin ke gua kaya guana yang di buku cerita," ucap Alana yang menceritakan pengalamannya saat dirontgen.
"Laluu, kenapa sayang?"
"Ana takut, Mama. Soalna gaboleh sama Mama masukna," kata Alana sembari menatap ke arah Abella.
"Gak boleh takut dong, kan sekarang gak kenapa-kenapa kan? Jadi Ana udah hebat, biar cepet sembuh juga. Kan Alana bosan di sini, gak bisa main sama Kakak Alan juga kan lari-larian?" ucap Abella seraya mencium pipi Alana.
"Tapi Mama-"
"Sayangnya Mama, Alana harus jadi pemberani, kan Mama udah bilang kalau kita banyak takutnya nanti ke depannya akan selalu takut untuk menghadapi apapun. Ana mau jadi penakut? Katanya Alana mau sekolah, iya kan? Kalau sekolah nanti Mama engga ikut masuk ke dalam kelasnya, Sayang. Jadi Alana harus berani ya mulai dari sekarang?" Abel mencoba memberi pengertian pada Alana yang memang masih sangat kecil untuk memahami, jadi dia mencoba mencari kalimat yang pas untuk dicerna oleh anak 4 tahun seperti Alana.
__ADS_1
"Iya Mama, Ana berani. Tapi engga mau ke sana lagi ya?" Pinta Alana.
"Iya, Sayang. Mama gak janji tapi akan Mama usahakan ya? Sekaran Alana tidur, udah malem. Besok pagi siapa tau udah sembuh, iya kan? Jadi sekarang Alana harus tidur, dipeluk Mama."
"Jangan dilepasin pelukna ya Mama?" Pinta Alana manja.
"Iya engga dong, Mama bobonya di sini sama Alana. Sampe besok pagi-pagi juga Mama masih peluk Ana," kata Abel seraya mengusap rambut Alana.
Alana mengangguk, setelah itu dia membalas pelukan Ibunya. Perlahan matanya terpejam, mungkin karena efek obat juga jadi Alana mudah tertidur. Abella mengenggam tangan Alana yang terpasang infus, tidak tega saja dia melihatnya.
"Udah tidur, Sayang Alananya?" Tanya Galaxy.
"Udah, Mas. Alano udah tidur?" Tanya Abel berbalik.
"Udah, Sayang."
Galaxy turun dari kasur lalu menghampiri Abella dan juga Alana. Dia mengambil kursi dan duduk di samping ranjang. Dengan lembut Galaxy mengusap rambut Alana. "Mas gak tega liat Alana diopname gini."
"Sama, Mas. Hasilnya kapan keluar ya? Aku takut Alana kenapa-kenapa. Sakit banget aku liat Alana tangannya banyak suntikan. Aku aja dulu selalu takut ke rumah sakit."
Abel mengangguk, setelah itu kembali memeluk Alana. Rasanya kalau bisa memilih biar dia saja yang menggantikan Alana saat ini.
.
.
.
Elzard membolak-balikan catatan dan beberapa berkas di sana. Sesekali dia menghela napas. "Alana mengidap asma bronkhitis akut, ini biasanya faktor genetika sejak lahir dan paru-paru yang memang sensitif."
"Kenapa baru terdeteksi sekarang, El? Alana gak pernah sait atau menunjukkan tanda-tanda parunya sensitif sejak lahir, kenapa bisa?" Tanya Abel, wajar dia kaget karena memang selama ini Alana tidak memperlihatkan gejala apapun.
"Ada beberapa faktor, mungkin akhir-akhir ini Alana kelelahan dan sensitif terhadap udara dingin. Sehingga baru terasa sekarang."
__ADS_1
Abella lemas, bagaimana bisa anak seusia Alana sudah diberi penyakit seperti ini? Abell menggenggam tangan Galaxy dengan erat, Gala dapat merasakan kalau tangan Abel berkeringat, menandakan dia sedang ketakutan sekarang. Dengan lembut Gala mengusap punggung tangan istrinya itu agar lebih tenang.
"Lalu bisa sembuh?" Tanya Gala.
"Secara teorinya asma tidak bisa sembuh, karena itu penyakit seumur hidup, tapi dengan pengobatan akan mencegah terjadinya kekambuhan dan mengurangi resiko ke yang lebih parah."
"Pengobatan apa?"
"Untuk Alana biasanya akan diberikan beberapa obat dan juga menggunakan terapi inhaler. Tapi, itu bisa kita pikirkan seiring berjalannya waktu dan tergantung bagaimana tubuh Alana merespon. Oleh karena itu selama 6 bulan ke depan Alana harus rutin kontrol sebulan sekali agar bisa kami pantau."
"Lakukan yang terbaik, El. Berapapun biayanya akan saya tanggung," ucap Gala sungguh.
"Kami pasti melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin. Jangan khawatir," ucap Elzard.
Setelah selesai bicara di ruangan dokter, Gala mengajak Abella ke taman belakang rumah sakit untuk menenangkan diri. Karena Alana memang di jaga oleh Oma dan Opanya di dalam jadi mereka ada waktu berdua untuk berdiskusi tentang Alana ke depannya.
Ada perasaan takut, cemas dan sedih yang Abella rasakan. Dia takut terjadi yang lebih buruk ke depannya pada Alana. Dia takut kalau Alana tidak bisa tumbuh dengan baik seperti anak seusianya. Dia benar-benar takut sekarang.
Sebagai suami Gala paham apa yang ada dipikiran Abella sekarang, karena sejujurnya juga ada banyak ketakutan dalam diri Gala mengenai Alana. Perlahan Gala membawa Abella dalam dekapannya.
"Mas kalau aku gak ajak mereka kemarin pasti Alana baik baik aja," ucap Abel lirih.
"Aku egois, sekarang karena kegoisan aku Alana jadi sakit. Aku minta maaf gak bisa jaga Alana dengan baik. Aku Ibu yang egois buat Alana," ucap Abel dalam isakannya sembari mengeratkan pelukannya pada Galaxy.
"Jangan ngomong gitu, kenapa jadi salah kamu? Udah El bilang kalau ini faktor genetika. Justru kalau kita telat menyadari Alana akan telat ditangangi iya kan?" Gala mengusap punggung Abella dengan lembut, kebiasaannya adalah begini. Selalu menyalahkan dirinya sendiri.
"Tapi, Mas dia pasti kecapean gara-gara perjalanan kemarin. Tetap aku yang salah, dia kalau tau pasti kecewa sama Mamanya, gara-gara aku dia harus disuntik setiap pagi, diambil darah, aku-"
"Sttt, udah. Jangan salahin diri kamu. Sekarang yang kita harus lakuin adalah menjaga Alana dengan baik, Sayang. Berikan pengobatan yang terbaik untuk dia. Gak akan ada habisnya kalau kita main salah-salahan."
"Mas janji, apapun yang terjadi kedepannya kita hadapi sama-sama. Alana akan selalu mendapatkan yang terbaik dari kita. Dia akan tumbuh seperti anak seusianya dengan baik. Mas janji sama kamu, udah ya? Mas gak suka kalau kamu salahin diri sendiri kaya gini."
"Kamu Mama terbaik buat mereka, kamu Mama yang paling baik. Kamu selalu kasih yang terbaik untuk mereka dan mereka akan selalu bangga sama kamu. Kamu menyayangi mereka dengan sepenuh hati, mereka juga sebaliknya. Jadi udah ya?"
__ADS_1
Gala menyeka air mata Abella dan perlahan mengecup keningnya. "Mas selalu ada di sini buat kamu, buat anak-anak kita. Kita sama-sama belajar lagi ya buat jadi orang tua terbaik untuk Alano dan Alana."