Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Kembalinya Masa Lalu


__ADS_3


Setelah selesai berpamitan, Gala dan Abel pun kini sedang di perjalanan menuju pulang. Abel fokus pada jalanan senja sementara Gala sedikit melirik ke arah Abel yang tanpa suara. Dia senang kalau sekarang Abel sudah merasa nyaman bersamanya.


"Jadi kerjaan di rumah ngapain aja?" Tanya Gala.


"Gak ngapa-ngapain, gue di sana cuma makan, tidur, main sama Ghazam terus nonton. Udah itu aja, kadang gue juga nugas kalau ada tugas. Itu kenapa gue ngerasa gak enak banget sama bunda," ungkap Abel.


"Iya-iya, paham. Maaf ya bikin ngerasa kaya gitu, makanya nanti kalau pergi-pergian ikut aja sama gue, biar gak kangen," ucap Gala.


"Ngapain juga ikut, kaya gak ada kerjaan. Gu-"


Cittttttttttt ....


Tiba-tiba Gala mengerem mendadak. Dilihatnya dua preman sudah menghadang mereka. Gala yang geram langsung melepaskan seatbell lalu keluar dari mobil.


"Ngapain lo halangin jalan gue?" Tanya Gala dengan tatapan dinginnya.


"Serahin gadis yang ya lo bawa atau lo akan habis di tangan gue!" Ancam salah satunya.


"Bacot!"


Gala langsung menghajar keduanya tanpa aba-aba. Dia tentu tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Abel. Sementara Abel kaget dengan apa yang dilihatnya. Gala dengan berani menghajar kedua preman itu dengan brutal dan tidak ada ada kata ampun.


Namun pintu mobil mendadak dibuka paksa oleh preman lain dari belakang mobil dan memaksa Abel untuk keluar. "Ikut gue!"


Abel terseret keluar, Gala sedikit panik melihatnya dan semakin semangay untuk segera menghabisi preman yang ada di hadapannya.


Bugh .. Bugh ... Bugh


Salah satunya tersungkur, namun masih ada satu yang harus Gala hadapi. Abel juga tidak hanya diam, dia memutar balikan keadaan dan kini menendang pria yang ada di hadapannya ini sampai tersungkur.


Pria itu geram dan balik menyerang Abel. Tolong jangan ragukan kemampuan Abel. Dia diberkati bela diri adalah untuk hal-hal seperti ini.


"Maju lo?! Jangan lo pikir gue cewek dan gak bisa lawan lo ya, MAJU!" Teriak Abel yang langsung saja menyerangnya dengan berbagai pukulan dan tendangan.

__ADS_1


Gala takjub melihat Abel, tapi dia tetap saja khawatir jika kekuatannya tidak sebanding dengan orang itu. Dengan satu tendangan Gala berhasil melumpuhkan kedua musuhnya. Abel menghentikan Gala dengan tangannya agar tidak membantunya. Lalu dengan keras Abel menedendang alat vital preman itu sampai dia kesakitan.


Abel tersenyum puas melihatnya, tidak sia-sia ilmu taekwondo nya. Dia malah merasa senang karena sudah mengimplementasikan kepada lawannya. Gala menghampiri salah satunya dan mencengkeram kuat kerah bajunya.


"Siapa yang suruh lo?!" Tanya Gala geram.


Hening, tidak ada yang bicara. Mereka nampak gagu saat melihat amarah Gala.


"SIAPA ATAU GUE HABISIN LO SEMUA?!" Bentak Gala seraya melayangkan tinjuan nya lagi.


"A-ampun, Dion yang bayar gue. Biarin gue hidup," jawab pria yang ada di hadapannya.


Gala mengepal kuat, dia mendorong mangsanya sampai membentur aspal. Mereka bertiga pun langsung meninggalkan tempat itu setelah memberitahu Gala siapa dalang di balik pengeroyokan ini.


Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang, Abel bingung melihat Gala yang emosi seperti itu. Jadi dia menghampiri Gala dan mengelus lengannya dengan lembut agar emosi Gala mereda.


"Halo, kumpulin anak-anak. Kita serang Omorfos malam ini juga." Gala langsung mematikan panggilannya. Matanya menuju ke arah Abel yang kini menatapnya cemas.


"Lo gapapa? Ada yang luka atau lebam?" Tanya Gala memastikan.


"Anak Omorfos. Musuh bebuyutan gue, kayanya dia tau kita deket makanya dia ngincer lo. Mulai sekarang lo harus sama gue terus. Biar gue anterin lo pulang dulu, habis itu gue mau serang markas Omorfos," ucap Gala sembari menggenggam tangan Abel untuk masuk kembali ke dalam mobil.


Abel menghentikan langkahnya. "Gak mau, gue mau ikut!"


"Bel, bahaya. Lo di rumah aja ya, gue janji gak bakalan kenapa-kenapa dan langsung pulang," kata Gala.


"Gak mau, Gal. Gue bisa jaga diri gue sendiri. Gue mau ikut pokoknya," paksa Abel.


"Gue tau lo bisa jaga diri sendiri tapi ini bahaya, Abella. Gue gak mau lo kenapa-kenapa, biar gue urus sendiri ya?"


"Gal, gue ikut!" Abel melepaskan genggaman tangan Gala dan memasuki mobilnya.


Gala menghela napasnya, dia lupa kalau sekarang dia berhadapan dengan seorang gadis keras kepala. Tanpa pikir panjang dia pun mengiyakan saja. Gala berlari dan memasuki mobil. Dia kembali menerima telfon.


"Kalian duluan, gue nyusul sekarang."

__ADS_1


Hanya satu kalimat itu yang keluar dari mulut Gala. Dengan cepat dia melajukan mobilnya ke tempat yang akan dia tuju. Abel memainkan kuku-kukunya, walaupun dia berani tapi dia khawatir. Dia selalu melihat kerusuhan genk motor yang sangat brutal.


"Lo gak bisa batalin aja, Gal?" Tanya Abel.


"Gak bisa, ini urusan harga diri. Lo mau di apa-apain dan gue sebagai suami lo gak terima dan sekaligus harus kasih pembelajaran untuk musuh gue sendiri."


Abel hanya diam, dia tidak mau memperpanas apa yang sudah panas. Gala pasti sudah memikirkannya dengan matang, tugasnya adalah membantunya nanti.


Jalanan semakin begitu sulit, melewati hutan dan jalanan yang becek, ditambah hari sudah larut. Dari kejauhan terlihat sudah terjadi keributan di depan sana. Mereka saling menghajar, ada yang menggunakan senjatanya ada juga yang dengan tangan kosong.


"Lo tunggu di sini aja, jangan keluar." Gala pun keluar dari mobil dan menghampiri mereka. Dia nampak tenang di tengah kekacauan yang sedang terjadi.


Sepasang mata sudah memantau mereka dari kejauhan, dia memang sengaja memancing mereka ke sini. Agar dia bisa menghabisi keduanya secara bersamaan. Tiba-tiba 3 orang sekaligus langsung menyerang Gala. Tentu saja Gala tidak mudah untuk ditaklukan.


"Cupu, berani kok keroyokan," decih Gala lalu melayangkan pukulan pada lawannya.


Bugh ... Bugh ... Bugh


"Mana bos lo yang pecundang itu hah?!" Tanya Gala tanpa menghentikan pukulan demi pukulan yang dia layangkan.


"Bacot, lawan kita dulu brengsek!" Ucap salah satunya yang membalas pukulan pada Gala.


Abel tidak bisa diam, dia harus membantu Gala. Dia tidak bisa diam saja di sini sebagai penyimak, sementara Gala sedang kewalahan di depan sana. Tidak hanya itu, dia melihat Raka dan Degas juga ada di sana. Dengan memberanikan diri akhirnya dia keluar dari mobil untuk menghampiri Gala.


Namun saat dia akan berlari tiba-tiba seseorang datang ke hadapannya. Menatap wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Abel kaget dan sedikit memundurkan langkahnya.


Degh ...


"Udah terima pesan dari gue?" Tanyanya dengan sebuah smirk yang membuat jantung Abel berdetak dengan kencang.


Bayangan masa lalu seolah menghampiri dirinya detik ini juga. Tubuhnya gemetar tat kala pria itu kembali melangkahkan kakinya. Sontak itu membuat pria itu kesenangan. Sudah lama dia menantikan Abel untuk ada di hadapannya dan sekarang sudah waktunya untuk melanjutkan kembali apa yang sempat tertunda.


Ternyata dugaannya benar, itu bukan sekedar pesan iseng saja. Kenapa dia tidak berpikir sejauh ini? Tubuhnya mendadak melemas, keringat sudah bercucuran dari pelipisnya. Dia butuh Gala sekarang, dia tidak tau harus berbuat apa.


"Urusan kita ada dua sekarang, Bel. Pertama masa lalu dan kedua adalah karena lo punya hubungan sama musuh gue. Ya waktu yang tepat untuk pembalasan, Bukan?!"

__ADS_1


"Di-dion?" Gumamnya.


__ADS_2