
Meskipun Abel tidak mengatakan apapun dalam senyumannya, tapi Gala bisa merasakan apa yang dia pikirkan saat ini. Apalagi Areyna memintanya untuk menjaga semua kenangan mereka. Abel pasti dilema dengan pikirannya sendiri.
Justru itu yang lebih bahaya, bahaya kalau Abel menyimpan perasaannya sendiri. Overthinking kalau dibiarkan akan menjadi semakin besar. Jika sudah meledak dia akan kehilangan self controlnya sendiri. Itu kenapa Gala harus menyelesaikannya hari ini juga.
Jadi setelah menyelesaikan makan, Gala langsung menemui Abell di kamar mereka. Dilihatnya Abel sedang merias dirinya, meskipun hanya memakai bedak tipis dan juga liptint tapi dia tetap cantik, selalu menjadi orang favorite Gala.
Sesekali dia terdiam dan menghela napasnya, Gala semakin yakin kalau Abel memang sedang tidak enak perasaan. Ini tugasnya untuk mengembalikan kepercayaan Abella. Karena dia juga yang sebenarnya membuat Abella trust issue.
Gala melingkarkan tangannya di kedua lengan Abella, lalu menciumi pipinya dengan lembut. "Kamu marah?"
Abel menatap Gala sambil tersenyum. "Engga, ngapain aku marah sama kamu, Mas?"
"Seriously?"
"I'm so serious." Abel mengangguk yakin. Ya memang pada dasarnya dia tidak marah atas apapun. Hanya saja perasaannya yang tidak bisa mengerti situasi yang baru saja terjadi.
"Mumpung anak-anak masih tidur, ayok ikut Mas," ajak Gala mencoba membujuk istrinya.
"Kemana? Ini udah malem, Mas. Aku gak mau ninggalin Alano sama Alana," tolak Abel yang memang sekarang tidak mau kalau apa-apa tidak ada Alano dan Alana bersamanya.
Gala berpindah ke sebelah Abella sembari mengulurkan tangannya. "Ikut aja."
Dengan ragu Abel menerima uluran tangan Gala dan mengikutinya. Entah mau kemana yang jelas Abel tidak mau banyak bertanya juga. Perasaannya tidak karuan dan dia juga tidak mungkin bilang pada Galaxy kalau perasaannya tidak karuan setelah membaca surat dari Areyna yang meminta Gala menyimpan kenangan mereka.
Gala mengajak Abella ke lantai dua, di mana di sana ada sebuah balkon khusus untuk tempat berkumpul keluarga. Bisa untuk nongkrong atau barbeque. Abel juga bingung kenapa Gala mengajaknya ke sini. Terakhir kali, sepertinya saat perayaan tahun baru.
"Mau ngapain?" Tanya Abel.
"Tea break or some coffe, choose one."
"Milk!"
__ADS_1
Gala dan Abella terkekeh, memang tidak biasanya mereka meluangkan waktu berdua seperti ini. Apalagi semenjak kehadiran anak mereka. Abel dan Gala duduk menghadap sebuah pemandangan dari atas sini. Menampilkan lampu-lampu gemerlapan dari rumah dan gedung-gedung tinggi.
Abella suka sekali melihat bintang-bintang, dulu sekali doa pernah percaya tentang permohonan saat bintang jauh. Tapi nyatanya Abel tidak pernah menemukan bintang jatuh saat melihatnya. Namanya juga anak kecil, dia hanya mempercayai apa yang orang tuanya katakan.
Tapi kalau sekarang, bukan lagi soal permohonan. Tapi saat menatap langit malam seperti ini. Membuat Abel selalu mensyukuri apa yang dia punya sekarang. Termasuk masih diberi napas untuk bisa melihat bintang-bintang yang berkilauan.
"Kenapa kamu ajak aku ke sini?" Tanya Abel sambil melirik ke arah Gala yang kini menatapnya berbalik.
"Kenapa ya? Mas tau apa yang lagi kamu pikirin, jadi Mas rasa kamu perlu menikmati waktu sejenak buat liat bintang-bintang yang emang cantik malam ini. Kamu kan suka bintang-bintang?"
"Sok tau, orang aku gak kenapa-kenapa."
"Kita udah menikah berapa tahun?"
"3 tahun lebih?"
"Selama itu gak mungkin Mas gak tau apa-apa aja yang buat kamu seneng, sedih, kepikiran. Mas tau walaupun kamu senyum dan bilang kamu gapapa tapi kamu menyembunyikan sesuatu."
Gala tersenyum. "Bener."
"Yaudah, aku cuma perlu waktu aja buat cerna semua ini. Maksudnya ya yaudah. Areyna juga udah gak ada," kata Abel berusaha bijak, entah dia yang sedang membohongi dirinya sendiri.
Gala mengambil sesuatu dari bawah kursinya. Perlahan dia membuka kotak pemberian Areyna dan mengeluarkan satu persatu isinya lalu melemparkan ke tempat perapian yang ada di depan mereka berdua.
"Mau apa?" Tanya Abel kaget saat melihat Gala melakukan itu.
Gala hanya tersenyum lalu tidak menyisakan apapun ditangannya, dia hanya menyiramkan spirtus lalu menyalakan korek api. Gala melirik ke arah Abella lalu menjatuhkan batang korek api yang dia pegang.
Perlahan sambaran api mulai membakar semua yang ada di hadapannya. Semua kenangan yang Areyna simpan biarkan semuanya terbang bersamaan dengan raga Areyna. Abel terhenyuk, tidak menyangka kalau Galaxy akan melakukan ini. Di luar ekspetasinya sekali.
"Kenapa dibakar, Mass??" Tanya Abel masih tak percaya. Abel melihat api yang semakin lama semakin membakar benda-benda itu. Apa Gala tau tentang ke khawatirannya ya?
"Mas menjalani hubungan sama kamu, Mas gak mau kamu overthinking atas apapun. Masa lalu udah Mas putuskan sejak lama. Sekarang cuma ada kamu dan anak-anak kita. Mas gak mau menyimpan apapun yang nantinya malah memecah belah keluarga kecil kita."
__ADS_1
Abel terharu sebenarnya, langsung saja dia berpindah duduk ke pangkuan Gala dan menciumi pipinya, memang kenyataannya Gala adalah orang yang paling peka soal perasaannya setelah sang Ibu.
"Mau nangis," ucap Abella sambil memajukan bibirnya seperti anak kecil.
Gala terkekeh melihat tingkah Abell jika sudah seperti ini, Gala memeluk pinggang Abel agar tidak terjatuh. "Jelek banget itu bibirnya kaya Alana. Mau minta cium hm?"
Abel mencium bibir Gala, lalu menatap Gala, setelah itu dia menciumnya lagi. Biasanya Abel akan gengsi sekali melakukannya tapi sekarang dia lakukan berkali-kali. "Gak tau mau nangis aja. Kenapa kamu bisa se peka ini."
"Udah Mas bilang, gak ada yang Mas gak tau dari kamu. Emang terkesan jahat untuk melenyapkan semuanya, tapi akan lebih jahat kalau Mas simpan semuanya dan bikin kamu sedih." Gala tersenyum sembari merapikan helaian rambut Abella.
"Aku terlalu kekanak-kanakan ya?" Tanya Abel.
"Engga, kamu keibuan. Soalnya Ibu dari anak-anak Mas." Gala tersenyum lalu mengambil kembali paper bag yang ada di samping kursinya. "Mas ada hadiah, buat kamu sama anak-anak kita."
Abel mengambil kotak dari dalam sana, ada beberapa sebenarnya. Namun dia melihat yang paling atas terlebih dahulu. Matanya berbinar saat melihat sepasang dress dan juga kemeja berwana rose gold mungil dan sangat menggemaskan. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk Alano dan Alana.
"Mass ini gemes banget, kamu sengaja?" Tanya Abel kesenangan.
"Tadinya mau kasih sore, tapi kita ada acara. Jadi Mas kasih sekarang. Buat ke pernikahan Raka. Yang di dalam sana gaun kamu sama kemeja Mas."
"Kenapa warnanya rose gold? Bukannya kamu sukanya warna gelap ya, Mas?" Tanya Abella.
"Karena kamu suka, gak ada salahnya. Mas pilih yang gak terlalu terang tapi tetap match. Suka?"
"Suka, Alano sama Alana pasti bakalan luccu banget pake baju ini, terus nanti aku pakein bando gemes ke Alana sama kacamata buat Alano. Pasti gemes."
Jelas suka lah, entah kenapa dalam soal fashion Gala selalu bisa memadu padankan semua. Malah kebanyakan baju-baju yang Abella pakai adalah pemberian Gala. Katanya Gala tidak akan bisa diam kalau orang butik menawarkan apapun padanya, dia selalu ingin membelikannya untuk Abella.
"Makasih, Mas. Aku suka banget, jangan tinggalin aku ya, Mas."
"Never."
Abel kembali tersenyum lalu memeluk Gala dengan erat. Dia lega sekali sekarang, benar-benar lega. Dia berharap keadaan seperti ini akan terus berjalan sampai kapan pun.
__ADS_1