Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Memulai Kehidupan Lagi


__ADS_3


Abel dan Dinda menghabiskan waktu di mall. Abel sedikit terhibur dengan beberapa belanjaan yang dia beli hari ini. Dia merasa boros sebenarnya, tapi nanti dia akan jelaskan pada Gala. Semoga saja dia tidak marah.


Abel dan Dinda berjalan ke basement, setelah itu mereka perpisahan. Karena Dinda juga sebenarnya tidak akan lama di Indonesia.


"Lo jaga kesehatan ya, kalau ada apa-apa itu hubungin gue. Kaya sama siapa aja, kalau Raka gak kasih tau gue kayanya gue gak akan tau keadaan lo gimana," ucap Dinda.


"Iya-iya, maaf ya. Gue emang kemarin juga gak ngehubungin siapa-siapa. Makasih loh lo udah sempetin ke sini buat nemuin gue doang," balas Abel.


"Santai, kan itu gunanya temen. Bilang sama paksu, makasih udah ditraktir. Gila, harusnya gue yang traktir. Malah dibayarin sama Ibu Alaric ini."


Abel terkekeh. "Gapapa, lagian di juga yang nyuruh kita keluar. Lo jaga kesehatan di sana, belajar yang bener, kalau ada apa-apa hubungin gue juga," peringat Abel.


"Iya siap, oke sekali lagi thanks ya udah belanjain gue," ucap Dinda.


Abel mengangguk, setelah berpelukan mereka berdua pun pulang masing-masing. Abel memasuki mobilnya, dia masih kurang vit sih, tapi dia juga tidak bisa berdiam diri di rumah terus. Sekiranya ada hal yang bisa dialihkan saat dia di luar rumah.


Cukup lama terdiam, Abel pun melajukan mobilnya. Ini sudah hampir sore, tapi masih ada tempat yang harus dia kunjungi saat ini.


Beberapa menit kemudian dia turun dari mobil dan membawa keranjang bunga yang sudah dia beli di gerbang pemakaman tadi. Siapa lagi yang akan dia kunjungi kalau bukan Azriel dan pada akhirnya dia takluk pada perasaan rindunya untuk selalu ke sini.


Setelah berdoa Abel menaburkan bunga di sana dan menyiramkan air doa. Dia terus memandangi nisan Anaknya yang kini sudah jauh lebih bagus, mungkin Gala yang memesannya.


"Hai, mama ke sini lagi. Kamu kangen mama gak, Sayang?" Abel mengusap nisan Azriel sambil tersenyum lembut.


"Azriel, gak ada satu detik pun yang mama lalui tanpa merindukan kamu. kamu inget kan, waktu kamu masih di dalam perut mama kita suka bicara-bicara setiap pagi, siang, sore sambil nunggu papa. Sekarang mama kesepian, gak ada yang bisa diajak bicara lagi."


Abel menghela napasnya, dia mengambil beberapa bunga kering yang ada di sana. Makam ini harus selalu bersih dengan bunga yang selalu baru.


"Kamu tau gak, papa kamu yang keliatannya kuat itu ternyata juga kehilangan kamu sekali. Kemarin mama liat papa nangis karena kangen sama kamu. Papa itu emang pintar menyembunyikan perasaannya."


"Oh iya-"

__ADS_1


"Abella?" Seseorang tiba-tiba memotong pembicaraan Abel.


Abel mengadahkan wajahnya dan berdiri menghadap pria itu. "Elzard?"


"Udah lama gak ketemu, ngapain di sini?" Tanya Elzard.


Abel hanya terdiam, tidak tau juga harus menjelaskan apa. Namun Elzard nampaknya sedikit paham atau dia hanya menebak-nebak saja. "Ini? Anak lo sama Gala?"


Abel mengangguk. "Emm gue duluan ya." Abel menyempatkan mengecup nisan Azriel, lalu pergi dari sana. Dia tidak ada niat untuk memperpanjang percakapan dengan siapapun. Terutama dengan Elzard, bagaimana pun dia masih trauma dengan Dion dan menjadi takut dengan pria lainnya selain Gala.


.


.


.


Abel menyisir rambutnya dan menyemprotkan parfum di beberapa titik. Semenjak hari itu Abel baru kembali berdandan lagi sekarang, dia sudah berjanji juga harus bangkit dari keterpurukan. Itu sebabnya dia harus menyambut Gala seperti biasanya.


Benar saja, tidak lama dari itu Gala pulang. Dengan perlahan Abel membuka pintu dan tersenyum ke arah Gala yang kini menghampirinya. Dia senang melihat Abel sudah berdandan lagi dan menyambutnya pulang kerja. Memang itu yang Gala rindukan, karena setelah rasa lelahnya ketika melihat Abel dia bisa sedikit terisi energinya.


Abel mengangguk. "I'm happy, kata Dinda makasih."


"Makasih buat apa?" Tanya Gala tak mengerti.


"Makasih karena udah kasih aku uang jajan terus traktir dia."


"Sama-sama, asal kamu seneng aja. Harusnya aku yang makasih ke dia karena udah bikin kamu seneng hari ini. Kayanya kamu emang perlu banyak keluar biar happy terus."


"Mau kalau sama kamu, nanti kalau kamu luang kita keluar ya?" Pinta Abel.


Gala mengangguk dan tersenyum ke arah Abel. "Iya pasti, nanti aku luangin waktu buat kita ya, Baby."


"Heem, gimana kerjaan kamu di kantor?"

__ADS_1


Mereka berdua pun berjalan ke kamar, tentunya juga Abel sudah menyiapkan baju ganti untuk Gala di sana. Akhir-akhir ini mereka jalan membicarakan hal itu, jadi Abel harus mulai membiasakannya lagi.


"Kerjaannya lumayan banyak, tapi masih bisa dihandle. Hari ini ada kendala gak? Cape? Pulang jam berapa tadi?"


"Jam lima juga udah pulang. Emm aku mau ngomong sesuatu," ucap Abel ragu sembari membantu Gala membuka dasi dan kancing kemejanya.


"Ngomong aja lah, aku dengerin," balas Gala sambil menata kepada istrinya.


"Tadi aku belanja, agak boros juga. Aku beli tas sama heels," kata Abel.


"Loh gak apa-apa. Kan aku kasih emang buat dibelanjain. Kenapa malah takut gitu? Pakai aja, manjain diri kamu. Ke salon, ke spa, perawatan. Biar enjoy juga. Aku cari uang kan buat kamu juga," ucap Gala pengertian.


"Ya tapi tetep aja ngerasa gak enak gunainnya kalau banyak-banyak."


"Gapapa, kita udah nikah 2 tahunan jadi jangan bilang kaya gitu lagi. Aku seneng kalau kamu seneng, aku seneng kamu udah mulai beranjak dari keterpurukan kamu, aku seneng kamu udah bisa senyum lagi."


"Heem, aku bakalan berusaha lagi. Aku juga yakin Azriel gak mau mama papanya sedih terus, tadi aku juga ke sana. Makasih ya kamu udah persiapin yang terbaik buat Azriel di sana," ucap Abel pelan.


"Sama-sama." Gala tersenyum lalu mengecup bibir Abel lagi.


"Yaudah kamu mandi gih, habis itu aku siapin makan malam. bajunya juga udah aku siapin."


Gala tersenyum namun dia malah mengeratkan pelukannya pada Abel dan menciumi ceruk lehernya. Dia rindu sekali pada istrinya itu. "Aku kangen kamu, bentar lagi ya. Suka banget kalau ciumin aroma tubuh kamu, bikin mumetnya hilang."


"Kan nanti bisa Kangenan lagi, mandi dulu biar kangenannya gak kepotong dan enak juga badannya gak lengket," ucap Abel sambil mengelus rambut Gala.


"Beneran?" Tanya Gala sambil menatap ke arah Abel.


"Iya beneran, kan biasanya juga kalau manjaan ya tinggal manjaan aja. Kenapa jadi nanya sekarang? Mandi dulu, makan dulu, nanti kita manjaan." Abel tersenyum lembut, ya memang seharusnya dia seperti itu, apalagi akhir-akhir ini pasti Gala juga segan untuk bermanja karena Abel yang sedang down.


"Kali aja kamu yang lagi pingin manja sama aku. Atau kamu lagi gak mau aku gangguin, makanya aku nanya." Gala mencium ciumi pipi istrinya, sisi clingynya jika kambuh ya seperti itu. Jadi Abel sudah memaklumi sifat Gala.


"Yaudah sana mandi dulu, makin malem makin gak baik.".

__ADS_1


"Iya-iya, siap Ibu Negara."


Gala mengecup kening Abel, setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Sementara Abel memasukan baju Gala ke keranjang, setelahnya dia menunggu Gala di ruang makan.


__ADS_2