Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
USG Bersama Mama Mertua


__ADS_3


Abel memasuki ruangan yang sudah ditata rapi oleh suaminya kemarin. Sebuah kamar bayi yang didesain agar bisa digunakan oleh anak laki-laki atau pun perempuan. Karena Gala yang tidak sabaran jadi dia membeli barang-barang dan juga pakaian bayi yang berwana netral.


Abel tersenyum melihat baju-baju kecil itu tertata dalam sebuah lemari. Perlahan dia menciuminya, sebentar lagi anaknya akan lahir ke dunia dan bisa dia ciumi seperti ini.


Sudah cukup lama di sana, Dara kini menghampiri menantunya yang nampak asik berceloteh dengan kandungannya. "Seru sekali rupanya menantu dan calon cucu mama."


"Mama, maaf aku gak bukain pintu. Jadi gak enak," ucap Abel sembari menyalami mertuanya itu.


"Gapapa, Sayang. Kalian sudah mempersiapkan kamar bayi selengkap ini?" Tanya Dara takjub.


"Papanya yang beli, Ma. Gala itu antusias banget, dari susu ibu hamil, vitamin, barang-barang bayi. Semuanya dia yang atur, kadang kalau lagi ngidamnya kumat beli baju dia gak segan beli sampai satu troli penuh," kata Abel sambil terkekeh.


"Ck, benar-benar anak itu. Tapi buat cucu Oma gapapa ya, Sayang? Lagipula Gala bekerja untuk kamu dan untuk aak kalian. Jadi tidak masalah," ucap Dara.


"Iya, Ma. Gala juga selalu bilang gitu."


"Yasudah, sekarang jadi USG nya?" Tanya Dara.


Abel mengangguk, setelah itu dia dan Dara bersiap untuk ke rumah sakit langganan Abel periksa. Menantu dan mertua itu nampak akur dengan Dara yang kini menyupir. Gala memang sengaja menitipkan Abel kepada orang tuanya, karena akan lebih berbahaya jika Abel sendirian.


Tak selang beberapa lama mereka pun sampai di rumah sakit. Tidak lupa juga membantu memapah Abel, padahal menurut Abel dia masih bisa berjalan normal. Namun mertuanya begitu khawatiran.


Sesampainya di sana Abel langsung dipersilahkan berbaring untuk melakukan USG oleh dokter Galen. Abel sedikit tersenyum, kalau anaknya laki-laki akan bagus jika dia beri nama Galen. Agar pintar dan tampan seperti dokter kandungannya. Namun, tentunya kalau Galaxy mengetahui itu dia akan sangat cemburu dan marah.


Seperti biasa, setelah menyalakan alat USG kini dokter memeriksa perut Abella dengan alat transducernya . Terlihat di layar monitor kalau janinnya kini sudah membesar.


"Diusia kandungan 5 bulan biasanya janin sudah bisa mengenali suara-suara yang cukup keras, pergerakannya juga sering terjadi dan sekarang kelaminnya juga sudah mulai terlihat jelas," ucap Dokter.


"Anak saya perempuan kan, Dok?" Tanya Abel.


"Sebentar ya." Dokter mencari letak yang pas untuk mencari jenis kelamin anak dari Abel. Cukup lama dan akhirnya ditemukan.


"Selamat ibu Abella, anaknya laki-laki," ucap Dokter Galen.

__ADS_1


Abel mengubah wajahnya, dia pikir anaknya perempuan. Tapi, bagaimanapun tetap anaknya bukan? "Wahhh, laki-laki, Ma."


"Akhirnya mama punya cucu laki-laki, Sayang. Ahh mama senang sekali, terima kasih." Dara menciumi pipi menantunya, Abel jadi tersenyum. Ya walaupun dia sebenarnya ingin anak perempuan, tapi tidak apa-apa. Gala pasti senang mendengar kabar ini.


"Usia kehamilan 20 minggu biasanya sangat nyaman. Karena mualnya sudah mulai berkurang dan Ibu sudah membiasakan diri dengan pola aktivitas bayi di dalam sana. Meskipun begitu, harus tetap dijaga kandungannya ya. Vitamin dan suplemen nya harus tetap diminum setiap hari," nasehat dokter Galen.


Dokter juga memperihatkan USG 4D pada Abel. Dia sangat terharu melihat wajah anaknya di sana, meskipun belum terlalu jelas tapi hati Abel rasanya hangat saat melihat itu. Tidak hanya Abel namun Dara pun merasakan kebahagiaan yang sama sekarang.


Abel yakin kalau Gala ada di sini dia akan sangat senang melihat anaknya yang bertumbuh kembang dengan baik di dalam sana. Dia juga setelah ini pasti akan jauh lebih over protektif dalam menjaga Abel dan kandungannya. Abel juga jadi berpikir, apakah dia buat kejutan saja hari ini untuk suaminya?


.


.


.


Abel menatap photo USG di tangannya, dia tersenyum saat melihat hasil USG 4D. Meskipun wajah anaknya belum terlihat dengan jelas. Sepulang dari sini dia akan memberikan kejutan pada Gala. Matanya tidak lepas dari sana, bahkan tidak bosan. Jadi begini wajah anak yang selalu dia ajak bicara saat pagi hari? Gemas sekali.


Setelah Dara menyelesaikan administrasi, kini mereka berdua turun dan keluar dari rumah sakit. Keduanya nampak berbincang-bincang hangat sambil berjalan pelan karena kondisi Abel yang sudah berperut besar. Awalnya memang sedikit merepotkan bagi Abel, namun dia tidak boleh manja.


Tanpa mereka sadari seseorang sudah mengintai mereka sejak perjalanan ke rumah sakit. Sebuah rencana memang akan dilancarkan pada waktu yang tepat dan sekarang adalah saat yang tepat. Iya, menculik Abella.


"Iya, Sayang. Duh dia pasti senang sekali, ini juga pertama kalinya mama punya cucu laki-laki. Pasti akan tampan seperti Gala." Dara tersenyum lalu mengelus punggung menantunya.


Saat mereka akan masuk ke mobil, tiba-tiba sebuah pukulan di punggung Dara membuatnya tersungkur dan pingsan. Lalu tak lama dari itu seseorang membekap Abel dan membuatnya pingsan. Abel sempat meronta, tapi sayangnya obat bius itu berhasil membuatnya diam.


Kedua orang itu tersenyum puas, setelah itu membawa Abel masuk ke mobil dan membiarkan Dara terbaring diaspal. Jela dan Dion. Akhirnya mereka bisa menjalankan rencana mereka.


Jela terlihat kesal melihat janin yang ada di tubuh Abel. Seharusnya dia yang mengandung anak Gala. Dia berjanji kalau sekarang akan menyingkirkan Abel. Bukankah dengan kehamilannya akan mempermudah Abel mempertimbangkan dan menaruhkan keputusan berat sekali pun?


"Sekarang kita tahan dia di mana?" Tanya Dion.


"Di rumah warisan kakek sama nenek, bawa aja ke sana. Lagian cukup jauh kemana-mana jadi dia gak akan bisa kabur," ucap Jela.


"Kenapa kita gak habisin sekalian?" Tanya Dion tak sabaran.

__ADS_1


"Lo gila ya? Gue bukan mau bunuh orang, gue cuman mau kasih dia pelajaran dan bikin dia tinggalin Gala. Mikir! Gue gak mau ya jadi buronan kaya lo!"


"Apa bedanya? Pengancaman terhadap seseorang juga tidak pidana. Sekalian aja kalau mau langgar hukum, cupu banget."


"Muluto jaga ya! Inget lo harus ikutin perintah gue. Setelah dia mau ninggalin Gala ya terserah lo mau bunuh dia kem atau apapun. Bukan urusan gue karena lo yang bunuh dia."


"Jadi setelah dapetin apa yang lo mau gue bebas ngelakuin apapun?" Tanya Dion memastikan.


Jela mengangguk, tanpa basi lagi Dion melajukan mobilnya dan meinggalkan rumah sakit itu. Sesekali dia melihat ke belakang, berjaga-jaga kalau mangsanya tidak terbangun.


Jela mengambil ponsel yang berada dalam tas Abel, lalu membukanya dengan sidik jari gadis itu. Cukup mudah melakukannya. Dia mencari nomor Gala di sana, sesekali dia mencedih karena melihat photo-photo di sana yang menyebalkan.


Setelah 20 menit mereka membawa Abel, Dara yang sudah di bantu oleh satpam kini terbangun. Dia panik mencari keberadaan menantunya.


"Menantu saya dimana?" Tanya Dara pada satpam.


"Maaf tapi ibu sendirian, tidak ada siapa-siapa di sana," ucap seorang satpam.


Dara panik, apa yang harus di lakukan. Dia berlari menuju mobilnya dan mencari keberadaan Abel. Namun, seperti ya g dikatakan oleh satpam, di sana tidak ada siapa-siapa. Daa menemukan Tasya amplop berisi photo USG itu. Dia menangis sekarang, takut terjadi apa-apa pada Abel. Dengan cepat dia mengemuarkan ponsel dari saku blazer dan menelepon putranya.


"H-halo, Gal. Galll." Dara menangis, dia benar-benar tida tau harus berbuat apa.


"Kenapa, Ma? Kenapa Mama nangis? Kenapa?" Tanya Gala panik, bukan apa-apa. Dia tau kalau sekarang Ibunya sedang bersama Abel juga.


"Abel, Abel diculik orang," jawab Dara dengan terbata.


"Kenapa bisa? Sekarang mama di mana?" Tanya Gala.


"Di parkiran rumah sakit."


"Gala ke sana."


Gala mematikan sambungannya, Dara kini masih panik dan berusaha mencari keberadaan menantunya. Dia sedang hamil dan Dara takut terjadi apa-apa pada Abel dan kandungannya.


Di sisi lain Gala langsung keluar dari kantor dan menuju rumah sakit. Seharusnya dia hari ini menemani Abel saja ke rumah sakit. Gala mencengkram setirnya erat, pantas saja perasaannya tidak enak sejak tadi. Dia benar-benar dilanda ketakutan. Dia mencoba menghubungi nomor Abel beberapa kali namun seolah ditolak.

__ADS_1


"ARGHHT!" Gala memukul setirnya.


"Ya Allah selamatnya istri dan anak hamba," gumamnya.


__ADS_2