
Saat mereka sedang bicara-bicara dengan Baby Jiel, tiba-tiba orang tua mereka datang dengan khawatir dan memasuki kamar.
"Yaampun kamu kenapa? Udah Bunda bilang, makan. Kamu susah banget kalau Bunda bilangin," omel Nia.
"Sayang, gak baik loh begitu. Liat kamu jadi harus dirawat, kan? Mulai sekarang kamu, Gal yang harus memastikan Abel makan tepat waktu. Kamu ini gimana sih jagainnya," ucap Dara.
"Iya, Gal. Jangan terlalu sibuk kerja, lagi pula Papa tidak menekan kamu dengan pekerjaan yang banyak, bukan?" Kata Ghani.
"Sudah-sudah, mereka pasti paham kalau udah kejadian seperti ini. Sekarang gimana keadaan kamu?" Tanya Doni pada putrinya.
"Jangan salahin Gala, dia selalu ingetin aku makan kok. Cuma akunya aja yang makannya gak teratur. Lagi pula aku gak sakit," ucap Abel menenangkan orang tua mereka.
"Gak sakit gimana, Sayang. Ini sampai harus diinfus begini," potong Dara.
"Abel sakit karena anak Gala mau nunjukin keberadaannya ke mama papanya," jawab Gala.
"HAH?" Mereka reflek mengucapkannya bersamaan.
"Kamu hamil?" Tanya Nia.
Abel mengangguk pelan, lalu tersenyum. "Iya, Bund. Kata dokter udah 6 minggu."
"Yaampun kok kita gak peka sekali kalau cucu kita sudah ada loh," kata Dara yang senang dan langsung memeluk menantunya.
"Selamat ya, sekarang kalian akan menjadi orang tua. Gala kamu harus ekstra jagain istrinya, Papa kasih kamu libur 1 Minggu, pergunakan dengan baik," peringat Ghani.
"Siap, Pa."
"Kalau begitu biar Abel tinggal di rumah Mama atau Bunda aja. Dia masih hamil muda, biar kami yang jaga," ucap Dara.
"Gak perlu, Ma. Abel masih bisa handle semuanya, kok," ucap Abel menenangkan.
"Eh bener kata Mama Dara, apalagi kamu di rumah sendiri. Ini cucu pertama Bunda. Bunda khawatir kalau kamu sampai kenapa-kenapa," kata Nia.
"Aku gak kenapa-kenapa, Bund. Gak kecapean juga, cuma kemarin lemes aja. Kata dokter nanti dikasih obat, vitamin sama susul mual. Jadi gapapa."
"Yasudah, Bund. Beri kepercayaan sama anaknya, Ayah juga yakin mereka bisa mengatasi ini. Benar kan, Gal?" Tanya Doni.
__ADS_1
"Pasti, Yah. Gala akan selalu menjaga Abel, seperti Ayah. Gala sudah pernah berjanji untuk itu."
"Bagus, itu baru menantu Ayah," ucap Doni sambil menepuk bahu Gala. Tidak menyangka sekarang putri kecilnya sudah besar dan akan menjadi seorang ibu.
"Yasudah, tapi kalau ada apa-apa hubungi Mama atau Bunda ya. Kalau mau apa-apa, ngidam atau apapun bilang aja ya. Pasti kami bantu carikan kalau Gala gak mau," kata Dara.
"Mau, orang anak Gala."
"Biasanya kamu gak mau tuh kalau diajak Mama belanja, Mama tau ya kelakuan kamu," cibir Dara.
"Gak, Ma. Gala baik kok, dia pasti mau ikutin permintaan aku dan ngurus anaknya yang masih kecil ini." Abel terkekeh.
"Oh bagus kalau begitu, kalau gak mau nanti bilang Mama aja, biar Mama jewer anak bandel itu," ucap Dara.
Semua pun terkekeh. Mereka senang, apalagi untuk Nia dan Doni yang memang baru pertama kali akan menjadi nenek dan kakek. Padahal mereka merasa kalau putri mereka masih kecil, tapi ternyata sekarang mereka akan memiliki cucu.
"Kamu harus banyak makan, paksain makan. Sekarang yag kamu pikirin bukan cuma diri sendiri, tapi ada anaknya juga di sana. Minum vitamin teratur, pola makan juga diatur, susu hamilnya jangan sampai terlewat. Harus banyak bergerak biar melahirkannya lancar, tapi jangan sampai kecapean," peringat Nia.
"Iya, Bund. Makasih ya udah diingetin."
.
.
.
Beberapa jam berlalu Gala pulang dan langsung memasuki kamar. Sekitar jam 7 malam dia sampai ke rumah. Abel menyerngitkan dahinya, banyak sekali yang dia beli hari ini.
"Gala kamu beli apa aja, Sayang. Banyak banget," ucap Abel sambil melongo.
Gala duduk dan mendikte barang belanjaannya. "Aku udah konsultasi sama dokter, minta saran kakak juga tadi. Kakak ngelist semua susu hamil, aku disuruh pilih. Karena aku gak tau kamu suka yang mana aku beli semua jenis, ada 13. Jadi kalau bosen kamu bisa ganti."
"Tiga belas? Banyak banget yaampun."
"Gapapa, buat anak aku ini. Iya kan, Baby?" Gala mengelus-elus perut Abel dengan lembut. Lalu mendikte kembali.
"Ini vitamin sama suplemen ibu hamil, ini di rekomendasiin sama dokter. Aku beli buat 9 bulan, cukup ya segini? Kadaluarsanya juga udah dicek." Gala memperlihatkan pada Abel dengan bangga.
Abel hanya menghela napasnya. "Heem."
__ADS_1
"Ini Maternity Bra, kata Kakak kamu harus pakai yang nyaman. Sakit juga pasti dadanya, jadi aku beliin 10 pack. Cukup kali ya? Nah terakhir ini snack-snack sehat buat ibu hamil, kalau kamu gak bisa makan karbo ya bisa makan ini. Biar gak kekurangan nutrisi."
"Tapi banyak banget, Sayang. Kaget loh anaknya liat begini," kata Abel yang tidak paham dengan kelakuan suaminya.
"Dia seneng, Sayang. Papanya jadi suami siaga buat istrinya. Jadi kebutuhan hamil selama 9 bulan ke depan udah terpenuhi, kok kaget?" Tanya Gala yang merasa kalau apa yang dia lakukan sudah benar.
"Ya bener sih. Tapi ... Yaudah makasih yaa." Abel mengelus pipi Gala lembut lalu mengecup bibirnya. Ya memang tidak ada yang sulit untuk seorang Galaxy Putra Alaric, meskipun diluar nalar tapi Abel pun mengakui kalau dia benar-benar suami yang baik.
"Sama-sama mamanya Baby Jiel." Gala pun memeluk Abel dan menciumi pipinya. Kebahagiaan mereka sekarang rasanya lengkap.
Gala melepaskan pelukannya perlahan. "Yaudah aku taro barang belanjaannya dulu ya. Kamu istirahat aja, biar aku yang lakuin pekerjaan rumah seminggu kedepan." Abel tersenyum dan mengangguk, dia seperti dimanjakan sekarang.
Sudah beberapa lama namun Gala belum kembali ke kamar, akhirnya Abel menyusul Gala ke luar kamar. Ternyata pria itu ada di dapur dan mencicipi beberapa susu. Gala menggunakan satu gelas, menyeduhnya sedikit lalu meminumnya, begitu seterusnya. Apa dia yakin akan mencoba hingga 13 susu ibu hamil?
"Kamu ngapain?" Tanya Abel heran.
"Lagi cobain susu mana yang enak buat kamu minum malam ini."
Abel tertawa. "Kamu minum susu ibu hamil? Yang hamil itu aku loh, kenapa papanya yang minum."
"Kok ketawa, Ini biar kasih yang terbaik buat kamu. Makanya aku cobain satu-satu."
"Terus hasilnya enak yang mana?" Tanya Abel.
"Yang ini, jadi kamu malam ini harus minum susu yang ini." Gala menunjuk satu dus berisi susu strawbery.
Abel mengangguk. "Yaudah nurut ajalah aku."
Gala mengambil gelas dan melihat cara pembuatan susu yang baik. Dia harus memastikan takaran dan airnya sesuai agar istrinya bisa meminumnya. Abel hanya tersenyum saja melihat Gala yang begitu perhatian sampai sebegitunya.
"Nih, kamu minum ya. Biar sehat-sehat anak kita." Gala memberikan segelas susu pada Abel.
"Makasih ya, Papanya baby. " Abel menerima gelasnya dan Gala pun mencium bibir istrinya lembut.
"Sama-sama, minum lah."
Abel pun meminum susunya, sementara Gala kini berlutut dihadapannya sambil mengelus-ngekus perutnya. "Enak gak, Baby? Itu papa yang buatin, jadi minum yang banyak biar sehat kaya mama."
Abel terkekeh. "Iya, Papa enakk. Makasih papaaa."
__ADS_1
"Sama-sama, Baby."