Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Halo Baby Jiel!


__ADS_3


Abel mengerjapkan matanya beberapa kali, kepalanya terasa berapa kali. Kini dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan karena memang harus dirawat. Pingsannya cukup lama dan dehidrasi parah. Kepalanya terasa berat dan tangannya sakit akibat infusan. Setelah sekian lama menghindari infuss, akhirnya dia diinfuss juga.


"Kamu udah bangun, ada yang sakit? Kenapa? Coba bilang, nanti aku panggilin dokter," ucap Gala.


"Pusing banget, kenapa aku harus diinfus. Aku sakit parah kah?" Tanya Abel.


"Kamu dehidrasi sama kurang nutrisi. Kamu kalau udah muntah-muntah harusnya diisi lagi perutnya, cantik. Sekarang jadi harus diinfus gini. Sebentar aku panggilin dokter." Gala mengecup bibir Abel lembut, setelah itu dia keluar dan memanggil dokter.


Rasa mual Abel sedikit hilang, perutnya juga tidak sesakit tadi pagi. Tapi dia benar-benar lemas sekarang. Beberapa menit berlalu Gala datang bersama seorang dokter pria, tertera di nametag nya bernama Dr. Galendra Atmajaya Sp.OG.


"Selamat siang, Ibu Abella. Bagaimana kondisinya?" Tanya dokter tampan itu.


"Pusing, Dok," jawab Abel singkat.


Perlahan dokter memeriksa Abel dengan stetoskopnya ke dada dan perut, setelah selesai dia membuka alat tensi dan mulai untuk mentensi sekalian mengukur denyut nadinya. "Kira-kira nafsu makan dan mualnya sudah sejak kapan?"


"Kalau mual baru beberapa hari ini, kalau kehilangan nafsu makan kayanya udah seminggu lebih," jawab Abel.


Dokter itu mengangguk. "Darahnya rendah sekali, ada riwayat anemia?" Tanya Dokter dan Abel pun mengangguk.


Tiba-tiba perawat datang membawa alat USG, si dokter hanya tersenyum lalu kembali melakukan tugasnya. "Maaf, boleh saya singkap dulu bajunya sampai bawah dada?"


"Kenapa harus dibuka, Dok?" Tanya Gala cepat.


Dokter mengulum tawanya, ya sudah biasa dia mendapat pertanyaan seperti itu. "Untuk memastikan ada peradangan atau tidak. Setelah itu akan dilakukan USG untuk memastikan.


"Oh, boleh. Lakukan saja, Dok." Sebenarnya Gala tidak ikhlas. Bagaimana pun tubuh Abel harus dia saja yang melihatnya mau bagian apapun.


Dokter sedikit menyingkap baju pasiennya dan melakukan pengecekan dengan menekan sedikit perut pasien. Abel sedikit meringis. "Akhhh."


"Sakit? Baik kalau begitu kita lakukan USG untuk lebih jelasnya ya."


Abel dan Gala mengangguk. Saking takutnya Abel menggenggam tangan Gala. Dia takut kalau ada penyakit dalam di tubuhnya. Lebih tepatnya dia tidak mau membuat Gala repot karena penyakitnya.

__ADS_1


Dokter pertama memakai handsanitizer setelah itu memasang handscoon pada tangannya. Setelah perawat menyalakan alat USG, dokter mengambil ultrasound gel.


"Ini agak sedikit dingin ya, Bu." Dokter tersenyum lalu menuangkan ultrasound gel ke perut Abella. Setelah itu dokter mengambil alat transducer dan menempelkannya ke arah perut.


Untuk beberapa saat dokter menggerakkan alatnya di sana. Gala dan Abel melihat ke arah monitor. Mereka lebih tepatnya tidak paham.


"Selamat ya, Bapak Galaxy dan Ibu Abella. Ibu Abella sedang mengandung, usia kandungnya 6 Minggu," ucap Dokter Galendra sambil tersenyum.


Abel dan Gala saling menatap, lalu persekian detik berikutnya Gala memeluk Abel yang masih berbaring. "Sayang, kamu hamil."


"Gall, aku bakalan jadi mama," ucapnya pelan. Entah kenapa semua rasa sakitnya berubah menjadi rasa bahagia. Bahagia yang baru pertama kali dia rasakan.


Gala mengecup bibir Abel perlahan. Memang dia tidak tau tempat, sampai dokter dan perawat pun sejenak memalingkan pandangannya. "Bagaimana keadaan bayi kecebong saya, Dok?"


Abel memukul lengan Gala. "Anak aku! Kecebong-kecebong." Meski lemas tapi pukulan itu ternyata sakit juga


"Iya maksudnya anak saya, Dok," ralat Gala.


Dokter terkekeh dan perlahan menjelaskan tentang kondisi anak mereka. "Yang kecil ini, sebesar kacang merah itu bayinya."


"Iya, Ibu dan Bapk juga bisa mendengar suara detak jantungnya. Sebentar." Dokter mengotak-atik alat itu dan perlahan terdengar bunyi detakan jantung dari sana.


Abel terharu, dia tidak bisa menahan air matanya. Di dalam perutnya kini ada seorang anak dan dengan jantung yang berdetak. Detakan itu seolah bertaut dengan detakan jantungnya sekarang. Apa ini yang dinamakan ikatan batin.


Gala pun ikut terharu perlahan dia menyeka air mata Abel dan mengelus pipinya. "Anak kita, Sayang." Abel mengangguk dan mengeratkan genggamannya pada Gala.


"Untuk usia 6 minggu janinnya sudah mulai terbentuk, seperti panca indra, otak, paru-paru dan sumsum tulang belakang, detak jantungnya juga bagus ya 120 per menit. Mungkin Ibunya harus banyak minum vitamin, agar beratnya bertambah menjadi berat ideal saat kehamilan nantinya. Nanti saya akan resepkan vitamin dan susu mualnya."


"Sebelumnya maaf kalau agak sensitif, tapi Ibu dan Bapak dalam sebulan bia berapa kali berhubungan intim?"


"Seminggu 1-2 kali," jawab Gala santai.


Abel membulatkan matanya, lagi-lagi Gala ini terlalu jujur apa bagaimana? Dia yang menahan malu di sini.


"A-ahh cukup sering rupanya. Kalau begitu saya sarankan untuk di kurangi ya, Pak. Misalnya 1 bulan sekali, tapi karena Ibu Abella baru menginjak 20 tahun dan masih rentan saya sarankan untuk mengentikan aktivitas sexual sampai usia kehamilan 3 bulan. Karena kondisi bayi dan ibunya masih rentan. Mungkin setelah ini bisa ikut ke ruangan saya, Pak. Saya akan lebih detail menjelaskan seputar kehamilan," ucap Dokter sembari membersihkan gel dan kembali menurunkan baju pasiennya.

__ADS_1


"Boleh kalau begitu. Sayang, aku tinggal dulu," kata Gala. Abel pun hanya mengangguk.


Setelah itu Gala dan dokter ditemani perawat meninggalkan ruangan itu. Untuk beberapa saat Abel masih mencerna semua ini. Dia tidak menyangka kalau dia bisa mengandung anak, masih terlalu tabu di mata Abel. Tapi sekarang dia memang tengah mengandung.


Abel mengelus perutnya yang masih terlihat rata. Sebuah desiran Abel rasakan ketika menyentuh perutnya. Ada perasan hangat ketika tangannya secara tidak langsung bersentuhan dengan janin yang "Hallo baby, Ini mama. Maaf ya mama gak ngerasain kehadiran kamu kemarin."


"Mama janji bakalan selalu jaga kamu, bakalan lakuin yang terbaik buat kamu, mama mau jadi mama yang hebat buat kamu, Sayang. Sehat-sehat terus yaa, kalau mau apa-apa bilang aja sama mama, nanti mama turutin. Atau nanti kita sama-sama gangguin papa." Abel terkekeh. Rasanya kini dia seperti mempunyai teman untuk diajak bicara meskipun ukurannya masih kecil, Tapi Abel bisa merasakan detak jantungnya tadi.


"Kamu tau gak, papa kamu khawatir banget. Dia yang urusin mama semaleman, papa kamu itu sayang banget sama kita. Jadi jangan direpotin ya, Sayang. Kasian papanya, baik-baik di perut mama."


Beberapa menit berlalu, Gala melihat Abel yang tengah mengoceh dengan bayi yang ada di kandungnya. Terlihat sangat lucu. Perlahan dia juga menghampiri Abel.


"Mau elusin bayi kecebong," pinta Gala.


"Gak, dia marah sama kamu. Masa dibilang bayi kecebong. Gak boleh, dia anak aku!" Larang Abel.


"Yaudahh ganti, jadi Baby Jiel," ucap Gala.


"Babi Jiel apa?" Tanya Abel tak mengerti.


"Bahasa inggris G sama L. G nya Galaxy, L ujung nama kamu Abel."


Sejenak Abel berpikir, memang memaksa tapi lebih baik daripada anaknya dipanggil kecebong. Gala menaikan sedikit ranjangnya agar posisi Abel nyaman. Perlahan dia duduk dan mengelus-elus perut Abel. "Babi Jiel, ini papa." Gala menciumi perut Abel dengan lembut, setelah penantian panjang akhirnya mereka memiliki anak juga.


"Baby, kamu jangan nyusahin mama kamu ya. Harus nurut sama papa. Harus banyak makannya, kasian mama kamu harus diinfus karena mual sama gak mau makan. Gak boleh nakal yaa." Gala kembali menciumi perut Abel dan Abel pun mengelus rambut Gala dengan perlahan.


"Dia kayanya nurut sama papanya deh, Gal," kata Abel sambil terkekeh.


"Kenapa emangnya?" Tanya Gala sambil menatap ke arah Abel.


"Tadi perut aku keram gitu, tapi waktu kamu bilang kaya gitu keramnya jadi berkurang," kata Abel sambil tersenyum.


Gala kembali menciumi perut Abel, ini terlalu gemas. "Pinter anak papa, iya emang harus nurut. Aku janji bakalan jadi papa yang baik buat dia, Bel." Gala menatap Abel dengan sembuh.


"Kita sayang, kita harus jadi orang tua yang baik buat Baby Jiel." Gala tersenyum lalu memeluk istrinya, dia senang sekali sampai menciumi bibir Abel berkali-kali. Mungkin sekarang awal baru kebahagiaan akan dimulai di keluarga kecil mereka.

__ADS_1


__ADS_2