
Gala menghentikan mobilnya di pekarangan rumah orang tua Abel. Setelah itu dia mengeluarkan koper Abel dan miliknya karena dia akan pergi menggunakan taxi online.
Nia sudah menyambut mereka di depan rumah saat mendengar gerbang dibuka. Gala dan Abel pun menghampiri Nia dan menyalaminya. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," balas Nia sembari tersenyum kearah anak dan menantunya.
"Ada apa ini, kok tiba-tiba bawa koper segala. Mau nginep di sini?" Tanya Nia pada mereka.
"Gala mau nitip Abel dulu buat beberapa hari, Bund. Boleh? Kalau di rumah kasian sendiri, khawatir juga," ucap Gala.
Abel hanya diam saja, sebenarnya dia senang bisa di rumah orang tuanya. Tapi entah kenapa dia juga merasa tidak semangat hari ini. Jadi dia malas bicara dan malas menjelaskan kepada orang tuanya.
"Loh emang kamu mau kemana, Gal?" Tanya Nia.
"Gala ada turnamen basket 3 hari di Jakarta. Jadi mau gak mau Abelnya harus ditinggal dulu," jawab Gala.
"Oh begitu. Yaudah boleh, ayok masuk dulu kita bicara di dalam saja," ajak Nia.
"Gak usah, Bund. Sebentar lagi taxinya dateng kok," tolak Gala dengan halus.
"Kalau gitu semangat ya, Gal. Bunda yakin kamu pasti juara, jaga kesehatan juga di sana. Jangan sampe pulang-pulang malah tepar," peringat Nia.
"Pasti, Bund. Semuanya udah disiapin sama Abel dengan baik," balas Gala.
"Bagus, jangan lama-lama juga nanti ada yang kangen," goda Nia karena dia bisa memahaminya dari raut wajah Abel meskipun dia tidak bilang.
"Apasih, Bund. Engga," sanggah Abel.
Gala terkekeh sembari mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut. "Iya, Bund. Rewel nih gak mau ditinggal. Pasti bakalan cepet pulang."
"Yaudah, Bunda tinggal dulu ya ke dalam. Siapa tau mau kangenan dulu," kata Nia sembari terkekeh dan meninggalkan kedua anaknya itu.
"Jangan ditekuk gitu mukanya, gue bakalan cepet pulang. Ayok senyum, masa suaminya mau pergi dicemberutin," pinta Gala.
"Apasih, Gal. biasa aja. Yaudah kalau mau pergi ya pergi lah. Tuh taxinya udah dateng," kata Abel.
__ADS_1
Gala tersenyum lalu memeluk Abel sambil menciumi pipi istrinya itu dengan lembut. Dia paham kalau Abel tidak mau ditinggal hanya saja gengsinya begitu tinggi untuk mengakui dan bilang padanya.
Abel membalas pelukan Gala dan membiarkan Gala menciumi pipinya seperti itu. Gala tersenyum, rasanya dia memiliki bayi besar kalau Abel seperti ini. Tidak biasanya Abel yang galak segemas ini apalagi mau diciumi seperti itu.
"Yaudah gue berangkat dulu ya, jangan lupa makan, jangan kenapa-kenapa, jaga kesehatan juga selama gue gak ada. Jangan bandel, jangan nakal, inget lo istri gue," peringat Gala.
"Iyaa," balas Abel mengangguk.
Gala pun melepaskan pelukannya dan mencium kening Abel dengan lembut, Abel sedikit tersenyum saat Gala melakukannya. Ya sedikit membuat perasaannya nyaman.
"Salam dulu." Gala mengulurkan tangannya pada Abel.
Abel menurut saja dan mencium tangan suaminya itu dan tersenyum tipis. "Hati-hati, jangan lebih dari 3 hari. Nanti ketinggalan pelajaran."
Gala terkekeh lalu mengangguk, setelah itu dia memasuki taxi dan melambaikan tangan pada Abel. Ini pertama kalinya dia pergi jauh tapi meninggalkan seorang istri, rasanya agak sedikit berat.
Abel membalas lambaian tangan Gala, setelah mobil itu menjauh Abel kembali menekuk wajahnya. Biasanya dia tidak seperti ini kalau seseorang pergi meninggalkannya. Padahal seharusnya dia senang karena beberapa hari tidak perlu berdebat dengan Gala.
.
.
.
"Gimana sekolah kamu, Sayang? Aman gak?" Tanya Doni.
Abel mengangguk seraya menyuapkan makanannya. "Nothing spesial, tapi aman."
"Bagus, Ayah seneng dengernya. Takutnya kamu keteteran ngerjain pekerjaan rumah sampai tugas sekolah terbengkalai," ucap Doni.
"Gak kok, Yah. Aku tau caranya gimana buat laksanain hak sama kewajiban. Jadi jangan khawatir," balas Abel sambil tersenyum.
Nia menatap putrimya, Meskipun terlihat biasa saja tapi Nia tau kalau putrinya ini sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa sih, Kak? Kaya banyak beban gitu mukanya," tegur Nia.
"Banyak beban gimana, Bunda? Biasa aja," Tanya Abel tak mengerti.
__ADS_1
"Ya wajar, Bund. Pasti galau anaknya ditinggal sama suami 3 hari," goda Doni pada anaknya itu.
"Engga, Ayah. Malah bagus kalau aku di sini dan Gala gak ada. Jadi kita gak perlu debat, kalau di rumah kita suka banyak debat," balas Abel ambil kembali memakan makanan miliknya.
"Debat kenapa? Dia kasar ke kamu?" Tanya Doni kaget.
"Engga, ya debat aja. Kadang dia nyebelin dan aku gak suka, terus ngomel. Dianya malah makin nyebelin, tapi bunda nih kayanya lebih percaya sama Gala dari pada anaknya sendiri," jawab Abel jujur.
"Nyebelin itu biar dia bisa lebih deket sama kamu. Lagian kasian juga Gala, Yah. punya istri galak banget, jutek juga, salah dikit kena omel," bela Nia.
"Aku gak galak kalau dianya gak nyebelin, Bund. Gala tuh nyebelin banget kalau di rumah. Kalau ngapa-ngapaim gak pernah rapi lah, kalau sibuk banget lupa sama dunia terus kalau laper maunya aku suapin kan aku kesel, hipertensi," omel Abel.
"Loh itu namanya suami kamu minta diperhatikan, Sayang. Kamu gak pengalaman sih soal cowok, harus belajar sama Bunda biar suaminya nempel terus kaya Ayah."
"Gak perlu, aku gini aja dia menel banget kaya anak kecil. Rewel tau gak, Bund. Mending aku rawat Ghazam aja yang masih bisa diarahin. Kalau Gala gak bisa diarahin ujungnya ya debat."
Doni terkekeh melihat perdebatan anak dan ibu ini. Kini bahasannya bukan lagi soal pelajaran atau belanjaan. Tapi tentang suami. Padahal rasanya baru kemarin Abel keluar dari perut istrinya.
"Nah justru perdebatan itu yang dikangenin, pasti ada perasaan kesepian karena gak ada yang bisa diajak debat. Itu namanya proses jatuh cinta. Bunda sama Ayah dulu di kampus kerjaannya berantem terus, tapi waktu Ayah gak ada eh Bunda yang ketar-ketir," ucap Nia sambil terkekeh.
"Engga, Bund. Biasa aja, setidaknya aku aman-aman aja buat 3 hari kedepan," jawab Abel santai.
"Kamu tuh anak Ayah sama Bunda. Ayah tau di saat kamu seneng, sedih, khawatir, jadi gak bisa bohong kalau sekarang lagi kangen sama Gala," kata Doni.
"Engga, Ayah," sangkal Abel.
"Emang anak kamu ini, Nia. Sama seperti kamu dulu, gengsinya tinggi buat mengakui perasaan," ucap Doni pada Nia.
"Tapi aku gak kaya anak kamu, Mas. Terlalu gengsi kalau Abel, aku kalau udah mantap ya bilang aja ke kamu kalau aku suka kamu," balas Nia yang dihadiahi kekehan oleh suaminya.
Abel hanya menggelengkan kepala melihat tingkah orang tuanya itu. Setelah selesai makan malam, Abel memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia beberapa kali mengecek ponselnya namun Gala belum membalas pesannya.
Perjalanan ke Jakarta seharusnya tidak lama, kan? Seharusnya Gala sudah sampai dan menghubunginya. Namun seketika dia seolah sadar.
"Kenapa gue khawatir ya? Bel, ada yang gak beres dari diri lo. Gue kenapa sih? Biasanya kalau ayah sama bunda pergi juga biasa aja. lagian yaudah 3 hari kan. Nikmatin waktu lo!" Gumam Abel sembari menepuk-nepuk pipinya.
Abel mengambil laptopnya, dia memilih untuk mengerjakan tugas saja daripada terus memikirkan Gala. Meskipun di dalam hatinya dia merasa sedang cemas karena Gala belum memberinya kabar.
__ADS_1