Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Menjaga Keponakan


__ADS_3


Sudah dua hari Miya berada di rumah ini, selain karena terlalu menyayangi adiknya, Miya juga memang rindu pulang ke rumah. Mereka bertiga nampak akur sebagai mertua, kakak ipar dan juga menantu. Seperti sekarang, mereka sedang bercanda tawa di ruang makan.


"Abel itu memang pintar masak, Mama aja kalah loh sama dia. Jadi Mama gak khawatir kalau ninggalin Gala sama Abel. Malahan lebih terurus," ucap Dara.


"Bener, besok ajarin Kakak masak dong, Dek. Kayanya suamiku bakalan lebih betah di rumah kalau aku jago masak. Keren banget kamu masih SMA tapi udah jago masak," ucap Miya sembari menyuapkan makanannya.


"Iyalah istri gue."


"Iya iya, istri lo. Bener kata Kak Jihan, bucin banget adek bungsu gue. Gemasnya," kata Miya.


Berbeda dengan Jihan, Miya ini jauh lebih friendly sepertinya pada Gala. Ya hanya sedikit lebih berisik, tetap saja membuat Gala sering emosi. Tapi dia memahami posisi Jihan sih, karena semua yang ada pada diri Jihan juga ada pada dirinya sebagai anak sulung.


Abel hanya tersenyum, dia terlalu fokus menggendong keponakannya yang menggemaskan ini. Rasanya dia ingin menelan pipinya sekarang juga. Abel memang penyuka anak kecil, tentunya dia penyayang, bahkan sepertinya Kanya lebih nyaman bersama tantenya daripada ibunya sendiri.


Abel menciumi pipi bayi itu, dia ini ramah senyum dan begitu manis menurut Abel. "Kamu di sini aja ya sama Ante, jangan pulang. Biar Mamanya bawa Om Gala aja, kamu di sini sama Ante ya, kita tukeran."


"Jangan Aneh-aneh." Gala menatap tajam ke arah Abel, bisa-bisanya dia lebih memilih keponakannya dibandingkan dirinya, tidak bisaa! Gala tidak mau berbagi. Abel terkekeh menatap ke arah Gala, ya bagaimana lagi bayi itu lebih menggemaskan daripada Gala.


Dara dan Miya terkekeh, begitu lucunya pasangan muda ini. Yang satu kelewat dewasa, yang satunya lagi seperti anak kecil. Ya mereka memang cocok untuk menjadi pasangan. Dara akui, Gala sedikit mengalami perubahan yang baik semenjak menikah. Dia jadi lebih bisa diajak bicara sekarang.


"Ogah bawa Gala, tapi gapapa kalau Anya mau di sini. Biar Kakak bisa pacaran terus gak ada gangguin. Oh lupa emang rencananya juga gitu sih, hari ini Kakak mau reuni sama temen, jadi nitip Anya ya, Bel," pinta Miya


"Gak, Kak. Jangan gangguin gue sama Abel! Bawa anak lo," larang Gala.


"Apasih orang gue minta jagain ke Abel bukan ke lo!" Kesal Miya.


"Tapi dia juga harus jaga gue, suaminya. Masih sakit!" Balas Gala.


"Masih sakit apaan yang bisa naik motor padahal baru beberapa hari pulang dari RS?! Gak boleh pelit sama ponakannya, Om," kata Miya.


"Oh gapapa, Kak. Aku sih malah seneng jagainnya, kakak reuni aja. Anya pasti aman-aman aja sama aku." Abel terkekeh melihat pertengkaran mereka. Dia malah berbanding terbalik dengan Gala dan senang sekali kalau benar Anya akan seharian bersamanya.


"Tuh boleh, lagian lo harus belajar jadi bapak. Biar kalian pas punya anak terbiasa. Jangan kaya suami gue, jadinya gue yang harus belajar sendiri. Nanti kasian Abelnya, lo pokoknya harus jadi suami siaga. Iya kan, Ma?" Tanya Miya pada Ibunya.


"Betul, itung-itung latihan. Apalagi inget tuh, Kakek udah minta cicit. Satu tahun lagi juga kalian lulus, jadi harus disegerakan," peringat Dara.


Kalau mengurus anaknya sendiri ya Gala tidak apa-apa, ini anak Kakaknya. Mengganggu pengantin baru saja, seharusnya dia bisa bermanja-manja karena semenjak keponakannya datang, Abel lebih sering bermain dengan keponakannya. Akhirnya Gala memilih diam saja, malu juga kalau harus berebut Abel dengan anak usia 6 bulan.


.


.


.


Abel tengah duduk sembari memegangi dot, dia sangat gemas dengan bayi itu sampai dia bawa kemana-mana. Bahkan Gala menjadi cemburu, seharusnya dia yang dimanja-manja seperti itu oleh Abel.

__ADS_1


"Bel, ini bayi kapan tidurnya sih?" Tanya Gala.


"Loh bagusan dia bangun kan bisa diajak main, bisa diajak bicara, bisa dicium-ciumin, kok malah Omnya nyuruh tidur terus?" Tanya Abel heran.


"Gantian, gue yang manjaan, dari kemarin Kanya terus," ucap Gala.


Anya tertawa melihat Gala, sepertinya dia senang menjahili Omnya. Bukannya mengantuk tapi bayi itu malah semakin aktif. Gala menghela napasnya. "Anya, Om suruhnya tidur bukannya makin aktif."


"Anak yang aktif tuh bagus tau, berarti dia cerdas. Lebih suka Anya daripada Gala," ucap Abel jujur.


Gala memeluk Abel dari belakang, entah kenapa pelukannya terasa sangat posesif menurut Abel. Gala menciumi tengkuk gadis itu seolah tidak ingin melepaskannya. "Ini punya Om, Kanya!"


Abel tertawa, bagaimana mungkin Gala bisa bilang begitu pada bayi 6 bulan seperti ini? Kanya merengek, tapi Gala malah semakin mengeratkan pelukannya dan tidak mengizinkan Abel menyentuh bayi itu. Dia cemburu dan tidak akan mengalah kali ini.


Oeek oeeek ....


Tiba-tiba Kanya menangis, Abel tentu tidak tega melihatnya. Memang Gala ini senang sekali menjahili bayi itu. Abel melepaskan pelukan Gala. perlahan dia mengecek kondisi Kanya.


"Oh dia pup, kamu lagi pup ya? Yaudah pup dulu, Ante tungguin," ucap Abel sembari menyelimuti Kaya dengan kain pernel. Entah untuk apa, tapi Bundanya selalu melakukan itu saat Ghazam sedang buang air besar.


"Cobaan apalagi ini? Nanti yang bersihin pupnya dia siapa?" Tanya Gala.


"Lo lah, lo kan Omnya," jawab Abel enteng.


"Jangan aneh-aneh, gue mana bisa bersihin pup bayi." Gala menyentil dahi Abel dengan jarinya.


"Ya beda, kalau anak kita. Gue pasti tanggung jawab, orang gue yang buat. Ini kan anak Miya," ucap Gala enteng.


"Miya Miya, itu kakak lo! Sama aja, lo kalau mau ambil langkah itu dimulai dari hal-hal kecil yang sederhana. Misalnya ya kaya gini, yaudah keputusannya kita punya anak nanti aja," kata Abel.


"Gak, setelah lulus kita punya anak! Gue mau dipanggil papa, Bel. Oke gue yang bersihin, tapi ajarin," ucap Gala.


Abel menyerngitkan dahi dan menahan tawanya. Apakah sebegitu maunya Gala mempunyai anak? Benar-benar keras kepala. Yasudah, mari kita lihat akan berjuang sejauh apa.


"Sekarang gue harus apa?" Tanya Gala.


"Ambil celana ganti, pampers, bedak bayi, kapas, tissue basah, tissue kering, sama minyak telonnya," jawab Abel.


Gala mengangguk, hanya itu? Tentu mudah untuknya. Dia pun keluar kamar dan mengambil peralatan yang Abel sebutkan. Bagaimana pun dia harus meyakinkan Abel kalau dia bisa menjadi suami siaga.


Abel tertawa, dia menertawakan kelakuan Gala yang selalu tukuh pada pendirian dan sekarang membawanya untuk membersihkan kotoran bayi. Memang sesekali Gala harus diberi pelajaran.


Gala kembali ke kamar mereka dan membawa peralatan bayi, dia sedikit kesal melihat Abel menertawakannya. "Ketawaa, kalau bukan demi anak kita gue gak mau!"


"Dih, sekarang ambil air hangat ke bawah," lanjut Abel menginstruksi.


Gala kembali keluar kamar dan menuju ke dapur, benar-benar harinya ini dibuat repot oleh keponakannya sendiri. Berbeda dengan Abel yang hari ini sangat senang karena ada teman yang bisa dia ajak bicara selain Gala.

__ADS_1


"Nih." Gala mengulurkan segelas air hangat pada Abel.


Abel merasa sedih sekali melihatnya. "Gal, masa iya bersihin pup pake gelas? Lo jangan ngaco, pake baskom kecil gitu loh. Wadah plastikk!"


Gala menghela napasnya. "Kenapa gak bilang? Instruksi lo kurang jelas."


"Ya gue kira lo pinter, taunya lo terlalu pinter sampai bawa gelas buat bersihin pup bayi."


"Yaudah iya gue ganti, bentar." Gala pun tak ingin ambil pusing, dia kembali ke dapur dan mengambil air. Kali ini akan dia pastikan benar. Setelah selesai dia kembali ke atas.


Dara bingung, apa yang akan dilakukan Gala. Karena penasaran dia mengikuti Gala ke kamar atas. Gala mengulurkan wadah berisi air hangat kepada Abel.


"Nah ini bener." Abel menaruh wadah itu di samping Kanya. Abel membuat posisi bayi itu di ujung ranjang agar mempermudah Gala membersihkannya. Tatapannya kembali ke arah Gala. "Sini."


Gala pun memposisikan diri di hadapan bayi itu. Dia menatap Abel seolah meminta instruksi.


"Lo buka celananya dulu," ucap Abel.


Gala pun menurut, perlahan dia membuka celana Kanya dan menaruhnya di sembarang tempat. "Terus gimana lagi?"


"Robek pampersnya dari samping, terus lo buang ke keresek," lanjut Abel.


Gala mengikuti perintah Abel, namun bukan membuangnya justru Gala mual. "Ya Allah, kenapa pupnya bau banget sih, Nya?"


Abel menahan tawanya, bagaimana bisa Gala mengatakan hal itu? Tentu saja yang namanya kotoran pasti bau. Gala tidak sanggup, dia memilih untuk mundur dan menyerahkannya pada Abel.


"Lo aja deh, nyerah gue," ucap Gala.


Abel pun mengambil tugas Gala. "Ck, udah gue bilang. Ngurus anak itu gak mudah. Makanya lo harus pikirin dulu sebelum banyak mau. Sini gue ajarin."


Gala pun memperhatikan Abel. Perlahan Abel mengelap sisa-sisa kotoran dengan bagian pampers yang masih bersih, setelah itu menggulungnya dan memasukan pada plastik. Abel mengambil kapas dan mencelupkannya pada air hangat, dia membersihkannya dengan teliti, setelah bersih baru lah dia mengangkat kain yang ada di bawahnya.


"Udah selesai?" Tanya Gala.


"Belum, nanti dia iritasi kalau kaya gitu doang," jawab Abel.


Abel mengambil tissue basah dan kembali membersihkan bagian-bagian yang mungkin masih belum bersih. Setelah itu dia mengambil tissue kering dan memakaikannya minyak telon juga bedak. Abel memakaikan pampers, sebagai tahap akhir dia memakaikan celana.


"Keren, kok bisa?" Tanya Gala.


"Gue yang gantiin popok Ghazam kalau bunda keluar, jadi lo paham kan gimana susahnya punya anak? Ngerti kan kenapa kita gak usah buru-buru?" Abel balik bertanya.


"Paham, tapi berhubung lo bisa semuanya ya kita jalanin aja. Gue juga udah belajar dan nanti bakalan banyak belajar," Gala mengedipkan sebelah matanya.


Abel menghela napasnya, terserah. Terserah apa maunya Gala saja, selalu ada jawaban dari semua argumen yang Abel berikan. Pria ini memang keras kepala.


Dara tertawa kecil di balik pintu, dia merasa kalau mereka seperti mama dan papa muda. Sangat menggemaskan, ya semoga saja impiannya akan segera terwujud. Mempunyai cucu dari anak bungsunya.

__ADS_1


__ADS_2