
Setelah selesai menyuapi bayinya dan merapikan meja makan, Abel bergegas ke kamar. Selera makannya hilang seketika, jadi dia memilih untuk tidak makan.
Abel berjalan ke meja belajarnya. Dia mengambil beberapa buku pelajaran untuk besok dan merapikannya ke dalam Tas. Setelah itu, karena masih belum ada PR dia pun membuka laptop untuk melanjutkan tulisannya di salah satu platform online.
Selain menyukai taekwondo, Abel juga menyukai dunia kepenulisan dan dia bisa mendapatkan uang sampai berjuta-juta dari sana. Dia membiasakan untuk mandiri sejak kecil dan bercita-cita menjadi wanita serba bisa.
"Aneh, nikah muda di novel kok pada indah-indah. Lah gue? Kalau dijadiin novel juga genrenya angst," gumam Abel.
Abel menyalakan musik dan memasang sebelah earpods nya. Ritual yang sering dia lakukan saat mencari inspirasi menulis dan terbukti ampuh. Kini dia sedang fokus merangkai kata demi kata untuk menciptakan karya yang berkualitas.
Sudah banyak karya yang dia ciptakan dengan akhir happy ending, tapi apakah kisahnya juga akan menemui titik kebahagiaan? Entahlah memikirkannya saja sudah membuat kepala Abel terasa pusing.
Menikah dengan Gala adalah bab terburuk dalam hidupnya. Seharusnya dia bisa menikmati masa remajanya ini dengan normal. Tapi sekarang dia benar-benar terjebak.
"Kalau misalnya gue bertahan di sini bisa gila, kalau gue cerai nanti jadi janda muda? Gak ada yang lebih angst lagi kah cerita gue?" Gumamnya sambil kembali fokus pada layar.
Tak selang beberapa lama, Gala masuk dan sedikit takjub melihat kamarnya yang sudah rapi, dia juga melihat ada meja baru milik Abel yang ditata di sana. Entah terlalu mandiri atau memang kuli, tapi Abel memasangnya sendirian tanpa meminta bantuan dari Gala. Lagi pula jika memintanya, Gala akan langsung menyuruh Mang Boni yang membantu.
Hidup menjadi anak bungsu di keluarga Alaric membuat Gala sedikit keenakan, pasalnya apa yang dia butuhkan akan segera terlaksana asalkan dia menurut pada orang tuanya.
Gala melirik ke arah paper bag yang diberikan oleh Abel tadi. Sepatu koleksi terbaru dari brand yang biasa dia pakai. Aneh sekali kenapa wanita ini begitu perhatian padanya.
"Kenapa lo beliin gue sepatu?" Tanya Gala.
__ADS_1
Abel yang hanya memasang sebelah earpods nya pun mendengar ucapan pria itu. "Sepatu lo jebol kan di lapangan? Yaudah sekalian gue beliin tadi di Mall."
Gala menatap gadis yang sedang fokus pada layar laptopnya itu. "Lo suka sama gue ya?"
Abel berdecak. "Gak usah kepedean, kalau lo pake sepatu jebol ke sekolah gue juga yang malu walaupun pura-pura gak kenal."
Gala bingung, bagaimana Abel bisa tau mengenai sepatunya. Jela saja bahkan tidak mengetahui itu, padahal dia ada di lapangan. Entah tidak tahu atau memang tidak memperhatikan hal-hal kecil.
"Makasih, maaf juga buat tadi sore," ucap Gala. Dia merasa sedikit bersalah karena sudah memarahi Abel tadi Sore.
Meskipun Gala cuek dia masih tau tata krama untuk mengucapkan maaf dan terima kasih. Jadi dia tidak gengsi jika menyangkut soal itu.
"Ya," balas Abel yang tetap fokus menulis. Abel tidak mau ambil pusing atau berdebat dengan pria itu. Imajinasinya sedang bagus untuk menulis, tentu tidak akan dia sia-siakan.
Gala mengangkat panggilan Vidio saat ponselnya tiba-tiba saja berbunyi, siapa lagi kalau bukan Jela. Tadinya dia tidak ingin mengangkat, namun dia akhirnya mengangkat juga.
"Gapapa, mau liat pacarku aja sebelum tidur. Kamu mau tidur ya atau lagi belajar?" Tanya gadis itu dengan nada manja.
"Iya bentar lagi mau tidur," jawab Gala.
Abel memutar bola matanya malas, dia seperti seekor nyamuk di antara percakapan Gala dengan pacarnya, terlebih lagi dia sedang berada dalam imajinasinya. Jadi dia harus mencoba tetap fokus untuk menulis ditemani kebucinan dua sejoli itu. Bukan cemburu, tapi dia sangat malas mendengarkan mereka berdua.
Sampai akhirnya beberapa jam berlalu, waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Gala memang sengaja berlama-lama, dia ingin melihat reaksi dari Abel, namun gadis itu tetap cuek bebek dan berakhir ketiduran di meja belajarnya.
Setelah mematikan panggilan dari Jela, Gala menghampiri Abel dan mencoba membangunkannya. Gadis itu nampak tertidur pulas karena kelelahan. Meskipun mandiri, Abel baru kali ini mengerjakan tugas rumah sendirian. Biasanya dia selalu bekerja sama dengan bundanya di rumah.
__ADS_1
"Bangun." Gala menepuk-nepuk bahu Abel, namun tidak ada reaksi.
Gala kembali menepuk bahu gadis itu tapi masih tidak ada respon. Gala sedikit kebingungan, bagaimana cara membangunkan gadis itu?
Gala mencoba menjatuhkan pulpen ke lantai dengan keras, berjalan ke kamar mandi dengan dihentak-hentak, bahkan dia juga membanting pintu kamar mandi, namun Abel tidak terbangun juga.
"Lo tidur apa mati suri?" Gumam Gala yang sudah menyerah untuk membangunkan gadis itu.
Gala mencabut earpods yang ada di telinga Abel, dia berdecak. Mungkin ini adalah salah satunya penyebab Abel tidak terbangun. Gala menghela napasnya kasar, sampai lebaran haji pun Abel tidak akan bangun kalau kondisinya seperti ini.
Gala teringat kalau dia belum bertukar nomor dengan Abel. Perlahan dia mengambil ponsel milik Abel. Pelan-pelan dia menaruh jari Abel untuk membuka sandi pada ponselnya. Dia melihat banyak sekali pria yang mengirim pesan pada Abel namun tidak dia balas. Sebegitu menarik kah Abel di mata orang-orang?
Gala mengetikkan nomor ponsel lalu menghubungi dirinya sendiri agar nomor Abel masuk padanya, lalu dia menamai kontaknya di ponsel milik Abel. Setelah itu Gala mematikan ponsel dan membantunya untuk mengisi baterai yang sudah hampir habis.
Sekilas dia melirik laptop milik Abel, ternyata ini yang dikerjakan sampai larut malam. Menulis novel percintaan, namun kisah percintaannya tidak seperti di novel-novel. Gala cukup kaget saat melihat pendapatan Abel dari hasil menulis. Benar saja kata Raka.
"Cowok kalau bisa segalanya, punya uang. Mereka bakalan cari banyak cewek. Kalau cewek bisa segalanya, punya uang, dia gak akan butuh satu cowok pun buat mendampinginya."
Gala memang melihat itu pada diri Abel. Mandiri, bisa mengerjakan apapun, tidak heran jika dia menolak banyak lelaki untuk mendampinginya. Meskipun Gala mengetahui semua itu hanya sebatas katanya, tapi dia meyakininya.
Lagi-lagi Gala berpikir, bagaimana caranya membangunkan Abel, tapi rasanya akan sulit. Jika dia membiarkan Abel tertidur di meja maka akan membuatnya pegal-pegal di keesokan harinya. Meski cuek, rasa kemanusian Gala masih ada.
Pelan-pelan Gala menyelipkan tangannya di antara lengan dan lutut Abel. Sekilas Gala memperhatikan wajah tenang Abel saat tertidur, menurutnya jauh lebih enak dilihat daripada saat dia terjaga. Perlahan dia mengangkat tubuh mungil itu dan menidurkannya di ranjang.
Gala masih terdiam dengan posisinya yang sangat dekat dengan wajah Abel. Deru napas yang mengenai kulitnya membuat Gala merasakan hal yang aneh. Ada yang berbeda dari wanita yang berstatus istrinya ini dan ingin Gala cari tau lebih dalam.
__ADS_1
Gala menghela napasnya dan berdiri tegak, dia tidak boleh berlama-lama menatap Abel seperti ini. Jika dia terbangun bisa turun harga dirinya. Akhirnya Gala pun melangkahkan kaki menutup laptop milik Abel dan berbalik untuk tidur di samping Abel.