
Hari ini setelah mendapatkan kabar dari ayahnya, Abella langsung pergi ke rumah sakit. Dia benar-benar panik karena mendapati kabar kalau kakeknya terkena serangan jantung.
Memang bukan untuk pertama kalinya, tapi tetap saja membuatnya sangat khawatir. Dia sampai terkilir karena terburu-buru saat berjalan di lorong karena lupa memberi Gala kabar kalau dirinya sekarang harus ke rumah sakit.
Saat sudah sampai di depan kamar rawat, Abel membuka pintunya perlahan. Terlihat kedua orang tuanya dan juga sang adik yang sedang duduk di sofa dengan wajah sendu.
"Assalamualaikum." Abel menghampiri mereka meski dengan jalan yang tertatih karena sakit, setelah itu menyalami kedua orang tuanya.
"Waalaikumsalam, kaki kamu kenapa?" Tanya Doni.
"Tadi terkilir waktu mau ke sini. Tapi udah gapapa kok, Yah. Gimana kondisi kakek?" Tanya Abel.
"Kakek harus kembali pasang ring kateter kedua, pemasangannya besok. Jadi kakek harus banyak istirahat," jelas Doni.
Abel melirik ke arah ranjang rumah sakit, entah kenapa jika kakeknya terbaring lemah seperti itu selalu ada banyak ketakutan yang menghampirinya. Dia takut jika sewaktu-waktu harus ditinggalkan Hendra kakeknya, karena dia tidak akan pernah siap.
"Jadi besok pemasangan ringnya?" Tanya Abel.
Doni mengangguk, lalu menenangkan putrinya. Meskipun Abel tidak menangis tapi dia tau kalau putrinya ini sedang sedih. Mengingat kedekatan Abel dengan Hendra tentulah banyak hal yang mungkin Abel takutkan.
"Kakek udah mendingan, sekarang biarkan dulu istirahat. Kamu juga duduk gih, itu kakinya bisa makin parah kalau berdiri terus," ucap Nia menambahkan.
Dengan perasaan yang kacau balau, Abel pun iku duduk di sofa. Kenapa dia tidak bisa menangis di saat dia benar-benar butuh air mata untuk melegakan perasaannya? Dia sampai harus menghela napasnya beberapa kali agar dirinya tenang.
"Itu kenapa bisa kambuh jantungnya, Bund? Kakek makannya kurang dijaga pasti, apa gak sebaiknya sekarang paksa kakek buat tinggal sama ayah dan bunda? Atau sama aku dan Gala juga kami gak beratan. Kakek harus sering dipantau loh, Bund. Di rumah kan kakek cuma sama suster. Bisa aja sesekali bandel," kata Abel.
"Bunda dan Ayah sudah memikirkan itu, tapi kami juga harus membicarakannya dulu sama kakek, kan? Tau sendiri kakekmu keras kepala."
__ADS_1
"Kalau kakek keras kepala, aku lebih keras kepala. Nanti biar aku aja yang bicara sama kakek, aku juga bakalan bicara sama Gala kalau kakek maunya tinggal sama aku," ucap Abel kekeh.
Tentulah kalau soal keras kepala Abel jagonya. Memiliki genetika dari kakeknya, tentu dia lebih sempurna keras kepalanya. Jadi jangan dikira Abel akan mengalah kali ini. Dia akan memastikan kalau kakeknya menurut agar kesehatannya juga terjamin.
Bagaimana pun kakeknya ini sudah tua, kalau bukan dia dan kedua orang tuanya yang merawat siapa lagi? Membiarkan Hendra bersama suster saja tidak akan menjamin kesehatannya.
Suster pasti ada rasa takut ketika Hendra melalukan hal yang sesuai kehendaknya. Berbeda dengan keluarga yang pasti akan menjaganya dengan ketat. Terbukti sekarang harus menjalani pemasangan ring kateter kedua, sudah pasti pola hidupnya tidak teratur.
.
.
.
Abella menatap kakeknya dengan tajam, jika sudah seperti ini Hendra tau kalau cucunya itu sedang marah besar. "Kakeknya lagi sakit malah di marahin. Baru bangun Kakeknya."
"Makanya Kakek coba deh kali ini nurut sama Abel. Kakek kenapa bisa kambuh gini, suster Gema gak bener atur pola makannya ya?" Tuduh Abel.
"Sama aja, Kek. Itu pola hidupnya gak teratur. Sekarang pilih, mau tinggal sama Bunda atau sama Abel?" Tanya Abel to the point pada tujuannya.
"Kakek tidak-"
"Gak ada tidak-tidak, gak ada tapi-tapi. Kami tuh khawatir loh sama keadaan Kakek. Setidaknya kalau Kakek memilih buat tinggal di salah satunya, kami bisa pantau kesehatan Kakek," ucap Abel.
"Tapi-"
"Gak ada tapi, Kek. Kakek bisa keras kepala dari kemarin, tapi sekarang giliran aku yang keras kepala. So choose one!" Tegas Abella.
Hendra menarik napasnya panjang. Memang tidak salah genetikanya ini turun kepada cucunya. Benar-benar keras kepala, sudah jelas dia yang akan kalah.
__ADS_1
"Yasudah nanti kita pikirkan setelah Kakek pulang dari sini," kata Hendra.
Abel mengangguk, kan kalau begini enak. Dia tidak harus bersi keras sampai beradu argumen dengan Hendra. Karena kalau sudah adu argumen, Abel sudah pasti tidak akan mau kalah dengan Kakeknya. Lagi punya ini demi kebaikan kok, jadi Abel tidak takut.
Abel mengambil bubur yang sudah disediakan dari rumah sakit dengan berbagai makanan sehat lainnya, dengan teliti sekarang dia menyuapi kakeknya yang memang sulit untuk makan kalau bukan dia yang memaksa.
Hendra sudah pasti menurut karena tidak mau membuat cucunya semakin marah padanya."Galaxy tidak ke sini?"
"Tadinya Gala mau ke sini, tapi kasian juga kemarin bilang banyak pekerjaan yang dikejar target. Jadi aku suruh dia ke sini setelah pulang kerja. Gapapa kan, Kek?"
"Gapapa, kakek cuma bertanya. Lalu gimana hubungan kamu dengan Galaxy?" Tanya Hendra lagi pads cucunya.
"Aku sama Gala baik-baik aja, Kek. Sejauh ini gak pernah ada masalah serius juga di antara kami," jawab Abel sembari kembali menyendokkan bubur pada mangkuk yang dia pegang.
"Dia memperlakukan cucu Kakek ini dengan baik, kan? Kamu tidak pernah cerita sama Kakek soal Galaxy," kata Hendra sambil menatap cucunya.
"Galaxy baik kok, Kek. Walaupun awalnya susah buat hadapin dia yang cuek dan nyebelin, tapi sekarang dia udah jadi suami yang baik. Dia juga udah dewasa, jadi lebih bijak buat menghadapi aku yang keras kepala," jawab abel jujur.
"Ya kalau itu harus, kakeknya saja sampai harus mengalah kalau bicara sama kamu, apalagi Gala?" Kata Hendra terkekeh.
"Tapi dia juga lebih keras kepala, Kek. Sometimes aku aja kalah sama Gala. Kalau kata Gala harus gitu ya gitu. Jadi aku ngalah."
"Kalau itu bagus, tandanya dia bisa membimbing kamu. Kalau kamu lebih keras dari dia justru malah gak baik. Akhirnya cucu kakek ada tandingannya soal urusan keras kepala," ucap Hendra tersenyum.
"Gak bagus, akunya yang kesel. Tapi gimana pun juga dia tetep orang yang pengertian kok, Kek dalam segala apapun. Bisa sabar banget, bisa manja banget. Tapi perlahan kita saling paham kok sama sifat masing-masing."
"Kakek senang mendengar kalau kalian baik-baik saja. Tapi tetap ya kalau ada apa-apa harus lapor Kakek. Pasti Kakek akan kasih pelajaran kalau dia sakitin kamu."
"Iya, Kek. Kakek kan super heronya Abella. Jadi akan terus seperti itu. Tapi super hero juga harus kuat. Jadi mulai sekarang pola hidup dan pola makannya harus diatur lagi ya, Kek. Biar tetap jadi super heronya Abella yang kuat."
__ADS_1
Nia yang melihat kedekatan keduanya tersenyum. Memang hanya Abel satu-satunya yang bisa menghadapi sifat keras kepala bapak mertuanya itu. Meskipun mereka sering sekali bertengkar, berdebat dan sama-sama keras kepala, tapi mereka saling menyayangi.
Ditambah hubungan keduanya yang kini semakin membaik. Membuat Nia mendapatkan kebahagiaan keluarga mereka yang kemarin sempat terganggu. Meskipun tidak sampai miskom. Ya semoga akan tetap seperti ini kedepannya.