
Satu bulan berlalu, akhirnya Gala dan Abel memutuskan untuk tinggal di rumah mereka sendiri. Rumah bergaya minimalis, memang tidak terlalu megah tapi cukup untuk keluarga kecil mereka.
Sebenarnya Nia dan Dara khawatir, karena membiarkan mereka tinggal sendiri. Tapi Gala dan Abel meyakinkan kalau mereka bisa, karena mau bagaimana pun mereka harus belajar membina rumah tangga sendiri, tentunya tidak bergantung pada orang tua.
Pagi ini Abel sudah menyiapkan kopi dan nasi goreng di meja untuk sarapan. Gala terlihat sangat tampan menggunakan jas untuk pergi bekerja.
Gala menatap istrinya sembari memakan nasi goreng miliknya. "Hari ini ada rencana mau kemana?"
Abel menggeleng. "Gak ada, aku gak akan kemana-mana. Ya di rumah aja, kamu ada lembur malam ini?"
"Gak ada, nanti aku usahain pulang cepet ya. Mau nitip apa?" Tanya Gala lagi.
"Emm sate yang di simpang itu boleh?" Abel bertanya balik.
"Boleh, apa yang engga buat kamu. Nanti aku bawain," kata Gala sambil tersenyum.
Gala sebenarnya masih merasa tidak enak jika meninggalkan Abel di rumah sendirian. Karena dia pasti tidak ada teman untuk diajak bicara, apalagi mereka baru di sini 3 hari. Terkadang juga Gala sibuk karena dia bekerja sambil kuliah. Untung saja dia mengambil kelas full online.
Setelah selesai makan, Abel menghampiri Gala dan membenarkan dasi pria itu seperti istri-istri pada umumnya. "Kamu ini gak bisa rapi sedikit ya? Malu, nanti disangka aku gak ngurusin kamu."
Gala tersenyum melihat Abel yang dengan telaten mengurusnya, dia tidak salah menikahi orang rupanya. "Kamu cantik banget kenapa sih?"
"Sayang, aku lagi bicara jangan mengalihkan pembicaraan." Kini Abel menatap Gala serius.
"Gak mau rapi, emang sengaja aja biar kamu yang betulin. Aku suka soalnya liat wajah kamu," ucap Gala.
Abel menghela napasnya, Gala ini memang selalu memiliki jawaban dari setiap argumennya. Jadi biarkan saja dia melakukan apa yang dia ingin kan. Abel menyapukan tangannya di jas pria itu seolah menghilangkan debu-debu di sana. "Udah rapi, kamu hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut."
__ADS_1
"Iya, Baby. Yaudah aku pergi dulu, kamu juga hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa hubungin," peringat Gala.
Abel pun mengangguk, Gala mengulurkan tangan pada Abel lalu gadis itu menyalami tangan suaminya. Ya, sekarang mereka sudah terbiasa melakukan itu, tidak seperti awal-awal menikah yang kalau pergi sekolah diawali dengan pertengkaran.
Gala mengecup bibir istrinya lembut. "Tunggu aku pulang ya, I love you."
Abel tersenyum. "I love you too."
Setelah Gala pergi Abel pun melakukan tugasnya. Dia memilih untuk tidak memakai asisten rumah tangga. Sama seperti ibunya, dia ingin merawat suami dan anaknya kelak sendiri. Apalagi sekarang masih gala yang harus dia urus, jadi mudah.
Sebenarnya dia cukup bosan jika sendirian begini, Gala memang tidak melarangnya untuk bepergian, tapi tetap saja dia tidak tau harus kemana, ujungnya dia hanya menetap di dalam rumah sambil menonton drama korea.
Kalau begini Abel rasanya ingin punya anak, pasti akan seru jika ada yang bisa diajak bicara, bermain, apalagi kalau anaknya banyak bertanya. Dia jadi tidak sendirian menunggu Gala di rumah. Pasti juga akan menyenangkan, tapi mereka belum dikaruniai, mungkin harus bersabar.
.
.
.
Setelah semua pekerjaan beres, Abel bersiap untuk mandi. Meskipun di dalam rumah, dia harus terlihat cantik agar suaminya tidak bosan. Itu yang selalu diajarkan oleh Ibunya. Ya, dia memang menjadikan Ibunya panutan. Karena Abel bia melihat sendiri kalau Ibunya menjadi Ayahnya dengan baik.
Mata Abel sesekali melihat ke arah jam, menunggu kerap kali membuatnya merasa kesal. Tapi dia tidak bisa marah juga, karena suaminya pergi untuk bekerja demi masa depan mereka. Sesekali dia melirik ponselnya, siapa tau ada notif pesan suaminya.
Beberapa jam berlaku akhirnya suara mobil terdengar, Abel berlari ke depan pintu dan sumringah saat melihat Gala sudah pulang. Gala tersenyum ke arah istrinya, setelah mencium tangan suaminya Abel pun memeluk pria itu.
"Kangen," ucapnya.
Gala tersenyum lalu mengecup bibir Abel. "Tumben gak gengsi bilangnya."
__ADS_1
"Gapapa lagi mau aja bilangnya, kalau gak mau aku gak akan bilang," jawab Abel santai.
"Nih, pesenan kamu." Gala memberikan bungkusan di tangannya pada Abel.
Abel kesenangan dan langsung menerimanya. "Makasih ya pak suami."
Gala mengangguk lalu terkekeh, jika sedang manja Abel bukan seperti wanita yang dia nikahi pertama kali. Mereka berdua pun masuk ke rumah. Abel mengambil tas Gala dan membukakan jasnya. "Yaudah kamu bersih-bersih dulu gih, bau asem. Habis itu kita makan."
Gala kembali mengangguk, setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih. Abel menyimpan tas milik Gala dan menaruh jasnya di tempat cucian. Setelah itu tidak lupa dia menyiapkan pakaian untuk Gala setelah dia mandi. Pokoknya Abel benar-benar sudah menyiapkan semuanya.
Abel pergi ke dapur untuk membuat teh dan susu. Kebiasaan Abel adalah meminum susu setiap malam dan teh untuk Gala. Dia menaruh teh dan susu itu di meja, bersamaan dengan sate dan lontong yang dibuat terpisah.
Setelah selesai bersih-bersih Gala menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan makann di meja. Perlahan dia memeluk Abel dari belakang. Sudah tidak asing lagi untuk Abel, malah sekarang dia menyukainya. Dengan lembut Abel mengelus tangan Gala yang berada di perutnya.
Gala menghadapkan istrinya ke arahnya. Perlahan dia duduk dan menciumi perut Abel, sesekali dia mendengarkan suara dari sana. "Gala junior udah ada di sini belum, Sayang?"
Abel tersenyum lalu mengelus pipi Gala perlahan. "Belum ada, Papa. Sabar ya, masih coming soon."
"Yaudah, selamat berjuang kecebong. Kasian mama kamu gak ada temennya," ucap Gala terkekeh.
Abel pun tertawa melihatnya, setelah itu dia duduk di samping Gala. 50 tusuk sate, memang kebanyakan. Tapi Gala tau kalau istrinya ini suka makan, jadi tidak ada apa-apanya. Mereka pun memakan sate bersama.
"Gimana hari ini kerjaannya lancar?" Tanya Abel.
"Lancar, Baby. Semuanya aman-aman aja. Kamu hari ini makan berapa kali? Gak kecapean, kan?"
"Aku udah makan dua kali, sekarang jadi tiga kali. Aku gak kecapean, semuanya masih bisa dihandle kok. Terus gimana, kamu sendiri cape kan? Orang kamu yang seharian di luar rumah."
"Gak cape, liat kamu capenya jadi hilang," ucap Gala sambil tersenyum."
__ADS_1
"Gombal."
Mereka berdua tertawa bersama. Ini juga hal yang mulai mereka biasakan, menceritakan hari-hari satu sama lain. Mereka mengutamakan komunikasi karena tidak mau kalau sampai nantinya terjadi miss komunikasi diantara mereka. Mereka juga berprinsip tidak mau sampai bertengkar karena hal-hal kecil. Ya paling Abel saja yang banyak ngambeknya karena moodswing, Gala pun memahami dan bisa mengatasi itu. Jadi itu bukan masalah besar untuknya.