
Abel berjalan menuju mobilnya, namun sesaat dia akan memasukan kunci tiba-tiba Gala mengambil kunci mobil Abel. Abel langsung menatap ke arah Gala, pasalnya dia bisa telat kalau harus berdebat dengan Gala pagi ini.
"Gal, balikin. Gue bisa telat kalau ladenin lo berdebat dulu." Abel berusaha mengambil kunci mobilnya dari tangan Gala
"Lo bareng gue," tegas Gala.
"Gala gue gak mau ya jadi pusat perhatian hari ini karena tiba-tiba bareng sama lo, gak mau!" Tolak Abel.
"Bel membantah suami hukumnya dosa," peringat Gala.
"Tapi, Gal kita kan udah sepakat buat rahasiain pernikahan kita. Dari awal lo juga sepakat, kan?" Kesal Abel.
"Iya gue menyepakati kalau kita rahasiain pernikahan, tapi kita gak buat kesepakatan tentang go publik sebagai pacar. Anggap aja ini ceritanya PDKT," ucapnya simpel.
Abel menghela napasnya, kenapa pria yang ada di hadapannya ini penuh drama? Padahal mereka bisa diam sampai lulus sekolah nanti. Dia mungkin tidak akan terkena masalah, tapi Abel yang akan terkena masalah.
"Gak ada bantahan lagi." Gala menarik tangan Abel dan menaiki motornya. Tidak lupa juga dia membuka footstep agar Abel mudah menaiki motornya.
"Nih, pake." Gala mengulurkan helm pada Abel dan Abel pun terpaksa memakainya.
"Senyum, jangan ditekuk terus itu mukanya," perintah Gala lagi.
Abel mengeluarkan senyum terpaksanya, pria di hadapannya ini memang sama pemaksa. Kalau tidak diikuti dia akan berbicara dengan embel-embel dosa. Adakah hukum agama yang menjelaskan kalau suami memaksa istri juga dosa?
Gala menatap Abel yang masih diam di tempatnya, sepertinya gadis itu memang benar-benar tidak ingin pergi bersamanya. Tapi Gala tidak peduli, untuk memajukan proses tentunya dia harus bergerak dari sekarang.
"Naik, Abella!" Tegasnya.
"Aduh, Gal. Gue sendiri aja yaa? Gue kasih satu permintaan," ucapnya.
Gala berpikir, boleh juga. Dia tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Gala menganggguk-ngangguk santai, jujur sikapnya yang seperti itu membuat Abel kesal.
"Apa? Cepet jangan nunda waktu," tanya Abel cepat.
Gala mendekatkan pipinya sambil menunjuk dengan jari telunjuknya. Seharusnya Abel paham ya apa yang Gala pinta.
"Gala!! Modus lo ya!" Kesal Abel yang paham apa yang di maksud Gala.
__ADS_1
"Gak mau? Ya-"
Cup ...
Abel mengecup pipi Gala, dia tidak mau kalau Gala sampai berubah pikirannya. Itu akan jauh lebih bahaya dari ini.
"Oke, ayok naik. Kita berangkat," ucap Gala santai sambil memakai helm full face miliknya.
"Ta-tapi kan tadi? Gala lo kenapa sih? Jangan curang tadi lo iyain, kan? Siniin kunci mobilnya!" Tegas Abel.
"Ada gue iyain? Orang gue ngangguk-ngangguk doang, gak bilang iya. Cepet naik aja, gue gak akan berubah pikiran!" Ucap Gala lebih tegas dan mengulurkan tangannya pada Abel.
Abel berdecak, dengan pasrah akhirnya dia menerima uluran tangan Gala dan menaiki motor itu. Benar-benar Galaxy membuatnya kesal pagi-pagi begini. Sudah pasti dia akan menjadi perbincangan atau bahan gosip sekolah. Apapun yang berkaitan dengan Gala sudah pasti viral. Abel pasrah saja, semoga tidak akan terjadi apa-apa padanya hari ini.
...~ • ~...
SMA Gold Garuda dikejutkan dengan kedatangan seorang Galaxy dengan gadis yang dibawanya dengan motor hari ini. Abella Gracia Atmaja, mereka tentu tau mengenai keluarga Atmaja dan BMC Group, tapi yang mereka tau kalau Abel selalu biasa saja di sekolah dan tak ingin menjadi pusat perhatian.
Kehidupannya yang tidak pernah dipamerkan, baik harta, sahabat atau hubungannya sekalipun membuat mereka cukup kaget karena kedekatannya dengan Gala. Mereka bertanya-tanya apakah keduanya memiliki hubungan spesial?
Eh itu Abel XI IPA 1 kan? Kok bisa sama Gala?
Lebih cocok kapal baru ini gak sih? Abel tuh baik gak kaya si Jela.
Jangan-jangan dia pelakor hubungan Jela sama Gala.
Gak nyangka ternyata gatel juga, Jela harus tau!
Abel menghela napasnya, setelah memberikan helm pada Gala dia bergegas ke kelas, namun Gala menahan tanggannya dan malah menggenggamnya. Ingin sekali Abel melepaskan tangannya namun pria itu menggenggamnya dengan erat, seolah ingin memberitahu semua orang tentang mereka.
"Gala, jangan macem-macem. Lo gak liat apa kita digosipin? Jangan aneh-aneh," kata Abel setengah berbisik.
"Apa yang aneh, cuma bawa cewek ke sekolah dan itu pun satu sekolah. Yang aneh itu kalau gue sekarang teriak yang di samping gue itu istri gue," jawabnya santai sambil tetap menatap lurus ke depan.
"Jangan ngada-ngada ya, Galaxy!"
"Makanya, nurut aja. Nikmatin, jadi istri yang baik dan nurut sama suaminya. Gue lebih suka lo jadi pusat perhatian karena gue daripada jadi pusat perhatian karena lo cantik." Entah memuji atau apapun, tapi Abel hanya bisa pasrah dengan Gala.
Gala mengantarkan Abel sampai gadis itu benar-benar duduk di bangkunya. Tentu banyak pasang mata yang kini menatap ke arahnya. Pasalnya mereka tau kalau Abel tidak pernah tertarik dengan pria mana pun, bahkan Elzard pun ditolak.
__ADS_1
Jarang sekali Gala memperlakukan wanita seperti itu, tidak memang tidak pernah. Bahkan Jela saja tidak pernah diantar sampai kelas seperti Abel.
"Belajar yang rajin." Gala mengelus puncak kepala Abel, lalu meninggalkan kelas Abel yang langsung ricuh karena perbuatannya.
Abel memejamkan matanya, apa yang sudah pria itu perbuat? Ah Abel sangat tidak suka tatapan-tatapam seperti ini. Tatapan bertanya-tanya, tatapan penasaran, tatapan kagum atau apapun Abel tidak suka ditatap!
"Bel lo jadian sama Gala?" Tanya Nara antusias.
"Asli sih kalau Gala sama lo gue setuju pol! Cocok banget daripada sama si Jela," ucap Anna kesenangan.
Dinda yang paham malah menelan ludahnya, sepertinya sebentar lagi akan ada peperangan rumah tangga antara Abel dan Gala. Sangat terlihat jelas kan Abel tidak nyaman sekarang.
"Engga, bokap kita temenan jadi gue dianterin. Temenan doang," jawab Abel.
"Serius? Tapi kok Gala sweet banget tadi? Ayokk ngakuu lo sama Gala pacaran, kan?" Tanya Anna lagi.
"Engga gu-"
Tiba-tiba Jela dan teman-temannya memasuki kelas Abel. Ini yang tidak mau Abel hadapi, bukan takut tapi dia sangat malas berdebat hal-hal yang tidak penting.
Brakk!!
Jela menggebrak meja milik Abel, emosinya sudah meledak ketika melihat Gala menggenggam tangan Abel di koridor tadi. Abel yang merasa terusik pun berdiri dan melipat tangannya di dada.
"Punya sopan santun gak? Dateng-dateng gebrak meja orang sembarangan," ucap Abel datar.
"Eh jangan lo pikir lo jago bela diri gue bakalan takut sama lo ya, Abella! Ngapain lo deketin Gala?! Gatel juga lo!" Bentak Jela.
"Ngaco, jaga bicara lo ya. Mending lo pergi, gue males berurusan sama lo," balas Abel.
"Oh gak terima dibilang gatel? Terus apa dong, murahan? Kok mau dipegang-pegang sama cowok, cowok orang lagi," ceplos Adel.
"Kalau gue sih malu, tapi dia gak ada malu kayanya," timpal Karin sinis.
"Terserah deh ya, gue gak ada urusan sama lo semua. Tanya aja sama Galanya sendiri, jangan sama gue. Wasting time, gue gak punya waktu buat ngurusin kekanak-kanakan kalian," tegas Abel.
"LO!!"
"Apa?" Tanya Abel dengan santai.
__ADS_1
"Gue pastiin lo gak akan tenang di sekolah!" Ancam Jela. Setelah itu dia keluar dari kelas Abel, wanita itu membuatnya benar-benar emosi.
Abel merapikan poninya dan kembali duduk, Jela kira dia akan takut? Abel tidak pernah takut apapun, dia hanya malas mengurusi hal-hal yang tidak penting apalagi permasalahan cinta yang belum selesai antara Jela dengan Gala. Itu sama sekali bukan urusannya.