
Setelah pulang dari rumah Abella, Degas dan Dinda pulang bersama. Ya kalau tidak diantar pulang sampai selamat nanti Raka akan marah-marah padanya. Degas melirik ke arah Dinda yang senyum-senyum sendiri sejak tadi. Entah apa juga yang gadis itu pikirkan.
"Kesambet lo?" Tanya Degas.
"Engga, gue cuma seneng aja liat Abel sama Gala. Harmonis gitu, gue sampe sekarang aja rasanya gak nyangka mereka bisa sampai sejauh ini. Lo nyangka gak sih? Abel yang dulunya gak tersentuh sama siapapun sekarang jadi se humble itu semenjak nikah sama Gala?"
"Ya sama gak nyangka, karena Gala aja dulu sebelas dua belas kan sama Abel. Dulu aja gue pernah suka sama Abel, tapi susah dideketin," jawab Degas jujur.
"Serius lo suka sama Abel? Gue kira cuma main-main doang," balas Dinda terkekeh.
"Kayanya gue baru move on beberapa tahun kebelakang. Ya karena gue juga sadar kalau Abell sama Gala emang saling mencintai."
"Gak heran sih, Abel cantik banget, siapa juga yang gak akan suka sama dia? Dianya aja dulu yang menutup diri jadi jomblo terus. "
"Bukan karena cantik, tapi emang perasaan kan gak tau mau berlabuh di mana." ucap Degas.
"Jadi alasan lo jomblo karena baru move on dari Abel?" Tanya Dinda.
"Engga lah, emang belum ada yang mau aja sama gue," kata Degas sambil terkekeh.
"Padahal lo bisa memilih cewek yang lo mau, gue yakin ada. Mana mungkin gak ada. Ya walaupun lo gak seganteng Galaxy ya tapi tampang lo itu lumayan lah."
"Sialan, emang lo mau sama gue?" Tawar Degas sembari terkekeh.
"Ya- hah kok gue?" Tanya Dinda.
Degas memarkirkan mobilnya tepat dipekarangan rumah Dinda. Sejenak dia menarik napasnya dan menatap Dinda. "Gue tertarik sama lo, ayok kita komitmen?"
Dinda terdiam, masih mencoba mencerna apa yang saat ini terjadi. "Lo kesambet apa gimana?"
"Gue to the point, ya kalau gak komitmen ayok kita PDKT. Gue belum suka sama lo dan gue juga tau lo belum suka sama gue. Tapi kita jalan pelan-pelan buat nemuin perasaan kita masing-masing."
__ADS_1
"Lo bercanda kan, Gas?" Tanya Dinda memastikan.
"Gimana sudut pandang lo aja mau mandang ini bercanda atau serius. Tapi kalau serius, gue bisa lebih serius dari lo," jawab Degas santai.
Sebentar, meskipun Dinda tomboy begini ya apa dia tidak salting kalau diberi kata-kata manis seperti ini. Jelas dia kaget, ya meskipun dia belum mencintai Degas tapi tetap saja ini pengalaman pertamanya diajak bicara serius seperti ini. Memang bukan pertama kalinya diajak untuk pacaran tapi yang kali ini beda.
"Gimana? Tapi kalau gak mau-"
"Ayok!"
"Hah? Serius lo?"
"Tergantung dari sudut pandang lo mau anggap ini serius atau bercanda," ucap Dinda membalikkan kata-kata Degas.
Mereka berdua terkekeh, mendadak keadaan di mobil ini menjadi canggung. Ya bagaimana tidak, meskipun bukan pernyataan cinta tapi tetap saja membutuhkan keberanian untuk bicara seperti ini.
"Kalau gitu besok bisa jalan berdua? Berdua aja gak sama Alano dan Alana," tawar Degas.
Dinda mengangguk. "Boleh, gue free kok. Nanti kabar-kabarin aja kalau jadi."
Jujur jantung Dinda berdebar kencang, rasanya dia ingin melompat dari mobil ini sekarang juga. Pipinya bahkan sudah bersemu merah sepertinya. Dinda mengangguk pelan. "Emm aaa- yaudah gue mask duluan ya. Lo hati-hati di jalan."
"Iyaa."
Dinda keluar dari mobil Degas, setelah itu dia melambaikan tangan saat mobil Degas mulai melaju. Dia sedikit tersenyum, ya semoga ini awal yang baik untuk kisah percintaannya.
.
.
.
Keesokan harinya di kediaman Alaric seperti biasa Abella menyiapkan sarapan, setelah itu dia membantu Gala bersiap ke kantor. Gala menghampiri Abel untuk minta di pasangkan dasinya.
__ADS_1
"Hari ini pulang jam berapa?" Tanya Abel sembari memasangkan dasi pada Galaxy.
"Kalau beres Mas secepatnya pulang," jawab Galaxy sembari tersenyum ke arah Alano dan Alana yang menatap ke arah mereka.
"Papa kenapa harus dipasangin dasina, kata Mama Alan harus pasang sendiri biar pinter," ucap Alano.
Abel terkekeh, ya memang dia mengajarkan kemandirian sejak kecil pada kedua anaknya. Benar sih tidak heran jika Alano protes, karena melihat papanya yang apa-apa harus disiapkan oleh Abella.
"Kalau papa kan ada Mama, udah kewajiban Mama bantuin Papa. Nanti Alan kalau udah besar ngerti," balas Galaxy dengan bijak.
"Tapina kenapa? Jadina kalau udah gede Alan boleh minta pasangin dasi ke Mama, Papa?" Tanya Alano sembari menyuapkan buah pada mulutnya.
Gala menghela napasnya, bukan seperti itu maksud Gala. Tapi ya memang tidak akan masuk juga pada kepala anak kecil seperti Alano. Abella terkekeh dan menatap Alano. "Papa boleh minta minta pasangin dasi soalnya kewajiban Mama, Sayang. Alan boleh kok minta pasangin dasi ke Mama kalau memang Alan gak bisa. Suatu saat nanti Mama kasih tau kenapa alasannya begitu. Oke?"
Alano mengangguk-nganggukkan kepalanya paham. Lucu sekali memang jika mereka banyak ingin tahu pasti harus dijelaskan secara rinci.
Setelah beres dengan Galaxy, Abella langsung merapikan anak-anaknya yang memang sudah mandi tapi kembali celemotan. Hari ini Galaxy mengajak mereka ke kantornya. Ya bukan hal asing lagi, mereka juga nantinya akan banyak yang mengasuh di sana.
"Alan sama Ana harus baik ya sama Om dan Tante di sana. Kalau mau kemana-mama bilang dulu ke papa, jangan kaya kemarin ninggalin Om Degas sama Tante Dinda. Jangan gitu lagi oke?"
"Oke Mama!" Kata mereka menurut.
"Jangan nakal, di sana. Hati-hati, jangan lama-lama ya, Sayang. Nanti Mama kangen. " Abella mengecupi kedua pipi anaknya dan mengusap pipi mereka dengan lembut.
"Iya, Mama Ana sama Alan engga nakal. Nanti cepet pulangna, soalna gamau Mama sedih." Alana memeluk Abella dengan erat dan menciumi wajah Ibunya, begitu juga dengan Alano.
Gala gemas sendiri melihatnya, mereka tumbuh menjadi anak yang perhatian dan penuh kasih sayang. Memang pintar Abel dalam mendidik anak-anaknya. "Ya udah ayok sayang-sayang ya papa, kita lets go. Sana tunggu Papa di mobil."
Alano dan Alana berlari ke depan untuk memasuki mobil. Sementara Gala memeluk istrinya dengan erat. "Hati-hati di rumah, nanti kami cepat pulang. Jangan lupa makan ya, Mamanya anak-anak. Papa sama anak-anaknya pergi ke kantor dulu."
Abel tersenyum dan mencium pipi suaminya. "Iya, Papa. Hati-hati juga ya. Nitip anak-anak, have fun!"
Gala mencium bibir Abella dengan lembut, setelah itu Abella menyalaminya. Gala mengusap puncak kepala Abel dan berpamitan masuk ke dalam mobil. Melihat anak-anaknya melambaikan tangan ke arahnya membuat Abel terkekeh, senang sekali mereka diajak papanya ke kantor. Sampai akhirnya mobil melaju dan menjauh dari rumah.
__ADS_1
Abel menghela napasnya, ya setidaknya hari ini dia bisa bersantai menikmati beberapa rutinitasnya. Karena kalau ada Alano dan Alana sudah pasti Abel fokus pada mereka dan tidak bisa bebas. Enaknya seorang Ibu kalau tidak ada anak ya begini, tapi tidak enaknya ya ada rasa rindu dan sedikit cemas kalau mereka keluar. Padahal ya mereka keluar juga bersama Galaxy.