
Malam ini Alana dan Alano sudah tertidur bersama Galaxy, sementara Abel masih berdiam diri menonton TV di sofa. Tidak menonton juga sebenarnya, tapi dengan ini dia bisa mengalihkan perasaan-perasaan yang ada pada dirinya.
Gala memang menawarkan diri untuk menggantikan tugas Abella menidurkan anak-anaknya, karena dia yakin kalau perasaan Abel masih belum pulih dan membaik. Jadi di saat-saat seperti ini dia harus memberi pengertian juga agar mengambil sedikit hati Abel. Walaupun sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa untuk Abella.
Setelah memastikan anak-anaknya tertidur pulas, Gala turun dari kasur dan duduk di samping Abel. Tidak ada pergerakan dari wanita itu dia hanya menghela napas sembari tetap fokus pada TV di hadapannya. Tidak berniat marah atau memandang Galaxy, dia hanya ingin diam saja seperti ini rasanya.
Perlahan Gala mencoba menggenggam tangan Abella dan mengelus punggung tangan itu dengan lembut. Lagi-lagi dia hanya diam, membuat Gala semakin bingung kalau Abella hanya diam, karena menurutnya akan lebih baik jika Abel marah-marah saja agar dia tau bagaimana cara menyelesaikannya.
"Aku salah."
"Emang kamu salah," jawab Abel cepat.
Gala menghela napasnya. "Semenjak kematian Kakek semua pekerjaan berantakan, beberapa deadline juga rusak dan gak terkontrol. Aku menyibukkan diri tapi sebenarnya aku juga gak fokus buat kerjainnya."
"Kemarin aku gagal dapet proyek dengan perusahaan Kiewit Corporation. Itu salah satu goals karier yang aku rencanakan, aku down banget karena gak bisa capai itu. Kakek gak ada dan aku gak bisa berbagi apapun dengan orang lain. Perusahaan mengalami kerugian, gak banyak memang, tapi tetap jadi pikiran juga."
"Itu jadi sebuah alasan buat minum-minum kaya gitu? Terus gunanya aku ini apa, Mas? Aku gak ngerti emang soal perusahaan tapi emang aku gak se-berguna itu ya buat kamu? Minimal kasih tau keadaan kamu biar aku bisa bantu nenangin itu gak perlu ya menurut kamu? Aku orang lain buat kamu?" Abel kini menatap Galaxy dengan intens, tidak habis pikir saja dengan jalan pikiran suaminya itu.
__ADS_1
"Aku gak mau bikin kamu tambah kepikiran, kamu udah cape ngurus anak-anak, apa aku harus tambah dengan masalah yang aku buat sendiri? Niatnya aku mau gentleman dengan menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa melibatkan kamu, tapi kemarahan aku tadi itu bikin kamu terluka. Iya aku tau aku egois."
"Tuhkan kamu selalu kaya gitu, itu tandanya kamu gak percaya sama aku. Ngeraguin aku bisa bantu kamu atau engga. Kamu selalu pikir mau menyelesaikannya sendiri tapi kamu gak sadar kalau aku selalu peka sama apa-apa yang terjadi. Itu jauh lebih buruk kayanya daripada harus dengerin cerita kamu. Kalau kamu bilang kamu egois, aku katakan sekarang kalau kamu emang egois banget di rumah tangga kita!"
Gala terdiam, dia benar-benar bersalah di sini. Abel merasa memang seharusnya dia mengungkapkan apa-apa yang ada dipikirannya saat ini, jadi dia tidak peduli kalau Galaxy tersinggung atau tidak. Kalau dipendam juga tidak akan baik karena nantinya pasti akan terulang lagi jika dibiarkan begitu saja. Dia hanya tidak suka dengan sikap Galaxy yang seperti ini.
"Maaf, Sayang."
"Aku menerima maaf apapun dari kamu tapi engga dengan permasalahan yang sama. Kita pernah miss komunikasi kaya gini loh tapi kamu gak pernah mau belajar buat memperbaiki. Apasih yang gak aku maafin dari kamu, Mas? Aku selalu neken ego aku buat semua masalah kita sebelum aku bener-bener meledak kaya gini, aku selalu terbuka mengenai apa yang aku alami, yang aku pikirkan sama kamu. Tapi kamu gak sebaliknya. Emang aku gak tersinggung ya? Aku ngerasa gak berguna tau jadi istri kamu!"
Tidak ada jawaban, karena Gala memang tidak memiliki jawaban atas apa yang Abel katakan. Akan sangat memperburuk kalau dia mencari pembenaran, karena memang dia salah atas apa yang sebelumnya dia pikirkan baik.
Cukup lama mereka berdiam diri. Abel sibuk menenangkan dirinya dan Gala sibuk dengan pikirannya sendiri. Yang namanya seorang istri kalau melihat suaminya menyadari kesalahan ya mau semarah apapun dia merasa sedikit melunak. Begitu juga yang terjadi pada Abel.
"Minum, masih bau alkohol."
Gala menatap Abella dan menerima kopi yang istrinya itu berikan. Dia menurut saja karena memang efek sampingnya juga masih terasa si kepala. Memang pada kenyataannya Abel lah yang peka terhadap apa yang dia alami.
Abel mengehela napasnya, kalau sudah begini ya memang dia yang harus banyak bicara pada Galaxy, karena Galaxy pasti merasa serba salah harus berbuat bagaimana. Salahnya dia memang begini, membiarkan semuanya menjadi chaos dan pada akhirnya dia yang kewalahan sendiri menghadapinya.
__ADS_1
"Aku tau kamu kehilangan sosok kakek, tapi bukan berarti kamu jadi merusak dunia kamu sendiri. Aku pernah di posisi kamu, aku pernah terpuruk, tapi aku selalu mencoba cari sisi paling baik yang bisa aku pahami. Aku selalu mikir kalau aku punya kamu, seharusnya kamu kaya gitu. Tapi kamu mungkin emang gak bisa percaya aja sama aku." Abel berusaha melunak.
"Kamu pikir kakek bakalan seneng liat kamu kaya gini, Mas? Di saat terakhirnya kakek beliau bilang apa ke kamu? Beliau bangga sama kamu, percaya sama kamu, tau kalau kamu mampu dan beliau udah tenang buat meninggalkan segalanya. Kalau kaya gini kakek yang ada kecewa sama kamu karena ternyata kamu larut sama kesedihan dan semuanya kacau."
"Aku minta ma-"
"Jangan bilang maaf lagi, aku cuma butuh pembuktian dari kamu. Tolong biasakan buat berbagi sama aku, emang aku gak akan bisa bantu menyelesaikannya tapi sedikitnya aku bisa mengurangi beban kamu dan bikin kamu jadi rileks buat hadapinya dengan kepala dingin."
"Kamu bukan Galaxy Putra Alaric yang aku kenal 8 tahun lalu. Kamu Galaxy, suami aku dan ayah dari anak-anak aku. Kamu udah dewasa, harus bisa bijak buat hadapin masalah yang ada, harus bijak dalam bertindak. Kamu udah bijak jadi seorang kepala keluarga, tapi kamu gak bisa bijak sama diri kamu sendiri," lanjut Abel.
"Iya aku janji-"
"Jangan janji! Just do it. Come on, Dear i want you prove to me that you can do it!" Abella memeluk Galaxy, berusaha membawanya pada tempat paling nyaman.
Gala membalas pelukan Abella dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Rasanya memang lega sudah menceritakannya pada Abel. Beban yang dia pikul satu bulan ini rasanya hilang tiba-tiba. "Jangan main kucing-kucingan lagi."
"Kamu masih mau bertahan sama aku yang kaya gini, kan?" Tanya Gala pelan.
Abel mengangguk. "Aku akan selalu menerima kamu, Galaxy. Tapi aku mohon, jangan ulangi kaya gini lagi. Aku gak akan bisa bicara apa-apa lagi kalau ini terjadi lagi."
__ADS_1
Gala mengangguk. "Akan aku usahakan, terima kasih karena kamu selalu jadi penenang dalam kondisi apapun. Terima kasih karena kamu selalu mengalah dan neken ego kamu demi aku. Padahal aku tau kamu marah banget, tapi kamu masih semangatin aku buat bangkit lagi."
Abella mengusap punggung Galaxy dengan lembut. Memaafkan, tugasnya memang selalu memaafkan apa yang Galaxy lakukan. Jadi dia di sini hanya berusaha mengerti dan memahami kondisinya. Karena kini bukan soal Abella dan Galaxy lagi, tapi mengenai anak-anak mereka juga.