
Setelah lulus beberapa hari lalu, Gala dan Abel lebih sering menghabiskan waktu dengan tidur sampai siang. Dara sampai tidak habis pikir dengan kelakuan anak dan menantunya.
Ghani membuka pintu kamar mereka, terlihat Abel dan Gala masih saling berpelukan di balik selimut. Dia menggeleng pelan, hari ini ada yang harus dia bicarakan kepada keduanya meskipun masih pagi. Karena hari ini dia akan pegi ke luar kota pada siang harinya.
"Galaxy, Abella," panggil Ghani dari balik pintu.
"Galaxy, Abella!" Panggilnya dengan nada yang lebih tinggi. Bukan apa-apa, mereka sangat sulit dibangunkan.
Abel dan Gala mengerjapkan matanya, ini masih pagi. Kenapa orang tua mereka membangunkan mereka segini hari? Seperti sekolah saja.
"Emmmhh iya, Pa?" Sahut keduanya.
"Kalian turun dan temui Papa di ruang kerja," ucap Ghani.
"Hmm." Mereka berdua hanya berdeham dan setelah itu Ghani menutup pintu kamar mereka.
Abel dan Gala bangun, untuk beberapa menit mereka masih mengumpulkan nyawa. Namun tiba-tiba Gala mengecup bibir gadis itu dan membuat Abel menatap ke arahnya.
"Morning kiss, Sayang," ucap Gala sambil beranjak dari kasurnya dan tersenyum ke arah Abel yang masih mengumpulkan nyawanya.
Setelah mencuci muka, mereka berdua pun turun ke bawah dan memasuki ruang kerja Ghani. Mereka sama-sama masih mengantuk dan menguap satu sama lain.
"Ada apa, Pa?" Tanya Gala to the point.
"Perkembangan rumah kalian bagaimana? Tanya Ghani.
"Tinggal finishing, nanti akan langsung kita tempati kalau udah selesai," jawab Gala.
Ghani mengangguk-nganggukan kepalanya mengerti. Perlahan dia mengeluarkan amplop dan memberikannya pada Gala.
"Ini apa?" Tanya Gala tak mengerti.
"Itu hadiah kelulusan kalian. Mama, Papa, Bunda dan Ayah sudah menyiapkan ini untuk kalian, silahkan buka," ucap Ghani sambil tersenyum.
Gala membuka amplopnya dan melihat dua tiket honeymoon ke Bali selama seminggu. Abel menelan ludahnya, mendadak tenggorokannya terasa kering. Berbeda dengan Gala yang terlihat sumringah. "Kita liburan, Bel."
Abel hanya tersenyum kikuk, kenapa waktu berjalan cukup cepat? Pasti setelah ini akan ada banyak tuntutan untuknya. Ah sudahlah.
"Ett, bukan sembarang liburan. Kalian pulang dari sana harus membawa kabar baik untuk kami semua. Ingat permintaan, Kakek," ucap Ghani.
"Siap, Pa. Gala akan memenuhi keinginan kalian secepatnya. Iyakan, Bel?" Tanya Gala.
__ADS_1
Abel menginjak kaki Gala sambil tersenyum, membuat pria itu meringis kesakitan. "Awwww, kenapa diinjek sih?"
"Kenapa?" Tanya Ghani pada keduanya.
Abel menggeleng pelan, dia ingin melarikan diri saja rasanya. Kesepakatannya memang sesudah lulus sekolah, tapi dia masih tidak siap. Tapi jika dipikir-pikir dia memang tidak akan pernah siap.
"Gapapa, Pa. Terima kasih hadiahnya, kami suka," jawab Gala.
"Iya, Pa. Makasih yaa," ucap Abel.
Setelah selesai bicara mereka pun keluar dari ruangan Ghani. Gala melirik Abel yang nampak menjaga jarak dengannya, gadis itu malah sudah stress dari sekarang. "Kamu kenapa sih? Tegang banget mukanya."
"Ya gimana gak tegang, itu tadi papa tuh minta kita itu," jawab Abel gemas.
"Itu apa?" Tanya Gala pura-pura tidak mengerti.
"Ah udahlah, kamu ihh," kesal Abel.
Gala terkekeh melihat sikap Abel yang seperti itu. Namun dia abaikan, kali ini Abel tidak akan bisa kabur kemana-mana karena akan bersamanya 1 Minggu di Bali.
"Eh kalian sudah bangun, gimana sudah ketemu sama papa? Suka hadiahnya?" Tanya Dara sembari menghampiri mereka.
Abel dan Gala mengangguk. "Suka, Ma."
Gala hanya mengangguk, sementara Abel menatap Gala seolah meminta bantuan. Apakah ada yang lebih buruk lagi setelah ini? Pikir Abel.
Dara mengajak Abel untuk masuk ke kamarnya. Dia mengambil beberapa kotak dan paper bag dari dalam lemari. Perlahan dia menghampiri Abel yang tengah duduk di tepi ranjang dan menaruh barang-barang itu di kasur.
"Ini apa, Ma?" Tanya Abel.
"Buka aja," jawab Dara dengan senyum.
Abel membuka beberapa kotak dan kembali menelan ludahnya. Semuanya berisi lingerie, membuatnya ingin menangis saja. "Ma ini bajunya gak ada yang lebih tertutup gitu? Kaya kurang bahan."
"Ehh ini memang harus seperti ini, Sayang. Biar suami makin sayang dan suka liatnya. Nanti selama di Bali kamu bisa ganti-ganti mau pakai yang mana. Makanya Mama sama Bunda membelikan beberapa," ucap Dara sambil terkekeh, menantunya ini polos sekali rupanya.
Abel memejamkan matanya seolah tau akan kemana arah pembicaraan ini dibawa. Kenapa seorang wanita harus mengalami ini? Dia merasa awkward sekali jika membahas hal seperti itu bersama orang lain meskipun mertuanya sendiri.
"Jangan takut, memang awalnya akan terasa sakit. Makanya kamu bilang saja sama Gala untuk pelan-pelan. Dia pasti mengerti agar tidak membuat kamu kesakitan dan jangan lupa. Kamu mulai hari ini harus perbanyak makan buah dan sayuran hijau. Katanya itu bisa mempersubur kandungan, biar kami cepat-cepat punya cucu," nasehat Dara.
"Iya, Ma." Abel hanya mengiyakan, meskipun dalam lubuk hatinya dia sedang ketar-ketir. Ditambah kepergian mereka mendadak dan 3 hari lagi.
.
__ADS_1
.
.
Abel masuk ke kamar dan menaruh kotak-kotak itu di meja belajar. Abel merasa mulas tapi tidak ingin buang air, pusing tapi tidak sakit kepala, mual tapi tidak masuk angin dan berkeringat dingin di sekujur tubuhnya.
Abel jika grogi atau cemas memang seperti ini, perasaannya tidak karuan. Abel memuntahkan isi perutnya yang masih belum terisi apa-apa. Sementara Gala yang panik langsung menghampiri Abel dan menggosokkan minyak angin pada tengkuk gadis itu.
Abel mengatur napasnya dan kembali memuntahkan isi perutnya. Jantungnya berdetak kencang sekali, ini nih yang dia tidak suka. Rasa takut dan overthingking berlebihan.
"Udah enakan?"
"Heem, aku cuma masuk angin aja kayanya, Gal." Abel pun mencuci mulutnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Gala pada Abel.
Setelah mencuci mulutnya, Abel mengelap bibirnya dengan tissue, lalu dia menatap ke arah Gala. Gala menggenggam tangan gadis itu yang sudah berkeringat. Sepertinya dia tau apa yang terjadi pada istrinya, karena Abel pernah begini sebelumnya. "Kamu stress ya mikirin ini?"
Abel menggeleng, dia juga tidak enak kalau mengiyakan ucapan Gala. Karena dia yang sudah berjanji pada Gala untuk melakukannya setelah lulus. Kasian juga membuat Gala tersiksa selama ini, untung saja dia bersabar.
"Terus kenapa?" Tanya Gala lagi.
"Gapapa, kayanya kedinginan aja. Di kamar mama ACnya nyala, jadi ya gitu," jawab Abel berbohong.
"Jangan bohong, aku bisa tau kamu bohong atau engga," kata Gala sembari menyentil dahi gadis itu.
Gala mendekat ke arah kotak yang Abel bawa. Matanya memicing melihat isi kotak itu dan menahan tawanya sekilas. Benar ternyata dugaannya. Pantas saja gadis itu terlihat stress sendiri sekarang. Ibunya pasti memberikan beberapa wejangan pada gadis polosnya itu. Padahal biarkan saja Gala yang melakukannya.
"Jangan ketawa," kesal Abel sembari memainkan kuku-kukunya. Ah sialnya dia tidak bisa berbohong pada Gala. Pria itu begitu pintar ternyata.
Gala kembali menghampiri Abel dan memeluknya, mengusap punggungnya agar dia nyaman. Mereka berada di posisi itu beberapa saat sampai Gala merasa detak jantung Abel sudah mulai normal.
"Jangan dipikirin apa kata Mama sama Papa. Anggap aja kita di sana liburan. Mau lebih atau engga jangan dulu dipikirin. Yang aku mau bilang sama kamu adalah, aku gak akan nyakitin kamu. Relax." Gala menciumi wajah Abel, tidak ada satu pun yang terlewat, ya itu memang bisa membuat Abel sedikit tenang.
"Tetep kepikiran, Gal," ucap Abel.
"Kamu percaya aku gak? Aku pernah nyakitin kamu selama 1 setengah tahun ini? Ya kecuali kalau kita berantem-berantem kecil lah."
"Ya gak pernah, kenapa nanyanya gitu?"
"Ya memastikan aja kamu percaya sama aku atau engga. Kalau percaya ya kamu serahin sama aku aja, apapun yang aku lakukan gak akan menyakiti kamu. Kamu bisa pegang janji aku," ucap Gala sembari mengecup bibir Abel dengan lembut.
"Jadi, jangan dipikirin ya?" Lanjut Gala.
__ADS_1
Abel mengangguk, meskipun tidak menghilangkan rasa takutnya tapi setidaknya dia bisa lebih tenang sekarang. Gala benar, yang harus dia lakukan sekarang adalah mempercayai pria itu.