
Di tengah keributan Dara dan Jela. Gala membantu Abel membersihkan wajah dan bajunya. Nia pun menenangkan Abel. Nia tau putrinya itu sedih, kesal, Nia dapat merasakannya, begitu pun dengan Gala. Namun gadis itu tidak pernah bisa menangis. Gala pun hanya sekali melihat Abel menangis itu pun karena dia tertusuk.
"Kamu kalau marah ya marah aja, nangis ya nangis aja," ucap Gala sembari fokus membersihkan baju Abel yang kini merah semua.
Abel tidak menjawab, dia memang tidak tau harus mengekspresikannya bagaimana. Menurutnya ini hanya hal kecil dari kekanak-kanakan Jela, meskipun dia sedih dipermalukan seperti ini.
"Gimana bisa Gala menikah sama Abel, Tante? Tante jangan bercanda sama aku. KENAPA BISA TANTE KASIHIN PACAR AKU KE ABEL?" Jela mengguncangkan tubuh Dara seolah meminta penjelasan.
"Pak Anton, kerja sama kita batal!" Ucap Jonh tiba-tiba, membuat Anton terbelalak kaget.
"Tapi, Pak. Kenapa? Tolong jangan begitu, untuk kesalahan putri saya, saya memohon maaf sebanyak-banyaknya."
Jonh tidak menjawab, kegaduhannya ini membuat kepalanya sedikit pusing. Dia juga tidak terima cucu menantunya diperlakukan seperti itu.
"DADDY APA APAAN SIH? AKU GAK SALAH!"
"DIAM JELA! DADDY MALU DENGAN KELAKUAN KAMU! PULANG!" Anton menyeret Jela yang masih meronta tak terima.
Jela tidak bisa menerima ini, dia tidak bisa menerima kenyataan kalau kini Gala berstatus sebagai suami orang. Namun tidak ada ampun sepertinya, Anton tetap menyeretnya pulang karena tertanggung malu.
"Kamu gak apa-apa, Sayang?" Tanya Dara pada Abel.
"Gapapa kok, Ma. Abel pulang aja ya?" Abel bertanya seperti itu bukan apa-apa. Setelah mengetahui pernikahan Abel dengan Gala, banyak yang menatap ke arahnya, Abel benci di situasi seperti ini.
"Jangan, Sayang. Sekarang bersihkan diri kamu dulu ya. Gal ayok bawa Abel ke salah satu kamar hotel di sini. Biar mama yang panggil MUA agar mendandani Abel. Biarkan dia tenang dulu. Temani dia ya?" Pinta Dara.
Gala pun mengangguk dan menggenggam tangan Abel, gadis itu hanya diam saja, tak berniat mengekspresikan apapun. Kalau bisa dia sudah sejak tadi menampar Jela, tapi dia tak sampai hati jika melakukannya di depan banyak orang, al hasil dia harus menyimpan beban emosionalnya sendiri.
"Kenapa kamu gak marah aja?" Tanya Gala saat sampai di kamar hotel.
"Gak bisa," jawab Abel singkat.
__ADS_1
"Kenapa gak bisa? Aku tau kamu nanggung beban emosi sendiri sekarang," ucap Gala.
"Bukannya kamu gak suka kalau aku kasar sama dia? Jadi apa yang harus aku lakuin?" Tanya Abel.
Gala terdiam, dia memang pernah bilang begitu. Tapi maksud Gala bukan itu yang harus Abel luapkan. "Ekspresi kamu. Di saat cewek lain bikin perasaannya lega dengan nangis, kenapa kamu gak bisa?"
"Kamu pernah alamin itu, kan? Tanpa aku jawab kamu bisa cari jawabannya sendiri."
Gala memeluk istrinya dengan erat, dia mau menjadi sandaran Abel ketika dia sedih, senang ataupun marah. Tapi memang sepertinya harus perlahan-lahan. Gadis itu baru saja bisa menerimanya. Dia harus lebih bersabar untuk menginginkan lebih.
"Pokoknya kalau kamu marah, sedih dan butuh seseorang. Aku ada di sini. Jangan pernah nutupin apapun dari aku," ucap Gala sembari mengecup punggung tangan Abel.
Abel mengangguk, setelah itu dia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Bagaimana pun acara ini harus dia ikuti sampai selesai.
.
.
.
"Kenapa? Aku aneh ya?" Tanya Abel.
"Engga, kamu cantik. Cantik banget, ayok." Gala merengkuh pinggang istrinya dan sedikit mengelus punggung Abel di bagian atas. Baru kali ini dia melihatnya lagi. Mereka kembali ke balroom, ternyata acaranya telah dimulai.
Gala dan Abel berdiri di jajaran keluarga, banyak yang memuji kecantikan Abel. Wanita yang sering kali tidak mau terlihat mencolok, kini malah menjadi pusat perhatian. Sebenarnya Abel kurang nyaman, namun jika mereka sudah tau hubungannya dengan Gala, dia harus mulai membiasakan diri.
Mereka semua menyanyikan lagu ulang tahun dan semuanya turut senang atas pertambahan usia pemilik grup terbesar sekaligus pemilik yayasan SMA Gold Garuda. Setelah itu Jonh memotong kue lalu MC memanggil Gala dan Abel.
"Kita?" Tanya Abel pada Gala.
"Iya, Sayang. Ayok pegangan kalau takut," ucap Gala seraya menggenggam tangan istrinya dan maju ke hadapan sang kakek.
"Kue ini saya berikan untuk cucu dan cucu menantu kesayangan saya. Galaxy dan juga Abella." Jonh menyuapkan kue itu pada Gala dan Abell.
__ADS_1
Semua orang bertepuk tangan, melihat Galaxy dan Abel terlihat romantis membuat mereka bergetar sendiri. Kemudian Jonh berdiri di tengah keduanya.
"Pertama-tama terima kasih karena telah membuat acara ini meriah dan maaf karena sempat ada kekacauan pada awal acara. Saya Jonh Artadinata Alaric, ingin menyampaikan sebuah berita bahagia tentang pernikahan cucu saya Galaxy Putra Alaric dengan Abella Gracia Atmaja yang-"
"Abella Gracia Alaric," potong Gala.
"Ah iya Kakek lupa. Maksudnya Abella Gracia Alaric, cucu dari kerabat saya sekaligus founder SMA Gold Garuda yang tidak pernah mau di sebutkan. Tapi sepertinya sekarang harus, Hendra Dirlangga Atmaja," ucap Jonh.
Sementara Hendra hanya menggeleng dengan kelakuan sahabatnya, tentu setelah ini dia harus turut andil dalam acara sekolah bersama Jonh. Semua orang terkejut, ternyata Abel adalah cucu pemilik sekolah juga. Keluarga Atmaja memang sangat rapi dalam menyembunyikan saham. Banyak yang sering berhati-hati, jika mencari masalah bisa saja salah satu perusahaan yang mereka akali adalah milik keluarga Atmaja.
"Pernikahan Gala dan Abella resmi di mata hukum dan agama, namun mereka menjalankan peran mereka sebagai pelajar. Untuk itu mereka juga merahasiakan pernikahan mereka agar tetap menjadi contoh teladan SMA kita tercinta. Namun karena semuanya sudah diungkap, saya ingin mengatakan bahwa mereka tidak akan melenceng dari aturan sekolah kita, karena saya sendiri yang mengawasi mereka berdua," lanjut Jonh.
"Jangan ada yang deketin Abel," ucap Gala pada kakeknya.
"Oh ada pesan dari Gala. Katanya jangan deketin Abella." Jonh terkekeh dan diikuti oleh gelak tawa semua orang. Gala begitu lucu jika jatuh cinta, kedinginannya seolah memudar sekarang. Sementara Abel hanya memejamkan matanya sejenak dan menghela napas.
Semua bertepuk tangan. Kebanyakan mereka masih tidak percaya, namun melihat tautan cincin yang terpasang di jari manis Gala dan Abel membuat mereka percaya kalau Gala dan Abel sudah menikah. Tentunya banyak dari mereka yang senang tak sedikit juga kecewa. Siapa lagi kalau bukan pengagum dari keduanya.
Gala kembali menarik tangan Abel dan membawanya mundur. Dia menggenggamnya seolah tidak ingin Abel menghilang dalam hidupnya.
"Kamu ngapain sih bilang kaya gitu ke kakek?" Tanya Abel setengah berbisik.
"Gapapa, biar gak ada yang berani deketin kamu karena punya aku," jawab Gala sembari tetap fokus menatap ke depan.
"Padahal udah diumumin kita nikah, masih aja takut," cibir Abel.
"Takut, soalnya kamu cantik banget. Apalagi sekarang banyak yang liatin kamu, matanya pada liar," ucap Gala.
"Loh mereka punya mata, kenapa ngatur?" Tanya Abel lagi.
"Tapi-"
"Ssssttt, ribut terus. Gak enak dong diliatin tamu tuh," peringat Dara.
__ADS_1
"Iya, Ma maaf," ucap mereka berdua berbarengan.
Dara menggelengkan kepalanya, memang ada-ada saja kelakuan anak dan menantunya ini. Mereka memang tidak pernah terlihat bertengkar, tapi selalu saja beradu argumen.