Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Sebuah Ancaman


__ADS_3


Abel membuka matanya, dia kaget melihat kondisinya yang sudah diikat disebuah kursi dengan mulutnya yang tertutup. Abel mencoba berteriak, namun tidak ada siapa-siapa di sana.


"EEEEEMMMMMMM!!!!" Teriak Abel.


Perlahan suara derap langkah terdengar di telinga Abel. matanya membulat ketika melihat Dion ada di depannya, tidak hanya Dion tapi juga Jela? Ada apa? Kenapa mereka menahannya di sini.


"Ouuuuhh Tuan Putri kita sudah bangun." Jela tersenyum dan menghampiri Abella. Perlahan dia membuka penutup mulut gadis itu.


"Kalian ngapain bawa gue ke sini?! Lepasin!"


"Ngapain katanya? Lo lupa terakhir kali kita ada masalah apa, Hah?" Jela mengcengkeram dagu Abel dan menatapnya tajam.


Namun dia lupa kalau sekarang Abel memanglah masih orang yang sama, dia tidak pernah takut dengan apapun. "Gue gak pernah ada masalah sama lo, tapi lo aja yang terlalu obsesi sama Gala dan nyakitin diri lo sendiri, jadi lepasin gue!"


Plaakkkk ...


Satu tamparan berhasil mengenai pipi Abel. Abel mengepalkan tangannya kuat, kalau saja tangannya tidak diikat, sudah pasti akan dia balas sekarang juga. Dion terkejut dengan apa yang Jela lakukan, ternyata gadis itu brutal juga.


"JAGA MULUT LO!" Bentak Jela.


"APA YANG HARUS GUE JAGA? PADA DASARNYA LO SAMA DION EMANG GAK PERNAH BISA LIAT ORANG LAIN BAHAGIA," balas Abel membentak.


"Iya, gue emang gak bisa liat lo bahagia, apalagi sama orag yang gue sayang! Lo itu perebut! Ahhh - diperut lo ini ada bayi ya rupanya," ucap Jela sembari mengelus perut Abel.


Abel tersadar, dia kini tengah hamil. Apa yang akan dilakukan oleh perempuan yang ada di hadapannya ini? "Jangan macem-macem!"


Jela mengeluarkan pisau dari dalam sakunya dan memainkannya di depan Abel. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis Abel. "Jel, JANGAN MACEM-MACEM ATAU LO-"


"GUE APA? GUE APA?! Nasib lo sama anak lo ada di tangan gue. Gue bisa aja bunuh anak ini sekarang juga. Kaya gini." Jela mengarahkan pisaunya ke perut Abel seperti akan menusuknya dengan keras namun Abel menjerit.


"JELL JANGANNNN!" Kini Abel menangis, dia benar-benar lemah jika menyangkut pautkan kehamilannya ini.


Jela menahan pisaunya dan tertawa, ternyata mempermainkan emosi Abel sangat menyenangkan. "Hahahaha mana nih yang sok berani, gitu aja nangis. Takut ya? Gue tusuk nih."


"JELAA! JANGAN gue mohon jangan apa-apain anak gue, gue mohon," ucap Abel sambil terisak.


Dion tertawa puas melihat adegan yang ada di hadapannya, ternyata Jela pintar sekali memainkan perannya. Baguslah, jadi nanti di akhir dia tinggal eksekusi.


"Emm oke-oke gue gak akan habisin anak lo, tapi gue ada satu syarat," ucap Jela.


"Apa?"


"Tinggalin Gala dan minta cerai sama dia."

__ADS_1


Abel terdiam, bagaimana bisa perempuan ini memintanya meninggalkan Gala? Tidak. "Gak, gue gak akan pernah tinggalin Gala. LEPASIN!" Bentak Abel yang kini sudah emosi.


Plakkk ....


Satu tamparan lagi mengenai pipi Abel. Dia benar takut sekarang, bukan takut karena dirinya akan terluka, tapi dia takut kalau terjadi apa-apa dengan kandungannya.


"Kurang ajar lo ya! Gue kasih waktu sampai malam, kalau lo gak mau, bukan cuma bayi lo yang gue habisin, tapi lo juga gue habisin!" Jela kembali menutup mulut Abel.


Abel meronta meminta untuk dilepaskan namun Jela berlalu begitu saja. Dion melangkahkan kakinya ke arah gadis itu. Perlahan dia mengelus pipi Abel dengan lembut. Abel kembali histeris saat Dion mendekatkan wajah padanya.


Dijambaknya rambut Abel dengan kuat. Abel kini menatap Dion yang menatapnya penuh kebencian. "Itu baru urusan lo sama Jela. Sama gue lain lagi, tunggu tanggal mainnya."


Dion melepaskan rambut Abel lalu tersenyum puas melihat reaksi ketakutan gadis itu, setelahnya dia berlalu meninggalkan Abel di sana yang masih meronta dan berusaha melepaskan diri.


Abel menangis, dia benci menjadi lemah seperti ini. "Gal, tolongin aku." Batinnya.


.


.


.


Sesampainya di rumah sakit Gala langsung menghampiri Dara yang menangis disertai panik. Melihat itu Gala semakin tidak karuan, dengan cepat dia mendatangi pihak rumah sakit dan meminta CCTV untuk mencari petunjuk.


Sedikit sulit memang prosedurnya, tapi jika berurusan dengan uang semuanya berjalan dengan lancar. Tangannya mengepal ketika melihat dua orang yang dia kenal melakukan aksinya.


"Jela? Anaknya pak Anton itu?" Tanya Dara.


Gala mengangguk dan langsung keluar dari ruangan itu, dia harus benar-benar turun tangan sendiri. Gala masuk ke mobilnya dan Dara kini ikut bersama Gala.


Pertama-tama dia harus mengecek keberadaan Abel. Ponselnya masih berdering dan bisa dia lacak dengan akun Apple yang pernah Gala buat di ponsel baru Abel.


"Gal kamu kok malah santai aja sih?! Istri kamu dalam bahaya!" Geram Dara.


"Maaa jangan ganggu Gala, ini Gala lagi cek keberadaan Abel dari ponselnya. Bentar, Maa Gala juga panik."


Dara menghela napasnya, dia pun tidak tinggal diam. Kini dia menelepon suaminya dan memberitahukan perbuatan anak dari rekan bisnisnya agar Abel segera ditemukan juga jika banyak yang mencari.


Dia membuka Icloud.com/find dan memasukan akun Abel. Beberapa saat dia menunggu dan akhirnya dia mendapat lokasinya.


Gala langsung menghubungi polisi dan membawanya ke daerah yang dia tuju. Memang cukup jauh tapi semoga Abel tidak kenapa-kenapa.


Gala langsung tancap gas ke sana dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia benar-benar akan menghabisi Dion hari ini juga jika Abel kenapa-kenapa.


.

__ADS_1


.


.


Abel berusaha tenang, dia pernah diajarkan dalam taekwondo bagaimana cara melepaskan ikatan pada tangannya. Dengan sabar Abel mencobanya. Memang sedikit susah tapi perlahan terbuka.


Setelah itu dia membuka semua ikatan pada tubuhnya dan juga membuka penutup mulutnya. Sedikit kesusahan saat akan membuka ikatan di kakinya, namun ternyata bisa.


"Gue harus kabur dari sini, gue gak mau kalau Jela sama Dion nyakitin anak gue."


Abel berusaha mencari jalan keluar, namun ternyata pintu gudang ini tidak di kunci. Perlahan tapi pasti dia berusaha mencari pintu keluar dari rumah besar ini.


Entah kemana Jela dan Dion, tapi kesempatan tidak boleh dia biarkan begitu saja. Abel berlari ke arah pintu dan membuka kuncinya, namun Jela melihat itu dan langsung mengejar Abel yang kini sudah berhasil keluar.


"DION DIA KABUR, BANTU KEJAR!" Teriak Jela sembari mengejar Abel.


Abel panik saat keluar gerbang dia tidak harus kemana, tempat ini benar-benar sepi dari mobil yang lewat. Namun dia harus tetap berusaha kabur dari sana. Perutnya sedikit keram namun dia paksakan sedikit.


"Sayang, kuat yaa. Mama harus selamatin nyawa kita kamu kuat ya, Sayang," ucap Abel sembari mengelus perutnya.


Jela terus mengejarnya, namun Abel lari lebih cepat sehingga tidak bisa di kejar namun saat dia salah duga. Dion kini mengejar Abel dengan menggunakan mobil, karena geram dia menabrak gadis itu.


Abel memekik kesakitan ketika tubuhnya terbanting ke aspal. Darah segar keluar dari bagian bawahnya. Perutnya terasa sakit. Abel mengerang kesakitan.


"AKHHHHHH SAKITT," Jerit Abel.


Jela kaget melihat itu dan langsung menatap Dion yang keluar dari mobil. "LO GILA! DIA LAGI HAMIL!"


"Tanggung, tadinya mau gue tabrak lebih kenceng."


"GILA LO!"


"Akhhhhh, sakitt tolooooong!" Teriak Abel dengan suara paraunya. Dia kesakitan sekali ditambah rasa panik karena takut terjadi apa apa pada kandungannya.


"S-sayang kamu harus kuat ya, jangan kenapa-kenapa," ucap Abel sambil terisak.


"GUE BILANG CUMA GERTAK DOANG BUKAN BUNUH DIA SAMA BAYINYA! LO STRESS!" Jela mengambil kunci mobil dari Dion dan langsung membantu Abel berdiri.


"AKHHH SAKIT JEL, KALIAN JAHAT BANGET!" Teriak Abel histeris.


Jela yang mendengar itu sedikit tidak tega, meskipun dia benci dengan Abel tapi dia juga wanita. Apalagi Abel tengah mengandung sekarang. Dia tidak benar-benar tega kalau sampai membunuh keduanya.


"Jel lo jangan gila, kita udah setengah jalan. Habisin aja!" Bentak Dion.


"STRESS LO YA, GUE MAU BAWA DIA KE RUMAH SAKIT. Lo mikir gak apa yang bakalan terjadi sama bayi yang ada di kandungannya dia hah? Kalau dia mati juga gimana?! Jangan halangin gue!" Jela menyeka air matanya, dia benar-benar takut dan panik sekarang.

__ADS_1


Dengan cepat dia menaruh Abel di jok belakang, dia tidak mempedulikan Dion yang kini menahannya. Abel terus berteriak kesakitan. "Sayang kuat ya, kamu jangan kenapa-kenapa ... akhhh sakitt. Jel lo jahat! LO JAHAT!"


Sambil menangis Jela melajukan mobil itu, mendengar rutukan-rutukan dari Abel membuatnya takut. Dia benar-benar takut jika mereka berdua tidak selamat. Dia takut dengan semua masalah yang sedang menantinya di depan sana.


__ADS_2