
Beberapa hari di rumah sakit akhirnya Abel sudah bisa pulang hari ini. Hubungannya dengan Gala pun sudah membaik dan mereka kompak untuk menjaga kedua bayi kembarnya.
Seperti sekarang, mereka sedang tidur berempat di kasur. Setelah Alano dan Alana diberi susu mereka berdua menidurkannya. Lucu sekali ternyata melihat buah cinta mereka.
"Mas aku gak nyangka, kita yang masih bocah gini punya anak. Hahaha perasaan baru kemarin lulus sekolah," ucap Abel tiba-tiba sembari mengelus pipi Alano yang berada di sampingnya.
"Sama, ternyata di rumah ini bisa ada manusia kecil. Lucu lagi, kok bisa ya perut kamu yang kecil gitu nampung mereka? Gak berat?" Tanya Gala.
"Berat, tapi gak kerasa. Soalnya mereka baik di dalem sini. Nurut lagi sama papanya, kalau kemarin kamu gak dateng gimana ya aku sekarang?" Ucap Abel membayangkan.
"Jangan mikir aneh-aneh, yang terpenting sekarang kamu sehat, anak kita sehat." Gala memeluk Alana dan menciumi pipinya gemas, sampai membuat bayi kecil itu menangis dan memajukan bibirnya gemas.
"Mass, jangan digangguin anaknya lagi bobo ihh." Abel memukul lengan Gala pelan lalu menepuk-nepuk Alana dengan lembut. "Cup cup cup, Ana jangan nangis. Bobo lagi, Sayang. Nakal papanya."
"Gemes sama Alana, mirip mamanya suka jebew-jebew kaya gitu," kata Galaxy sembari menarik hidung istrinya gemas.
"Gaboleh gitu, nanti nangis lagi dia. Nakal papanya emang," ucap Abel sembari kembali menidurkan Alana.
"Mas, kalau Alano sama Alana udah gede nanti gimana ya? Pasti gemes, mereka satu sekolah, nanti saling jaga. Nanti kalau Alano besar mau aku ajarin taekwondo biar bisa jagain adiknya," ucap Abel.
"Harus jagain, Alano nanti harus kaya papanya. Yang selalu mau jagain mamanya," ucap Gala tersenyum.
"Mas, kalau aku memutuskan buat gak lanjut kuliah gimana?" Tanya Abel.
"Kenapa gitu? Mas tau kamu punya cita-cita yang ingin dikejar, kamu mau menjadi wanita karier, kan? Mas kemarin cuma minta kamu menunda, bukan menghentikan mimpi kamu, Sayang."
__ADS_1
"Aku tau, tapi setelah aku pikir-pikir. Ya buat apa juga? Iya emang kita gak boleh berpikiran kolot, tapi saat Alano dan Alana ada didekapan aku, aku cuma mau kasih yang terbaik buat mereka. Aku mau kaya bunda yang bisa full dan selalu ada buat aku hingga aku bisa tumbuh dengan kebaikan."
"Kalau aku kuliah, aku sibuk sama duniaku. Kamu tau sendiri aku bakalan seambisi apa buat menjadi yang terbaik. Aku bakalan gak punya banyak waktu nantinya buat Alano sama Alana. Aku ngerasa cukup dengan uang yang kamu kasih, aku ngerasa cukup dengan rumah kita, aku ngerasa cukup bahagia karena punya kamu, Alano dan Alana. Tapi kalau kamu ngerasa perlu aku bantu soal keuangan mungkin aku akan pikirin lagi," ucap Abel.
Gala tersenyum mendengar istrinya yang memang dewasa dalam beberapa hal. Tentu dia akan mendukung apapun yang Abel putuskan. Dia masih sanggup membiayai Abella dan juga kedua anaknya. "Mas dukung keputusan kamu, tapi kalau sewaktu-waktu kamu pingin lanjut kamu bilang aja. Mas juga kan bekerja keras memang buat kamu, jadi kamu gak perlu khawatir soal apapun."
"Makasih ya, Mas. Aku cuma takut kamu malu karena istri kamu gak berpendidikan tinggi. Tapi aku emang mau fokus sama anak kita. Tapi barusan aku mikir, ya kayanya emang harus lanjut. Mungkin nanti kalau mereka udah agak besar aku bakalan ambil kuliah, itu pun aku mau ambil full online aja. Aku mau mereka ngerasa beruntung punya Mama kaya aku."
"Mereka akan beruntung, Sayang. Kamu udah jadi Mama yang terbaik untuk mereka."
.
.
.
"Mas, biar aku aja. Kamu dari tadi pagi ngerjain pekerjaan rumah loh," ucap Abel.
"Gak, Sayang. Kamu masih harus istirahat, apa gunanya Mas kalau kamu sakit begini tapi tetep lakuin pekerjaan rumah? Kan ini rumah tangga kita berdua, jadi kita harus saling pikul," kata Gala yang fokus mengepel lantai.
"Tapi kan, Mas. Pekerjaan rumah itu urusan aku."
"Iya sementara waktu jadi urusan Mas, kamu fokus aja kasih anak-anak Mas nutrisi biar mereka gak sakit." Gala tersenyum lalu mencium kening istrinya. Dia tidak berani memegang Alana yang ada di gendongan Abell karena tangannya belum steril.
Sesekali dia menyapa Alano yang memperhatikannya dari dalam box, bayi itu sibuk menatap Ayahnya, sesekali membuka mulutnya seolah ingin bicara. "Papa ganteng ya, Nak? Iya emang, nanti kegantengan Papa ini akan Papa wariskan ke kamu." Gala mengedipkan matanya pada Alano membuat anak kecil itu seperti tersenyum.
"Kata Alano gini, aduh kenapa sih bapak gue gini amat," ledek Abel yang sudah tertawa karena mendengarkan percakapan Gala dengan putranya.
__ADS_1
"Sayang, gak boleh gitu. Gini-gini Mas idola sekolah," ucap Gala bangga.
"Percuma idola sekolah, ujungnya ngejar cewek kaya aku tuh yang biasa-biasa aja," balas Abel.
"Kata siapa kamu biasa aja? Kamu paling spesial kaya martabak telor, makanya aku pilih kamu."
Tiba-tiba Alana melepaskan mulutnya dari dada Ibunya dan menatap Gala sembari mengerutkan keningnya. "Tuh kan, Alana ini udah pinter kaya Mamanya. Tau mana yang gombal dan mana yang engga. Itu artinya menurut dia Papanya ini gombal."
"Ana kok gitu liatin papanya? Emang ada tampang buaya? Padahal Papa bucin gini sama Mama kamu. Ana gak percaya?" Tanya Gala yang mendekatkan wajahnya pada Alana.
Alana tersenyum saat didekati oleh Ayahnya, membuat Abella juga ikut tersenyum. "Pinter dia, Sayang. Makanya gak boleh gombal di depan anaknya. Nanti dia kalau udah besar kayanya pinter cari pacar."
"Ana nakal ya, gak boleh pacaran dulu, Baby. Apaan anak Mas masih kecil. Gak boleh pacaran dulu kalau udah besar soalnya milik Papanya. Ana minum lagi gih susunya biar gantian sama Abangnya, kasian tuh Abangnya mau minum susu atau Papa aja yang minum?" Tanya Gala yang menatap Abel dengan menaik-naikan alisnya.
Entah paham atau tidak Alana malah kembali meminum susunya seolah takut dengan ancaman sang Ayah yang lagi-lagi membuat mereka terkekeh. "Gak boleh papa, punya Ana! Gitu katanya."
"Pelit, padahal punya Papanya, tapi gapapa. Papa baik hati jadi pinjemin ke kalian selama dua tahun. Paling nyicip dikit, nanti kalau udah lebih dari dua tahun khusus buat Papanya aja, iyakan Mama?"
"Mesum papanya!" Cetus Abel.
"Kalau gak mesum mereka gak ada di sini, Sayang. Mereka berterima kasih karena Papanya berhasil buat mereka dengan bibit terbaik, jadi mereka tampan dan cantik."
"Ya Allah kenapa suami aku kaya Galaxy?" Gumam Abel perlahan.
"Udah takdir, Sayang. Semua orang pasti akan diberikan yang terbaik, termasuk kamu. Jadi kamu jangan heran begini." Gala mengedipkan mata pada Abel lalu mengambil ember dan keluar ruangan untuk mencuci tangannya.
Abel menggeleng, memang Gala seperti anak ajaib. Kalau kelakuannya seperti itu Abel merasa seperti bukan melihat Gala yang pertama kali dia kenal. Si cuek, si pemaksa dan suka marah-marah. Dia sekarang malah bucin, orang yang paling mencintainya dan memberinya kasih sayang tanpa jeda.
__ADS_1
Abel kira Gala tidak akan bisa bertanggung jawab padanya, ternyata dia sekarang adalah orang yang paling sigap melakukan apapun untuknya. Ya lucu saja, dia seperti merawat bocil. Yang tadinya manja, sekarang sudah dewasa. Rasanya waktu sangat cepat berlalu kalau seperti ini.