Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Kontraksi


__ADS_3


Sudah 5 hari Gala pergi meninggalkan Abella, dia sedikit merindukan Gala sih walaupun masih kesal. Ya tapi dia memang benar-benar jadi bisa berpikir selama Gala tidak ada di sampingnya. Termasuk memikirkan hal-hal yang bisa dia pahami dari posisi Gala.


Sore ini Abel sedang berjalan-jalan di sekitar pekarangan rumahnya, katanya banyak berjalan akan membuat perutnya sering keram jadi lebih enak. Ya memang benar sih, beberapa hari ini Abel sering melakukannya dan ternyata berhasil.


Sepertinya anak-anaknnya juga cukup senang jalan-jalan, karena mereka berdua nampak anteng saat dibawa ke luar, lucu saja menurut Abel. Tiba-tiba Nia menghampiri Abel yang tengah asik bicara dengan kandungannya.


"Sayang, ayok makan dulu. Bunda udah siapin makan, kamu dari siang belum makan loh," ucap Nia.


"Belum lapar, Bund. Kaya kenyang gitu padahal belum makan apa-apa," balas Abel.


"Eh gak baik loh, nanti kalau anaknya kurang gizi gimana, makan walau cuma sedikit."


"Yaudah iya-iya, Bund- Akhhhh sakit." Abel meringis sambil memegangi perutnya.


"Kamu kenapa, Sayang? Apa yang sakit?" Tanya Nia.


"Sakit punggungnya sama perutnya keram banget, Bund. Shhhh akhhh, Bund kenapa sakit banget ya?" Abel memegang lengan Ibunya dengan erat.


"Jangan-jangan kamu mau melahirkan, sebentar."


Nia yang panik langsung memanggil supirnya, Abel mengigit bibir bawahnya. Sungguh ini sakit sekali, tapi perkiraan dokter bayinya akan lahir minggu depan. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. Bersamaan itu, Nia yang sudah membawa Ghazam langsung membantu Abel masuk ke mobil.


Abel menurut saja, kan parah juga kalau memang dia harus melahirkan sekarang. Baru kali ini dia merasakan sakit seperti ini.

__ADS_1


"Bund ... Sakit bangettt. Galaa kapan pulang?" Tiba-tiba perasaannya menjadi sedih sendiri sampai membuat dia menangis.


"Kita sampai di rumah sakit dulu aja ya, nanti Bunda hubungi Gala kalau kita sudah sampai di sana," ucap Diana.


"Kalau Gala gak ada di sini gimana kalau aku melahirkan? Bund ... Sakit bangetttt." Abel berusaha menahan rasa sakitnya meskipun sedang terisak juga.


Karena panik akhirnya Nia menghubungi menantunya, kalau Abel memang akan melahirkan pasti dia membutuhkan Gala untuk berada di sampingnya.


Tak selang beberapa lama mereka sampai di rumah sakit, Abel langsung di tangani ke UGD. Sementara Nia menghubungi suami, besan dan juga menantunya. Di sisi lain Abel tengah cemas karena takut melahirkan dan tidak ada Gala di sampingnya. Dokter mulai memberikan beberapa suntikan.


Untungnya hanya kontraksi biasa, karena belum ada tanda-tanda pembukaan. Jadi setelah rasa sakitnya mereda dokter menyarankan Abel untuk di rawat jalan karena katanya bisa jadi besok dia melahirkan.


Abel sedikit lebih lega, selain rasa sakitnya berkurang dia juga masih bisa menunggu Gala. Kini hanya Ibunya yang setia mendampinginya. Nia juga mengatakan kalau Gala akan segera pulang dan kemungkinan dia masih bisa menemani Abel melahirkan. Dia akan mencari tiket pesawat tercepat agar bisa cepat-cepat pulang.


.


.


.


"Maaa sakit banget gak kuattt sshhh punggung akuu."


"Iya-iya ini mama usapin, kamu tarik napas terus buang. Gala bilang dia udah dapet tiket malam ini jam 2. Sabar yaa," ucap Dara.


Abel hanya mengangguk, dia merasa sakit yang amat luar biasa. Jadi begini ya perjuangan Ibunya dulu melahirkannya, dia jadi mengingat dosa-dosanya sendiri. Sembari menggenggam tangan bundanya Abel menangis.

__ADS_1


"Bund, maaf ya kalau aku sering gak nurut sama Bunda, aku suka ngebantah Bunda juga. Bunda aku janji gak akan kaya gitu lagii. Maafin aku ya, Bund. Mama maafin Abel juga ya," ucap Abel sembari meringis.


"Iya-iya, Bunda maafin. Tapi kamu jangan panik gini ya sayang. Bunda akan selalu maafin kamu, gak mungkin engga. Sekarang atur pernapasannya, perbaiki duduknya biar Bunda sama mama usapin."


Sudah berbagai posisi Abel juga mencoba menyamankan posisnya di gym ball. Tapi rasa sakitnya masih hilang timbul. Dokter juga rutin mengecek pembukaan karena memang biasanya ada yang cepat dan ada juga yang lambat. Abel ini tergolong cepat, jadi memang harus dijaga seksama oleh para dokter jaga yang bertugas.


Dara merasa khawatir karena Gala banyak sekali rintangannya untuk datang ke sini. Tapi dia juga tidak bisa memberitahu Abel karena takut dia merasa sedih. Dara hanya berharap semoga Gala cepat datang kemari tepat waktu, karena sebentar lagi cucunya akan lahir dan pasti semua wanita ingin ayahnya lah yang menggendong anak mereka pertama kali.


Di sisi lain Gala panik sendiri, orang tuanya mengabari kalau kemungkinan Abel akan melahirkan nanti, sementara pesawatnya delay. Gala bolak balik mengecek ponselnya takut-takut kalau memang Abel tiba-tiba melahirkan. Dia ingin menemani istrinya di sana, dia tidak ingin membiarkan Abel berjuang sendirian melahirkan anak-anaknya.


"Ayoklah, Nak. Jangan keluar dulu taa papa belum ada di sana," gumam Gala sembari mengigit ujung ponselnya.


Waktu menunjukkan pukul lima pagi, karena sudah tidak kuat Abel langsung di bawa ke ruang bersalin. Pembukaannya juga sudah hampir lengkap. Abel mengatur napasnya sesekali dia meringis karena ada sesuatu yang mendesak keluar dari dalam perutnya.


"Bund ... Galaa," racaunya sembari menggenggam erat tangan sang Bunda.


Abel masih menunggu Gala dari tadi, dia juga bahkan tidak tidur karena menahan sakit. Tapi sampai sekarang Gala belum ada tanda-tanda akan datang. Sedari tadi hanya Gala yang dia sebut, dia tidak ingin yang lain. Mungkin hanya dengan kedatangan Gala perutnya tidak akan sesakit ini.


"Sayang pesawat Gala semalam delay, kalau Gala gak ada Mama dan Bunda sudah memutuskan kalau bunda saja yang menemani kamu yaa, ini waktunya gak memungkinkan," ucap Nia memberi pengertian. Nia tau anaknya ini ingin sekali bersama suaminya, tapi Nia juga tidak bisa apa-apa. Ada atau tidaknya Gala sekarang yang terpenting anak dan cucunya selamat.


"Tapi Galaa ... Akhhh sakit Bund tolong," rengek Abella.


"Sayang kasian anaknnya kalau harus nunggu Gala.".


Sedih sebenarnya, dia sangat ingin Gala berada di sini. Entah ikatan batin antara Gala dan sang anak begitu kuat atau bagaimana, meskipun Abel masih marah tapi dia ingin ditemani oleh Gala. Tapi kalau begini dia juga harus pasrah.

__ADS_1


Abel dan Nia memasuki ruangan bersalin, sementara yang lainnya menunggu di luar sembari sesekali menghubungi Gala yang tidak dapat dihubungi. Penjaga hanya boleh satu orang dan ya sepertinya memang harus Nia yang menemani putrinya melahirkan.


__ADS_2