Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Perasaan Nano-Nano


__ADS_3


Hari demi hari Abel lalui seperti biasanya. Tidak ada yang menarik sebenarnya. Setiap hari yang dia lakukan ya melakukan pekerjaan seorang istri, bermain bersama Mochi, sesekali mungkin keluar rumah, tapi selebihnya ya biasa saja.


Tiba-tiba perutnya terasa mual, dia berlari ke arah wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Rasanya mual sekali sampai dia bertahan di depan sana setengah jam hanya untuk muntah saja. Kepalanya sedikit pusing, tapi masih bisa dia tahan.


Degh...


Tiba-tiba dia mengingat sesuatu. Segera saja dia berlari ke kamar dan mengambil sebuah kalender. Ternyata dia sudah telat haid 3 Minggu.


"Bentar, kok mendadak blank. Ini harus dipastiin," gumamnya lalu berlari ke arah lemari dan mengambil beberapa testpack di sana. Dengan penuh harap dia masuk ke kamar mandi untuk menampung cairan urine-nya.


Sejenak Abella terdiam. Dia sudah banyak kecewa kemarin, dia selalu cek tapi hasilnya negatif. Jadi kalau sekarang hasilnya negatif, dia memutuskan akan program bayi tabung.


"Semoga yang ini positif."


Perlahan dia mencelupkan ujung testpack selama 5 detik. Lalu dia menatapnya lekat, jantungnya berdetak sangat kencang sambil sesekali mondar-mandir dan menggigit ujung kukunya. Hingga akhirnya sudah 10 menit.


Katanya jika hamil hasilnya akan keluar selama 10 menit, tapi belum ada tanda-tanda kalau ada garis lain di sana. Matanya memanas, tubuhnya merosot ke bawah lalu dia menangis. "Kenapa masih belum?"


Dia menggenggam alat itu erat, tangisnya sudah pecah. Lagi dan lagi dia harus menelan pil pahit saat dikhianati ekspetasinya sendiri. Ada rasa sakit yang entah dari mana. Apa mungkin dia tidak bisa hamil lagi? Pasalnya ini sudah beberapa bulan tapi belum ada hasil apapun.


"Kalau Gala ninggalin gue karena gak bisa hamil gimana?" Ucap Abel disela isakannya.


Dia benar-benar takut kali ini. Ketakutan yang sering dia rasakan akhir-akhir ini. Napasnya mulai sesak, tangisnya pun sudah menjadi tersengguk-sengguk. Ini masih pagi tapi dia sudah menangis.


Dia tidak mau sampai Gala tau tentang ini. Melihat Abel sedikit saja menangis pasti akan banyak kata maaf yang keluar dari bibir Gala walaupun itu bukan salahnya. Dia bangkit lalu membereskan sisa-sisa bungkusan alat itu. Namun matanya melirik dan mengambil kembali testpack yang tadi dia simpan di wastafel.


Seketika dia membungkam mulutnya, ada garis lain di sana. Tangisnya kini berganti dengan tangis kebahagiaan. Akhirnya setelah sekian lama, dia bisa mengandung lagi. Abel memeluk benda itu lalu menyeka air matanya. "Gala harus tau ini, dia harus tau ini!"


Namun saat ingin keluar Abel kembali terdiam, dia tidak bisa memberi tau Gala sekarang. Dia harus kembali mengeceknya dengan beberapa testpack. Akan kecewa jika nantinya hanya sebuah kesalahan alat.


.


.


.

__ADS_1


Pukul 3 Sore, suara mobil Galaxy sudah terdengar di pekarangan rumah. Pria itu memang sudah mengabari kalau hari ini akan pulang lebih cepat. Jadi buru-buru saja Abel keluar untuk menyambutnya.


Saat turun dari mobil, Gala melihat istrinya dengan senyum mengembang. Apalagi kebahagiaan seorang suami kalau bukan disambut seorang istri. Apalagi Abella selalu cantik di matanya, membuat rasa lelahnya sedikit berkurang.


Dengan lembut Abell memeluk suaminya dengan manja. "Mas, kangen."


"Mas juga kangen sayang. Wangi banget mau kemana hm?" Tanya Gala sembari menciumi pipi istrinya.


"Mau manjaan sama kamu," jawabnya sambil tersenyum manis.


"Yaudah, Mas mandi dulu. Habis itu kita manjaan, Mas masih bau, Sayang," ucap Gala lembut.


Abel mengangguk. "Heem, mandi dulu lah. Aku juga udah siapin bajunya. Aku tunggu di lantai dua," ucap Abell.


Gala mengangguk, ya beginilah istrinya sekarang. Dulu seperti macan, sekarang malah seperti anak kucing. Bahkan sepertinya Mochi saja kalah gemas dengan Abella.


Setengah jam berlalu, setelah berpakaian dia langsung menyusul istrinya ke lantai dua. Terlihat Abel yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Gala tersenyum tipis lalu menghampiri istrinya itu. Dengan lembut dia mengambil ponsel istrinya, tidak boleh ada yang menganggu ketika mereka sedang quality time seperti ini.


"Udah makan?" Tanya Gala lalu mengecup bibir Abella sekilas.


Abel mengangguk, namun sejenak dia terdiam lalu berbisik pada Gala. "Mas aku punya hadiah."


"Hadiah apa hm? Kenapa harus bisik-bisik? Gak ada yang denger juga selain Mas," ucap Gala sambil terkekeh.


"Ih bedaa, ini hadiahnya spesial. Coba kamu tutup mata," kata Abel.


"Hadiah apa?"


"Tutup matanya dulu ih Mas," paksa Abella.


Mendengar itu Gala menurut saja. Entah apa yang akan kali ini Abel berikan. Setelah hadiah mencoba hal baru, Gala menjadi sedikit berpikir kemana-mana. Apalagi melihat Abella yang sudah manja begini. Aduh pikirannya memang sudah kacau.


"Kamu tunggu di sini." Abel turun dari pangkuan Gala lalu berjalan ke sebuah lemarin, di mana di sana Abel sudah menyiapkan kotak yang tadi dia buat.


Dia tersenyum melihat kotak berwarna hitam bertuliskan Open Me! itu. Kali ini Abel yakin kalau Gala akan menyukainya. Dengan senyum merekah dia kembali kepada Gala dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Mas menghadap ke kanan, terus buka matanya," perintah Abel.


Gala lagi-lagi menurut dan menyilakan kakinya ke atas, sama seperti yang Abel lakukan. Matanya tertuju pada sebuah kotak yang ada di hadapannya. "Ini hadiah buat apa, Cantik? Mas gak ulang tahun." Gala mengelus pipi Abella dengan lembut. Menurutnya untuk kejutan itu biarlah Gala saja yang melakukannya. Abel tidak perlu begini, tugasnya hanya menerima kebahagiaan saja.


"Emangnya kalau kasih hadiah harus setiap ulang tahun ya, Mas?" Tanya Abel.


"Engga, Sayang. Tapi kasian kamunya harus siapin ini itu, kamu udah cape kerjain pekerjaan rumah, siapin aku ini itu, harusnya kamu istirahat aja."


Niatnya ingin membuat Galaxy salah tingkah, namun malah dia yang kini salah tingkah akibat perkataan Gala. Bagaimana bisa dia semanis itu sekarang?


"Gapapa, Mas. Sekali-sekali kan gapapa, ayok bukaa. aku bikinnya sepenuh hati," ucap Abel. Iyalah sepenuh hati, isi kadonya juga anak mereka. Hasil buatan sepenuh hati mereka.


Sejenak Gala terdiam, namun akhirnya dia membuka kotak itu. Teryata isinya adalah sebuah testpack degan baju bayi bertuliskan Hallo daddy, can't wait to meet you! Lengkap dengan sepatu kecil yang Abella tata di sana.


Jujur saja tangannya bergetar saat memegang sebuah alat testpek di sana. Beberapa kali benda ini membuat Abella menangis, tapi kini membuatnya tersenyum bahagia.


"Sayang kamu hamil?" Tanya Gala tak percaya, Abel mengangguk kecil. Gala memindahkan kotak itu ke bawah sofa lalu memeluk Abella erat. Air matanya sedikit keluar, namun dia menyekanya dengan cepat. "Sayang, kita bakalan punya anak lagi."


Abel mengangguk bahagia. "Huum, congrats, Papa Galaxy." Gala mengeratkan pelukannya sampai rasanya tubuh Abell tidak bisa menopang tubuh Gala yang kini menimpanya. Namun dia senang melihat respon Gala yang seperti ini.


"Mas janji kali ini akan menjaga kalian lebih baik. Mas janji gak akan biarin kamu kehilangan anak kita lagi, Mas juga janji akan lebih banyak meluangkan waktu untuk kalian berdua dalam hal apapun. Mas sayang sama kalian."


Abel terharu mendengar kata-kata yang Gala lontarkan. Dia merasa sangat dicintai oleh suaminya. Apalagi sekarang ada bayi lagi di dalam kandungannya. Tangisnya pecah seketika karena rasa bahagia yang mencuat kepermukaan.


Perlahan Gala melepaskan pelukannya pada Abella. Dia menghapus air mata yang kini mengalir di pipi istrinya. Dengan lembut dia mencium kening Abel lalu menatapnya. "Terima kasih karena telah datang ke kehidupan Mas."


Lalu ciumannya turun ke pipi kanan dan kiri Abel. "Terima kasih karena udah kuat menjalani pernikahan ini sama Mas."


Gala tersenyum lalu mencium ujung hidung Abella. "Terima kasih karena kamu berusaha bangkit dari keterpurukan kita kemarin."


Ciumannya kini turun pada dagu manis Abel. "Terima kasih karena kamu selalu memberi Mas kebahagian setiap hari."


Gala menatap bibir cherry istrinya, lalu mengecupnya dengan lembut dan membiarkan bibir mereka bertemu untuk beberapa lama. "Terima kasih karena sekarang kamu mengandung anak Mas."


Abel semakin terharu diperlakukan seperti itu oleh Galaxy, dengan spontan dia memeluk leher suaminya dengan erat, membiarkan perasaan bahagia mereka terkoneksi satu sama lain. "Sama-sama, Mas. Makasih juga Mas selalu berusaha menjadi yang terbaik buat aku."


Mereka berdua saling memeluk dan memberikan kenyamanan satu sama lainnya. Hari ini, mereka sepertu kembali mendapatkan kebahagiaan yang sempat hilang dari kehidupan mereka. Kebahagiaan menjadi pasangan yang di percaya untuk menjadi orang tua.

__ADS_1


__ADS_2