
Saat menikmati waktu romantis berdua, tiba-tiba suara ketukan dari pintu kamar hotel berbunyi. Sebagai bentuk tanggung jawab karena membuat Abel kewalahan semalam akhirnya Gala yang membuka pintu kamar.
Dara terkejut saat mendapati kondisi anaknya yang bisa dibilang berantakan. Tapi entah kenapa kini malah terukir sebuah senyuman di sana. Abel yang menyadari kalau itu mertuanya pun langsung turun dari kasur dan menghampiri mereka.
"Ada apa, Ma?" Tanya Gala.
"Emm tadi Tante Becca bilang, katanya kamu pesen baju di butiknya. Bener?" Tanya Dara.
"Bener, Ma. Baju Abel sobek, jadi Gala beli beberapa."
Dara menelisik pengelihatannya ke dalam dan sepertinya semalam terjadi angin badai entah angin ribut sampai membuat baju mereka berserakan.
"Oh begitu, yaudah ini mama cuma mau anterin bajunya. Kata Tante Becca ada 5 pasang. Pake lah ... Mama mau ke bawah breakfast. Robek lagi juga gapapa! Buatin mama cucu yang banyak ya!" Dara langsung melenggang pergi meninggalkan keduanya.
Keduanya saling bertatapan, apakah mereka terlihat seperti habis melakukannya? Namun setelah itu Abel sadar dan menepuk dahinya, bagaimana tidak? Banyak noda lipstick di wajah Gala yang belum sempat dihilangkan, ditambah lagi semua pakaian mereka bertebaran di mana-mana. Ahh sungguh dia malu sekarang.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Gala tak mengerti.
"Gak tau deh, Mas. Aku malu sama mama, mending kamu ngaca aja. Aku mau tenggelam rasanya." Abel langsung berlari ke kasur, dia benar-benar menenggelamkan diri di balik selimut. Sementara Gala kini berjalan ke arah cermin.
"Aishhh, Belllll!!!!" Hilang sudah harga dirinya sekarang, pasalnya bukan hanya satu tapi banyak sekali yang istrinya buat di sana.
Abella di dalam sana hanya cekikikan, baru kali ini dia melihat wajah suaminya penuh oleh keusilannya tadi malam. Padahal saat tadi pagi sepertinya Abel tidak sadar, atau dia memang terlalu fokus menikmati kebersamaan dengan Gala? Tidak tau juga. Yang pasti sekarang dia sudah tidak bisa berkutik karena Gala memeluknya sangat erat.
"Nakal ya kamu, tanggung jawab!" Ucap Gala.
Abel sedikit menyembul dari balik selimutnya. "Hahaha gemes banget sih kamu, Mas. Ya aku mana sadar tadi pagi, kamu juga gak ngaca dulu hahahaha."
"Kalau semalam aku gak menikmati, udah aku hukum kamu ya. Lagian belajar kaya gitu darimana?" Tanya Gala sembari menatap ke arah Abel.
"Kok kamu kepo sih, Mas. Yang penting aku bisa praktek," balas Abel.
"Sayang, kamu gak main sama yang lain, kan?" Gala kini menatap mata istrinya tajam.
Abel hanya tergelak. "Gimana bisa aku main sama yang lain, setiap hari kamu pulang ke rumah. Kalau weekend pun kamu selalu sama aku seharian. Gimana caranya coba? Oh atau kamu coba jangan pulang, nanti aku coba sama yang lain gi-"
__ADS_1
Gala langsung membungkam mulut Abel dengan bibirnya, menyesapnya sebentar lalu mengigitnya pelan. "Itu hukuman kamu karena berani bilang macem-macem."
Ya beginilah sisi lain dari Galaxy, dia selalu posesif dan tidak ingin ada siapapun selain dirinya dalam hidup Abella. Tapi untuk yang kali ini ya wajar saja bukan? Abel malah bicara yang aneh-aneh seperti itu, tentu saja Gala tidak suka. Tapi salah dirinya juga yang memancing.
"Aku gak main sama siapa-siapa. Seperti yang kamu bilang, harus pake insting, 'kan? Jadi gak ada salahnya aku mencoba hal baru sama kamu."
"Kalau gitu ayok kita coba hal baru lagi." Gala tersenyum jahil lalu masuk ke dalam selimut. Untuk apa lagi kalau bukan mencoba hal baru.
.
.
.
Sebelum pulang ke rumah kini Abel dan Gala sedang berada di resto hotel. Sehabis mencoba hal baru ternyata mereka lapar juga. Jadilah mereka memutuskan untuk makan di sini terlebih dahulu.
Tiba-tiba ...
"Abella," panggil seseorang dari belakang.
Abel menoleh ke arah belakang, ternyata itu adalah Elzard. "El?"
"Kok bisa kebetulan ada di sini juga?" Tanya Abel.
Gala tidak suka basa-basi sih, apalagi Elzard dulu pernah mendekati Abel. Lagipula kenapa coba istrinya ini mau meladeni orang yang bikin gerah hati saja. Dia tidak suka dengan cara Elzard menatap Abella. Meskipun dia tidak tau apa yang ada dipikiran Elzard tapi tetap saja Gala tidak menyukainya.
"Semalem gue juga ke acara Alaric Group, jadi nginep di sini."
"Oh gitu, seneng bisa ketemu lo lagi," ucap Abel sambil tersenyum yang sontak membuat Gala melirik ke arahnya, Abel tidak sadar saja kalau sekarang dia dalam bahaya besar.
"Seneng juga bisa ketemu lo, kapan-kapan kita bicara lagi ya. Gue udah ditungguin bokap," balas Elzard ramah.
"Oke, salam buat bokap ya," ucap Abel ramah.
Elzard tersenyum dan mengacungkan jempolnya, setelah itu dia berpamitan dan pergi meninggalkan keduanya. Abel sekilas melirik ke arah suaminya. "Kamu kenapa?"
"Ayok makan, gerah!"
__ADS_1
Gerah? Kenapa jadi makan? Aneh-aneh saja, tapi Abel tidak mengambil pusing dia menuruti suaminya saja dan duduk di salah satu meja. Mereka fokus pada makanan masing-masing, tidak ada percakapan juga. Suasananya mendadak jadi hening diantara keduanya sampai makan siang itu selesai.
Kini keduanya tengah berada di mobil untuk perjalanan pulang, tapi Gala masih terdiam dan tidak ada niat bicara. "Kamu marah sama aku kah, Mas?"
Gala menghela napas, kenapa dia seperti remaja puber begini? Ya mungkin faktor usia juga kemungkinan yang membuat logikanya dikuasai rasa cemburu.
"Mass." Abel dengan lembut menggenggam tangan Gala yang kini sedang memindahkan persneling.
"Aku gak suka kamu senyum sama laki-laki lain kaya tadi," ucap Gala.
"Seneng ketemu orang yang dulu pernah kejar kamu habis-habisan?" Lanjut Gala.
"Maksud kamu Elzard?" Tanya Abel.
"Siapa lagi, aku gak suka kamu asik bicara sama dia. Walaupun dia lebih asik, aku jadi ngerasa kalah," kata Gala jujur sembari menghentikan laju mobil di pekarangan rumahnya
Abel mendekat ke arah Gala dan mengelus pipinya. "Hey ini bukan kompetisi, kenapa kamu ngerasa kalah? Kalau memang harus ada menang dan kalah itu kamu pemenangnya. Yang jadi suami aku sekarang kan kamu, Mas."
"Tetep aja aku gak suka, Sayang."
Abel tersenyum saat Gala menciumi punggung tangannya, memang ada kalanya sifat Gala seperti anak kecil yang tidak suka mainannya di pinjam oleh siapapun.
Ya mau bagaimana pun suaminya ini sama sepertinya, memiliki rasa cemburu. Tapi entah kenapa itu menggemaskan untuk Abel. Dia merasa sangat dicintai oleh Gala kalau dia seperti ini.
"Jangan bicara sama dia lagi."
"Yaudah kalau kamu gak suka aku gak akan lakuin lagi. Maafin aku ya udah bikin kamu cemburu."
"Cium dulu baru aku maafin."
Abel tersenyum setelahnya dia mendekat. Mencium kening suaminya, lali turun ke pipi kanan dan kirinya, tidak lupa juga dengan hidung lalu dagu, terakhir Abella mengecup bibir suaminya.
"Udah semua, gak ada yang kelewat."
"Makasih istri Galaxy," ucap Gala dengan senyum yang mengembang.
"Iya sama-sama. Yaudah ayok kita turun, kasian juga Mochi pasti dia nyariin aku. Aku juga takut dia kelaparan."
__ADS_1
"Iya-iya." Gala menghela napasnya, terlepas dari rasa cemburu pada Elzard, kini dia malah kembali cemburu pada kucing peliharaan mereka. Pasalnya jika Abel sudah bersama Mochi, dia lebih sering menjadi tempat bermanja hewan itu daripada dirinya.
Susah sekali hidup sebagai Galaxy Putra Alaric yang banyak rewelnya.