Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Mencoba Untuk Baik-Baik Saja


__ADS_3


Pagi ini Abel mulai menjalani aktivitas seperti biasanya, membuatkan sarapan untuk Gala dan juga membantunya berpakaian. Dengan telaten dia memasangkan dasi di leher suaminya.


"Kamu beneran gapapa aku tinggal?" Tanya Gala.


"Gapapa, aku juga gak akan kemana-mana," jawab Abel tanpa mengalihkan pandangan dari dasi yang sedang dia ikat.


Gala memperhatikan wajah Abel, ya setidaknya dia sudah jauh lebih baik, walaupun belum terlihat bahagia seperti sebelum-sebelumnya. Abel membersihkan jas Gala, setelah itu tersenyum tipis. "Udah beres."


"Nah gitu senyum, aku suka kalau kamu senyum," ucap Gala sambil mengelus pipi Abel.


"Iya, ayok aku anter ke depan," ajak Abel.


Gala mengangguk dan mengikuti Abel jalan ke luar rumah. Saat sampai di luar Abel kembali menatap penampilan Gala, takut kalau-kalau ada yang berubah sedikit saja. "Kamu jangan lupa makan siang, jangan terlalu diforsir juga kalau banyak kerjaan," peringat Abel.


"Iya, Sayang. Gak akan lupa, kan udah diingetin. Kau juga makan teratur, minum obatnya juga ya? Jangan sampai terlewat!" Balas Gala.


Abel tersenyum dan setelah itu mencium punggung tangan suaminya. Gala mengecup bibir Abel sekilas, setelah itu dia berpamitan. "Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," balas Abel.


Abel melambaikan tangan pada Gala saat mobilnya keluar dari pekarangan rumah. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam. Terlihat Ida yang sudah sigap membereskan meja makan. "Bi, kau juga jangan lupa makan ya. Di dapur saya juga sudah siapkan untuk kamu," ucap Abel.


"Baik, Buk. Terima kasih," balas Ida sambil tersenyum. Ida merasa beruntung bisa bekerja bersama Abel dan Gala, selain ramah mereka juga memperhatikan karyawannya.


Abel melangkahkan kakinya ke ruang bayi, sebenarnya dia juga tidak tau akan melakukan apa di rumah, jadi lebih baik dia menghabiskan waktu di ruangan itu. Perlahan Abel duduk di lantai dan membuka laci pakaian bayi. Isinya masih tertata rapi dan lengkap. Gala membeli semua pakaian berwarna netral karena waktu itu mereka belum mengetahui jenis kelamin Azriel.


Dengan lembut Abel mengambil satu baju di sana dan menciuminya. Meskipun hanya bajunya, dia bisa merasakan anaknya ada di sini. Setidaknya dia bisa mengobati rasa rindu pada Azriel jika seperti ini.

__ADS_1


Asik dengan dunianya sendiri membuat Abel tidak menyadari kedatangan Dara yang kini sedang menatapnya dari balik pintu. Sama seperti terakhir kali Dara kesini, bedanya kali ini raut wajah Abel memancarkan kesedihan mendalam. Dengan perhatian Dara menghampiri menantunya itu dan duduk di sebelahnya. "Sayang."


Abel sedikit terkejut, lalu menyalami mertuanya itu. "Maa, mama udah lama di sini?" Tanya Abel.


"Mama baru datang kok. Gimana keadaan kamu?" Tanya Dara sambil mengelus lengan menantunya.


"Abel baik-baik aja kok, Ma," jawab Abel sedikit menipiskan bibirnya.


"Kamu sedang apa di sini?" Tanya Dara.


Abel hanya terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa sebenarnya. Dia tidak mau membuat mertuanya khawatir jika mengetahui kalau dia masih sedih sekarang.


"Mama tau kamu masih sedih, gapapa itu wajar. Mama saja jauh dari Gala rasanya sulit sekali," ucap Dara sembari mengelus punggung tangan menantunya.


Menurut Dara Abella cukup tegar, dia bahkan tidak menangis sekarang, meskipun sedang sedih. Meskipun begitu, sebagai Ibu dia tau kalau Abel membutuhkan suport lebih dari orang sekitarnya.


"Mama tau kamu pasti berat menjalaninya, diusia kamu yang masih tergolong muda, kamu sudah kehilangan anak. Mama tau itu tidak mudah."


"Iya-iya mama paham, gapapa kalau kau rindu. Dengar mama. Kamu itu masih muda, kamu dan Galaxy masih punya banyak kesempatan untuk memiliki anak. Bahkan kalau kalian mau ketika kamu sudah pulih juga bisa. Mama tau, Azriel itu tidak akan pernah tergantikan dengan apapun, tapi Azriel juga senang jika nanti dia punya adik."


"Mama tidak akan memaksa kamu, mama hanya ingin kau dan Gala melanjutkan hidup. Kalian bisa bahagia dengan anak kalian kelak."


Kembali memikirkan soal anak lagi? Mungkin untuk sekarang Abel belum siap, dukanya untuk Azriel masih ada. Bagaimana bisa dia menggantikannya begitu cepat. Tapi dia juga tidak menutup mata, mungkin itu akan menjadi pertimbangan di lain waktu.


.


.


.

__ADS_1


Sambil meminum teh buatan Ida. Abel terdiam di lantai dua, duduk di sofa panjang menghadap ke jendela besar, sambil melihat pemandangan di sana.


Akhir-akhir ini dia sering melakukannya dengan baju Azriel yang tak pernah lepas dari genggamannya. Biasanya di sini dia selalu mengajak Azriel berbagi keluh kesahnya, karena dia sangat suka jika diajak bicara seperti itu.


Sesekali Abel tersenyum jika mengingatnya dan sesekali juga dia jatuh karena ekspetasinya sendiri. Moodnya berubah-ubah tak menentu apalagi dia masih sering merasakan keram dan juga pendarahan kecil.


Ingatannya memutar pada kejadian dua hari lalu.


Abel terbangun pukul 2 malam. Dia melirik ke samping, namun tidak ada Gala di sana. Perlahan dia turun dan mencari keberadaan Gala, agak aneh sebenarnya ketika dia bangun tapi tidak melihat Gala ada di sampingnya.


Langkahnya terhenti ketika melihat Gala yang berada di kamar bayi. Pria itu tidak menyadari kehadiran Abel karena memunggunginya. "Apa yang Gala lakukan?" Batin Abel.


Abel melihat Gala sesekali menyeka air matanya sambil menciumi baju kecil milik anak mereka. Dia menjadi terbawa perasaan. Bagaimana bisa Abel tidak menyadari kalau Gala juga seterpuruk itu? Entah Abel yang tidak peka atau Gala yang pandai menyembunyikannya.


Abel membungkam mulutnya dengan tangan dan terisak detik itu juga. Dia menyandarkan punggungnya di balik tembok. Apa yang lebih sakit ketika melihat orang yang dia cintai terpuruk. Abel terlalu larut dalam kesedihannya, sampai dia lupa kalau yang merasakan kehilangan bukan hanya dirinya, tapi Gala juga.


Bedanya Gala berusaha tegar karena dia harus menjaga perasaan Abel. Di sini Abel merasa kalau dirinya egois, dia bahkan akhir-akhir ini mengabaikan Gala karena fokus dengan pikirannya sendiri. Padahal Gala juga butuh dihibur.


Abel menyeka air matanya, meskipun dia tau kalau Gala tidak mau Abel tau kesedihannya, Abel tetaplah istrinya. Dia harus mendampingin Gala di keadaan apapun.


Abel duduk di samping suaminya, perlahan dia mengelus punggung Gala dan memberinya ketenangan. Gala sedikit kaget melihat Abel ada di sana. Namun dia tidak dapat mengelak jika sudah seperti ini.


Dengan lembut Gala memeluk Abel dan membenamkan wajahnya di leher gadis itu. Abel hanya bisa membalas pelukan Gala sambil terus mengelus punggungnya. Membiarkan rasa sedihnya tertuang di sana. Karena dia juga sadar, kalau dia tidak sekuat itu untuk menjadi sandaran Gala. Dia sekarang hanya mencoba memberinya ketenangan.


Semenjak hari itu Abel berusaha untuk bangkit, setidaknya dia tidak mengabaikan Gala dan tidak terlihat sedih meskipun hanya di depan Gala saja. Tiba-tiba notif pesan berbunyi. Terlihat nama Dinda di sana.


Dinda 🐰🌼 :


Gue gak akan nanya apapun, besok gue sampai di Indonesia. Besok gue ke rumah lo.

__ADS_1


Abel sedikit tersenyum. Sudah lama sekali mereka tidak berkabar, Dinda memang kuliah di luar negeri dan sudah pasti berbeda rutinitas dengan Abel. Apa Dinda mengetahui kabar Abel sampai dia pulang ke sini?


__ADS_2