Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Romantisme Di Rumah Sakit


__ADS_3


Nia menatap putrinya yang masih setia di duduk luar rumah sakit. Ini sudah malam dan penjaga kamar tidak boleh lebih dari satu orang. Jadi mereka bergantian untuk menemui Gala. Kakek Jonh dan Kakek Hendra sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota dan akan sampai dua hari lagi, sementara orang tua Gala sudah memesan tiket kepulangan mereka dari Amerika. Kakak iparnya mungkin akan ke sini esok hari. Abel tidak peduli, yang dia pikirkan sekarang adalah dia harus bersama Gala.


"Yaudah, Bunda sama Ayah pulang dulu ya. Besok Bunda ke sini lagi temenin kamu. Kamu jangan lupa makan ya, Sayang?" Ucap Nia sembari memeluk putrinya.


Abel mengangguk, merasakan usapan yang Nia berikan membuat Abel sedikit lebih tenang. Meskipun belum sepenuhnya tenang karena dia belum melihat kondisi Gala. "Hati-hati ya, Bund. Makasih juga udah bawain baju aku sama makanan ke sini."


Nia mengangguk dan mengecup puncak kepala anaknya, begitu juga Doni yang kini memeluk putrinya dengan erat. Baru kali ini dia melihat putrinya kembali menangis setelah kejadian lama yang menimpanya. "Anak Ayah kuat, jangan nangis lagi ya. Gala udah gapapa kok, sekarang temenin dia saja sampai sembuh ya?"


"Iya, Ayah. Makasih ya Abel kuat kok," balas Abel tersenyum.


"Kalau begitu Ayah dan Bunda pulang dulu ya, kamu jaga kesehatan jangan sampai sakit juga," peringat Doni.


Abel mengangguk dan tersenyum. Setelah itu Nia dan Doni pun melangkahkan kakinya untuk pulang. Ketika punggung mereka sudah tidak terlihat lagi, Abel pun masuk ke ruangan Gala.


Gala menatap Abel yang sudah mengganti pakaiannya, terakhir dia lihat kalau baju Abel penuh dengan darah miliknya. Matanya terlihat sembab, dia jadi merasa tidak tega karena telah membuat Abel menangis.


Abel duduk di samping Gala dan menggenggam tangan suaminya itu. "Degas udah pulang, dia titip salam sama lo katanya cepet sembuh."


"Hmm." Gala mengangguk sembari menatap ke arah Abel.


"Kasian banget istri gue nangis. Gue lebih suka liat lo marah-marah ternyata, bikin lo nangis gini malah sedih bawaannya." Gala melepaskan genggaman mereka dan beralih untuk mengelus pipi Abel.


"Lo lebam gini, sialan si Dion. Istri gue udah cantik gini malah jadi ada bonyoknya. Sakit ya? Nanti gue kasih pelajaran lagi kalau ketemu," kata Gala.


"Gak sakit, udah biasa juga kalau latihan taekwondo. Kemarin gue cuma sedikit takut aja, selebihnya gue bisa hadapin." Abel menjeda ucapannya.


"Maafin gue ya, kalau gue nurut sama lo buat gak ikut pasti gak akan kaya gini," ucap Abel menyesal.


"Gapapa, gue malah seneng. Karena gue sakit malah jadi tau perasaan lo yang sebenarnya," ledek Gala.

__ADS_1


Abel hanya memajukan bibirnya. Dia tidak bisa marah sekarang atau kesal. Melihat Gala terbaring di rumah sakit saja rasanya tidak tega. "Masih sakit, Gal. Jangan godain gue."


"Hahahaha iya-iya maaf, boleh gue tanya sesuatu?" Tanya Gala.


"Mau nanya apa?" Abel malah balik bertanya.


"Dion bilang apa aja kemarin sama lo? Dia ada ancam lo lagi?"


Abel menggeleng. "Jangan bahas itu dulu, mending sekarang lo istirahat. Biar cepet pulih, gue jagain lo di sini. Kalau lo butuh apa-apa tinggal bilang."


"Gak, Bel. Biar gue tenang dan tau apa yang harus gue lakuin selanjutnya," ucap Gala.


"Gal, ini bukan masalah lo aja. Gue punya masalah sama dia sebelumnya dan gue belum bisa cerita ke lo." Abel memberanikan dirinya untuk bicara tentang hal ini, meskipun dia tidak bisa menjelaskan masalah masa lalunya.


"Masalah apa?" Tanya Gala penasaran.


"Gue gak bisa cerita sekarang tapi gue pernah bermasalah sama dia dan itu bikin gue trauma, sampai gue harus minum obat yang selalu lo larang," jawab Abel.


"Yaudah lo tidur sekarang ya, jangan kebanyakan gerak. Lo harus istirahat." Abel berdiri dan menaikan selimut Gala. Pria itu tersenyum melihat istrinya yang sangat perhatian.


Gala menarik lengan Abel dan menatapnya. "Kasih vitamin dulu biar gue cepet sembuh."


Abel sudah tau apa yang dimaksud Gala. Tapi yang benar saja, masa dia memintanya di rumah sakit? "Engga, Gala. Ini rumah sakit, sembuh dulu nanti gue kasih."


"Bel, cium," rengeknya seperti anak kecil, bedanya suara Gala jauh lebih serak basah.


"Ck, harus banget ini?" Keluh Abel tak percaya dengan tingkah suaminya.


Gala mengangguk dan kembali menarik lengan Abel. Dengan perlahan Abel mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Gala dengan lembut. Tidak melakukan apa-apa dia hanya menempelkan bibirnya. 5 detik melakukannya, Abel menjauhkan bibirnya. "Udah, sekarang tidur."


Gala tersenyum puas setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Sementara Abel kembali duduk di kursinya dan mengusap-usap tangan Gala. Entah kenapa malah dia yang mengantuk, sedangkan Gala masih asik menatap gadis itu.

__ADS_1


"Gue belum ngantuk, lo tidur. Atau mau tidur berdua di sini?" Tanya Gala sembari menepuk-nepuk ranjang sebelahnya."


"Gak mau, Gal. Nanti kena luka lo, masih belum kering. Gue di sini aja," tolak Abel.


"Nanti lo sakit badan kalau tidur di sana, Bel," ucap Gala lembut.


"Gal, yang sakit itu lo. Kenapa lo malah nyuruh gue yang tidur?"


Gala memberi space di kasurnya dan kembali menatap Abel. "Cepet sini berdua. Lagian luka kecil kaya gini gak berasa apa-apa. Gue gak mau malah lo yang jadi sakit nantinya karena jaga gue."


"Gala ... "


"Bel, mau bantah suami? Mau dosa? Istri yang gak nurut sama suaminya dia berdosa banget apalagi suaminya nyuruh buat kebaikan," ucap Gala.


"Tapi Gala itu luka lo kalau gak sengaja kena gimana? Udah ah gue di sini aja lagian gue pernah jaga ayah dan gak kenapa-kenapa."


"Cepet atau gue gak akan tidur semalaman," ancam Gala.


Abel berdecak, akhirnya dia menurut saja. Gala ini memang pemaksa dan harus dituruti ucapannya. Perlahan Abel menaiki ranjang, namun dia memikirkan bagaimana posisi yang nyaman untuk Gala.


Gala merentangkan tangannya untuk dijadikan bantalan, tangannya menarik tubuh Abel ke dalam pelukannya. Jujur memang masih terasa ngilu. Tapi semuanya tidak terasa jika dilakukan untuk Abel.


Abel membalas pelukan Gala dan berusaha sebisa mungkin tidak mengenai lukanya. Sejenak dia mengadahkan wajahnya menatap Gala. Memang sih kata dokter lukanya tidak terlalu dalam, tapi tetap saja dia khawatir.


Gala tersenyum dan mengecup bibir Abel dengan lembut. "Tidur, Cantik. Gue tau lo udah ngantuk, nanti gue tidur setelah lo terlelap."


Abel tersenyum ketika Gala mengecup bibirnya. "Tapi yang sakit lo, harusnya lo yang tidur duluan."


"Bukan Maslah siapa yang sakit, tapi siapa di sini suaminya? Jadi lo harus tidur duluan, baru gue."


Abel mengangguk pasrah, dia memang tidak akan pernah menang jika melawan Gala. Perlahan matanya pun terpejam, rasa kantuknya memang sudah menyerang sejak tadi, jadi tidak butuh waktu lama untuk Abel terlelap. Gala tersenyum melihat Abel yang sudah tertidur. Dia pun mengecup kening istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Good Night, Sayang," bisiknya


__ADS_2