
Jihan masuk ke ruangan Gala sambil terburu-buru, sebenarnya dia tadi malam ingin langsung ke sini, tapi kemarin sudah sangat larut dan pastinya bukan jam besuk. Tiba-tiba dia memperlambat langkahnya.
Mungkin dia memang datang terlalu pagi, sekarang masih pukul lima. Al hasil dia harus melihat hal manis pagi-pagi begini. Terlihat Gala dan Abel yang sedang tertidur di ranjang yang sama dengan tetap saling berpelukan, terlihat sangan lucu baginya yang penyuka drama korea.
"Awal dijodohin gak mau, sekarang di rumah sakit aja mesra banget. Gila adek gue udah besar ternyata," gumam Jihan.
Jihan mengabadikan moment itu dalam kameranya. Untuk apa?Tentu akan dia share di grup keluarga. Dia tersenyum puas, walaupun dia tau akibatnya Gala akan marah besar jika digoda habis-habisan.
Jihan memeriksa berbagai makanan di sana, ibunya sudah berpesan sebelum dia datang Jihan harus memastikan semua keperluan Gala di sana aman.
Namun pergerakan Jihan membuat Gala mengerjapkan matanya. "Lo ngapain pagi-pagi kesini?"
Jihan memukul lengan adiknya kesal. "Terus aja genk motor-genk motor gak jelas itu, udah gue bi-"
"Brisik, istri gue lagi tidur," ucapnya datar.
Jihan menyerngitkan dahinya, "Dih, bucin sekali ternyata es balok ini."
"Ck, udah gue bilang jangan brisik!"
Mendengar pertengkaran Jihan dan Gala, akhirnya Abel pun terbangun. Dia kaget dan merasa malu karena justru yang tertidur pulas adalah dirinya bukan Gala. Abel langsung turun dari ranjang dan menyalami kakak iparnya itu. "Kak, maaf ya aku malah pules banget tidurnya."
"Gapapa, pasti repot urus balok es ya? EHH BENTAR." Jihan menangkup pipi adek iparnya itu dan melihatnya lebih dekat.
"Ini kenapaaa??! Kok bisa begitu? Jangan bilang karena kejadian kemarin kamu juga ikut luka?" Jihan menatap Gala dengan tajam.
"Iya, tapi gapapa kok, Kak. Cuma luka kecil," jawab Abel berusaha menenangkan.
"Ck, lo sih udah gue bilang jangan gank genk gank genk gak jelas. Liat istri lo luka begini, emang bener-bener gak ada perhatiannya jadi laki, pokoknya gue gak mau tau ya besok gada genk motor genk motor lagi!" Jihan kembali menatap Abel sembari mengelus pipinya, dia jadi merasa kasihan melihat adik iparnya harus hidup bersama Gala.
"Marah-marah terus," ucap Gala malas.
__ADS_1
"Nerbener ini anak ya-"
"Udah, Kak. Bukan salah Gala kok, kemarin aku yang mau ikut. Malah Gala ketusuk juga karena nolongin aku," ucap Abel.
"Gapapa biar kapok, keras kepala soalnya. Gak sekali dua kali kaya gini, udah punya tanggung jawab kok begitu, gue laporin kakek loh biar Abella tinggal sama gue!" Ancam.
"Jangan! Itu istri gue bukan punya lo," larangnya.
Jihan melipat tangannya di dada dan kini menatap Gala serius. "Makanya, mulai sekarang serius!"
Abel hanya menghela napasnya melihat pertengkaran adik dan kakak ini. Akhirnya dia memilih untuk mengganti baju dan mencuci mukanya dulu, karena dia tidak tau harus berbuat apa.
"Gue serius," singkatnya.
"Serius buat jalanin tanggung jawab lo dan berhenti dari kegiatan dan hal-hal gak berguna. Itu baru pipi Abel sama perut lo yang luka, besok-besok apa? Dewasa dong, Galaxy Putra! Meskipun masih SMA tapi bukan berarti lo tetap main-main!"
"Gue juga jaga Abel, cuma emang lagi sial aja. Jangan menilai dari apa yang ada dipikiran lo!" Tegas Gala.
"Gue menilai dari fakta yang ada, Galaxy Putra! Gak menutup kemungkinan lo bakalan membahayakan kalian di masa depan. Kakek udah bilang sama lo untuk jadi orang yang lebih dewasa, lebih bijak, lo lupa?"
"Terserah lo deh, Gal. Cape gue punya adek keras kepala." Jihan membuka bungkusan bubur yang sudah dia beli tadi, meskipun dia marah sekali pada Gala tapi bagaimana pun dia menyayangi adiknya itu.
"Makan." Jihan mendekatkan sesendok bubur ke mulut Gala.
Gala menatap kakaknya heran, lalu seketika menatap Abel yang baru keluar dari kamar mandi. "Mau sama Abel aja."
Abel yang merasa tersebut langsung menatap ke arah mereka dan menghampiri. "Oh bentar. Sini, Kak biar aku aja."
"Gak ada, kamu juga pasti belum makan, kan? Nih, kamu makan nasi uduk, tadi kakak beli di depan. Gala biar kakak aja yang urus, jangan ngerepotin kamu terus," ucap Jihan sembari memberikan sebungkus nasi uduk untuk Abel.
"Tapi, Kak-"
"Gak ada tapi-tapian, kamu juga adek aku. Jadi aku gak mau kamu kenapa-kenapa, udah jangan liatin si Gala. Gak akan berai macem-macem dia," ucap Jihan sambil memaksa menyuapkan bubur pada Gala.
__ADS_1
Abel melihatnya sedikit bergidik ngeri, ternyata kakak iparnya ini Galak juga pada Gala, tapi dia sangat perhatian padanya. Dia beruntung mempunyai kakak ipar seperti Jihan. Sementara itu Gala hanya terdiam tak ingin memperpanjang, kakak pertamanya ini memang sangat tegas, jadi dia sudah tidak heran lagi.
Abel memakan makanannya sambil melihat kakaknya yang telaten mengurus Gala. Gala pernah bilang kalau kakaknya tidak bisa apa-apa, mungkin pengaruh dari sudah menikah kali ya?
"Gala kalau di rumah suka marah-marah?" Tanya Jihan pada Abel.
Abel menggeleng, entah kenapa dia menjadi lebih pendiam di situasi seperti ini. "Engga, Kak."
"Emang gue ada tampang suka marah?" Tanya Gala tak terima.
"Kalau dicuekin?" Jihan kembali bertanya tanpa mempedulikan Gala.
"Engga juga, Kak. Gala baik kok sama aku," jawab Abel sambil tersenyum.
"Masa sih? Di rumah biasanya suka nyuekin orang, paling irit ngomong, kecuali kalau lagi marah," ucap Jihan.
"Kayanya kebalikannya deh, Kak," balas Abel. Pasalnya dia malah melihat sisi berbeda dari yang Jihan ucapkan.
"Kebalikannya gimana?" Tanya Jihan keheranan.
"Kalau di rumah sama aku dia suka manja, banyak ngomong juga sampai aku kesel, suka gangguin aku, menel juga kaya anak kucing," jawab Abel.
Jihan membelalakkan matanya tak percaya, apakah yang dibicarakan adik iparnya itu benar Galaxy atau bukan? "Itu kamu ngomongin Galaxy kan bukan mantan atau siapa gitu?"
"Ya gue!" Gala tak terima kakaknya bicara seperti itu pada Abel, seperti meragukan dirinya yang bisa membuat Abel bahagia atau tidak.
"Apasih lo itu gak diajak!" Ketus Jihan.
"Beneran, Kak. Gala kaya gitu, walaupun dia suka maksa dan nyebelin tapi dia gak pernah marah ataupun nyakitin aku kok," ucap Abel.
"Terus masih suka pulang tengah malem? Atau dia mainin cewek pas lagi sama kamu? Atau dia ngulah dan bikin repot?" Tanya Jihan lagi.
"Udah gak suka pulang malem, pernah sekali tapi waktu masih ada mama papa juga kok. Kesananya gak lagi. Kalau ngerepotin kayanya ya tadi itu, dia suka ikutin aku kemana-mana."
__ADS_1
"Ck, akhirnya ada pawang yang tepat buat balok es di rumah. Besok-besok bilangin, Bel. Biar dia nurut dan gak ngelakuin hal-hal yang gak penting. Bilangin harus jadi cowok yang bertanggung jawab. Punya istri secantik dan senurut ini masih aja kelakuannya kaya gitu, bilangin ya," kata Jihan sembari menyindir orang yang ada di sebelahnya.
Gala yang merasa hanya bisa memejamkan matanya pasrah, jujur dia pusing jika berurusan dengan Jihan, tidak akan cukup 1 ronde dan akan terus dibahas sampai dia puas atau sampai Gal mengakui kesalahannya duluan. Jadi dia memilih diam saja.