
Setelah menitipkan Alano dan Alana kepada Ibunya, kini Abella dan Galaxy langsung menyusul Dara dan Ghani ke rumah sakit. Mereka mendapat kabar kalau kondisi Jonh drop dan mereka segera membawanya ke rumah sakit.
Gala jika mengetahui Jonh drop, dia adalah orang yang paling stress. Jadi sepanjang jalan Abel berusaha menenangkannya. Mereka berjalan di lorong dengan cepat sampai akhir bertemu dengan Dara dan Ghani.
"Ma gimana kondisi kakek?" Tanya Abella.
"Mama belum tau, Sayang. Semoga tidak apa-apa," ucap Dara sembari memeluk menantunya.
Abella paham sih kecemasan mereka, karena ya Abel juga merasakan cemasnya. Bagaimana pun Jonh juga menyayanginya selama ini sebagai cucu menantunya. Abel mengusap punggung Ibu mertuanya, berharap bisa sedikit membantu melegakan perasaannya.
"Kenapa bisa tiba-tiba drop?" Tanya Gala pada Ghani.
"Kakek jatuh di kamar mandi, Gal. Papa belum tau penyebabnya, entah karena benturan atau karena serangan jantung. Dokter di dalam sudah menangani kakek, kota tunggu saja."
Sudah hampir setengah jam mereka menunggu, Gala terus mondar-mandir tak karuan. Abel sudah berusaha menenangkan Gala namun dia tidak bisa tenang sebelum dokter keluar dan memberikan penjelasan.
Tak lama setelah itu, dokter keluar memanggil nama Galaxy dan Ghani. Mereka berdua di minta masuk ke dalam, sementara Abella dan Dara dipersilahkan menunggu di luar karena memang tidak boleh terlalu banyak yang masuk.
Gala dan Ghani yang mendengar itu langsung memasuki ruangan. Abell sedikit lega karena Jonh sudah bisa ditemui, setidaknya menandakan kalau keadaannya baik-baik saja.
Dara menyeka air matanya dan menatap Abel, dia sedaritadi sibuk dengan pikirannya tapi dia lupa menanyakan keadaan menantu dan juga cucunya. "Alan sama Ana gimana, Sayang?"
"Tadi udah Abel titipin ke Bunda kok, tadinya mau dibawa ke sini tapi gak baik juga karena udah malem," jawab Abel sembari tersenyum.
"Syukurlah, Mama juga tadinya berpikir seperti itu. Untung saja kamu dan Gala inisiatif tidak membawa mereka. Keadaan kamu sendiri gimana, Sayang? Sama Gala baik-baik aja, kan?"
__ADS_1
"Alhamdulillah baik, Abel sama Gala juga baik-baik aja kok. Mama sama Papa gimana? Maaf ya kita jarang ke rumah," ucap Abella.
"Baik, kok mama paham. Mama juga minta maaf karena jarang menjenguk kalian ke rumah. Tapi syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Jihan dan Miya juga akan ke sini malam ini, tapi katanya nunggu suami mereka pulang dulu."
"Iya, Ma ya semoga Kakak juga sampai ke sini dengan selamat."
Tak lama dari itu, Ghani dan Gala keluar dari ruangan. Abel merasa tidak enak hati entah kenapa saat melihat Papa mertuanya itu langsung memeluk istrinya. Dia jadi khawatir dengan Gala yang masih mematung di tempatnya.
Perlahan Abella menghampiri Gala dan mengusap lengannya. "Mas, kenapa?"
Tidak ada jawaban, Abel melirik ke arah Papa mertuanya yang terlihat sangat terpukul. "Papa sudah tidak ada, Ma."
Degh ...
Abel merasa lemas mendengar ucapan Papa mertuanya. Perlahan Gala mundur dan merosot ke bawah sembari menunduk. Abel tau bagaimana Gala ketika sedih, dia langsung membawa Gala ke dalam pelukannya.
Gala membenamkan wajahnya di dada Abella dan membalas pelukannya erat. Dadanya sesak sekali melihat orang yang paling dia sayangi menghebuskan napas terakhir di hadapannya sendiri. "Bel, Kakek udah gak ada."
Suara lirih itu entah kenapa membuat Abel terluka, dia ikut merasakan bagaimana perasaan Galaxy sekarang. Abel mengangguk dan menyeka air matanya. "Aku tau kamu sedih, aku tau kamu kehilangan. Tapi ikhlasin ya, Mas. Gapapa kalau mau nangis, kamu gak harus selalu terlihat kuat. Ada aku."
Abel tidak pernah melihat Gala serapuh ini, terakhir kali saat kematian anak mereka Azriel. Belum lagi melihat Papa mertuanya yang tidak kalah terpukul karena kehilangan sang Ayah. Tapi di saat seperti ini dia harus menjadi sosok penenang untuk Gala. Dia pasti sangat kehilangan, dia juga pasti sangat tertekan.
Abel menghela napasnya dan terus mengeratkan pelukannya. Gala terus menggenggam tangannya dengan erat. Terasa dingin sekali menurut Abel. Tapi dia membiarkan Gala menumpahkan perasaannya terlebih dahulu, setelah dia lega barulah dia bisa memberikan afirmasi positif pada suaminya.
.
.
__ADS_1
.
Gala dan Ghani sudah selesai mengurus surat-surat dan berkas untuk kepulangan Jonh, Besok pagi mungkin mereka bisa membawa jenazahnya pulang karena ini memang sudah pukul 12 Malam.
Jihan, Miya dan Suaminya sudah berada di kediaman Alaric. Selagi Gala menyelesaikan di rumah sakit, mereka bersiap-siap untuk tahlilan, sholat jenazah dan juga acara pemakaman. Mereka semua bekerja sama dan berusaha memberikan yang terbaik.
Abella juga sudah mengabari keluarganya dan menanyakan keadaan Alano dan Alana. Syukurnya mereka bisa diajak bekerja sama dan tidak rewel. Ada Ghazam juga Om kecilnya yang mengajak mereka bermain sampai mereka ketiduran. Abel jadi lega mendengarnya. Ya untuk sekarang Gala lebih membutuhkannya. Jadi dia harus membiarkan Alano dan Alana menginap dulu dan jauh darinya.
Kini hanya ada Abella dan Galaxy, mereka duduk di sebuah kursi taman di belakang rumah sakit. Abel mengusap punggung Galaxy dan memberinya sebotol minuman. "Minum dulu, kamu juga pasti butuh air. Nanti dehidrasi dan malah sakit."
Gala mengangguk dan menerima air mineral dari Abella dan meminumnya. Abel tersenyum dan tak pernah melepaskan tangannya dari Galaxy. "Kakek sayang banget sama kamu, sampai di saat terakhirnya aja beliau maunya ketemu kamu. Dia pasti bangga banget liat cucunya sekarang, jadi Kakek bisa melepas kamu dengan tenang."
Gala terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa sebenarnya. Di saat seperti ini dia mendadak tidak tau harus melakukan apa. Abella juga paham jadi ya dia memang harus menjadi yang banyak bicara sekarang. "Gak mudah emang Mas melepaskan apa yang kita sayangi. Aku gak ngelarang kamu untuk nangis atau bersedih, karena itu bagian ekspresi diri. Aku waktu kehilangan Azriel juga rasanya gak menapak di tanah. Apalagi kamu yang emang bersama sama kakek sejak kecil."
"Tapi hidup gitu, kan? Semua orang punya masanya, semua orang punya bagiannya dan semua orang punya waktunya untuk selesai dengan urusan dunia. Kita yang ditinggalkan harus ikhlas, karena kita juga sama. Lagi nunggu gilirannya."
"Kamu udah lakuin yang terbaik, kamu nemenin sampai sisa napasnya dan mengurus semuanya sekarang pasti kakek bahagia. Mungkin kakek sekarang ada di sini, meskipun kita gak melihat."
"Aku tau kamu bisa melewati ini semua dengan baik, aku tau kamu dan aku yakin dengan itu. Kamu cuma perlu waktu buat mencerna kejadian yang terjadi hari ini. Ada aku, anak-anak, Mama Papa, Ayah dan Bunda, Kakak juga. Kamu gak sendirian."
Gala menatap Abella, rasanya Abella ini sekarang sumber kekuatannya. Tatapan yang hangat itu mebuat Gala seolah sedikit tenang. Perlahan Gala memeluk istrinya itu dengan erat. Abel pun membalas pelukan Galaxy dan mengusap punggungnya dengan lembut. "Aku tau kamu kuat, kita lewatin ini sama-sama ya?"
"Jangan tinggalin Mas ya. Mas gak mau kehilangan kamu dalam hidup Mas."
Abella mengangguk. "Aku gak akan tinggalin kamu sampai kapan pun, kecuali kalau emang waktu aku udah habis di sini. Tapi untuk sekarang aku akan terus sama kamu. Don't worry, i love you."
Mendengar itu Gala tersenyum, perasaannya jauh lebih baik sekarang. Meskipun masih tetap ada perasan kehilangan besar yang dia rasakan. Tapi Abel bersamanya, dia juga tidak boleh terlihat lemah. Karena bagaimana pun dia sudah menjadi kepala keluarga, dia harus lebih bijak menghadapi masalahnya.
__ADS_1