Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Isi Hati Abella


__ADS_3


Pulang sekolah Abel terpaksa harus menunggu Gala pulang latihan. Saat ini Abel menatap pria yang sedang asik bermain dengan bola basketnya, sesekali dia tersenyum saat Gala berhasil mencetak point.


Setelah selesai Gala berniat menghampiri Abel, namun Jela datang bersama kedua temannya.


"Sayang aku bawain minuman buat kamu, cape ya?" Tanya Jela perhatian.


"Jel, kita udah putus," tanpa banyak berbicara Gala langsung menaiki tangga menuju tempat Abel duduk.


Jela yang melihat itu pun kesal, sebenarnya ada hubungan apa Abel dengan Gala? Biasanya jika berpacaran semua orang di sekolah sudah pasti tau, tapi ini tidak ada info mengenai apapun.


"Parah, makin gatel aja dia. Lo gak bisa diem aja sih," ucap Karin mengompori.


"Iyalah, Jela kalah sama cewek kaya gitu? Jangan diem doang dong, lo itu harus dapetin Gala lagi!" Seru Adel.


Dengan kesal Jela keluar lapangan diikuti kedua temannya. Karin dan Adel ber tos ria karena berhasil membuat Jela terbakar amarah. Jika besok Abel masih mendekati Gala, dia akan pastikan Abel mendapat pelajaran!


"Nih." Abel menyerahkan handuk kecil dan sebotol minuman ke tangan Gala. Gala tersenyum, istrinya ini memang sangat gengsi menunjukkan kepeduliannya. Baik, kalau begitu Gala yang akan membuat keinginan terpendam Abel terwujud.


Gala menaruh handuk kecil itu di telapak tangan Abel, perlahan dia arahkan tangan Abel untuk mengelap keringatnya. Abel menolak, namun tidak ada penolakan bagi Gala yang terus memegang tangannya. Jadi dengan terpaksa dia mengikuti keinginan Gala. Bukankah dia sudah berjanji akan membuka hatinya perlahan-lahan untuk Gala?


"Lo gak malu apa di liatin orang kaya gini? Seharian mereka liatin kita kalau lagi bareng kaya gini," ucap Abel yang sedang fokus mengeringkan wajah Gala dari keringat.


Karena tidak ada penolakan lagi, Gala melepaskan tangan Abel dan membiarkan Abel mengurus dirinya. "Gak, ngapain? Lo kan istri gue."


"Mereka gak tau kita suami istri, Gal!" Peringat Abel.


"Ya tapi mereka tau kalau sekarang Abella Gracia Atmaja punya gue," kata Gala santai.


"Kita gak pacaran ya, Gala!" Tegas Abel.


"Oh mau pacaran sekarang? Mau ditembak di mana? Di kelas? Di depan semua murid? Bikin acara terus nembak lo di sana? Atau sekarang di lapangan ini?" Tanya Gala.


Abel menatap Gala keheranan, bagaimana bisa Gala menanyakan hal itu padanya? "Gala, jangan aneh-aneh. Gue gak ada bilang kaya gitu."


"Atau bagus kali ya kita adain resepsi di sini? Biar tau ajalah kita udah nikah."


"Gala mau lo apasih?" Tanya Abel kesal karena pertanyaan-pertanyaan konyol Gala.


"Mau lo cinta sama gue, terima hubungan ini dan jalanin pernikahan sama gue dengan baik. Terus kedepannya kita punya anak dan bahagia," jawabnya simpel.


"Satu-satu jangan maruk, banyak banget mau lo," balas Abel.


"Yaudah, mau lo belajar cinta sama gue dan gak diem di tempat?" Gala menatap serius ke arah Abel. Kali ini memang dia benar-benar serius ingin mendapatkan jawaban dari Abel.


"Hmm," singkat Abel.

__ADS_1


"Apa hm doang?" Tanya Gala tak paham.


Abel tidak mengerti kenapa pria yang ada di hadapannya ini mendadak banyak bicara? Padahal yang dia tau Gala sangat irit dan malas bicara, kenapa bisa dia begitu sekarang?


"Abella," panggil Gala yang merasa tidak ada respon.


"Iya, Galaxy! Kenapa sih lo jadi banyak bicara," kesal Abel.


Gala tersenyum puas setelah mendapatkan pernyataan dari Abel. Kalau seperti ini dia semakin semangat untuk mendapatkan cinta Abel sepenuhnya. Gala akan pastikan itu.


Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Meskipun mereka tidak tau apa yang Gala dan Abel bicarakan, tapi mereka merasa kalau Gala lebih banyak bicara dengan Abel dan sangat langka sekali Gala bersikap seperti itu. Karena seperti yang kalian tau kalau desas desus Gala homo memang sudah menyebar di kalangan murid SMA Gold Garuda.


.


.


.


Pulang sekolah Abel sengaja mampir ke lokernya untuk mengambil dobok yang belum sempat dia cuci kemarin. Namun dia kembali menemukan amplop berisi surat cinta yang biasa dia dapat, kali ini berwarna merah. Abel hanya melihat sekilas lalu menaruhnya di tumpukan surat sebelumnya.


Gala yang ada di belakangnya terfokus pada tumpukan surat di dalam loker itu. "Itu apa?"


"Gak penting," jawab Abel singkat.


Namun Gala tidak peduli dan mengambil tumpukan surat milik Abel. Dia melihat satu persatu amplop surat yang masih tertata rapi dan sepertinya tidak pernah gadis itu buka. Menarik. Perlahan dia membuka tasnya dan memasukan tumpukan surat itu.


"Mau liat aja seberapa oke saingan-saingan gue," jawab Gala santai.


Abel hanya menggelengkan kepalanya, pusing melihat tingkah Gala seharian ini. "Terserah lo deh, Gal. Cape."


Setelah selesai dengan urusan mereka masing-masing. Abel dan Gala bergegas untuk pulang ke rumah. Abel menaiki motor Gala, sekarang sekolah sudah sepi jadi dia tidak perlu merasa was-was.


"Pegangan," perintah Gala.


"Ini udah pegangan," balas Abel.


Perlahan Gala memegang tangan Abel yang berada di pinggangnya dan mengalungkannya pada perutnya. "Pegangan tuh kaya gini. Nanti jatuh." Setelah itu Gala pun melajukan motornya keluar sekolah.


Gala tersenyum, melihat Abel yang menurut padanya. Meskipun galak seperti macan, tapi bagi Gala Abel tetap seekor anak kucing yang manis dan penurut.


Abel masih mencerna semua ini, Gala tidak tau saja kalau sekarang jantungnya berdebar sangat kencang. Kenapa yang dilakukan Gala selalu tiba-tiba dan tak terduga?


Gala membawa Abel ke sebuah taman dekat kota, Gala paham kalau selama mereka menikah Abel jarang ke luar rumah karena memiliki tanggung jawab baru, jadi tidak ada salahnya sesekali mengajak Abel jalan-jalan.


Gala dan Abel melepaskan helm mereka. Sesekali Abel merapikan rambutnya yang berantakan dan menatap Gala.


"kita ngapain ke sini?" Tanya Abel tak mengerti.

__ADS_1


"Tunggu di sini," perintahnya sambil berlalu meninggalkan Abel.


Abel pun hanya menurut dan sesekali bersender pada motor Gala. Dia senang melihat banyaknya anak kecil yang berlalu lalang. Dulu waktu Abel seumur mereka bahkan Abel tidak boleh keluar rumah, tidak boleh sembarang di sentuh orang, kalau tidak kakeknya akan memarahi seluruh orang rumah.


Andai Abel kecil merasakan itu, pasti Abel akan sangat bahagia melewati masa kecilnya. Gala melihat Abel yang sedang tersenyum pada sekitarnya, baru kali ini Gala melihat senyum tulus dari wajah Abel. Biasanya dia tersenyum tapi seperti ada beban yang dia rasakan.


Gala menghampiri Abel dengan 2 cone eskrim vanilla di tangannya. "Nih." Gala memberikan satu miliknya pada Abel.


"Makasih," ucap Abel sambil menerima eskrim dari Gala.


Sesaat tidak ada percakapan di antara mereka. Tapi Gala senang karena Abel tidak berhenti tersenyum dari tadi, hal yang selalu ingin Gala lihat dari Abel.


"Seneng banget, kenapa?" Tanya Gala.


Abel menggelengkan kepalanya, rasanya aneh jika dia harus menjelaskan perasaannya pada orang lain, meskipun Gala adalah suaminya sendiri.


"Gue suka denger orang cerita."


"Gak ada cerita, Gal. Gue cuma seneng aja kalau main keluar liat anak kecil." Akhirnya satu kalimat itu berhasil dia ungkapkan.


"Kenapa?" Tanya Gala menatap gadis yang ada di hadapannya.


"Gak mau nanti lo kasihanin gue, males," jawabnya asal sembari memakan eskrim miliknya.


"Gak akan kalau lo pinta."


Abel menatap ke arah Gala, sambil memikirkan apa yang harus dia ceritakan tentang dirinya. Sama sekali tidak ada yang berkesan.


"Hm?" Tanya Gala yang merasa tidak ada jawaban dari Abel.


"Lo tau, kalau gue cucu pertama dari kakek gue kan?" Tanya Abel.


Gala mengangguk, tentu dia tau. Kakeknya pernah bercerita soal itu dan dia pun hanya mengetahui Ghazam adiknya.


"Dulu waktu kecil gue gak pernah boleh main ke luar rumah sama kakek. Gue di manjain di dalem rumah tapi gak boleh berinteraksi sama siapapun."


"Terus?"


"Ya gapapa, tapi buat anak umur 3 tahun itu rasanya gak enak. Cuma bisa liatin orang main dari jendela, kalau gue keluar gak ada yang boleh pegang gue, kakek gue gak suka. Kalau ketauan 1 rumah bisa kena marah," ucapnya sambil terkekeh.


"Harusnya lo seneng, kakek lo sayang banget sama lo. Iyakan?"


"Iya gue tau, semuanya dilakuin karena kasih sayang. Tapi berimbas sampai sekarang. Gue gak mudah buat bicarakan apapun, gue gak terlalu sering main, bahkan lo tau kehidupan gue juga diatur sampai gue juga sekarang ada di samping lo sekarang," ungkapnya. Jujur itu adalah isi hati Abel yang tidak bisa dia ungkapkan kepada siapapun, bahkan ibunya sendiri.


Gala mengangguk paham. Pantas saja dia tidak pernah melihat Abel menangis. Semarah apapun dia, dalam ketakutan apapun, Gala belum pernah melihat Abel menangis. Kalau gala menganggap dirinya tidak bisa mengekspresikan apapun, ternyata Abel jauh lebih susah darinya. Sekarang Gala punya Abel, tapi Abel belum punya siapa-siapa yang bisa dia jadikan rumah.


"Gapapa, gue bakalan lebih sering ajak lo keluar," ucap Gala pelan namun masih terdengar oleh telinga Abel.

__ADS_1


__ADS_2