
Malam ini tidak biasanya Gala pulang terlambat, biasanya juga jika telat pulang dia akan mengabari. Tapi kenapa ponselnya tidak aktif ya? Abel mondar-mandir tidak tenang. Pasalnya dia sudah menghubungi Degas tapi dia bilang kalau Gala sudah pulang sejak tadi sore.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 tepat. Setelah meminum susu dan vitaminnya Abel memutuskan untuk menunggu Gala di depan Tv sambil menonton drama korea kesukaannya.
Tak selang beberapa lama mobil Gala terdengar dari luar sana. Abel mencoba berdiri dan langsung ke arah pintu. Namun, sebelum dia keluar Gala sudah masuk terlebih dahulu.
Gala tersenyum melihat istrinya, sementara Abel menatapnya bertanya-tanya, Gala baik-baik saja tapi dia kemana baru pulang seini hari.
"Kamu darimana, Mas?" Tanya Abel.
Gala tidak menjawab lalu merangkul Abel untuk masuk ke kamar mereka. Ya karena ini sudah malam, seharusnya dia tidur, kan?
Abel membantu Gala melepaskan jas dan dasinya, tapi pikiran gadis itu sudah kemana-mana. "Mas, aku nanya."
"Ada keperluan, Mas minta maaf." Gala memeluk Abella dengan erat, untuk sesaat dia merasakan aroma tubuh Abella yang membuatnya tenang.
Sementara Abella hanya dia, ada perasaan di mana perasaannya mengatakan kalau sekarang ada yang salah. Tapi apa? Tapi dia berusaha meredam pemikiran-pemikiran itu.
"Mas minta maaf ya, i'm so sorry," ucap Gala sambil mengecup bibir Abel beberapa kali.
"Minta maaf buat apa, Mas?"
"Anything."
Jujur saja perasaan Abella semakin tidak enak, tatapan Gala lain kali ini. Tapi lagi-lagi Abel hanya diam. Kalau pun memang iya ada sesuatu pasti Gala memberitahunya, kan? Dia tidak mau kalau sampai tiba-tiba menghakimi suaminya sepertu kemarin-kemarin dan memicu pertengkaran.
"Yaudah kamu bersih-bersih gih, pasti cape pulang kerja. Mau aku siapin makanan?" Tanya Abel.
"Gak usah, Cantik. Mas udah makan, bentar ya Mas bersih-bersih dulu," ucap Gala dan dihadiahi anggukan oleh Abel.
Abel terdiam di tepi ranjang, berusaha menetralkan perasaan yang ada padanya. Dengan lembut dia mengusap perutnya. Dia tidak boleh stress atau banyak berpikir. Nanti bisa-bisa membahayakan anaknya.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu Gala sudah selesai bersih-bersih. Dia menatap Abella yang sedang merenung di tepi kasur. Perlahan Gala berlutut di hadapan Abella dan menciumi perut yang sudah membesar itu. "Anak papa udah minum susu belum, Ma?"
Abel mengusap rambut Galaxy dengan lembut. "Udah papa, babynya udah minum susu, udah minum vitamin juga."
"Kalau mamanya udah makan?" Tanya Gala sambil tersenyum ke arah Abella.
Abel mengangguk dan balas tersenyum ke arah suaminya itu. "Udah, Papa. Udah semuanya. Yang belum manjaan sama papanya aja."
"Oh mau manjaan? Let's go!"
Gala berdiri dari tempatnya, setelah itu menaiki ranjang mereka. "Ayok sini."
Abel tersenyum lalu ikut berbaring di samping Galaxy dan memeluknya. "Mas, aku udah serba salah posisi tidurnya. Serba gak enak."
"Nanti besok aku beliin bantal buat perutnya ya atau mau dicariin sekarang?" Tanya Galaxy.
"Udah malem, besok aja ih. Kebiasaan kamu tuh aku baru bilang aja langsung dibeliin."
"Hahaha buat kamu gak boleh ditunda-tunda, jadi pasti aku lakuin yang terbaik. Yaudah sekarang kamu cari posisi yang enak gimana, nanti mas ikutin kamu aja."
Dengan menurut Galaxy mengusapi perut istrinya. Ini anak mereka, jadi dia harus tanggung jawab atas segalanya. Dan Gala tidak keberatan karena dia senang juga melakukannya.
.
.
.
Pagi harinya, seperti biasa Abel sudah menyiapkan sarapan sebelum Gala berangkat kerja. Abel hanya memakan Apel dan susu pagi ini, karena perutnya akan terasa keram jika diisi nasi. Hal yang sering terjadi akhir-akhir ini.
Namun Abel sedikit heran saat menatap Gala, sepertinya pria itu sedang banyak pikiran. Dia lebih banyak melamun atau tiba-tiba terdiam. Abel sebagai istri merasakan kegelisahan yang Gala rasakan.
"Kamu kenapa, Mas?" Tanya Abel.
__ADS_1
"H-hah? Engga, Sayang. Mas gapapa, kamu masih belum bisa makan nasi? Anak mas bandel ya di dalam sana?" Tanya Gala sembari mengelus perut istrinya.
"Engga, Sayang dia baik-baik aja sama aku. Aku emang masih suka keram aja kalau makan nasi Tapu siangnya aku selalu usahakan makan nasi kok," jawab Abel.
"Yaudah, janji ya makan yang banyak. Jangan sampai kamu lupa makan, biar anaknya juga sehat terus, biar kamu juga nanti lahirannya gak ada kendala." Gala tersenyum lalu mengusap puncak kepala istrinya.
"Pulangnya jangan terlalu malam ya, Mas" ucap Abel.
Gala tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Iya sayang, Mas usahakan ya?"
"Mas nanti temenin aku chekup mau? Aku udah bolos bulan kemarin gak chek up karena bantu urusin pertunangan Anna sama Raka," pinta Abel.
"Pasti, Sayang. Nanti Mas temenin dan emang harus sama aku. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, jadi sesibuk apapun aku pasti bakalan luangin buat kamu sama anak kita," ucap Gala sambil tersenyum.
Gala memang melakukannya, dia trauma karena tidak mengantarkan Abel pergi ke rumah sakit waktu itu. Pokoknya apapun kesalahan di masa lalu akan Gala perbaiki di masa sekarang agar semuanya baik-baik saja.
Tiba-tiba ponsel Gala berbunyi, membuat Abel menghentikan aktivitasnya dan menatap suaminya yang kini tengah mengobrol dengan seseorang di balik layar ponselnya.
"Baik, saya ke sana sekarang." Gala dengan cepat menuntaskan makan paginya. Dia nampak terburu-buru setelah mengangkat telepon tadi.
"Kenapa makannya buru-buru sih, Mas?" Tanya Abel.
"Mas ada urusan, Sayang. Jadi Mas harus pergi sekarang." Gala tersenyum pada istrinya lalu meminum air untuk melegakan tenggorokannya.
Setelah beres dia memeluk Abella pelan dan mengecup bibirnya. "Kamu jaga diri ya, jangan kemana-mana sendiri. Aku berangkat dulu. I love you."
Belum sempat Abel membalas, Gala telah berlalu pergi meninggalkannya. Tidak biasanya Gala seperti itu. Apa sedang ada masalah di kantor?
Tapi kalau iya kenapa Gala tidak menceritakannya? Biasanya juga Gala akan berbagi apapun padanya, tapi kenapa sekarang seolah Gala sedang menutupi sesuatu? Perasaannya terus mengatakan kalau ada yang tidak beres, tapi dia tidak tau juga kenapa.
Abel masih berusaha untuk berpikir positif, kehamilannya ini begitu sensitif. Ini pasti hanya perasaan dia saja. Apalagi akhir-akhir ini dia memang sering overthinking, bukan pada Gala saja tapi pada banyak orang.
Di sisi lain Gala bergegas pergi setelah mendapatkan panggilan dari seseorang. Jujur saja dia dilema, ada hal yang tidak bisa dia katakan pada Abel. Dia jadi merasa bersalah karena ini.
__ADS_1
Dia ragu apakah akan melanjutkannya atau tidak, tapi dia sudah menyanggupi. Dia adalah orang yang tidak akan pernah ingkar janji dan itu sedikit menyiksanya. Kali ini dia terpaksa harus menyembunyikan ini agar Abel tidak kepikiran. Dia tidak mau kalau sampai Abel stress dan nantinya akan membahayakan dirinya dan juga bayinya.
"Maafin, Mas. Semoga kalau nanti kamu tau, kamu gak akan marah," gumam Gala yang kini melajukan mobilnya dengan cepat ke suatu tempat.