
Kehidupan membaik, apa-apa yang menjadi permasalahan kemarin perlahan memudar dengan sendirinya. Galaxy dan Abella menikmati kehidupan rumah tangga mereka dengan baik dengan Alano dan Alana yang rasanya semakin hari semakin banyak bisanya.
Minggu depan akan diadakan pesta pernikahan Anna dan juga Raka. Namanya juga perempuan, dia pasti ingin selalu OOTD dulu untuk memastikan penampilannya sempurna nanti. Abel menatap dirinya di kaca, entah kenapa dia merasa kurang pede karena setelah melahirkan jadi sedikit gendutan. Apalagi dia juga menyusui, kan? Ah pokoknya dia galau.
Gala yang melihat istrinya kebingungan langsung saja menghampiri dan memeluknya dari belakang. "Kenapa sayangnya Mas? Mau beli gaun baru?"
Abel menggeleng. "Aku gak usah ke acara pernikahannya Raka sama Anna aja deh kayanya."
"Loh kenapa? Kenapa cantik?" Gala mencium pipi istrinya, berusaha mendengarkan apa yang menjadi keluh kesahnya saat ini.
"Aku gak mau bikin kamu malu, liat dehh ini aku gendutan. Bentuk tubuhnya juga jadi aneh, fix aku harus diet!" Ucap Abel sembari memajukan bibirnya.
Gala melihat penampilan istrinya di cermin. Memang Abel terlihat berisi sekarang, tapi tidak berlebihan juga, malah proporsional saja menurut Gala. "Apanya gendutan, sama aja. Istri Mas cantik."
"Mas gak boleh bohong, gak boleh bilang kaya gitu buat nyenengin istrinya. Nanti kamu juga yang malu, nanti gini. Ih istri Pak Gala yang CEO Alaric Group itu gendut ya," kata Mika mencibir dirinya sendiri.
Gala terkekeh mendengar ocehan istrinya, perlahan dia membalikan tubuh Abella dan merengkuh pinggangnya. Dengan lembut dia merapikan helaian rambut Abella. "Gak akan, Sayang. Yang ada kaya gini, cantik banget istrinya Galaxy. Cantik banget!"
Abel mengulum tawanya, bisa-bisanya suaminya ini masih menatapnya cantik di saat dia merasa insecure seperti ini.
"Kamu itu cantik, kamu agak berisi karena kamu melahirkan anak-anak Mas, dada kamu juga jadi berubah karena kamu menyusui anak-anak Mas. Jadi, Mas gak akan malu mau bawa kamu dalam kondisi apapun. Karena, Mas bangga punya istri kaya kamu."
"Walaupun nanti aku lebih gendut dari ini?" Tanya Abella.
Gala mengangguk. "Apapun, Sayang. Jangan ngerasa insecure kalau di mata Mas kamu gak ada masalah ya udah ikutin kata Mas aja, jangan orang lain."
Abel mengangguk, membuat Gala tersenyum lalu membawa istrinya semakin dekat padanya. Gala tidak berbohong, istrinya memang cantik, bahkan dia tidak pernah membosankan. Karena hanya dengan melihat Abel saja dia mampu jatuh cinta berkali-kali.
"Gak kepikiran bikin adik buat Alano sama Alana, Sayang?" Goda Gala.
"Ishhh, kamu. Mereka masih kecil! Baru empat bulan, itu aja kita suka kerepotan. Nanti aja ah, kamu mah ngaco," ucap Abel sedikit menjauhkan tubuhnya dari Gala.
__ADS_1
"Ya biar sekalian sekolahinnya, biar gak jauh-jauh amat umur mereka, Sayang," kata Gala merajuk.
"Mass ihh, gakk! Nanti ajaa, aku mau fokus sama Alano dan Alana dulu. Kalau mau kamu yang hamil!"
Gala terkekeh lalu menciumi pipi istrinya. "Mana bisa Mas yang hamil, bisa buatnya aja. Yaudah ayok kita buat, mumpung masih pagi," bisik Gala.
"Alano sama Alana gimana?" Tanya Abel ragu.
"Mereka lagi anteng juga, 1 ronde aja. Tapi kalau khilaf 2."
Gala tersenyum lalu membawa Abel lebih dekat padanya, mengikis jarak antara keduanya lalu menautkan bibir mereka dengan mesra. Bibir mereka saling menyecap dan menyesap satu sama lain sehingga menimbulkan suara basah yang membuat hasrat mereka semakin menggebu.
Tangan Gala mulai berkeliaran kemana-mana, Abel yang menggunakan gaun lekuk seperti ini membuat fantasi liarnya menggila, langsung saja Gala mengukung tubuh Abel di kasur. Dengan ciuman yang semakin menuntut ditambah remasan tangan Galaxy pada benda kenyal yang kini jika di remas akan mengeluarkan asi. Ahh dia malah lebih suka, bahkan kedua anak kembarnya tidak tau saja kalau mereka berbagi susu dengan papanya.
Tangan Galaxy merayap mencari sleting dan berusaha menurunkannya, namun ....
Oeekkk ... Oeekk
Mendengar anaknya menangis membuat Abel menghentikan permainan mereka. Apalagi jika salah satunya menangis pasti yang lainnya ikut menangis juga. "Mas Alano sama Alana."
"Sabar ya, Mas. Kapan-kapan." Abel terkekeh dan beranjak dari kasur, sebenarnya kasian juga pada Galaxy karena minggu ini belum dapat jatah, tapi ya bagaimana. Anak mereka sekarang sedang aktif-aktifnya.
Gala mengikuti Abel masuk ke kamar bayi, mereka menggeleng melihat kelakuan anak kembar itu. Alana tengkurap dan tidak bisa berbalik dan Alano menangis karena kaki sang adik berada di wajahnya.
Gala mengambil Alana sementara Abel mengambil Alano untuk ditenangkan. "Kenapa sayangnya Mama nangis? Ditendang iya? Maafin adeknya ya, Sayang ya?" Ucap Abel sembari menciumi pipi Alano.
"Yaampun, Princess. Kalau kamu gak bisa balik lagi jangan tengkurap gitu loh, Nakk. Kasian Princenya Papa." Gala menepuk-nepuk punggung Alana sambil menciumi pipinya.
Alana memang jika sudah menangis susah untuk berhenti, berbeda dengan Alano yang bisa langsung terdiam jika sudah berada dalam pelukan Ibu atau Ayahnya.
"Cup cup cup ini sama Papa, Sayang. Masa masih nangis, kan hebat Princess Papa udah bisa tengkurap? Tapi lain kali teriak aja minta tolong kalau gak bisa bangun, jangan nangis jelek," ucap Gala.
"Liat adeknya, nangis ya? Cium dulu adeknya biar gak nangis," ucap Abel pada Alano dan mendekatkan pada Alana.
__ADS_1
Namun bukan berhenti menangis namun Alana malah menggerakkan tangannya meremas wajah sang Kakak. Sontak saja Abel menjauhkan kedua anaknya. Karena Alano yang kembali menangis.
"Ya ampun, Sayang. Jangan berantem heh!" Jujur Abel pusing sekali jika sudah seperti ini. Akhirnya dia duduk di sofa dan menenangkan Alano, memang ada baiknya mereka tidak boleh disatukan dulu.
Ya begini nih terkadang yang membuat Abel dan Galaxy kewalahan. Mereka terkadang tidak bisa disatukan dalam satu box yang sama. Mereka terkadang bertengkar sampai salah satunya menangis dan berakhir dengan menangis bersama.
"Ya Allah galak nih Ana sama Abangnya, gak boleh gitu, Nak. Persis Mama kamu banget lah galaknya." Gala tetap mengusap punggung Alana dan sesekali mencium bibirnya. Memang anak perempuannya ini terlihat lebih manja. Persis sudah dengan Abella. Galaknya sama dan sekarang manjanya juga sama.
Setelah keduanya tenang, Abel bertukar anak dengan Gala. Galaxy yang memegang Alano dan Abel yang memegang Alana untuk disusui. Alana menangis cukup lama, dia sampai tersedu-sedu begitu kan kasihan, jadi Abel harus memberikannya susu.
Alana yang dalam dekapannya sambil menyusu, ditambah Gala yang berbaring di sofa dan menjadikan pahanya sebagai bantalan sembari mengajak Alano bermain. Abel merasa bersyukur untuk ini. Meskipun terkadang pusing juga mengurus dua bayi yang hobinya bertengkar seperti Alano dan Alana, tapi Abel tetap senang.
"Gara-gara kalian Papa gak jadi dapet nutrisi," ucap Gala pada Alano yang dihadiahi suara kecil sebagai balasannya.
"Gak boleh, Papa. Punya Alan," gitu katanya.
"Dih punya Papa, enak aja. Kamu kalau adeknya nangis pukpukin dong, Sayang. Jadi Papa bisa manjaan sama Mama kalian," kata Gala lagi dan ya lagi-lagi ditimpali. Sudah Abella bilang kalau anak-anaknya sekarang sudah banyak bisa jadi ya begini. Ramai.
"Yaudah pagi sampai sore Mamanya sama Alan dan Ana, tapi Malam sama Papa ya? Jangan ganggu, deal?"
"Oke deal," lanjut Gala sambil berjabatan tangan dengan putranya. Abel terkekeh, memang ada-ada saja kelakuan Galaxy yang menggemaskan seperti ini.
Tiba-tiba ponsel Galaxy berbunyi. Tertera nama ayahnya di sana. Gala merubah posisinya menjadi duduk dan membawa Alano dalam dekapannya.
"Halo, Pa?"
"..."
"Innalillahi, baik kalau begitu. Gala bicarakan dulu dengam Abel."
"..."
"Baik, Pa."
__ADS_1
Abel yang mendengar percakapan Galaxy terheran, dia sudah panik sendiri. Siapa yang meninggal dunia? Setelah mematikan sambungannya Gala menatap Abella.
"Sayang, Areyna meninggal dunia."