
Kabar kehamilan Abel kini sudah menyebar, Al hasil sekarang kedua orang tua mereka datang ke rumah Abella untuk memastikan keadaannya. Abel saja kaget, saat pulang dari pemeriksaan kandungan, tiba-tiba saja rumahnya sudah ramai.
"Ehhh menantu mama yang cantik, pelan-pelan ayok jalannya. Gala kamu harusnya perhatian gitu loh sama istrinya, masa dibiarin jalan gini," ucap Dara sembari membawa Abel kedalam dan memapahnya.
"Mau digendong tapi Abelnya gak mau," jawab Gala seadanya. Mika menahan tawanya, kenapa semua orang jadi lebih protektif begini sih? Padahal kan ini bukan hamil pertama Abella.
"Kamu ini loh, Bel. Jangan kecapean, ayok duduk. Bunda udah siapin makan siang buat kita hari ini." Nia dan Dara dengan kompak membantu Abella untuk duduk, dia hanya tersenyum ke arah Gala yang kini menatapnya dengan bahagia.
Bagaimana tidak, tadi dia kembali melihat anak mereka yang sudah berumur 7 Minggu. Setelahnya dia mendapat kejutan dan banyak perhatian dari keluarga mereka. Ya memang perhatian itu untuk Abella, tapi dia juga ikut senang.
Apalagi kehamilan kedua Abel ini tidak separah sebelumnya yang membuat dia tidak berselera makan dan morning sickness yang parah. Meskipun ya dia tetap was-was karena Abella memiliki riwayat keguguran.
Tapi menurut Abel dia masih bia melakukan semuanya kok. Apalagi kalau hanya berjalan saja kan tidak mengeluarkan banyak tenaga. Malah menurut dokter kandungannya, banyak berjalan akan membuat bayi dsn ibunya sehat. Asal tidak melakukan hal berat. Tapi wajar juga kalau di kehamilannya yang sekarang amat dijaga.
"Bunda udah bawain susu hamil, vitamin, dan beberapa keperluan kamu selama hamil. Kamu jangan kecapean, kalau butuh pembantu nanti bunda carikan," ucap Nia.
"Mama juga sudah mengisi kulkas kalian degan makanan 4 sehat 5 sempurna. Jadi jangan makan sembarangan. Gal ... Tolong perhatikan istrinya ya gantengnya Mama," peringat Dara pada Gala.
Banyak sekali barang bawaan yang mereka siapkan untuk Abel. Kali ini orang tua mereka yang berlebihan, sama saja seperti Gala yang pernah membelikannya 13 jenis susu hamil dan stock vitamin 9 bulan. Benar-benar di luar dugaan.
Abell dan Gala mengangguk. Ya tidak ada salahnya juga mengikuti kemauan orang tua. Anggap saja ini adalah wujud kasih sayang nenek untuk cucunya. Ya Abel senang sih kalau anaknya dikelilingi oleh orang yang menyayangi dia.
Abel lalu menyuapkan makanan kesukaannya itu ke dalam mulut, memang benar dia tidak seperti kehamilan sebelumnya tapi dia merasa lebih cepat lapar dan sulit kenyang. Tapi dokter Galendra bilang kalau itu hal yang wajar.
"Yaampun lucunya cucu Oma, Nia lihat. Cucu kita sudah sebesar ini," ucap Dara sembari memperlihatkan hasil USG pada besannya itu.
__ADS_1
"Dar, jangan begitu. Aku jadi ingin cepat-cepat menimang cucuku," balas Nia.
"Semoga saja dia laki-laki," kata Dara penuh harap.
"Perempuan saja, Dar," balas Nia.
Abel dan Gala terkekeh saat melihat perdebatan kedua orang tua mereka. Belum lagi memperebutkan siapa nanti yang akan menjaga Abella saat melahirkan, padahal notabenenya masih lama. Berbeda dengan keduanya yang sekarang hanya berharap kalau anak mereka baik-baik saja, tidak peduli apa gendernya. Yang terpenting bayi dan Ibunya nanti selamat.
"Apa gak sebaiknya kalau Abel tinggal di rumah Bunda, biar kali ini juga kami bisa mengontrol kehamilan kamu," usul Nia.
"Nia, biarkan Abel dan Gala bersamaku saja. Aku kesepian di rumah tidak ada siapapun selain mas Ghani. Aku juga ingin ikut serta menjaga cucuku."
"Sama saja, Dar. Aku juga hanya bersama Ghazam."
Mereka kini berdebat memperebutkan hak asuh. Membuat kedua sejoli ini malah kembali pusing dibuatnya. Mereka tidak mungkin memilih salah satu, karena sudah pasti akan ada yang kecewa nantinya.
"Biar Gala yang memantau istri Gala sendiri, jadi jangan berdebat lagi. Kasian anak Gala bingung diperebutkan Oma-Omanya." Akhirnya Gala mengambil keputusan.
.
.
.
"Mas, Dinda Minggu depan pulang ke sini," ucap Abel saat Gala memasuki kamar mereka.
"Bagus dong, jadi kamu bisa ada temennya. Tapi jangan kemana-mana, di rumah aja. Mas gak mau kamu kenapa-kenapa," balas Gala yang kini sudah duduk di tepi kasur dengan dua gelas di tangannya.
__ADS_1
"Kan main keluar doang, Mas. Paling ke Mall. Aku juga jenuh Mas di rumah terus. Boleh yaa?" kata Abel.
"Kalau mau Mas juga harus ikut, Raka sama Degas juga. Mas gak mau kamu kenapa-kenapa. Kalau banyak penjagaan kan kamu sama anak kita aman."
Sebenarnya Gala bukan tidak percaya pada Abel. Dia seperti ada trauma tersendiri karena membiarkan Abel keluar tanpa perlindungan darinya dan akhirnya mereka berdua kehilangan anak mereka.
Abel juga paham kenapa Gala bersikap demi kian, jadi dia mengiyakan saja kemauan suaminya. Lagi pula mereka semua kan berteman, jadi anggap saja reunian.
"Minum dulu susunya, anak Mas kasian kehausan," ucap Gala sembari mengulurkan susunya dan mengelus perut istrinya yang masih rata itu. Kebiasaan saat Abella hamil kemarin masih Gala ingat. Sekarang dia tidak perlu membeli banyak susu karena sudah tau apa yang disukai Abella kemarin.
Dia tersenyum melihat suaminya begitu perhatian seperti ini, lalu meminum susu coklat yang dibawakan Gala sambil memperhatikan Gala yang kini mencium-ciumi perutnya. Gala juga mengubah posisinya menjadi berbaring dengan paha Abel sebagai bantalannya.
Kemudian dia menyingkap baju tidur Abella dan kini menampilkan perut gadis itu. Abel sedikit merasa keram sih memang, anehnya ketika Gala mengusapnya seperti ini perutnya terasa membaik. Sepertinya sang anak mulai mengenali sosok ayahnya. "Baby lagi apa di dalem perut mama?"
"Lagi liatin papanya yang mode manja," jawab Abel sambil mengelus pipi suaminya.
"Gapapa Mas manja sekarang, Sayang. Nanti kalau dia udah lahir tahta tertingginya jadi milik baby. Susah nanti papanya kalau mau manja sama mamanya," ucap Galaxy.
"Bisa kok manjaan, kamu kan juga bayi aku," balas Abel yang dihadiahi tatapan tajam dari Gala. Dia selalu tidak mau disebut bayi, padahal kelakuannya sudah seperti bayi besar.
"Baby, kamu baik-baik di sana ya. Jangan bikin mama sakit. Kalau manjaan boleh, nanti biar papa manjain juga," ucap Gala lembut dan mengelus perut Abella.
"Yang mau manjaan mamanya kayanya," balas Abel sambil terkekeh.
"Kalau mamanya gak usah ditanya, manja banget. Sayang, mas mau dikelonin tidurnya," pinta Gala.
"Manjanya ish."
__ADS_1
Abel terkekeh dan mengusap rambut suaminya. Memang semuanya juga manja, termasuk suaminya sekarang yang sedari tadi maunya diusap-usap, disuapi, dicium. Apa ini bawaan bayi atau tidak Abell tidak bisa membedakan. Karena Galaxy memang kerap kali seperti ini.
Namun dia bahagia sih, sangat bahagia. Sekarang mereka tidak berdua lagi. Tapi ada si kecil yang sedang bertumbuh di dalam perutnya. Azriel juga pasti senang karena memiliki adik. Kehadiran mereka dalam kehidupan Abella akan tetap sama berharganya dan tidak bisa digantikan satu sama lain. Pasti secepatnya juga dia akan mengunjungi makam putranya untuk memberitahukan kabar ini.