
Elzard mengehentikan motornya di depan rumah Abel. Iya tentu hari ini dia harus pulang ke rumah orang tuanya, tidak mungkin Elzard akan dipintanya mengantar ke rumah Galaxy. Lagi pula Abel juga sedang tidak ingin bicara pada Gala, lebih baik dia di sini dulu.
"Makasih ya, El udah anterin gue," ucap Abel dengan tersenyum tipis. Sebenarnya dia juga tidak enak hati jika meminta tolong pada El. Dia sangat jarang melakukan ini.
"Sama-sama, Bel. Oh iya, lo sama Gala itu?" Tanya El menggantung.
"Kenapa emangnya?" Tanya Abel.
El menggeleng pelan, dia tidak mau kalau Abel menganggapnya terlalu kepo. Jadi dia memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
"Gapapa, gue cuma mau bilang kalau gue masih di tempat yang sama," ucap El tiba-tiba.
Abel menelan ludahnya, ternyata pria itu masih menyimpan perasaan yang dulu pernah dia nyatakan. Sebenarnya Abel tidak pernah tega membiarkan seseorang menunggu, tapi dia benar-benar tidak bisa menerima siapapun di hidupnya. Dia hanya mencobanya untuk Galaxy sekarang.
"Gak usah dipikirin, yaudah gue pulang ya," ucap Elzard sambil terkekeh.
Abel hanya menipiskan bibirnya dan membiarkan Elzard berlalu dari pandangannya. Dia berharap agar Elzard bisa menemukan seseorang yang tepat di masa depannya nanti.
Saat Abel membalikkan tubuhnya, tiba-tiba Nia sudah ada di belakangnya, di depan pintu. Hari ini sepertinya Abel harus diceramahi lagi, pikirnya.
"Bundaa," gumam Abel sembari menyalami bundanya
"Waalaikumsalam," ucap Nia.
"Oh iya Assalamualaikum, kok Bunda udah di depan pintu aja. Ngagetin."
"Tadi pulangnya dianterin sama siapa? Cowok kan dia?" Tanya Nia sembari menatap ke arah putrinya itu.
"Elzard, Bund. Temen sekelasnya aku, kita habis kerkom," jawabnya berbohong.
"Ett gak bisa bohongin Bunda, ayok jujur kenapa bisa pulangnya dianterin sama dia?" Tanya Nia lagi. Nia sangat mengenal putrinya, jadi ketika Abel tidak menatap matanya saat membuat pernyataan, itu artinya dia sedang berbohong.
"Yaudah iya, aku kesel sama Gala. Terus dia lewat yaudah minta anter pulang," jawab Abel, kali ini dia benar-benar jujur. Dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya dan bersender di sofa..
"Di sana ada Galanya?"
__ADS_1
"Ada, sengaja aja. Udahlah Bunda, aku lagi males bahas Gala. Aku mau nginep di sini aja, aku gak mau ketemu Gala," kata Abel mutlak.
"Kurangi interaksi sama cowoknya, inget sekarang udah punya Gala. Dia suami kamu, pasti dia akan cemburu kalau liat istrinya diantar cowok lain. Emangnya kalian berantem kenapa?"
Abel hanya diam, dia tidak mau memberitahukan apa yang membuatnya marah. Bagaimana pun dia tidak ingin Gala dipandang jelek oleh orang tuanya sendiri.
"Oh kamu ngambek? Kebiasaan kalau ngambek suka cuekin orang sampe berhari-hari. Jangan gitu dong, kan kalian sudah menikah. Apapun masalahnya harus diselesaikan berdua, gak baik kalau marahan lama-lama," nasehat Nia sembari mengelus puncak kepala putrinya.
"Daripada aku marah-marah atau ngamuk ke dia? Sehari aja, Bund. Nanti besok aku pulang ke rumah Gala, ya?" Pintanya.
"Yaudah, asalkan kamu tetep bilang sama Gala ya? Bunda gak larang kamu buat di sini, malah seneng. Tapi sekarang udah beda keadaannya, kamu harus lebih utamain suami di bandingkan keluarga kamu."
Abel hanya mengangguk pasrah. Sebenarnya dia ingin sekali di rumah ini sampai 1 bulan rasanya. Semua orang pun tau tidak akan ada yang bisa meredamkan amarah Abel ketika dia benar-benar marah. Itu kenapa Nia mengiyakan keinginan putrinya.
"Jangan ngangguk doang, besok pulang dan baikan sama Gala," peringat Nia.
"Kalau itu gimana nanti, Ghazam mana?" Tanya Abel yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ada di kamar, lagi tidur dia," jawab Nia.
"Yaudah aku mau tidur sambil peluk Ghazam ya, Bund. Lumayan ngantuk," ucap Abel.
Nia mengangguk, dia memilih mengalah saja pada putrinya. Karena dia yakin kalau Gala tidak akan diam dan berusaha menyelesaikan masalahnya dengan putrinya. Meskipun anaknya putri sulung, tapi Nia tau kalau putrinya memiliki egois dan gengsi yang tinggi.
Gala memasuki rumahnya dan langsung berlari ke kamar, namun dia tidak menemukan Abel. Ponsel Abel aktif tapi dia tidak menjawab panggilannya. Gala panik, apa Elzard membawa Abel ke suatu tempat dulu ya?
"Wah parah cari kesempatan dalam kesempitan kayanya," gumam Gala.
Gala masih berusaha menghubungi Abel. Namun tiba-tiba terlintas di benaknya untuk bertanya pada ibu mertuanya. Biasa saja Abel pulang ke sana. Tanpa basa-basi, Gala pun menghubungi ibu mertuanya.
"Assalamualaikum, Bunda," ucap Gala saat Nia mengangkat teleponnya.
"Waalaikumsalam, Iya ada apa, Gal? Kok panik begitu?" Tanya Nia yang berpura-pura tidak tau apa yang terjadi pada Gala.
"Emm, Bund di sana ada Abel gak?" Tanya Gala.
"Oh adaa, kamu ke sini aja ya. Kita bicara di rumah," ucap Nia.
__ADS_1
Gala mengangguk, meskipun ibu mertuanya itu tidak melihat pergerakannya. "Iya, Bund sekarang Gala ke sana."
Tanpa mengganti pakaian dia langsung saja keluar dari kamar dan menemui Abel sekarang juga. Gala tidak suka menunda-nunda masalah, untuk itu masalah ini harus selesai sekarang juga.
Setengah jam pun berlalu, Gala menghentikan motor di depan rumah mertuanya. Dengan mantap dia memasuki rumah itu. Dia sedikit khawatir apa ibu mertuanya akan memarahinya?
"Assalamulaikum," ucap Gala saat memasuki rumah Ibu mertuanya itu.
"Waalaikumsalam," jawab Nia seraya tersenyum saat melihat menantunya datang.
Gala menyalami Ibu mertuanya itu lalu tersenyum. "Bunda gimana kabarnya?" Tanya Gala.
"Bunda baik, kalian juga gimana di sana, baik-baik aja, kan?"
"Baik, Bund. Cuma ada sedikit salah paham aja barusan. Jadi ngambek Abelnya," jawab Gala yang terlihat gugup. Dia merasa tidak enak pada Nia karena sudah memarahi putrinya. Tentu itu adalah sebuah tanggung jawab baginya.
"Gapapa, dalam rumah tangga itu kan gak selalu mulus-mulus aja, pasti ada lika likunya. Karena menyatukan dua kepala itu gak mudah. Tapi tergantung kita mengatasinya. Jangan ditunda-tunda buat menyelesaikan masalah kalian."
"Iya, Bund Gala paham. Ini mau bujuk juga, semoga gak lama marahnya. Abelnya di mana, Bund?"
"Ada lagi tidur sama Ghazam di kamar, samperin gih. Abel emang suka gitu kalau ngambek, Bunda minta maaf ya kalau Abel bikin pusing," ucap Nia seraya mengusap bahu menantunya itu.
"Gapapa, Bund. Lagian juga Gala salah, tapi Gala janji bakalan selesain secepatnya sama Abel," kata Gala mantap.
"Bagus, yaudah Bunda percaya sama kamu." Nia pun tersenyum mendengar penuturan menantunya.
"Yaudah kalau gitu Gala mau samperin Abel dulu ya, Bund?"
Nia hanya mengangguk, tentu masalah anak-anaknya dia tidak bisa ikut campur. Yang terpenting dia sudah menasehati dan berharap semoga masalah mereka cepat selesai.
Gala memasuki sebuah kamar yang ditunjukkan oleh Ibu mertuanya. Pantas saja Abel tidak menjawab panggilannya, ternyata sekarang dia sedang tertidur pulas bersama Ghazam.
"Pantes hpnya disimpen di meja," gumam Gala seraya melirik ponsel Abel yang berada di meja.
Gala duduk di pinggiran kasur sembari menatap wajah tenang Abel yang sedang tertidur. Dia merasa bersalah karena tadi memarahinya. Tapi itu di luar kendali Gala, karena Gala tidak suka terjadi kekerasan seperti tadi.
Bukannya membangunkan Abel, Gala malah ikut mengantuk melihat kedua bayi itu terlelap. Jadi dia pun memutuskan untuk ikut tidur juga. Keduanya nampak seperti orang tua muda yang memeluk Ghazam di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
Aku lagi sakit guys, jadi slow update.
Nanti aku update lagi kayanya, tapi agak maleman. Soalnya aku juga harus update novel sebelah. Happy reading~