
"Gala, inget kata mama. Kamu harus mulai belajar dewasa. Mama dan Papa titip Abel, belajar yang bener dan belajar buat lebih bertanggung jawab sama pekerjaan kamu. Jangan bikin istrinya nangis," peringat Dara.
"Iya, Ma. Mama hati-hati, jaga kesehatan," ucap Gala.
"Abel, kalau Gala macam-macam lapor aja ke papa, nanti biar papa yang bicara sama dia," ucap Ghani pada Abel.
"Iya, Pa siap. Papa sama Mama sehat-sehat ya biar bisa cepet pulang lagi ke Indonesia." Abel tersenyum lalu memeluk Dara erat.
"Iya, Sayang. Mama berharap nanti kalau mama pulang ke sini kalian udah akrab ya. Saling jaga, biar mama tenang."
Mereka pun mengangguk, jam keberangkatan sudah tiba. Mereka pun harus berpisah sekarang. Melihat orang tuanya masuk ke pintu keberangkatan membuat Gala sedikit sedih, tapi dia tidak bisa mengekspresikannya.
Kini mereka berdua pun kembali ke mobil. Abel menatap ke arah Gala yang sejak tadi terdiam. "Gal, boleh ke rumah orang tua gue gak?"
"Lo kangen mereka?" Tanya Gala.
"Iya, boleh gak?" Abel bertanya balik.
"Hmm." Gala pun mengangguk dan segera melajukan mobilnya. Di perjalanan tidak ada percakapan antara mereka, tapi Abel cukup peka dengan apa yang dirasakan Gala saat ini.
"Lo sedih karena orang tua lo pergi ya?" Tanya Abel.
"Kalau iya kenapa kalau ngga juga kenapa?" Tanya Gala balik.
"Tinggal jauh dari orang tua itu yang lagi gue alami kan? Tentu aja gue paham rasanya walaupun lo gak bilang," kata Abel.
"Ada masanya lo emang harus mandiri, lo gak akan selamanya hidup sama mama papa lo, ada saatnya lo jauh dari mereka suatu saat nanti kaya tinggal sama istri dan anak lo."
"Sama lo?" Tanya Gala.
"Ck skip. Maksud gue suatu saat lo pasti harus berdiri sendiri, orang tua kita juga gak selama hidup, kan? Jadi sedih itu wajar, tapi lo harus beradaptasi juga. Kalau lo gak cepat buat nerima perubahan, lo bakalan terkurung sama perasan lo sendiri."
"Lo jago ya buat nasehatin orang, tapi gak jago buat nasehatin diri sendiri. Kenapa gak coba lo terapin ke diri lo sendiri yang katanya harus cepat buat nerima perubahan?"
__ADS_1
Abel menghela napasnya. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan Gala. Niatnya ingin memotivasi malah terpojok.
.
.
.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Abel terus memeluk bundanya dengan erat. Dia sangat merindukan bundanya, padahal baru beberapa hari. Dia juga rindu pada adik kecilnya. Biasanya dia selalu menghabiskan waktu bersama bayi kecil itu.
Seperti sekarang, Abel tengah sibuk bermain dengan Ghazam di taman. Rasanya dia sangat merindukan adik kecilnya itu sampai tidak berhenti menciuminya. Ghazam pun sepertinya sama, karena sejak tadi dia tidak ingin lepas dari pangkuan Abel.
Gala menatap Abel dari pintu, dia ingin menghampiri Abel, namun sepertinya Abel butuh ruang untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya. Nia yang melihat itu langsung menghampiri Gala.
"Abel itu emang cuek, keras kepala, dia gak mudah buat nerima suatu hubungan," ucap Nia sambil memandangi putrinya itu.
"Abel punya trauma," lanjut Nia pelan.
"Trauma apa, Bund?" Tanya Gala yang mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
"Bund?" Panggil Gala yang tak mendapat respond.
"Bunda sama Ayah gak pernah melarang Abel buat ikut taekwondo. Bahkan sejak kelas 8, ayah yang mendaftarkan Abel ke pelatihan taekwondo."
"Waktu kelas 7 Abel mempunyai 2 orang teman perempuan dan 2 orang teman laki-laki. Yang laki-laki ini kakak kelasnya dia, mereka kenal karena dulu satu perumahan yang kebetulan satu sekolah. Hampir setiap hari mereka main ke sini," lanjut Nia.
"Terus, Bund?" Entah kenapa dia ingin mengetahui banyak dari gadis itu, sampai-sampai tak biasanya dia mendengarkan orang dengan seksama.
"Sampai suatu hari 2 orang laki-laki temannya Abel itu mulai mengenal pergaulan bebas dan mencoba melakukan pelecehan terhadap Abel. Kedua teman perempuannya tidak ada yang membantu Abel dan pergi meninggalkan Abel saat Abel diseret ke sebuah gudang." Nia meneteskan air matanya, sebagai seorang ibu Nia terluka jika mengingat kejadian itu.
Gala mengelus bahu ibu mertuanya itu agar merasa lebih tenang. "Setelah itu gimana, Bund?"
"Waktu itu Abel gak bisa berbuat apa-apa, dia ketakutan karena ternyata di sana juga banyak yang lain katanya. Dia cuma gadis lugu yang lemah. Syukurnya ada seorang penjaga sekolah yang melewati itu, jadi sebelum Abel diapa-apakan, dia ditolong oleh penjaga itu. Bahkan saat itu dia menangis sangat keras, bunda masih ingat. "
"Meskipun gak terjadi apa-apa sama Abel, tapi dia masih mengingat hari itu, dia pernah sempat trauma. Mungkin sampai sekarang dia trauma untuk memulai suatu hubungan, itu kenapa Abel tidak pernah memiliki teman dekat. Dia benar-benar trauma dan itu alasannya kami tidak pernah melarang Abel untuk ikut taekwondo. Agar dia bisa menjaga dirinya sendiri," lanjut Nia.
__ADS_1
"Lalu, kakeknya Abel?"
"Beliau tidak mengetahui kejadian itu, karena tentu akan sangat marah besar dan tidak ada ampun bagi pelakunya. Menurut Bunda, mereka direhabilitasi dan dihukum sudah cukup. Karena Bunda merasakan menjadi orang tua mereka yang sampai sujud meminta maaf."
Gala mengangguk, kini dia paham kenapa Abel dengan kepribadiannya saat ini. Gala bahkan tidak pernah menyangka kalau Abel pernah mengalami hal buruk seperti itu.
"Jadi, Gal. Jangan tinggalkan Abel dalam kondisi apapun ya? Bunda yakin suatu saat dia bisa menerima hubungan ini. Oh engga maksudnya kalian. Bunda juga belum tau kesiapan kamu bagaimana. Tapi yang bunda selalu doakan adalah agar kalian bisa terus bersama-sama menjalani pernikahan ini."
"Iya, Bund. Akan Gala usahakan ya," ucap Gala pelan.
Nia lega mendengar penuturan Gala. Dia yakin kalau suatu hari mereka bedu akan saling mencintai dan perlahan trauma yang ada pada diri Abel akan memudar. Nia hanya menunggu hari itu datang.
"Yaudah, kamu samperin gih. Ghazam anaknya aktif dan friendly dia suka digendong sama siapa aja," kata Nia.
Gala pun mengangguk dan tersenyum. " Makasih ya, Bund udah cerita sama Gala." Gala langsung menghampiri Abel dan Ghazam yang berada di taman sambil memainkan anabul.
Abel menatap Gala yang tiba-tiba saja menghampirinya. "Mau pulang?"
"Mau main sama Ghazam." Gala langsung ikut duduk di rumput dan mengajak Ghazam bermain.
Ghazam pun tertawa, sesekali Gala mengelus rambut bayi itu. "Bel, gue mau gendong dia."
"Ya tinggal gendong," kata Abel santai.
"Gak bisa, mana pernah gue gendong bayi," ucap Gala.
"Ck yang bener aja lo." Abel pun mengambil Ghazam dan mendudukkannya di pangkuan Gala.
Ghazam tertawa melihat wajah kakaknya dan itu membuat Abel gemas melihatnya. "Apa azam, kangen aku banget iya? Hmm? My prince." Abel memainkan kedua tangan Ghazam dan membuat bayi itu tertawa renyah.
"Pangg!!" Kata Abel sambil membentuk tangannya seperti pistol, Ghazam pun seperti paham dan langsung pura-pura tertidur.
Gala tersenyum melihat tingkah Abel dan Ghazam. Dia jadi merasa mempunyai keluarga kecil. Baru kali ini dia merasakan menggendong bayi, bahkan kakaknya pun tidak pernah mengizinkannya untuk menggendong keponakannya sendiri.
Nia yang melihat itu pun tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan moment mereka. Nampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Semoga kelak itu memang benar-benar terjadi.
__ADS_1