
Gala memasuki rumah, suasananya nampak sepi. Tidak seperti biasanya, karena tentu biasanya Abel akan menyambutnya saat pulang kerja. Apa dia sakit atau terbaring di kamar yang pasti itu membuat Gala khawatir.
Gala menghampiri Ida yang sedang menyiapkan makan malam. "Abel kemana?"
"Ibu sejak tadi diam di lantai dua, Pak?" Jawab Ida.
"Seharian dia ngapain aja? Makannya berapa kali, kamu tau?" Tanya Gala lagi.
"Ibu tadi pagi menghabiskan waktu di kamar Azriel, Setelahnya menghabiskan waktu di lantai dua, Pak. Sepertinya sudah makan saat tadi Ibu Dara ke sini," jawab Ida.
Gala mengangguk, setelah dia mengganti baju. Dia mengambil makanan dan membawanya ke lantai dua. Terlihat Abel sedang terdiam menikmati langit malam di sofa sambil memegang baju kecil milik Azriel. Bahkan sepertinya dia belum menyadari kehadiran Gala.
Gala duduk di samping istrinya dan menyimpan makanannya di meja. Gala lalu mengusap rambutnya dengan lembut. "Dari tadi kamu di sini?"
Abella kembali dari alam bawah sadarnya dan menatap Gala. Kamu udah pulang? Kenapa gak panggil aku?" Tanya Abel.
"Engga, aku tau kamu harus banyak istirahat. Tadi mama ke sini?" Tanya Gala lagi.
Abel mengangguk. "Iya tadi mama ke sini, sekalian mau belanja bulanan katanya. Jadi gak lama juga."
Gala mengangguk lalu mengambil makanan di meja. "Kamu makan dulu, aku tau kamu belum makan."
Abel menatap Gala, suaminya ini begitu perhatian. Padahal dia baru pulang kerja. Seharusnya Abel yang melayaninya, bukan seperti ini. Abel menaruh baju Azriel di sampingnya, perlahan Abel mengambil piring dari tangan Gala dan menyendokan makanan pada sendoknya.
"Kamu gak perlu kaya gini tau, aku pasti makan kalau aku mau. Kamu yang harusnya makan, kamu baru pulang kerja. Aaa." Abel mendekatkan sendok pada bibir Gala.
"Aku gampang, kamu yang belum makan. Ida bilang kamu makan waktu ada mama aja," kata Gala.
"Aku gak lapar, kamu tau sendiri aku makannya semaunya. Cepet buka mulutnya," balas Abel.
Gala akhirnya menurut saja, sudah lama juga dia tidak disuapi oleh istrinya. "Kalau kita ambil liburan ke luar kota mau?"
"Mau kemana?" Tanya Abel sambil menyendokan kembali makanan pada sendoknya.
__ADS_1
"Kemana pun kamu mau boleh, ke luar negeri juga boleh kalau kamu mau," jawab Gala.
"Nanti aku pertimbangin kalau udah sehat ya," ucap Abel sambil tersenyum dan mendekatkan sendoknya lagi pada bibir Gala.
Gala mengubah arah suapannya pada bibir Abel. "Kamu juga makan, biar aku tenang. Kan biar cepet juga sembuhnya."
Abel terdiam, namun Gala memaksanya. Jadi ya dia lakukan saja dan mengunyah makanannya. Padahal dia memang tidak berselera makan.
"Besok Dinda mau ke sini, gapapa kan?" Tanya Abel pada Galaxy.
"Bukannya dia di luar negeri? Kok bisa ke sini?" Tanya Gala berbalik.
"Aku gak tau, dia cuma bilang mau ke sini besok. Makanya aku izin," kata Abel.
"Ya gapapa, biar kamu juga ada temennya. Sekalian keluar juga boleh." Gala mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sesuatu di sana.
"Udah aku transfer ke rekening kamu kalau mau keluar." Gala memperlihatkan ponselnya.
Abel menatap Galaxy, tidak salah kah dia memberikan tiga dijit ke rekening Abel? Padahal belum tentu juga mereka akan keluar. "Kenapa banyak banget? Padahal aku belum tentu keluar rumah."
"Gapapa, Sayang. Kalau gak keluar ya pakai aja belanja online, habisin," ucap Gala sambil tersenyum dan mengelus pipi istrinya.
Meskipun Abel tidak gila belanja tapi dia merasa senang, Gala akan melakukan apapun untuknya, bahkan dia bisa saja mengirim uang lebih dari itu. Tidak habis pikir memang, tapi Gala memang melakukan tugasnya dengan baik.
Dinda langsung memeluk Abel saat mereka bertemu. Dinda lupa kalau dia tidak tau alamat rumah Abel yang baru, akhirnya mereka janjian di suatu cafe dalam mall.
Mereka berdua pun duduk berhadapan. Sudah lama sekali rasanya mereka berdua tidak bertemu. Mereka berdua pun memesan makanan setelah itu mengobrol panjang lebar.
"Din apa kabar?" Tanya Abel.
"Gue baik-baik aja, gue yang harusnya nanya. Lo udah baik-baik aja?" Tanya Dinda khawatir.
"Gue baik-baik aja, ya apalagi yang gue lakuin di sana. Rebahan, makan, nugas, ngampus. Gitu-gitu doang, ya kegiatan mahasiswa pada umumnya," jawab Dinda.
"Bagus, nilai lo aman kan?" Tanya Abel lagi.
__ADS_1
"Aman kok, walaupun tidak sepintar ibu Alaric tapi alhamdulillah gue bisa mengikuti pembelajaran di sana. Ya walaupun awalnya sempet culture shock juga."
"Gapapa kan itu awal, setidaknya lo bisa menyesuaikan sekarang," kata Abel sambil tersenyum.
" Btw darimana tau keadaan gue sampai lo pulang ke sini?" Tanya Abel.
"Dari Raka lah siapa lagi? Gue gak habis pikir sama kelakuan si Jela. Gue turut berduka ya, Bel," ucap Dinda pelan, dia tau sekali bagaimana perasaan Abel sekarang. Meskipun dia belum tau rasanya jadi ibu, tapi dia paham kalau itu pasti menyakitkan.
"Makasih ya, Din. Gue agak terharu aja karena lo sampai pulang kaya gini," kata Abel.
"Ya lo temen gue, walaupun gak tepat waktu tapi setidaknya gue ada di masa-masa tersulit lo. Lo pasti sedih banget ya?"
Abel sedikit terkekeh. "Ya namanya juga kehilangan anak, Din. Gue sampai gak tau gimana cara ungkapinnya. Tapi perasaan gue jauh lebih baik kok daripada sebelumnya."
"Gue pertama kali denger itu rasanya pingin pulang detik itu juga, tapi gue harus pesen tiket pesawat dulu yang selalu sold out. Jadi baru bisa sekarang."
"Gapapa santai aja."
Pesanan mereka pun datang, Abel membeli steak pasta dan juga milkshake coklat, sementara Dinda memesan steak dengan cappucino. Mereka berdua pun menikmati makanan mereka.
"Bel," panggil Dinda.
"Apa, Din." Abel mengalihkan pandangannya dari piring menuju Dinda.
"Lo beneran udah baik-baik aja? Gue rasa raut wajah lo gak mencerminkan keadaan sebenernya?"
"Not bad, but not good too. Cuma gue udah mulai membiasakan diri aja. Gue masih punya Gala, gue gak mungkin stuck di tempat yang sama. Gala juga pasti butuh gue buat sosok istrinya."
"Akhir-akhir ini gue kayanya sibuk sama perasaan gue sendiri, sampai lupa kalau Gala gue diemin. Gue juga ngerasa bersalah. Gue gak mikir kalau yang kehilangan bukan cuma gue, tapi Gala juga."
"Iyasih itu pasti berat buat kalian juga, tapi Gala pasti ngerti sama kondisi lo sih. Bukannya lo pernah bilang kalau dia adalah cowok yang paling pengertian?" Tanya Dinda.
Abel mengangguk. "Ya karena dia terlalu perhatian, makanya gue gak enak. Ya seharusnya gue juga melakukan hal yang sama kan ke dia? Jad gue pikir, walaupun berat gue pelan-pelan harus bisa bangkit."
Dinda tersenyum mendengar penuturan Abel. Ternyata ya Abel memang masih sama. Seseorang yang mempunyai pemikiran dewasa. Sejak kemarin dia takut dan cemas. Karena katanya orang yang mengalami seperti Abel akan merasa stress berat atau larut dalam kesedihannya. Tapi sejauh ini untunglah Abel tidak seperti itu.
__ADS_1
"Bagus kalau pemikiran lo kaya gitu, gue jadi lega. Gue cuma takut lo kenapa-kenapa. Tapi apapun itu, gue cuma mau bilang. Kalau lo butuh apa-apa ya bilang aja sama gue, cerita juga. Jangan dipendem sendiri ya, Bel."
Abel mengangguk, ya meskipun mereka tidak menyatakan kalau mereka bersahabat, tapi ikatan mereka sudah sangat dekat. Bahkan lebih dari seorang sahabat.