Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Pagi Yang Panas


__ADS_3

Aku hari ini update 1 bab guys, karena 2 bab aku jadiin 1. Soalnya udah pusing revisian karena banyak sensor kemarin, maklum aku baru pertama kali buat genre romance hmmm. Jadi part ini panjang kok. Happy reading~



"Emphh, Gaall. Aku mau pipiss," cicitnya di sela napas yang memburu.


Gala mengangkat wajahnya dan menatap wajah Abel yang kini akan mencapai puncaknya untuk pertama kali. "Keluarin aja, Sayang. Do it!" suara berat Gala menginstruksi kali ini. Namun Abel menggeleng, tidak mungkin dia mengeluarkannya di sini. Ya memang pada dasarnya Abel tidak tau kalau sekarang dirinya berada dipuncak kenikmatannya sendiri.


Gala mempercepat gerakan jarinya membuat gadis itu mengigit bibir bawahnya. Susah payah dia menahan, akhirnya dia keluar untuk pertama kali. Gala membalas tatapan istrinya yang kini menatapnya sayu. Abel terlihat lebih cantik saat seperti ini.


Gala menciumi wajah istrinya, memberinya jeda karena dia pasti lemas sesudah pelepasannya.


Napas Abel sedikit lebih normal, dia malu sekarang sudah tidak mengenakan apa-apa di hadapan Gala. Sementara Gala justru sedang mengagumi keindahan Tuhan yang baru pertama kali dia lihat. Ya tubuh istrinya. Sesekali Gala mengelap keringat yang keluar dari pelipis gadis itu.


"Galaa, jangan liatin kaya gitu aku malu," cicit Abel.


"Kenapa malu? Aku suami kamu dan cuma aku yang boleh liat kamu dalam keadaan polos kaya gini. Kamu lebih cantik gak pake apa-apa ternyata," puji Gala sembari mengecup bibir istrinya.


Abel blushing, entah kenapa dia malah tersipu malu karena pujian itu. "I-ini udah kan? Gitu aja kan?"


Gala terkekeh. "Belum juga sampai intinya, Sayang. Boleh aku lanjut?"


Apa? Awal katanya? Abel pikir semuanya sudah selesai, dia menikmatinya memang, tapi dia masih sedikit canggung karena tidak memakai apa-apa begini.


"Sayang, boleh?" Tanya Gala sembari mengelus pipi Abel dengan lembut.


Abel mengangguk pelan, biarkan saja Gala mendapatkan haknya kali ini. Lagi pula sudah setengah jalan, jadi dia mengiyakan saja.


Sebelum memulai intinya Gala kembali mencium dan menyesap bibir Abel serta mengusap-usap tubuh gadis itu guna membangkitkan kembali suasana magis diantara mereka. Perlahan ciumannya turun ke leher, membuat beberapa tanda merah lagi di sana, setelah itu ciumannya turun ke dada dan perut rata istrinya. "Nanti aku mau nitip anak aku di sini."


Gala turun dari kasur dan menurunkan celana. Abel tertegun melihat milik Gala yang kini berada di hadapannya. Abel langsung menutup matanya karena takut, ternyata benda itu lebih besar dari pada dugaannya. Perasaan milik Ghazam kecil. Dia jadi bergidik ngeri.


"Gal itu gak dimasukin ke situ, kan?" Tanya Abel polos, tidak mungkin dia tidak tau. Dia anak IPA dan belajar reproduksi, tentu dia tau bagaimana cara berkembang biak meski tidak tau detailnya.


"Dimasukin, kalau gak masuk gimana jadi babynya?" Tanya Gala terkekeh. Gala kembali menaiki tubuh Abel dan menatapnya. Perlahan Gala menyingkirkan tangan dari wajah cantik Abel.


"Kenapa?" Tanya Gala.


"Itu emang muat masuknya? Takut, ini pertama kalinya buat aku," ucap Abel jujur.


Gala mengecup bibir Abel dan memberikan jilatan kecil di sana. "Muat, Ini juga pertama kalinya buat aku, kita lakuin sama-sama ya. Aku pelan-pelan. Kalau sakit cakar aja, atau pukul aku, jambak juga boleh. Anything, biar sakitnya sama-sama."


Gala tersenyum saat Abel menganggukkan kepalanya. Dia memastikan kembali kalau di sana masih basah, ya foreplay yang dia lakukan ternyata berhasil.


"Jangan tegang, biasa aja. Liat dia udah bangun minta masuk ke sana," ucap Gala menunjuk miliknya.


Abel tidak berani melihat, dia hanya memalingkan wajahnya dan berharap dia akan baik-baik saja.


"Aku masukin ya?"


Gala mulai memasukan miliknya ke lubang milik Abel. Perlahan dia mendorongnya, tapi meskipun dia berhati-hati tetap saja membuat Abel meringis dan mencengkeram sprei dengan kuat.


"Rileks, Baby. Jangan diketatin." Gala tidak tega melihat istrinya kesakitan, dia pun kembali mencium bibir Abel, menyesap bibirnya dengan kuat dan memainkan tangannya di dada Abel agar membuat gadis itu bisa sedikit teralihkan dari rasa sakitnya.


Abel mencakar punggung suaminya itu dengan kuat dan melepaskan tautan bibir mereka. Rasanya benar-benar sakit sampai tidak sadar air matanya jatuh. "Gal, sa- kitttt. Eemmhh."


Dengan susah payah akhirnya milik Gala berhasil menembus pertahanan. Abel merasa ada bagian yang robek di bawah sana. Rasanya sakit dan juga semakin terasa perih. Gala menatap wajah istrinya, perlahan dia menghapus air matanya dan mengecupi bibirnya. "Bel, Makasih kamu udah percaya aku buat memiliki kamu seutuhnya."


Abel terharu sebenarnya, tapi dia tidak bisa mengungkapkan apa-apa. Akhirnya Abel memberanikan diri untuk menautkan bibirnya pada Gala. Kali ini bahkan Abel yang lebih agresif, dia menuangkan rasa sakitnya ke sana. Beberapa menit membiarkan miliknya di dalam, Gala mencoba untuk memaju mundurkan miliknya di sana. Abel yang masih merasa sakit spontan mengigit bibir Gala. Namun Gala mencoba membiasakannya.


Semakin sering Gala memaju mundurkan miliknya, membuat rasa sakit itu perlahan menjadi kenikmatan yang sulit dijelaskan. "Eunghhh, Galaaa. It's soo deep." Abel melenguh apalagi saat milik Gala menyentuh titik manis di sana. Abel mulai menikmati permainan ini dengan erangan-erangan yang keluar dari mulutnya.


"Emmhh so tight, Baby!" Erang Gala dengan suara baritonnya.


milik Gala menghantam titik manis Abel berulang-ulang, membuat keduanya merasakan kenikmatan dunia dengan ikatan pernikahan yang sah. Kini mereka berdua sama-sama mencapai puncaknya. Cairan Gala sudah memenuhi rahim Abel dan keringat keduanya sudah membasahi seluruh tubuh.


Gala menarik miliknya dan langsung memeluk Abel, membawa gadis itu kedalam pelukannya. Mereka berdua bertatapan sembari menetralkan deruan napasnya. Gala mengecup bibir Abel dengan lembut. "Thanks for tonight."

__ADS_1


Abel mengangguk, untuk sesaat dia tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Gala. "Gal."


"Hmm? Kenapa? Masih sakit ya cantikku?" Tanya Gala. Gala menarik selimut mereka, dia tidak mungkin sampai beronde-ronde. Kasian juga Abel. Meskipun sebenarnya dia masih ingin.


"Sakit, tapi gapapa. Aku boleh nanya sesuatu?" Abel menatap suaminya itu meminta persetujuan.


"Boleh, tanya aja lah."


"Kamu udah sering main sama perempuan lain ya?"


"Astagfirullah, engga. Kenapa bisa mikir kaya gitu, Baby?" Gala menciumi bibir istrinya itu gemas. Kenapa dia tiba-tiba overthingking.


"Kamu kaya udah pro banget. Kaya bukan pertama kali," ucap Abel. Ya memang benar sih, bagaimana tidak? Gala berhasil membuat Abel yang tadinya tidak mau, menjadi menikmati permainan mereka.


Gala terkekeh. "Engga, Sayang. Cuma sama kamu, ini first time juga juga buat aku. Aku bisa karena aku cowok, punya insting. Udah aku bilang, hubungan kaya gitu andelin insting sama logika."


"Masa sih?"


Gala mengeratkan pelukannya dan mengelus punggung Abel lembut. "Udah, trust me. Aku ngelakuinnya cuma sama kamu. Sekarang kamu tidur, pasti cape aku recokin malam ini."


Abel pun hanya mengangguk, memang tubuhnya sedikit berat sekarang dan tanpa perlu waktu lama dia pun sudah tertidur di pelukan Gala. Sementara Gala masih betah memandangi istrinya yang kini tidak menggunakan sehelai benang pun. Dia merasa bangga sendiri karena bisa menggagahi Abel.


.


.


.


Abel mengerjapkan matanya dan mendapati Gala yang masih tertidur di sampingnya. Sejenak Abel melirik ke arah suaminya itu, ingatannya kembali memutar di saat tadi malam Gala menyentuhnya.


Sekilas Abel melengkungkan senyumnya, menatap Gala yang masih tertidur ternyata menyenangkan. Suaminya tampan, penyayang, bertanggung jawab dan omongannya bisa dipegang. Bahkan semalam saja dia benar-benar menepati janjinya untuk bermain dengan lembut.


"Sampai kapan mau liatin aku terus hm?" Tanya Gala sembari membuka matanya dan tersenyum.


Abel memalingkan wajahnya. "Aku gak liatin kamu geer." Abel berusaha melepaskan pelukan Gala, namun Gala malah semakin mengeratkan pelukan pada istrinya dan membenamkan wajah di ceruk leher Abel.


Gala mendusel di sana, sesekali dia mencium dan menghirup aroma tubuh Abel. Meskipun mereka berkeringat semalam, tapi istrinya ini tetap wangi dan membuatnya candu. "Nanti aja, aku masih suka liat kamu kaya gini."


"Mesummm!!!"


"Mesum-mesum gini kamu nikmatin juga kan tadi malem?" Goda Gala.


"Isshh males banget." Abel pun mencoba bangun namun dia meringis, ternyata bagian bawahnya masih terasa sakit.


"Masih sakit ya?"


Abel mengangguk pelan. Gala tersenyum lalu mengecup bibir Abel. Perlahan Gala turun dari ranjang dengan hanya memakai boxer hitamnya dan memasuki kamar mandi. Entah apa yang akan dia lakukan. Abel melirik ponselnya, melihat beberapa notif pesan di sana. Ya seperti biasa hanya beberapa pesan tidak penting.


Beberapa menit berlalu, Gala pun keluar dari kamar mandi. Perlahan dia menggendong istrinya ala brydal. Abel terkejut dengan apa yang suaminya itu lakukan. "Mau ngapain?"


Gal tidak mendengarkan istrinya itu, dia membawa Abel ke kamar mandi dan menaruhnya di dalam bathub yang sudah berisi air hangat. Perlahan Gala menaruh ponsel Abel di pinggir bathub. "Katanya mau mandi, aku tau cantikku yang di bawah masih sakit. Jadi biar seharian ini aku yang gendong kamu kemana-mana. Kalau udah selesai panggil aja." Gala mencium puncak kepala istrinya dan keluar dari kamar mandi.


Abel tersenyum, ternyata pria itu memang sangat perhatian. Padahal biasanya pria jika sudah dapat apa yang mereka inginkan, akan melakukannya berulang-ulang.


Sejenak Abel menghela napasnya, akhirnya dia bisa melakukan kewajibannya sebagai istri. Ternyata tidak terlalu buruk, ya hanya saja sakit sekali. Dia menikmati tubuhnya yang terendam air hangat, memang badannya ini terasa berat, bagian dadanya juga terasa sakit karena semalam Gala tak jarang mencubit atau menggigitnya.


"Kalau udah ngelakuin apa gue bakalan hamil?" Ucapnya pada diri sendiri. Perlahan dia mengelus perutnya sendiri, di dalam sana kini sudah ada benih Gala, sepertinya akan lucu kalau dia punya anak.


Abel menggelengkan kepalanya, pemikirannya ini bukannya terlalu jauh? Bahkan mereka saja baru melakukannya. Akhirnya dia pun melanjutkan mandinya.


Tiga puluh menit berlalu, Abel telah menyelesaikan mandinya. Setelah itu dia keluar dengan menggunakan bathrobe dan melihat kelakuan aneh Gala di kasur.


"Kamu ngapain?" Tanya Abel.


Gala kembali memfoto objek yang dia tuju, lalu menatap Abel. "Kenapa gak manggil? Emang udah bisa jalan?"


Gala menghampiri Abel lalu menggendongnya dan mendudukkan di kursi depan meja rias. Gala berlutut lalu menciumi punggung tangan istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu tadi ngapain? Tanya Abel kembali bertanya.


"Abadiin darah yang keluar dari kamu semalem lah, itu tandanya kamu milik aku seutuhnya hari ini. Jadi harus diabadiin," jawab Gala sambil tersenyum.


Abel menggelengkan kepalanya, ada-ada saja kelakuan ajaib suaminya ini. Lagi pula untuk apa juga diabadikan? Mereka juga tidak mungkin memajangnya.


"Cantikku udah gapapa?" Tanya Gala.


"Aku gapapa, Sayang. Aku masih bisa jalan kok walaupun masih sakit, tapi gak terlalu sakit juga." jawab Abel. Entah kenapa Gala sangat gemas menurutnya.


"Yaudah ayok, Baby," ajak Gala.


"Ayok apa?" Tanya Abel tak mengerti.


"Ayok kita buat adek," jawab Gala to the point sambil menggendong Abel ala brydal.


"HAHH?! Kan udah semalem," ucap Abel kaget.


Gala merebahkan Abel di kasur, perlahan dia membuka kimono yang masih melekat pada gadis itu. "Kita harus sering buatnya, Sayang. Biar cepet-cepet jadi kecebongnya."


"Gak mau, sakitt," tolak Abel.


"Yang kedua kalinya gak akan sakit," ucap Gala meyakinkan.


Abel menghela pasrah saat Gala mulai menciumi lehernya, sedikit menyesal karena tadi menganggap suaminya berbeda dari yang lain. Ternyata pria sama saja, sama-sama bernafsu besar.


.


.


.


Gala tersenyum kembali saat melihat istrinya tidak memakai sehelai benang pun. Olahraga pagi ini mereka lakukan dengan beronde-ronde. Dari mulai ke kasur, kemudian pindah ke meja rias, kemudian berpindah lagi ke Gazebo kolam renang. Gala mempunyai jiwa petualang, jadi dia senang melakukannya di mana-mana. Iya, Gala. Pada akhirnya Abel yang kewalahan menghadapinya.


Gala menciumi pipi Abel yang kini sedang fokus pada ponselnya dan Abel pun melirik ke arah Gala. "Jangan bilang mau lagi."


Gala terkekeh, dia tau kalau Abel sudah kelelahan pagi-pagi begini. Dia pun masuk ke dalam selimut lalu menciumi perut Abel. "Sayang, bayi-bayi kecebong aku udah ada yang bisa nembus pertahanan gak ya?"


"Bayi kecebong?" Abel memukul lengan Gala pelan. "Terus kalau misalnya jadi nanti anak kita kodok gitu?"


Gala terkekeh. "Engga lah, anak kita nanti hasilnya cantik atau ganteng. Soalnya papanya Galaxy."


"Gak, anak kita harus kaya aku. Soalnya papanya mesum," balas Abel.


"Loh, banggalah mereka. Berkat kemesuman papanya mereka ada di dunia," goda Gala.


Abel menutup mulut Gala dengan tangannya. Lebih baik seperti ini saja, pembahasan mereka kali ini memang tidak benar. Gala melepaskan tangan Abel dari mulutnya, perlahan dia mengusap-usap perut rata Abel.


"Bayi-bayi kecebong, kalian harus ada yang menembus pertahanan ya. Biar bisa ketemu sama mama papa di dunia. Nanti papa ceritain gimana galaknya mama kalian waktu pertama kali nikah, nanti papa ceritain gimana gemesnya mama kalian dan nanti papa ceritain gimana papa bisa jatuh cinta sama cewek galak, tapi perhatian kaya mama kalian," ucap Gala berbicara pada perut Abel.


"Kamu tau gak, Bayi. Mama kamu itu wanita hebat, bisa segalanya. Kamu bakalan bangga punya mama kaya dia, nanti kita rebutan mama berdua, gangguin kalau mau tidur, jailin mama sampai kesel. Ini bisa langsung jadi aja gak sih, Bel anaknya? Langsung lahiran juga kalau perlu."


Abel terkekeh mendengarnya, dia pun mengusap wajah Gala pelan. "Belum ada heh anaknya."


"Lama."


"Ya lama buat ukuran orang gak sabaran kaya kamu. Bayi kok mau punya bayi," cibir Abel.


"Aku bukan bayi! Aku suami kamu!"


"Tapi kelakuannya kaya bayi. Suka manja, suka gak sabaran, sekarang nambah jadi suka susu. Liat dada aku aja lecet kamu mainin terus," kesal Abel.


Gala gemas sekali dengan perkataan Abel, lalu memeluk tubuh gadis itu. "Suka semua yang ada di kamu. Pokoknya aku bukan bayi, tapi papa dari bayi kita nanti." Gala menciumi bibir Abel dengan lembut.


"Mandi bareng yuk?" Ajak Gala.


Abel menggeleng cepat, dia sudah tau kalau Gala ikut pasti akan menjadi olahraga pagi lagi. Dia pun menyingkap selimut dan langsung berlari ke kamar mandi. Gala bagaimana? Dia tidak tinggal diam tentunya dan langsung mengejar Abel untuk masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Selanjutnya seperti apa? Silahkan travelling sendiri.


__ADS_2