
Abel nampak tidak fokus saat mengerjakan soal, sesekali dia melirik ponselnya yang sengaja dia letakan di atas meja. Dia pikir jika jauh dari Gala akan membuatnya tenang, tapi ternyata malah membuatnya semakin pusing.
"Lo kenapa sih?" Tanya Dinda yang sedari tadi sadar akan tingkah Abel yang tidak biasanya.
"Gapapa, gue kebelet. Mau ke toilet dulu," ucap Abel.
"Mau gue anter?" Tanya Dinda.
Abel menggeleng, dia beranjak dan meminta izin kepada guru yang sedang mengajar untuk pergi ke toilet. Setelah mendapat izin baru lah dia keluar kelas.
Di koridor nampak sepi, tiba-tiba saja dia berpapasan dengan Karin. Dengan angkuh Karin menghampiri Abel. "Hai pelakor."
"Apa? Gue gak ada waktu buat ladenin lo, jadi to the point!"
"Gue heran kenapa Gala kayanya luluh banget sama lo, lo jual tubuh lo ke Gala ya?" Ucapnya setengah berbisik.
Abel mengepalkan tangannya, mulut wanita ini tidak bisa dibiarkan. Tapi sebisa mungkin dia tahan agar tidak terjadi masalah.
"Lo diem, artinya iya?" Tanyanya memastikan.
"Gue gak serendah yang lo pikir, shut up!" Balas Abel dingin.
"Murahan ya murahan aja kali, mau lo tutupin juga satu sekolah mikirnya gitu. Bukan gue loh ya, orang-orang juga-"
"Abella." Sebuah suara muncul dari belakang Karin dan sontak membuatnya berbalik.
Abella langsung menghampiri pria itu seraya menyalaminya. Mau bagaimana pun dia kakeknya juga karena sudah menikah dengan Gala.
"Ka-"
"Grandpa apa kabar?" Tanya Karin yang kini ikut menyalami Jonh.
"Kamu?" Tanya Jonh sembari mengingat-ngingat gadis yang ada di hadapannya ini.
"Karin, temen Jela pacarnya Gala," jawab Karin cepat sambil tersenyum miring ke arah Abel.
__ADS_1
"O-oh temen pacar Gala?" Tanya Jonh yang justru menatap ke arah Abel.
Abel hanya terdiam, dia tidak harus menjawab apa. Tidak mungkin dia ikut campur soal masalah Karin. Jadi dia memilih diam saja. Jonh sepertinya mengerti.
"Abella, saya ada perlu sama kamu. Bisa ke ruangan saya?" Tanya Jonh.
Abel mengangguk pelan. "Baik, Pak."
"Kalau begitu saya tinggal dulu ya," ucap Jonh yang dihadiahi senyuman oleh Karin. Sebenarnya Karin ingin caper tapi sepertinya pria tua itu sedang ada urusan, apa mungkin Abel melakukan kesalahan? Oh tentu Karin akan senang jika itu terjadi.
Abel mengikuti Jonh dari belakang, rasanya tidak enak jika menganggapnya kakek di sekolah begini. Salah-salah dia bisa menjadi perbincangan publik. Abel memasuki ruangan itu dan duduk saat sudah di persilahkan.
Sebenarnya Abel masih merasa canggung, meskipun sekarang sudah menjadi cucu dari Jonh. Entahlah, mereka saja baru berinteraksi dua kali. Saat malam itu dan pada saat pernikahan.
"Gimana kabar Ayah Bundamu?" Tanya Jonh sembari menatap cucunya dengan hangat.
"Baik, Kek. Ayah sama Bunda baik-baik aja kok. Kakek juga apa kabar?" Tanya Abel menimpali.
"Baik, hanya saja kedua cucunya ini terlalu asik dengan rumah tangganya sampai belum sempat menjenguk kakeknya ke rumah," ucap Jonh sambil terkekeh.
Abel hanya tersenyum kaku. "Emm maaf, Kek. Belum diajak sama Gala. Tapi nanti akan Abel ingatkan kok untuk selalu menemui kakek."
Abel berpikir, ini bukan ranahnya untuk menjelaskan. Tapi dia tidak mau kalau Gala diomeli oleh kakeknya. Lagi pula Jela dan Gala tidak memiliki hubungan lagi, jadi Abel rasa tidak apa-apa kali ya memberitahu Jonh.
"Engga, Kek itu mantannya Gala. Mereka udah gak berhubungan lagi, Kok," jawab Abel.
"Betul? Bukan untuk menyembunyikan kesalahan Gala, kan? Kalau memang benar dia sepeti itu dan menyakiti kamu, biar kakek yang memberi dia pelajaran," ucap Jonh.
"Engga, Kek. Gala udah gak ada hubungan lagi sama dia. Cuma emang mantan kan susah dilupain jadi jela sama teman temannya masih anggap Gala pacarnya Jela." Jujur sebenarnya Abel tidak tau harus jawab apa, jadi dia menjawab sekenanya.
"Oh begitu. Lalu sekarang hubungan kalian bagaimana?" Tanya John.
"Gimana apanya ya, Kek?" Tanya Abel tidak mengerti.
"Apa kalian sudah bisa saling mencintai dan menerima hubungan pernikahan kalian?" Tanya John.
Abel menelan ludahnya, kenapa tadi dia harus ke kamar mandi jika ujungnya berakhir di sini? "Kami sudah bisa menerima kok, Kek. Cuma kalau soal perasaan mungkin akan berjalan seiring waktu. Kami juga baru menikah, kan? Jadi kami sedang mencoba untuk saling mengenal dulu," jawab Abel bijak.
__ADS_1
"Bagus kalau seperti itu. Meskipun pernikahan kalian ini karena perjodohan, tapi Kakek berharap kalian juga bahagia menjalaninya. Gala memang terkadang tidak bisa mengekspresikan perasaannya, tapi jika sudah dekat dia pasti akan menceritakan apapun yang dia rasakan."
Abel hanya mengangguk, memang benar kalau Gala seperti itu. Tapi sekarang Abel sudah melihat sisi lainnya dari Galaxy hanya saja dia yang masih sulit. Terkadang mau dan terkadang juga dia menolak lebih jauh.
"Kalau dia sedikit agak keras kepala itu memang benar, tapi Gala bisa cukup dewasa dan selalu menepati janjinya. Dia sudah berjanji pada kakek kalau akan menjaga kamu dengan baik. Jadi kalau tidak seperti itu laporkan saja ya pada kakek."
"Gak kok, Kek. Gala baik banget memperlakukan aku, Gala juga bertanggung jawab karena sekarang uang jajanku juga dia yang tanggung jawab. Dia juga jaga aku dengan baik sesuai apa yang dia janjikan sama kakek, mungkin emang belum banyak yang Abel ketahui dari Gala, tapi sejauh ini Gala baik," jelas Abel.
"Syukurlah, kakek lega mendengarnya. Kami awalnya sempat khawatir kalau kalian akan sama-sama keras kepala dan mengakibatkan pertengkaran. Kalau begitu rasanya kakek ingin cepat-cepat menimang cicit," ucap John.
Abel menelan ludahnya, entah kenapa tenggorokannya mendadak kering seketika saat mendengar penuturan John. Mereka berdua saja belum melakukannya, apalagi permintaan seorang cicit? Abel tidak bisa membayangkan kalau dia hamil saat masih SMA.
Abel terkekeh. "Emm kalau itu kayanya belum bisa dipenuhi, Kek. Kami masih sama-sama sekolah, kan?"
"Loh gak apa-apa, sekolah ini milik kakek. Kalaupun kalian ingin punya anak sekarang ya tidak apa-apa, keluarga juga pasti akan mensuport," ucap John tertawa.
Abel memejamkan matanya sejenak lalu tertawa kecil. "Emm, enggak, Kek. Gala sama Abel gak terburu-buru kok, kita juga masih ada karir yang mau dikejar setelah lulus, mungkin itu bisa dipikirkan nanti."
"Iya iya, kakek paham. Tapi ingat, jangan kelamaan ya. Kakekmu dan kakek ini sudah tua, umur tidak ada yang tau. Jadi segerakan jika memang waktunya tepat. Oke?"
Abel mengangguk, dia benar-benar kaget dengan permintaan kakeknya ini. Setelah selesai bicara Abel pun meminta izin untuk kembali ke dalam kelas. Rasanya dia tidak menapak sekarang.
Memang benar kalau kakeknya sudah tua, tapi di sisi lain dia tidak mungkin mengorbankan masa depannya setelah lulus sekolah. Abel memiliki cita-cita menjadi seorang wanita karir. Ahh, kenapa dia menjadi dilema seperti ini sih?
"Abel, jangan lo pikirin dulu. Ini masih di sekolah, yang ada lo makin keliatan stress," gumamnya.
Abel mempercepat langkahnya dan kembali ke kelas. Dinda menatap Abel dengan heran, lama sekali dia di kamar mandi. Sampai-sampai jam pelajaran sudah berganti.
"Lo kenapa?" Tanya Dinda.
"Jangan tanya gue lagi stress," jawab Abel cepat.
"Stress kenapa?" Tanya Dinda lagi.
"Kakek Gala minta cicit," ucapnya sambil berbisik.
Dinda tertawa mendengarnya, bagaimana bisa wanita yang dulunya saja tidak ingin berkomitmen, sekarang malah dipintai cicit? Apalagi mereka masih SMA.
__ADS_1
"Sabar, hidup itu banyak cobaan. Kalau sedikit namanya cobain," ucap Dinda sembari mengusap punggung temannya itu. Abel hanya memijat keningnya pertanda kalau dia benar-benar stress sekarang.