Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu

Pernikahan Putri Sulung Dan Putra Bungsu
Deeptalk


__ADS_3


Gala menggelengkan kepalanya, apa semua wanita seperti Abel yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbelanja? Sungguh membosankan. Sementara Abel bangga dengan hasil kemampuannya mencari diskon, lumayan menghemat pengeluaran.


Gala berdecak melihat kelakuan Abel yang sepertinya tidak ada rasa lelah dan terus berjalan kesana-kemari. "Ck lo cari apa lagi sih? Banyak banget, Bel. Cepet pulang."


"Bosen? Udah gue bilang lo gak usah ikut, tapi malah maksa. Mending lo pulang duluan deh, rewel," kesal Abel.


Iya tadinya Abel tidak ingin Gala ikut, dia paling anti ditanya, "Mau kemana lagi kita?" atau dipaksa pulang seperti ini. Dia lebih suka sat set sat set sesuai kemauannya. Akhirnya karena Gala sangat memaksa dia pun mengizinkannya dengan satu syarat harus menggunakan topi dan masker agar tidak ada yang mengenali.


"Lagian lo aneh, mana ada orang yang mau berjam-jam keliling swalayan kaya lo gini," cibir Gala.


"Lo gak pernah nemenin mama atau kakak lo belanja ya? Makanya sesekali lo harus tau kalau cewek tuh banyak yang harus dipikirin. Dari mulai kebutuhan dapur, kebutuhan rumah, kebutuhan diri sendiri, kebutuhan orang-orang rumah. Dikira jalan doang gak pake mikir kali ya? Belum lagi harus cari yang terhemat," kesal Abel sambil memilih beberapa snack untuk dia masukan ke troli.


"Bel, lo jalan sama gue. Kenapa harus cari yang hemat-hemat kan jadi lama. Emang gue gak ada uang? Buat belanja gini doang gue mampu bayar kali," balasnya.


"Gal, lo pikir lo hidup cuma di minggu ini aja? Coba lo bayangin kalau kita belanja mingguan 4 kali sebulan. Misalnya habis 500 ribu kalau kita gak hemat dan habis 450 ribu kalau hemat. 50 ribu kali 4 aja udah 200 ribu. Terus 200 ribu kali 12 bulan udah 2.4 juta. Bisa beli skincare gue. Jangan pikirin jangka pendeknya aja, tapi jangka panjangnya juga," ucap Abel mengomel kecil.


Pria itu hanya menghela napasnya, gadis yang ada di sampingnya ini mampu membuatnya skakmat. "Terserah lo deh, Bell."


Peraturan pertama : Wanita selalu benar.


Setelah selesai belanja, mereka mampir dulu untuk drive thru di salah satu restoran cepat saji. Abel membeli 1 paket happy meal, 2 ayam spicy dengan nasi, 2 cola, 2 apple pie, 2 kentang dan 2 eskrim. Gala memicingkan alisnya apa Abel tidak salah dengan pesanannya itu?


"Bel, di rumah kita cuma berdua," kata Gala.


"Ya emang berdua, kan? Terus kenapa?" Tanya Abel polos.


"Lo beli makanan sebanyak ini buat siapa? Kebanyakan, ngabisinnya gimana?" Tanya Gala.


"Ck, gue yang abisin. Ayokk cepetan jalan, kasian mobil di belakang," jawab Abel yang nampak terlihat santai dengan kelakuannya.


Abel memakan eskrim dan kentang miliknya, sesekali dia menggerakkan kepalanya kanan dan ke kiri, kebiasaan cewek kalau makan dan dia happy memang seperti itu.


"Happy banget lo makan gitu doang," ucap Gala mencibir.


"Suka-suka gue, tuh punya lo tinggal makan kalau mau," balas Abel.


"Lo mau mati muda? Gue lagi nyetir, yang ada nabrak. Udah nikah muda, mati muda juga. Suapin," pinta Gala sambil membuka mulutnya ke arah Abel.


"Sendoknya bekas gue, makanannya bekas gue, pasti lo jijik. Jadi makan sendiri."

__ADS_1


"Gak, gue gak jijik. Cepet, lo gak denger perut gue bunyi?" Paksa Gala.


"Banyak mau lo ya," gerutu Abel sambil menyuapkan kentang dan eskrim ke mulut Gala.


"Nah gitu, udah gue bilang jadi istri yang baik. Enak juga ternyata punya istri," gumam Gala kemenangan.


"Gue yang gak enak," ucap Abel jujur.


Gala hanya terkekeh, dia akan pastikan Abel juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasakan. Tinggal tunggu permainan waktu saja.


.


.


.


Abel tengah mondar-mandir di kamar mandi, pasalnya dia lupa mengambil handuk dan pakaiannya. Kalau dia keluar sudah pasti ada Gala, tidak mungkin dia memakai baju di depan Gala.


"Aduhh, gimana ya. Kenapa pake lupa segala sih, Bel. Terus sekarang harus gimana?" Gumam Abel, jantungnya sudah mulai tidak karuan. Apa dia harus meminta bantuan Gala?


Sambil memejamkan mata dan mengepal tangannya Abel memberanikan diri.


Sang empu yang merasa di panggil langsung berjalan ke arah kamar mandi. "Gak usah teriak-teriak. Kenapa? Ada kecoa?"


Abel membuka sedikit pintu kamar mandi dan kepalanya muncul dari balik sana. "Emm, anu tolongin gue. G-gue lupa ambil handuk."


Gala berdecak. "Ck, bentar.” Gala berjalan ke lemari dan mengambil handuk. Setelah itu dia berikan kepada Abel sekaligus mencoba mengintip ke balik pintu.


"HEH MATA LO!" Abel langsung mengambil handuk dari tangan Gala.


"Wow!" Ucap Gala menggoda istrinya itu.


"WOW APA?! Jangan gila!" Abel langsung menutup pintu kamar mandi.


Gala terkekeh mendengar Abel yang marah-marah. Ternyata sangat mudah mempermainkan emosi Abel.


"Gala lo keluar dulu bisa gak gue mau pake baju di kamar," kata Abel dari balik baju.


"Tinggal pake baju, jangan atur! Lagian kita juga udah nikah, udah mukhrim," balas Gala yang langsung kembali duduk di ranjangnya.


Abel merutuk kesal sembari melilitkan handuk di dada dan rambutnya. Tidak ada pilihan lain, lebih baik dia mengambil baju keluar lalu memakainya di kamar mandi. Abel keluar dari kamar mandi dan bergegas ke lemari.

__ADS_1


"Merem! Awas lo liat-liat!" Peringat Abel pada Gala. Setelah itu dia membuka lemari dan mencari baju dan dalamanan yang akan dia kenakan.


Namun bagi Gala Larangan \= Perintah. Matanya kini tertuju pada Abel yang hanya mengenakan handuk. Tidak munafik, sebagai lelaki dia mengakui kalau tubuh Abel sangat bagus, putih dan mulus. Melihat punggung dan betis yang terekspose ditambah wangi sabun membuat Gala meneguk air liurnya.


"Tahan, Gal huft," batin Gala.


Daripada aktivitas nakalnya itu berlanjut Gala memilih mengalihkan fokus pada ponselnya. Kalau sampai Abel tau, dia bisa kena serangan dari macan ganas itu.


Setelah mengambil baju Abel menatap Gala fokus pada ponselnya. Ternyata Gala tidak jelalatan, pikirnya. Lalu dia kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan tenang. Padahal dia tidak tau saja kalau bagian inti Gala sedikit bangun akibat ulahnya itu. Untung saja tidak goyah.


Beberapa menit berlalu, Gala masih tetap fokus dengan ponselnya. Abel pun duduk di samping Gala, dia harus bersiap tidur karena besok sudah hari senin. Tapi baru saja dia meluruskan kakinya Gala sudah tiduran dan menaruh kepalanya di pangkuan Abel.


"Gal ..."


Gala meraih tangan Abel dan diletakan pada rambutnya. "Elusin."


"Ck kenapa jadi manja gini sih, Gal? Gue berasa emak lo tau gak?" Kesal Abel.


"Gue gak pernah gini ke mama, cuma ke lo doang. Gue gak bisa ekspresiin apapun kalau di rumah," kata Gala sambil memejamkan matanya. Entah sadar atau tidak Abel malah menurut untuk mengelus rambut pria itu.


"Kenapa?" Tanya Abel sembari menatap pria itu.


"Karena dulu mama papa jarang di rumah. Ketika gue beranjak dewasa baru mereka luangin waktu kaya yang lo liat kemarin-kemarin," jawabnya.


"Ohh pantes," gumam Abel, dia baru menyadari kenapa Gala tidak sedekat itu dengan orang tuanya, dia mengira karena Gala yang terlalu cuek dengan lingkungannya.


"Lo tau gak kenapa gue terima perjodohan ini?" Tanya Gala pada Abel.


"Biar fasilitas lo gak dicabut?"


Gala menggeleng pelan. "Gue deket banget sama kakek di saat orang tua gue gak ada di samping gue. Jadi gue gak bisa menolak keinginan kakek."


"Termasuk menikah sama orang yang gak lo cintai?" Tanya Abel.


"Bel, cinta itu bisa tumbuh seiring waktu. Dan gue yakin itu bakalan terjadi di hubungan kita, meskipun entah kapan. Kita kan lagi sama-sama mencoba."


"Gue gak mencoba, gue diem di tempat yang sama."


"Meskipun lo diem tapi lo menikmati proses yang gue usahain. Kalau engga gak mungkin lo biarin gue tiduran kaya gini di pangkuan lo."


Skakmat, ucapan Gala membuatnya tidak bisa bicara lagi. Apa benar yang dikatakan Gala kalau perlahan dia juga sedang mencoba menerima pernikahan ini?

__ADS_1


__ADS_2