Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Jadwal Terapi Karenina


__ADS_3

Setelah klarifikasi tersebut, kini nama baik Kasih pulih. Imbasnya penjualan produk mithanina meningkat pesat.


Karenina bernafas lega karena keberhasilan ini, siang ini dia memiliki jadwal untuk terapi dengan Dokter Sonny Wicaksono.


"Bagus sekali Nina, kau sudah lancar dengan memakai hanya satu tongkat untuk dapat berjalan," kata Dokter Sonny.


"Iya, Dokter. Aku sangat senang bisa berdiri sendiri tanpa memakai kursi roda," ujar Nina sambil tersenyum.


"Baiklah pertahankan hal ini dan teruslah latih otot kakimu," kata Dokter Sonny.


"Baik, Dok."


"Nina, sesuai janji ketika kita pertama memulai sesi ini. Maka bisakah nanti malam aku menjemputmu?" tanya sang Dokter sambil menatap lekat gadis di depannya.


"Hah?"


"Apakah kau lupa kalau pernah berjanji padaku, jika terapi berhasil dan kau tak lagi duduk di kursi roda. Kita berdua akan jalan bersama, karena kamu ini merasakan kencan layaknya orang biasa," kata Dokter Sonny mengingatkan.


"Eh iya ya, hampir saja aku lupa," kata Nina.


"Jadi bagimana? malam ini?" tanya Dokter Sonny sekali lagi.


"Besok saja Dokter, kebetulan weekend dan aku tidak bekerja. Kau harus temani aku ya dari siang hari sampai malam," sahut Karenina sambil tersenyum.


"Benarkah? Baiklah, alamat rumah seperti di dalam data pasien kan. Nanti aku akan menjemputmu," kata Dokter Sonny.


"Iya, tenang saja aku akan menunggumu," ujar Karenina.


"Aku pulang dulu ya, Dokter. Sampai jumpa besok," lanjutnya.


Sementara itu Nina berusaha berjalan sendiri menelusuri lorong rumah sakit. Kini dia benar-benar sembuh tidak lagi ketakutan saat melihat pria asing. Gadis ini sangat bersyukur dengan terapi dan juga konsultasi dengan psikiater yang di usulkan Oma dari Steven membuat dia merasa normal.


Di parkiran tak sengaja Nina berpapasan dengan Connie yang hendak konsultasi kandungannya. Gadis itu juga sendirian saja ke rumah sakit.

__ADS_1


"Hai Connie,"sapa Nina.


"Hallo,rupanya itu mobil kamu ya," kata Connie.


"Iya, Kak Philip baru membelikan untukku,"kata Nina.


Mobil keduanya di parkir bersebelahan. Ada sopir Nina yang menunggu di sana.


"Aku pulang duluan ya," ujar Nina.


"Hati-hati dan maafkan aku,"lirih Connie.


"Eh Apa? kamu minta maaf? Sudahlah lupakan saja, cobalah untuk berbahagia. Wajahmu kusut sekali," kata Nina.


"Makasih."


Kedua sepupu ini berpisah begitu saja, saat sedang menunggu gilirannya di dalam. Connie sangat terkejut ketika melihat Ricky dengan seorang wanita muda lain keluar dari dalam ruangan dokter.


"Dasar lelaki b r e n g s e k!" maki Connie sambil memukul punggung sang mantan. dengan tas yang dia bawa.


"Kenapa kau," kata Ricky menoleh ke belakang sambil mendorong sedikit tubuh wanita itu yang terus memukulinya.


"Bisa bisanya kau malah mengantarkan wanita itu ke dokter bukan aku," bentak Connie.


"Kau siapa? Aku dan Ricky akan segera menikah, tentu dia harus mengantarkan aku," kata Dominic dengan ketus.


"Dasar pelakor, kau yang merebut Ricky dariku,"ujar Connie sambil maju dan berusaha mendorong calon istri Ricky.


Dengan sigap pria itu menarik tubuh Dominic sehingga Connie terjerembab dan menabrak dinding dengan kuat. Bahkan Ricky juga menendang perutnya sebelum benar-benar pergi.


"Wanita gila, pergi sana. Jangan ganggu kami,"kata Ricky lalu pergi sana sambil membawa Dominic.


Sementara itu darah malah keluar dari sela-sela paha Connie. Untung saja ada salah satu perawat yang melintas di sana dan membantunya agar segera mendapatkan tindakan.

__ADS_1


Rupanya Connie sudah tak sadarkan dia karena memang mentalnya tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Untung saja data Connie ada di dalam rumah sakit dan Dokter kandungan mengenali dia. Pihak administrasi rumah sakit segera menghubungi Cecilia agar datang karena keadaan Connie kala itu.


Cecilia panik walaupun kondisi kehamilannya sudah menginjak tri semester ketiga dia mamou bergerak cepat lalu menyuruh suaminya agar bisa menjemput untuk mengantarkan ke rumah sakit.


Sesampainya di sana, Connie sudah berada di ruang operasi.


"Bagaimana keadaan adik saya?" tanya Cecilia.


"Sepertinya anaknya tak bisa di selamatkan, kemungkinan telah meninggal. Saya melihat ini di dalam tas milik pasien yang tak sengaja terjatuh kala suster mengangkat dia. Bagaimana kalian bisa memberikan obat berbahaya ini untuk Ibu hamil?" Dokter malah balik bertanya.


"Apa ini dokter? kata Ibu kami itu vitamin untuk janin," kata Cecilia sambil memegangi tas adiknya.


"Bukan justru sebaliknya bisa membunuh janin. Ini barang terlarang," ujar Dokter itu.


Seketika pecah tangisan Cecilia, untung saja kemaren dia tak memakannya karena di cegah Connie yang tak mau berbagi obat dengan sang kakak.


Memang setelah minum itu, Connie merasa tak beres dengan kandungannya sehingga memutuskan memeriksa. Sekarang justru kenyataan pahit ini yang mereka dengar.


"Terimakasih, Dokter. Kami akan menjaganya lebih baik lagi setelah ini," kata Suami Cecilia.


"Mas, aku tak menyangka kalau Mama setega itu Ini kan juga calon cucunya," ucap Cecilia mulai nangis.


"Sudahlah jangan terlalu sedih ingat bayi kita, kamu harus kuat. Kasihan Connie," kata sang suami sambil memeluk.


Cecilia terus saja menangis karena keadaan adiknya sekarang. Baru saja kehilangan Papa sekarang malah bayinya. Connie pasti sangat terguncang.


Bersambung...



Dominic dan Ricky Ang. Visual Couple :)

__ADS_1


__ADS_2