Pesona Sang Diva

Pesona Sang Diva
Hampir saja


__ADS_3

Hari untuk publikasi ke media dan pemilik saham juga publik. Bu Kalina sibuk menyiapkan pakaian yang akan di kenakan oleh kedua putrinya. Mereka sebenarnya anak kembar sehingga sang ibu menyiapkan baju dengan model dan warna senada.


“Ibu kenapa menyiapakan pakaian sama warna. Apakah harus kami bertiga memakai warna merah muda itu?” tanya Davin yang kaget melihat seragam yang di siapkan sang Ibu.


“Bukan hanya kalian bertiga, bahkan Philip juga mekai warna sama. Ibu telah membeli khusus untuk kalian berenam,” jawab Bu Kalina sambil tersenyum.


“Sudah pakai saja, biar ibumu bahagia,” pungkas Pak Budi.


“Kita menjadi pinky boy. Mungkin beberapa pemirsa yang menonton akan menertawakan,” kata Delon.


“Ya Tuhan, Ibu. Aku tahu obsesimu untuk mendapatkan anak perempuan, tetapi masa kami sebagai anak lelaki harus di dandani juga,” protes Darren melihat kemeja berwarna merah muda miliknya.


“Kamu mendingan hanya kemeja bisa di tutupi pakai jaket. Lihatlah setelanku jas dan celana panjang warna pink,” Tunjuk Delon.


“Entah bagaimana model pakaian yang di dapatkan Philip,” ujar Davin.


“Seharusnya Ayah juga pakai warna merah muda,” sahut Delon.


“Tidak cocok, kalian masih muda jadi mirip Oppa korea kesukaan Kasih. Sedangkan Ayah sudah tua tidak cocok lagi,” tolak Pak Budi.


“Wah Ayah semakin pintar cari alasan ,” ujar Davin.

__ADS_1


Semua lalu tertawa,Si kembar nampak saling memandang. Seandainya saja wajah Kasih tidak rusak kemungkinan wajah mereka akan sama persis bukan hanya pakaian saja.


“Aku tahu pemikiranmu, sudahlah tidak usah merasa sedih. Intinya sekarang aku sehat dan kita bisa kembali bertemu,” kata Kasih sambil memeluk Karenina.


“Akibat terpisah kamu jadi mengalami hal tidak menyenangkan. Wajahmu rusak,” ujar Nina sambil menangis tersedu –sedu.


“Jangan sedih,Nina. Semua da maksud Tuhan. Ibu yakin ada hikmahnya, bukankah dengan wajah baru ini Kasih jadi bisa membantu kalian tanpa ketahuan oleh musuh,” kata Bu Kalina berusaha menghibur.


“Benar jika wajah kalian masih sama , Rubah tua Anna dan anaknya pasti mencegah semua kebaikan bakal terjadi. Lihat saja beberapa kecelakaan yang kamu dan Philip alami bukankah sebagian karena mereka,” ujar Delon.


“Kurasa tuhan lebih tahu apa yang terbaik bagi kita. Kecelakaan pun bisa di ubah menjadi Berkat,” sahut Davin.


“Benar, hentikan tangismu. Make up akan luntur dan wajahmu jadi jelek. Nanti pemirsa kira kamu terpaksa mengakui saudara kembarmu,” kata Darren.


“Sudah , sudah ayo kita isi perut sedikit dengan kue Brudel khas manado. Ayah memesan secara online kali ini ada kacang kenari di atasnya juga keju,” tawar Pak Budi.


“Ayo makan dulu,Nina. Konferensi pers siang ini pasti akan telat makan,” ajak Kasih.


“Baiklah.”


Mereka semua makan bersama sebelum menuju ke studio salah satu stasiun televisi. Darren, Kasih, dan Karenina satu mobil bersama asisten dari si kakak pertama menjadi sopir. Yang lainnya berada di mobil satunya.

__ADS_1


Setelah melewati jalan tol,  sampailah di jalan raya yang agak sepi karena ini bukan jam berangkat dan pulang kantor jadi suasana tidaklah ramai. Tiba – tiba dari arah berlawanan ada sebuah truk hendak menabrak mobil mereka. Untung saja Asisten darren bisa cepat menghindar dan hanya menabrak sebuah pohon di pinggir jalan.


“Shit! Siapa dia berani mencelakai kita,” umpat Darren yang kesal lalu keluar dari dalam mobil.


Sementara itu Davin dengan sigap keluar juga dari mobilnya dan memeriksa kedua adik perempuannya. Untung saja mereka baik –baik saja cuma Nina yang sedikit syok. Asisten Darren terluka sedikit di pelipis akibat tabrakan tadi.


Bu Kalina mengeluarkan kotak P3K yang ada di dalam mobil dan memberikan plester ke sang asisten. Delon sendiri menelpon polisi untuk melaporkan kejadian tersebut. Pak Budi juga menghampiri pengemudi truk dan melakukan  dokumentasi, beberapa warna yang ada di sekitar juga pengguna jalan lainnya ikut berhenti dan mendatangi para korban juga mengepung truk agar pengemudi tidak lari.


“Turun kau! Seru Darren yang sangat marah.


“Bagaimana bisa melawan arus, ini seperti hendak menabrak kedua mobil tadi,” kata salah satu pengguna jalan.


“Benar saya juga melihat. Truk ini melaju kencang ke arahmobil di sana,” ujar salah satu warga yang kebetulan berjualan di pinggir jalan.


Tak lama seorang pria muda keluar dan lengan serta sebagian wajah bertato. Pemuda itu berakting layaknya orang mabuk dan memang ada bau alkohol tercium dari mulutnya saat berbicara “Ma--maafkan saya.”


Sopir truk itu berbicara dengan gugup.


bersambung....


Yuk baca kisah di bawah ini sambil menunggu PSD update. Pasti seru loh!

__ADS_1



__ADS_2