
Mobil melaju dengan kencang, kedua orang ini mulai panik tak kalah tak ada lagi respon dari sang wanita tua.
Sampai di UGD, perawat langsung datang dan membawa tempat tidur. Para ahli medis itu langsung menangani untuk mengecek kondisi pasien.
Tak lama dokter datang, dan bilang sang Ibu masuk ICU. Sejumlah tindakan akan dinlaukan untuk mengetahui kondisi pastinya.
"Kenapa serangan stroke kedua bisa terjadi? bukankah sudah pernah di bilang untuk jaga kondisi fisik dan mental ibumu,"kata sang Dokter.
"Ayahku, Dok yang kurang ajar. Beliau tak mau menjaga sikap di depan Ibuku," curhat Satria.
"Orangtuamu sudah benar-benar bercerai?" tanya sang Dokter yang merasa iba.
"Tidak tapi keduanya terus saling menyakiti," jawab Satria.
"Ehmm masalah orang dewasa tentu memusingkan. Sekarang kami hanya bisa melakukan hal ini, tindakan selanjutnya akan kita diskusikan setelah hasil lab dan pemeriksaan menyeluruh keluar," kata sang Dokter.
"Terimakasih, Dok, " ujar Satria.
"Den, gimana kondisi Ibu?" tanya sang asistennya.
"Masuk ruang ICU, kak," jawab Satria.
"Tabah ya den, kita berdoa saja semoga ibu segera pulih,"kata sang asisten.
"Doa, tidak aku tak mau. Percuma saja toh Tuhan sudah lari dariku. Lihatlah kehidupan macam apa yang di berikan. Berdoa adalah hal sia-sia," ujar Satria yang telah kehilangan harapan.
Sosok ayah di dunia sudah rusak, sehingga dia tak mampu untuk kembali percaya apalagi pergaulannya dengan anak-anak yang juga nakal dan kekurangan kasih sayang.
"Den, Tuhan itu ada dan selalu baik. Mungkin saja dia berikan cobaan ini karena tahu kalau kamu anak yang kuat," kata sang asisten mencoba menasehati.
"Anak kuat, aku lemah kak. Sejak kecil sudah ratusan kali melihat adegan seperti ini. Ayah ku senang berselingkuh, entah sudah berapa wanita yang dia tiduri. Ibuku hanya menangis saja di dalam kamarnya dan kadang melamun di teras depan dengan tatapan kosong menantikan kepulangan suaminya. Kini kelakuan bandot tua itu semakin menjadi, anak haramnya juga di bawa ke rumah. Kau sebagai wanita pasti tak sanggup menerima kan," papar Satria panjang lebar terlihat amarah di wajahnya.
__ADS_1
"Aku tahu, karena itu tadi sudah ku bilang kalau kalian ini kuat makanya Tuhan berikan cobaan ini. Ayolah berdoa coba berharap kembali kepada-Nya ," kata sang asisten mencoba mengajak anak muda itu ke jalan yang benar.
"Tak mau, aku sudah tak percaya lagi."
Satria pergi meninggalkan asisten ibunya lalu menuju ke keluar mencari warung dan mulai menghisap tembakau. Kepulan asap keluar dari mulutnya.
Kasihan anak ini sudah salah bergaul, masih muda malah terus mengkonsumsi barang yang mengandung nikotin.
Baru habis dua Batang, tiba-tiba asistennya datang sambil berlari dengan wajah pucat.
"Den, den gawat! " seru asistennya sambil membungkuk dan menarik nafas kuat lalu menghelanya.
"Ada apa?" tanya Satria.
"Ibu anda, Nyonya telah meninggal," jawabnya.
"Apa! kau serius?" tanya Satria sambil menggoncang bahu asistennya.
Satria pun berlari kencang menuju ruang ICU yang tadi masih ada ibunya. Terlihat dari luar kaca, para suster nampak mencabut alat-alat yang tadinya terpasang ke wanita tua itu.
Salah satu dokter lainnya keluar dan berkata "Mohon maaf Ibu anda tidak tertolong."
"Tidak! " teriak Satria sambil menangis meraung-raung.
Hanya dia satu-satunya alasan pria ini bertahan hidup, kini dia sebatang kara tanpa sang Ibu.
Prosedur dengan cepat di lakukan untuk pemulangan jenasah, pemandian dan penguburan. Satu-satunya yang bahagia akan kejadian Malang ini adalah Ayahnya.
Terlihat jelas raut wajah bahagia karena bisa menikahi sah sang istri siri atau tepatnya selingkuhannya. Dendam di hati sang anak sudah semakin berakar kuat dan tumbuh subur.
Belum 40 hari sejak penguburan istri pertamanya, pria tua itu nekat mengadakan pernikahan kedua. Banyak orang di undang dan berlangsung meriah.
__ADS_1
Satria yang sudah membenci Ayahnya tampak hadir juga di sana. Petugas tidak mengeceknya karena tahu statusnya sebagai anak sulung dari pengantin pria.
Pemuda itu maju ke arah pelaminan hendak mengucapkan selamat kepada Ayahnya. Sebenarnya bukan salam biasa tapi ini membawa maut.
Satria yang tengah memeluk sang Ayah dengan cepat menusukan pisau ke perut dan melukai pengantin prianya.
"Anak durhaka," lirih sang ayah sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Ternyata dia menyelipkan pisau di belakang bajunya. Memang sudah berniat membunuh sang ayah.
Petugas keamanan mulai berdatangan dan polisi juga. Satria hanya diam di sana tertawa puas memandangi tubuh ayah yang mengeluarkan darah.
"Ibu pasti senang melihat ini kan, pria tua itu akan masuk neraka," kata Satria dan terus tertawa.
Polisi menahannya, tetapi tak bisa menjatuhi hukuman karena menurut psikiater dia memiliki kelainan jiwa.
Penjara bukan tempat yang tepat baginya, kesehatan mentalnya sudah terganggu. Rumah sakit jiwa adalah solusi sambil dalam pengawasan pihak berwajib.
Itulah akhir tragis sang pelaku penyiraman air keras. Hargai hidupmu jangan terus menyimpan kekecewaan yang akhirnya justru menghancurkan dirimu. Hal pahit itu perlahan menggerogoti hatimu membuatmu selalu kehilangan damai sejahtera.
Berusaha untuk selalu bersyukur apapun kondisimu, aku tahu hal itu berat tapi kalau kau mau lihatlah di sekeliling mu ada yang memiliki keadaan jauh lebih sulit tapi mereka tetap optimis menjalani hidup.
Nah kalau mereka bisa, kamu juga pasti bisa asalkan mau. Semangat ya para pembaca.
Bersambung....
*******
Hai hai seperti biasa emak numpang iklan lagi nih, salah satu karya penulis lainnya.
__ADS_1